Senin, 13 Oktober 2014

KERIS KYAI SETAN KOBER 26


KERIS KYAI SETAN KOBER 26

KARYA : APUNG SWARNA

BAB 10 : KANJENG ADIPATI 1

"Bagaimana keadaanmu Karebet, kau selamat ?" tanya Kanjeng Sunan Kalijaga.
"Atas pangestu Kanjeng Sunan Kalijaga saya dalam keadaan selamat" jawab Karebet.
"Kau juga selamat Pemanahan dan Penjawi ?, Dan kau dua orang pemuda yang duduk paling belakang, kau juga selamat ?" tanya Kanjeng Sunan.
"Ya Kanjeng Sunan, kami semua selamat" kata Pemanahan.
"Kanjeng Sunan, perkenalkan sahabat saya yang sejak awal telah membantu berdirinya Kadipaten Pajang, yang duduk dibelakang sebelah kiri adalah Mas Manca dan yang duduk disebelah kanan adalah Jaka Wila, keduanya dari Banyubiru, Kanjeng Sunan" kata Karebet memperkenalkan keduanya.
Mas Manca dan Jaka Wilapun mengangguk hormat kepada Kanjeng Sunan Kalijaga, dan Kanjeng Sunanpun membalas hormatnya.
"Karebet, bagaimana persiapanmu untuk pelantikan pada pisowanan agung besok ?" tanya Kanjeng Sunan Kalijaga.
"Saya sudah siap Kanjeng Sunan, nanti saya akan berada didalam Sasana Sewaka bersama kakang Pemanahan dan kakang Penjawi, sedangkan Mas Manca dan Jaka Wila akan menunggu diluar Kraton" kata Karebet.
"Ya, besok kita akan berangkat ke Kraton bersama-sama dari Kadilangu pagi hari, kita berangkat berjalan kaki, nanti kudamu ditinggal disini saja." kata Kanjeng Sunan Kalijaga.
"Baik Kanjeng Sunan" kata Karebet.
Tidak lama kemudian terdengar suara kentongan yang ditabuh sebagai tanda telah memasuki waktu sholat Dhuhur.
"Sudah masuk waktu Dhuhur, mari kita mengerjakan sholat berjamaah disini" ajak Kanjeng Sunan Kalijaga.
Kemudian merekapun keluar menuju tempat wudhu, dan setelah itu merekapun menuju kesebuah ruangan yang akan dibuat sebagai tempat sholat, untuk bersama-sama mengerjakan sholat dhuhur berjamaah .
Tak beberapa lama Kanjeng Sunan Kalijaga telah tiba, dan berdiri didepan sebagai imam sholat dhuhur di Kadilangu.

Hari itu, Karebet, Pemanahan dan Penjawi, sebagai murid Kanjeng Sunan Kalijaga, diberi kesempatan untuk mengaji, sedangkan Mas Manca dan Jaka Wila, membantu beberapa santri yang sedang membelah kayu bakar.
Matahari berjalan terus, seakan-akan jatuh perlahan-lahan dari langit sebelah barat dan tak lama kemudian lembayung senjapun menghiasi langit bang kulon.
Diujung senja, perlahan-lahan malam segera menggantikan siang, kabut kegelapan menyelimuti bumi Demak.
Malam itu, setelah sholat isya, di pesantren Kadilangu, Kanjeng Sunan Kalijaga secara bergantian melanjutkan mengajar mengaji tiga orang muridnya.
Menjelang wayah sepi wong, kelima tamu dari Pajang sudah berada didalam kamar, beristirahat, untuk persiapan menghadiri pisowanan agung besok pagi.

Keesokan harinya, di hari Anggara Kasih, ketika matahari sudah menampakkan dirinya, kelima tamu dari Pajang beserta Kanjeng Sunan Kalijaga bersiap menuju kraton, tak ketinggalan Kanjeng Sunan Kalijaga juga mengajak dua orang santrinya, ikut ke kraton.
"Kalian berdua nanti menunggu diluar bersama dua orang tamu dari Pajang".
"Baik Kanjeng Sunan" kata salah seorang santrinya.
Karebet mengenakan pakaian terbaik yang dimillikinya, dipinggangnya terselip keris pusaka yang pernah dipakai sebagai sipat kandel Kadipaten Pengging Witaradya yang sekarang menjadi pusaka sipat kandel Kadipaten Pajang, keris Kyai Naga Siluman.
Merekapun sudah siap, delapan orang akan segera berangkat ke kotaraja dengan berjalan kaki..
Sesaat kemudian merekapun keluar dari pintu Kadilangu, berjalan menuju arah barat.

Meskipun Kanjeng Sunan Kalijaga umurnya sudah sangat sepuh, gerak tubuhnya masih tangkas, tidak jauh berbeda dengan beberapa tahun yang lalu ketika masih belum menetap di daerah Kadilangu.
Sudah sejak puluhan warsa yang lalu, Kanjeng Sunan Kalijaga mulai menjelajahi tanah jawa untuk menyebarkan agama, njajah desa milang kori, naik gunung menuruni lembah, masuk di hutan gung liwang-liwung, keluar masuk disetiap desa,
Kadang-kadang Kanjeng Sunan Kalijaga juga mengadakan pertunjukan, memainkan wayang kulit, dan Kanjeng Sunanpun menyamar sebagai dalang dengan nama dalang Sida Brangti.
Dalang Sida Brangti mendalang bukan hanya diseputar daerah gunung Merapi dan gunung Merbabu saja, tetapi juga sampai di ujung pegunungan Menoreh bahkan sampai di daerah gunung Slamet, dan selain itu juga menjelajah di sepanjang pesisir segara kidul.
Menjelajah tanah Jawa, dilakukan secara terus menerus oleh Kanjeng Sunan Kalijaga selama puluhan warsa, hingga akhirnya Kanjeng Sultan Trenggana menawari untuk tinggal dimanapun, di dalam bumi Demak, terserah Kanjeng Sunan Kalijaga sendiri, dan akhirnya Kanjeng Sunan memilih daerah Kadilangu, yang sekarang dijadikan tanah perdikan Kadilangu untuk menjadi tempat menetapnya Kanjeng Sunan Kalijaga beserta para santrinya.

Sekarang, Kanjeng Sunan Kalijaga sedang berjalan menuju ke kraton untuk menghadiri pisowanan agung di Sasana Sewaka.
Kanjeng Sunan berpakaian rapi, berpakaian serba wulung, sebagai ciri khas pakaian dari Kanjeng Sunan Kalijaga.
Ada rasa cemas membayang diwajah Karebet, melihat Kanjeng Sunan Kalijaga dengan tangkasnya berjalan kearah barat.
"Kakang Pemanahan, dan kakang Penjawi, kenapa Kanjeng Sunan tidak mengambil jalan yang menuju ke arah utara ?" tanya Karebet kepada Pemanahan.
"Ya, aku juga mencemaskan Kanjeng Sunan Kalijaga" kata Pemanahan sambil memandang pakaian Kanjeng Sunan yang berwarna wulung.
"Aku juga khawatir" kata Penjawi:"Apa boleh buat, kita hanya bisa mengikuti langkah Kanjeng Sunan, dan kita hanya bisa melihat apa yang akan terjadi nanti ditepi sungai",
Delapan orang itupun masih terus berjalan kaki menuju ke arah barat, sebentar lagi mereka akan tiba di sungai Tuntang.

Menyeberang sungai Tuntang, itulah sebetulnya yang di khawatirkan oleh Karebet beserta Ki Pemanahan dan Ki Penjawi. Bagaimana mungkin seorang yang sudah sangat sepuh seperti Kanjeng Sunan Kalijaga harus menyeberangi sungai Tuntang dengan memakai pakaian seorang ulama yang berwarna wulung. Dan Kanjeng Sunan Kalijaga adalah salah seorang Walisanga yang sangat dihormati diseluruh wilayah Kasultanan Demak.
Bagaimana mungkin Kanjeng Sunan Kalijaga datang di Sasana Sewaka mengikuti jalannya pisowanan agung dengan pakaian basah kuyup karena menyeberangi sungai Tuntang.
Memang sebaiknya Kanjeng Sunan Kalijaga berjalan sedikit memutar ke arah utara, lewat jalan lintas yang menuju ke Kudus, disana ada sebuah rakit yang biasanya dipakai oleh Kanjeng Sultan Trenggana apabila pergi berburu di hutan Prawata, rakit itu dipakai untuk menyeberangi sungai Tuntang.
Merekapun terus berjalan, dan tak lama kemudian, tepi sungaipun telah terlihat oleh mereka.
"Kita menyeberang lewat mana Kanjeng Sunan ?" tanya Karebet dengan cemas.
"Kita menyeberang lewat jalan yang biasa kau lewati, sewaktu kau menyeberang dari kotaraja ke Kadilangu, Karebet" kata Kanjeng Sunan sambil terus berjalan

Ketika mereka tiba ditepi sungai, betapa herannya Karebet, ketika mereka melihat ditepi sungai yang biasa dilewatinya, tertambat sebuah rakit, lengkap dengan dua buah galah dari bambu.
Karebetpun saling berpandangan dengan Pemanahan dan Penjawi, lalu Karebetpun berbisik kepada Pemanahan :" Darimana datangnya rakit ini, siapa yang telah membuatnya ?"
"Rakit ini kelihatannya masih baru, bambu-bambunya baru saja ditebang, mungkin para santri yang telah membuatnya kemarin" kata Ki Penjawi.
"Apakah rakit ini yang membuat para santri Kadilangu ?" tanya Ki Pemanahan kepada dua orang santri Kadilangu.
"Tidak, kami tidak pernah membuat rakit, kalau kami menyeberangi sungai, kami masuk ke dalam air atau menyeberang dengan berenang" jawan santri Kadilangu.
"Mungkin rakit ini dibuat oleh para penduduk disekitar Kadilangu" kata Karebet, tetapi ia sendiri ragu-ragu atas perkataannya sendiri.
Sesaat kemudian Kanjeng Sunan Kalijaga turun ke tepi sungai, kemudian naik ke atas rakit yang tertambat dipinggir sungai.

Setelah Kanjeng Sunan berada diatas rakit, Karebet beserta para sahabatnyapun kemudian juga naik diatas rakit, dan yang terakhir naik adalah dua orang santri Kadilangu.
Dua orang santri itu lalu mengambil dua buah galah yang tertancap di tepi sungai, lalu dipergunakan untuk menjalankan rakit menyeberangi sungai Tuntang menuju ke tepi sebelah barat.
Ketika dua orang santri mendorong dua buah galah yang mereka masukkan ke air, maka perlahan-lahan rakit itupun perlahan-lahan bergerak ke samping
Air yang tenang memudahkan dua orang santri Kadilangu untuk mendorong rakit itu. Galahpun berkali-kali dimasukkan kedalam air dan didorong ke arah timur, maka rakitpun bergerak tenang ke arah barat.
"Saat ini air sungai Tuntang terlihat sangat tenang, padahal biasanya air sungai ini bergerak mengalir ke arah utara" kata Karebet didalam hatinya.
Diatas rakit, Karebet menarik napas dalam-dalam, yang dicemaskan ternyata tidak terjadi, Kanjeng Sunan Kalijaga tidak perlu menyeberangi sungai Tuntang dengan masuk dan berjalan di dalam air sungai sehingga bisa mengakibatkan pakaiannya yang berwarna wulung menjadi basah kuyup.
Karebet tidak mengira kalau dipinggir sungai telah tertambat sebuah rakit yang dapat membawa mereka ke seberang. "Aku telah berkali-kali menyeberang disini, tetapi rakit ini tidak pernah ada" kata Karebet dalam hati.

Rakit yang ditumpanginya masih terus bergerak, dan tak lama kemudian ujung rakitpun menyentuh tepi sungai sebelah barat, lalu satu persatu penumpangnyapun turun ke darat.
Kanjeng Sunan Kalijaga turun ke tepi sungai, diikuti okeh Karebet beserta empat orang sahabatnya, sedangkan kedua orang santri Kadilangu segera menancapkan galah bambu ditepi sungai, sehingga rakitpun tidak bisa hanyut ke arah muara,
Dari tepi sungai, mereka lalu berjalan ke barat, beberapa saat kemudian, merekapun berbelok ke utara, jalan lurus menuju Kraton.
Jarak yang dekat menyebabkan mereka tidak terlalu lama berada diperjalanan.
Ketika sampai di alun-alun, maka Kanjeng Sunan Kalijaga berkata kepada dua orang santrinya :"Kau tunggu diluar kraton bersama dua oang tamu kita dari Pajang"
"Baik Kanjeng Sunan" kata salah seorang santri Kadilangu.
"Ya" kata Karebet:"Mas Manca dan Jaka Wila, kalian juga tunggu disini bersama sama dengan kedua orang santri dari Kadilangu.

Kemudian empat orang memisahkan diri, hanya Kanjeng Sunan beserta Karebet, Pemanahan dan Penjawi yang berjalan menuju ke Kraton.
Tidak lama kemudian merekapun sudah berada dipintu gerbang, dua orang prajurit penjaga pintu gerbang mengangguk hormat kepada Kanjeng Sunan Kalijaga.
Kanjeng Sunan Kalijaga berjalan menuju Sasana Sewaka, dan ketika melewati dua orang prajurit Wira Tamtama penjaga pintu, maka salah seorang prajurit menghampiri Kanjeng Sunan Kalijaga.
"Kanjeng Sunan Kalijaga ditunggu Kanjeng Sultan bersama Kanjeng Sunan Kudus di ruangan dalam" kata prajurit itu.
"Baik aku akan kesana sekarang" kata Kanjeng Sunan Kalijaga.
"Karebet, kau terus ke Sasana Sewaka, aku akan menemui Kanjeng Sultan Trenggana" kata Sunan Kalijaga.
"Baik Kanjeng Sunan" jawab Karebet.
Kanjeng Sunan Kalijaga berjalan masuk ke ruang dalam, menemui Kanjeng Sultan Trenggana beserta Sunan Kudus yang telah menunggunya.
Ketika Kanjeng Sunan Kaljaga sudah tidak terlihat, Karebet, Pemanahan dan Penjawi kemudian meneruskan berjalan menuju Sasana Sewaka.

Beberapa kali mereka berpapasan dengan beberapa orang prajurit Wira Braja yang sedang bertugas.
Sambil berjalan, mereka melihat, disebelah ruang Wira Tamtama, ada sebuah ruangan besar yang penuh berisi bahan pangan dan hasil bumi dari asok hulu bekti para nayaka praja serta para bebahu di seluruh Kasultanan Demak.
"Banyak juga para bebahu yang asok hulu bekti glondong pengareng-areng untuk Kanjeng Sultan Trenggana" kata Penjawi.
"Ya, semua Demang, Kepala Tanah Perdikan, Bupati, Adipati, Ki Ageng, ditambah semua, Tumenggung, Panji, Rangga, Lurah dan keluarga kraton semua ikut dalam acara Pisowanan Agung di Sasana Sewaka" kata Pemanahan.
Mereka terus berjalan dan ketika langkah kaki mereka semakin mendekati Sasana Sewaka, penjagaan prajurit Wira Tamtama maupun Wira Braja semakin ketat.
Didepan Sasana Sewaka terlihat seorang perwira Wira Tamtama, Rangga Pideksa sedang berbincang dengan beberapa prajurit dari kesatuan Wira Tamtama dan Wira Manggala.

Ketika mereka melihat Karebet beserta kedua orang pengikutnya, maka Rangga Pideksa berjalan menyongsong Karebet.
"Hormat saya untuk Ki Rangga Pideksa" kata Karebet sambil membungkuk homat, demikan juga dengan Pemanahan dan Penjawi, juga membungkuk hormat.
"Ya Karebet, kau selamat" kata Ki Rangga Pideksa.
"Atas pangestu Ki Rangga saya selamat" kata Karebet
Karebetpun memperkenalkan kedua pengikutnya, Pemanahan dan Penjawi kepada Tumenggung Surapati
Pemanahan dan Penjawi mengangguk hormat kepada Rangga Pideksa, dan Ranggapun membalas hormatnya.
"Kapan kau berangkat dari Pajang Karebet" tanya Rangga Pideksa.
"Dua hari yang lalu Ki Rangga" jawab Karebet.
"Karebet, mari kuantar masuk kedalam Sasana Sewaka, mari Ki Pemanahan dan Ki Penjawi, kita masuk kedalam" kata Rangga Pideksa sambil berjalan masuk ke Sasana Sewaka, lalu Karebet beserta Pemanahan dan Penjawipun berjalan mengikuti dari belakang.
Di dalam Sasana Sewaka, saat itu hampir penuh dengan orang yang ikut Pisowanan Agung yang dilaksanakan pada hari Anggara Kasih ini, orang-orang yan hadir, semuanya duduk bersila menghadap kedepan.
Rangga Pideksa berjalan kedepan, melewati beberapa orang yang ikut Pisowanan Agung, diikuti oleh Karebet, Pemanahan dan Penjawi.

Di depan terlihat sebuah kursi kosong yang nanti akan dipergunakan oleh Kanjeng Sultan Trenggana, dan diujung ruangan ada beberapa kursi lain yang terlihat masih kosong.
Di lantai ruangan, didepan kursi untuk Sultan, di deretan depan sebelah kiri, terlihat duduk bersila Tumenggung Gagak Anabrang dari kesatuan Wirabraja, disebelahnya duduk Tumenggung Siung Laut dari kesatuan tempur laut Jala Pati, Tumenggung Ranapati dari kesatuan Wira Radya, Tumenggung Surapati dari kesatuan Wira Manggala, Tumenggung Palang Nagara dari kesatuan Wira Yudha, dan Tumenggung Jaya Santika dari kesatuan Patang Puluhan.
Dibelakang deretan para Tumenggung, duduk beberapa orang Panji dan beberapa orang Rangga, yang semuanya duduk bersila menghadap kedepan.

Di deretan depan sebelah tengah duduk beberapa keluarga Sultan, paling ujung duduk Arya Penangsang, disebelahnya duduk Pangeran Hadiri atau Pangeran Kalinyamat, lalu disebelahnya duduk Sunan Prawata, lalu disebelahnya lagi duduk pula Pangeran Timur, putra bungsu Kanjeng Sultan Trenggana yang masih anak-anak.
Rangga Pideksa lalu mempersilahkan Karebet duduk bersebelahan dengan Pangeran Timur yang berusia masih sangat muda, yang selalu dijaga oleh kakaknya, putra sulung Sultan Trenggana, Sunan Prawata.
Karebetpun mengangguk hormat kepada para Pangeran dan para Tumenggung yang hadir, lalu iapun kemudian duduk bersila dilantai, duduk disebelah Pangeran Timur.
Pemanahan dan Penjawipun kemudian duduk bersila dibelakang Karebet, menghadap kedepan.
Rangga Pideksa, setelah mengantar Karebet ke tempatnya, kemudian berjalan keluar ruangan Sasana Sewaka, kembali ke depan untuk menanti para tamu berikutnya.

Dibelakang Karebet, Pemanahan dan Penjawi mengedarkan pandangannya, dilihatnya calon Adipati Jipang, Arya Penangsang duduk di ujung, sorot matanya lurus kedepan, dan dibelakangnya, disebelah kiri, duduk adiknya, putra Pangeran Sekar Seda Lepen yang muda, Arya Mataram.
Pemanahan dan Penjawi melihat kepada orang yang duduk di belakang Arya Penangsang, disebelah Arya Mataram, duduklah seorang tua yang rambutnya sudah putih semua.
Pemanahan terkejut ketika dia melihat ke orang tua itu, besamaan dengan orang tua yang berambut putih itupun sedang melihatnya.
"Hm itu orang Jipang, Ki Matahun, kemampuannya tidak bisa dianggap ringan" kata Ki Pemanahan dalam hati.
Matahunpun memalingkan pandangannya dari Pemanahan, dan berkata di dalam hatinya :"Pemanahan dan Penjawi, orang Sela itu sekarang telah bergabung ke Pajang"
Sambil memandang kepada dirinya sendiri, Matahunpun berkata perlahan-lahan :" Seimbang"

Matahunpun menundukkan kepalanya, tetapi sebenarnya ia sedang menakar perbandingan kekuatan Kadipaten Jipang dengan Kadipaten Pajang, lalu ia juga menimbang pula kekuatan Sunan Prawata maupun Pangeran Kalinyamat.
"Kalau kekuatan Prawata maupun Kalinyamat tidak masuk dalam hitunganku, tidak usah Raden Penangsang turun tangan, aku bersama Rangkud dan tiga puluh orang prajurit Jipang yang berasal dari padepokan Sekar Jagad mampu menggulung mereka dalam satu hari" kata Matahun dalam hati.
"Perbandingan kekuatan Kadipaten Pajang dengan Kadipaten Jipang kelihatannya seimbang, ilmu jaya kawijayan Karebet dan Raden Penangsang kelihatannya juga seimbang, aku dan Pemanahan maupun Penjawipun juga setingkat, tetapi selain kedua orang Sela itu, aku khawatir kalau ada orang lain yang akan bergabung ke Kadipaten Pajang" kata Matahun dalam hati.
"Kadipaten Jipang tidak perlu kalah, di Jipang ada kakak seperguruanku, Panembahan Sekar Jagad dari lereng gunung Lawu" katanya hampir tak terdengar.
"Tetapi apakah Panembahan Sekar jagad mau membantu Jipang ?" kata Matahun didalam hatinya, dan pertanyaan itupun telah dijawabnya sendiri : "Pasti mau, Panembahan Sekar Jagad pasti mau membantu Jipang, tigapuluh orang muridnyapun telah diperintahkan untuk menjadi prajurit Jipang"

Matahun tersadar dari angan-angannya, ketika didengarnya suara Panji Danapati yang bertindak sebagai pranatacara, mengatakan Kanjeng Sultan akan segera memasuki Sasana Sewaka.
Semua orang yang berada di Sasana Sewaka kemudian berjongkok dengan kepala menunduk, menanti kedatangan Kanjeng Sultan Trenggana beserta pengikutnya.
Dari ruang dalam kraton, keluarlah sebuah rombongan, yang berjalan paling depan, dua orang Tumenggung Wira Tamtama, yang berjalan disebelah kanan, Tumenggung Gajah Birawa, sedangkan yang berjalan disebelah kiri, Tumenggung Suranata.
Mereka berjalan mengapit Kanjeng Sultan Trenggana yang saat itu berjalan dengan memakai pakaian Keprabon, dibelakangnya berjalan seorang abdi dalem yang membawa sebuah songsong Kasultanan Demak yang berwarna kuning, yang terus menerus memayungi Kanjeng Sultan.
Dibelakang pembawa payung kerajaan, berjalan Patih Kasultanan Demak, Patih Wanasalam.
Setelah itu, dibelakangnya, berjalan dua orang ulama, dua orang dari Walisanga yang sudah sangat sepuh, Kanjeng Sunan Kalijaga beserta Kanjeng Sunan Kudus.

Kanjeng Sunan Kudus berpakaian seorang ulama, baju panjang berwarna putih, sedangkan Kanjeng Sunan Kalijaga berpakaian berwarna wulung.
Setelah itu baru dibelakangnya, berjalan Kanjeng Prameswari beserta Sekar Kedaton Gusti Putri Mas Cempaka.
Dibelakang Kanjeng Prameswari, disebelah kiri, berjalan putri Kanjeng Sultan yang sekarang berdiam di pesanggrahan Kalinyamat, istri dari Pangeran Hadiri, Kanjeng Ratu Kalinyamat, sedangkan yang disebelah kanannya, menantu Kanjeng Sultan, istri dari Sunan Prawata, Kanjeng Ratu Prawata.
Dibelakang sendiri berjalan seorang emban, menggendong seorang anak kecil, Raden Arya Pangiri, satu-satunya cucu laki-laki Kanjeng Sultan yang masih terhitung pewaris tahta Kasultanan Demak, putra dari Sunan Prawata..
Sesaat kemudian rombongan Kanjeng Sultan telah memasuki Sasana Sewaka, Tumenggung Gajah Birawa yang berjalan didepan bersama Tumenggung Suranata, berjalan perlahan-lahan menuju kursi khusus yang berada didepan, yang disediakan untuk Kanjeng Sultan.

Semua yang hadir di Sasana Sewaka menunduk dan menyembah ketika Kanjeng Sultan Trenggana lewat didepannya.
Ketika Tumenggung Gajah Birawa dan Tumenggung Suranata sudah sampai di depan, maka kedua Tumenggung itupun mempersilahkan Kanjeng Sultan untuk duduk di kursi yang telah disediakan, mempersilahkan kanjeng Sulktan duduk di sebuah dampar denta, sebuah singgasana yang berukuran agak besar, terbuat dari kayu jati yang diukir halus.
Kanjeng Sultanpun segera duduk di singgasananya, lalu agak dibelakang singgasana ditancapkan pada sebuah jagrak, payung kebesaran Kasultanan Demak yang dibawa oleh seorang abdi dalem yang berjalan dibelakang Kanjeng Sultan.
Kanjeng Sunan Kalijaga beserta Kanjeng Sunan Kudus lalu duduk di dua buah kursi yang berjejer, yang terletak agak jauh di sebelah kanan Kanjeng Sultan

Kanjeng Prameswaripun kemudian juga duduk di kursi agak dibelakang, sebelah kiri Kanjeng Sultan.
Ratu Kalinyamat, Ratu Prawata beserta Sekar Kedaton Mas Cempaka, duduk agak kebelakang, duduk bersimpuh disebelah kiri Kanjeng Prameswari, dibelakangnya juga duduk bersimpuh emban yang menggendong Raden Arya Pangiri yang umurnya baru sewarsa.
Patih Wanasalam segera duduk bersila, disebelah kanan, agak jauh dari Kanjeng Sultan, sedangkan Tumenggung Gajah Birawa dan Tumenggung Suranata duduk bersila disebelah kanan dan kiri, mengapit Kanjeng Sultan yang duduk di singgasana.
Gusti Putri Sekar Kedaton yang duduk bersimpuh didekat Kanjeng Prameswari, mengedarkan pandangannya, agak jauh didepannya, dilihatnya Karebet yang duduk bersila disebelah Pangeran Timur.
Ketika Karebet melihat sekilas Gusti Putri Sekar Kedaton tersenyum padanya, maka iapun membalas juga dengan senyumnya, setelah itu Sekar Kedatonpun menundukkan kepalanya. Didalam Pasewakan Agung, Gusti Putri Sekar Kedaton harus bisa menempatkan diri, ia tidak mau Kanjeng Prameswari menjadi marah kepadanya karena ia menuruti perasaannya sampai melupakan suba sita.

Sesaat kemudian terdengar suara Panji Danapati yang mengatakan acara Pisowanan Agung segera dimulai.
Panji Danapati kemudian mempersilakan semua yang hadir untuk kembali duduk bersila, setelah itu Panji Danapatipun kemudian juga duduk bersila, bersiap mendengarkan titah Kanjeng Sultan.
Setelah semuanya duduk bersila maka Kanjeng Sultanpun berbicara dihadapan semua yang hadir di Pisowanan Agung, hanya singkat, Kanjeng Sultan mengucapkan terima kasih atas kesetiaan mereka terhadap Kasultanan Demak, dan berterima kasih pula atas pemberian asok hulu bekti terhadap Kraton Demak.
Setelah itu tibalah saat yang dinanti-nanti oleh banyak orang di Pasewakan Agung, Gusti Putri Sekar Kedatonpun berdebar-debar karena Karebet, orang yang dicintainya, akan disengkak-ake ing ngaluhur menjadi seorang Adipati.
Sambil duduk bersila, Ki Panji Danapati mempersilahkan Arya Penangsang dan Karebet untuk maju kehadapan Kanjeng Sultan.
Dengan laku dodok, keduanyapun kemudian berjongkok maju kedepan, tepat dihadapan Kanjeng Sultan yang duduk di dampar keprabon, merekapun berhenti, menyembah lalu keduanya duduk bersila sambil menundukkan kepalanya.
Patih Wanasalam segera memberikan dua buah gulungan Layang Kekancingan kepada Kanjeng Sultan Trenggana.

Kanjeng Sultanpun kemudian berdiri lalu menerima Layang Kekancingan dari Patih Wanasalam, dua buah Surat Keputusan yang telah ditulisnya sendiri, yang terbuat dari kulit binatang.
Dua buah Layang Kekancingan yang dalam keadaan tergulung, merupakan keputusan Kanjeng Sultan untuk mengangkat Arya Penangsang dan Karebet menjadi Adipati.
Satu demi satu, Layang Kekancingan itupun diberikan kepada mereka berdua, berurutan, yang pertama kali menerima adalah Arya Penangsang.
Setelah menyembah, dengan kedua tangannya, Arya Penangsang menerima gulungan Layang Kekancingan, disusul Karebet yang juga menerima Layang Kekancingan dari Kanjeng Sultan dengan kedua tangannya.
Setelah kedua orang itu menerima Layang Kekancingan, maka Kanjeng Sultan Trenggana berkata :"Penangsang dan Karebet, silakan kalian kembali ketempatmu"

Penangsang dan Karebetpun menyembah, kemudian keduanya mundur, perlahan-lahan Arya Penangsang kembali ketempatnya semula, Karebetpun kembali duduk bersila disebelah Pangeran Timur, setelah itu Kanjeng Sultanpun kemudian juga duduk kembali di dampar keprabon Kasultanan Demak.
Untuk yang kedua kalinya Kanjeng Sultan berbicara dihadapan para hadirin di Sasana Sewaka, tentang tugas dan pengangkatan Penangsang sebagai Adipati Jipang dan Karebet sebagai Adipati Pajang.
Disamping mengucapkan selamat atas pengangkatan mereka sebagai seorang Adipati, Kanjeng Sultan mengingatkan tugas dan tanggung jawab mereka yang berat, yaitu melindungi dan menyejahterakan seluruh rakyat Jipang dan seluruh rakyat Pajang.

Dikatakan oleh Kanjeng Sultan, sebelum Kadipaten Jipang dan Kadipaten Pajang mampu mempunyai prajurit sendiri, maka untuk sementara akan ada lima belas orang prajurit dari kesatuan Wira Manggala Demak yang diperbantukan di Kadipaten jipang dan lima belas orang lainnya juga akan diperbantukan di Kadipaten Pajang.
"Sesuai dengan yang tertulis di Layang Kekancingan, maka mulai hari ini Arya Penangsang resmi sebagai Adipati di Kadipaten Jipang dengan nama Adipati Arya Penangsang, sedangkan Karebet resmi menjadi Adipati di Kadipaten Pajang dengan nama Adipati Hadiwijaya" kata Kanjeng Sultan Trenggana.
Mendengan titah ayahandanya Kanjeng Sultan Trenggana, mata Gusti Putri Sekar Kedaton berkaca-kaca, hampir menangis bahagia mendengar pemuda yang dicintainya telah menjadi seorang Adipati.
"Hadiwijaya, namanya sekarang Kanjeng Adipati Hadiwijaya" kata Sekar Kedaton perlahan.
Setelah Kanjeng Sultan selesai menyampaikan titahnya, maka doapun segera dibaca oleh Kanjeng Sunan Kalijaga
Tak lama kemudian, setelah pembacaan doa selesai, maka Pisowanan Agung telah dinyatakan selesai, Panji Danapati mempersilahkan Kanjeng Sultan untuk berdiri dan kembali ke ruang dalam.
Setelah mendengar Kanjeng Sultan akan kembali ke ruang dalam, semua yang hadir di Sasana Sewaka segera berjongkok bersiap menyembah Kanjeng Sultan ketika lewat di depannya.
Abdi dalem yang membawa songsong segera berdiri, mencabut songsong Kasultanan dan segera dipakai untuk memayungi Kanjeng Sultan.

Tumenggung Gajah Birawa dan Tumenggung Suranata juga segera berdiri mengapit Kanjeng Sultan yang bersiap untuk berjalan ke ruang dalam.
Lalu berjalanlah Kanjeng Sultan diiringi oleh Patih Wanasalam, lalu diikuti oleh Kanjeng Sunan Kudus dan Kanjeng Sunan Kalijaga, dibelakangnya berjalan Kanjeng Prameswari bersama Sekar Kedaton, kemudian Ratu Kalinyamat dan Ratu Prawata yang terakhir seorang emban menggendong Raden Arya Pangiri.
Para hadirin di Sasana Sewakapun membubarkan diri, beberapa orang menyalami Adipati Arya Penangsang dan Adipati Hadiwijaya, tetapi sesaat kemudian Arya Penangsangpun bergegas keluar dari Sasana Sewaka, dan dibelakangnya berjalan adiknya, Arya Mataram bersama Matahun.
Ki Pemanahan pun segera mendekat Adipati Hadiwijaya dan berkata :"Kanjeng Adipati, kita segera keluar dari Sasana Sewaka"
"Ya, kakang Pemanahan, kita keluar sekarang, ayo kakang Penjawi,kita keluar" kata Adipati Hadiwijaya.
"Baik, Kanjeng Adipati" kata Penjawi.
Adipati Hadiwijaya segera melangkah keluar, tetapi langkahnya terhenti ketika seorang berpakaian Tumenggung menghadang langkahnya dan tepat berdiri didepan Adipati Hadiwijaya.

(bersambung)

KERIS KYAI SETAN KOBER 25


KERIS KYAI SETAN KOBER 25

KARYA : APUNG SWARNA

BAB 9 : MBANGUN PRAJA 3

Selain aji Lembu Sekillan, Karebetpun mempunyai beberapa aji jaya kawijayan dari berbagai perguruan, dan telah beberapa kali dipergunakan untuk menghadapi lawan.
"Tugasmu sebagai Adipati Pajang cukup berat, selama Sultan Trenggana masih hidup, kau dalam keadaan aman, tetapi kalau Sultan Trenggana sudah meninggal, kedudukanmu sebagai Adipati Pajang terancam, karena kau juga berhak mewarisi tahta meskipun hanya sebagai putra menantu Sultan Demak" kata uwanya.
"Nanti apabila terjadi sebuah pergantian Sultan Demak, tidak semudah membalik telapak tangan, karena keturunan Pangeran Sekar Seda Lepen juga merasa berhak atas tahta Demak". kata Ki Kebo Kanigara.
"Ya wa, Arya Penangsang tidak akan mudah melupakan haknya untuk menjadi seorang Sultan di Demak karena Penangsang adalah cucu Raden Patah" kata Karebet.
"Kau tidak usah nggege mangsa tentang tahta Demak, diatasmu masih ada Sunan Prawata dan Pangeran Hadiri, merekalah yang saat ini berada di urutan teratas pewaris tahta Demak" kata Kebo Kanigara.
Karebet menganggukkan kepalanya, dia mengerti dan memahami sepenuhnya perkataan dari uwanya Kebo Kanigara.

Pembicaraan terhenti sebentar karena pembantunya yang setia membawakan sebutir kelapa muda.
"Minum dulu ngger Karebet" kata pembantunya, Ki Purwa sambil meletakkan kelapa muda di depan Karebet.
"Terima kasih wa" jawab Karebet.
Setelah meletakkan buah kelapa muda, pembantunyapun kemudian berjalan menuju ke halaman, memberi makan dan minum kuda yang dibawa oleh Karebet.
"Nah Karebet, sekarang kau cerita mengenai dirimu, berkaitan kau dipanggil menghadap Sultan Trenggana kemarin dulu" kata uwanya.
Karebet menggeser duduknya, lalu iapun berkata :"Ya wa, saya kemarin dipanggil menghadap Kanjeng Sultan di Kraton, membicarakan rencana pelantikan Adipati Pajang dan Jipang, yang akan diadakan nanti pada pisowanan agung pada hari Anggara Kasih, sekitar tiga pasar lagi".
Kebo Kanigara menganggukkan kepalanya, sambil mendengarkan penuturan Karebet
"Pada saat menghadap Kanjeng Sultan, saya bertemu dengan Arya Penangsang wa" kata Karebet.
"Kau bertemu dengan Penangsang ?" tanya Kebo Kanigara.
"Ya wa" jawab Karebet.
Kebo Kanigarapun berkata lagi :"Kalau kau bertemu Penangsang, kau harus hati-hati Karebet, kau harus waspada, bagaimanapun juga Penangsang adalah seorang yang berilmu tinggi"
"Ya wa, kami hanya berpapasan saja"
"Lalu apa rencanamu untuk menghadiri pisowanan agung nanti ?" tanya uwanya.
"Saya akan berangkat dari Pajang bersama kakang Pemanahan dan kakang Penjawi, lalu menginap di Kadilangu wa, lalu esok paginya bersama dengan Kanjeng Sunan Kalijaga, menghadiri pisowanan agung di Sasana Sewaka" kata Karebet.
"Ya, mudah-mudahan kau tidak mengalami kesulitan untuk menghadiri Pisowanan Agung, jangan lupa kau pakai keris Naga Siluman yang telah aku berikan kepadamu" kata Kebo Kanigara.
"Ya wa, nanti setelah pisowanan agung, dua tiga pasar selanjutnya, dilanjutkan dengan acara melamar Sekar Kedaton, serta acara pahargyan pengantin, apakah siwa bisa menghadiri acara itu dan datang sebagai pengganti ayahanda Kebo Kenanga ?" tanya Karebet.

Kebo Kanigara tidak menjawab, hatinya bimbang, teringat akan adiknya Kebo Kenanga yang telah dibunuh oleh Sunan Kudus atas perintah Kanjeng Sultan Demak
"Wa, Kanjeng Sultan pernah berkata kepadaku, bahwa persoalan ayahanda Ki Ageng Pengging telah selesai, jadi tidak ada masalah kalau siwa ikut ke Kraton" kata Karebet.
"Ya, itu aku juga sudah tahu, baik Karebet, akan aku pertimbangkan, apakah aku akan muncul sekali-sekali didepan umum atau tetap seperti ini" kata uwanya.
"Terima kasih wa, kemudian saya ingin membangun rumah kesatrian yang akan saya bangun dibelakang dalem kadipaten, saya bermaksud mengajak Sutawijaya tinggal di Pajang wa, supaya Tombak Kanjeng Kyai Plered bisa disimpan di Pajang" kata Karebet sekanjutnya.
"Ya, jadi untuk keperluan itu kau singgah di Pengging?" tanya Ki Kebo Kanigara.
"Ya wa, tadinya saya akan langsung menuju Pajang, tapi saya belokkan ke Pengging untuk mencari tukang kayu yang akan membangun sebuah rumah kesatrian"
"Kau akan menyuruh orang atau akan mencari sendiri?" tanya uwanya.
"Nanti saya menemui Truna Ompak wa" kata Karebet.

Keduanya kemudian berbincang berdua sambil makan ubi dan minum wedang jahe dan kelapa muda.
"Ubinya dimakan Karebet" kata uwanya.
"Ya wa" kata Karebet , tangannyapun kemudian mengambil sebuah ubi rebus.
Selepas tengah hari, Karebet kemudian pamit keluar, mengambil kudanya dan melarikannya menuju dekat umbul Pengging, dan beberapa saat sebelum sampai di umbul Pengging, Karebetpun berbelok menuju kesebuah rumah.
Dirumah itu, di sudut halaman dibawah sebatang pohon, Karebetpun berhenti kemudian turun dari kudanya, menambatkannya pada dahan pohon lalu mendekati seseorang yang sedang membuat ompak.
"Truna Ompak" kata Karebet
"Kita ketemu lagi calon Adipati Pajang" kata Truna Ompak sambil tertawa.
Karebetpun tertawa lalu iapun berkata :"Aku masih butuh bantuanmu Truna, aku akan membangun beberapa buah rumah lagi, kau segera persiapkan ompaknya"
"Baik, akan aku buatkan ompaknya, kau bisa utusan orang kemari, tidak perlu harus menemui aku disini" kata Truna Ompak.

"Kebetulan aku pulang kerumahku, Truna, coba kau cari dua tiga orang tukang yang bisa membangun rumah di Pajang" kata Karebet.
"Baik, besok aku akan datang ke Pajang dengan tukang dari Pengging seperti yang kau pesan itu" kata Truna Ompak.
"Ya aku tunggu di Pajang" kata Karebet :"Rumah yang akan dibangun nantinya tidak terlalu besar, lebih kecil daripada dalem Kadipaten yang baru dibangun"
"Baik, aku akan membuat semua ompak yang kau butuhkan untuk membangun beberapa rumah" kata Truna Ompak.
"Dua candra yang lalu, setelah kau menyelesaikan pembuatan ompak dalem kadipaten, apakah kau masih terus membuat ompak sampai sekarang?" tanya Karebet.
"Ya, itu dibelakang rumah ada belasan ompak yang sudah siap pakai, nanti bisa segera aku bawa ke Pajang, dengan menggunakan pedati" kata Truna Ompak dan iapun menyanggupi akan segera membawa ompak-ompak yang sudah jadi, ke Pajang.
"Kau bawa juga dua orang tukang gali sumur yang ada di Pengging, untuk membuat sumur di halaman belakang dalem Kadipaten"
"Baik, besok tukang gali sumur akan saya ajak ke Pajang" kata Truna Ompak.
"Ya" kata Karebet.
"Selain itu beberapa hari ini hampir semua perbincangan para pemuda Pengging adalah mengenai akan diadakannya pendadaran untuk menjadi prajurit Pajang" kata Truna Ompak.

Karebetpun kemudian menganggukkan kepalanya, ternyata Pemanahan atau yang lainnya sudah mengadakan wara-wara mengenai akan diadakannya pendadaran untuk menjadi prajurit Pajang. "Lalu apakah ada yang berminat menjadi prajurit Pajang ?" tanya Karebet.
"Banyak, banyak sekali pemuda Pengging yang akan ikut pendadaran di Pajang" jawab Truna Ompak.
Sejenak Karebet masih masih berbincang-bincang, dan beberapa saat kemudian iapun pamit akan kembali kerumahnya.
Karebetpun kemudian berjalan menghampiri kudanya, mengambil tali kendali lalu iapun naik kepunggung kudanya, lalu sesaat kemudian iapun menjalankannya kembali menuju kerumah peninggalan ayahnya, Ki Ageng Pengging.
Waktupun terus berjalan, matahari telah condong kebarat, di pendapa rumah peninggalan Ki Ageng Pengging, Karebet pamit kepada uwanya Kebo Kanigara akan kembali ke dalem Kadipaten di Pajang.
"Karebet, nanti pada waktu pelantikanmu sebagai Adipati, aku akan mengamatimu dari luar, kemudian tentang perkawinanmu, beri aku waktu untuk memikirkannya, mudah-mudahan aku bisa mendampingimu meskipun aku harus bertemu dengan Sultan Trenggana" kata Kebo Kanigara.
"Ya wa, terima kasih" kata Karebet.
"Hati-hati dijalan" kata Ki Kebo Kanigara.
Karebetpun kemudian keluar dari pendapa, naik ke punggung kudanya dan tak lama kemudian seekor kuda keluar dari halaman rumah peninggalan Ki Ageng Pengging dengan Karebet duduk diatas punggungnya.
Kuda Karebet berlari dengan meninggalkan debu yang beterbangan di belakang kakinya.
Jarak yang tidak begitu jauh, jalan setapak yang dilaluinya sudah rata dan hanya sedikit menurun tanpa adanya tanjakan terjal, menyebabkan perjalanan Karebet menjadi lancar dan tak lama kemudian iapun hampir sampai di Pajang.

Ketika sinar matahari sudah berubah kemerahan menjelang lembayung senja, Karebetpun tiba di dalem Kadipaten, dan disanapun sudah berkumpul menyambutnya, Majasta bersama rombongannya dari Banyubiru, Pemanahan dan Penjawi, Wenang dan adapula disana Lurah Wiguna.
Karebetpun turun dari kudanya, Wenangpun dengan cepat memegang kendali kudanya dan membawa ke halaman samping gubug.
"Nanti aku akan cerita, sekarang aku akan membersihkan badanku dulu" kata Karebet dan iapun kemudian pergi ke sungai dan iapun segera membersihkan dirinya.
Malam harinya, dibawah cahaya lampu kecil yang berisi lemak binatang, beberapa orang berkumpul di pendapa duduk diatas tikar yang dibuat dari daun kelapa.
"Ketika aku menghadap Kanjeng Sultan" Karebet mulai bercerita :"Ternyata hampir bersamaan dengan datangnya Penangsang yang juga dipanggil menghadap Kanjeng Sultan."
"Besok pada hari Anggara Kasih, akan diadakan Pisowanan Agung, aku akan dilantik menjadi Adipati Pajang sedangkan Arya Penangsang akan diangkat sebagai Adipati Jipang" kata Karebet.

Mereka mendengarkan dengan sungguh-sungguh kalimat yang diucapkan Karebet.
"Nanti pada saat Pisowanan Agung, kakang Pemanahan dan Kakang Penjawi aku ajak ke kotaraja menemani aku di Sasana Sewaka, sedangan Mas Manca dan Jaka Wila juga ikut, tetapi menunggu di luar Kraton" kata Karebet.
"Ki Wuragil dan Wenang tetap disini, mengawasi para pekerja, sedangkan Ki Majasta, apakah Ki Majasta jadi pulang besok pagi ?" tanya Karebet.
"Ya, besok pagi aku akan pulang ke desa Majasta" kata Majasta.
"Baik Ki Majasta, lalu selanjutnya, tadi siang aku menemui Truna Ompak di rumahnya, ompak-ompak yang akan dipakai untuk landasan beberapa rumah yang akan kita bangun sebagian sudah tersedia, tinggal membawa ke Pajang. Besok akan datang beberapa tukang gali sumur dari Pengging, mereka akan menggali sumur di halaman belakang dalem Kadipaten" kata Karebet.
"Selanjutnya, aku akan membuat sebuah rumah Kesatrian di bagian belakang yang akan dibangun oleh tukang dari Pengging, nanti Wenang untuk sementara akan tinggal disana"
"Baik kakangmas" kata Wenang.
"Kakang Pemanahan, bagaimana dengan rencana pendadaran untuk para calon prajurit Pajang yang akan kita adakan lusa ?" tanya Karebet.
"Ya, kita sudah menghubungi para bebahu di Pajang, Butuh dan Pengging, ternyata banyak pemuda yang berminat menjadi prajurit Pajang" kata Pemanahan.
"Ya, nanti kita akan melatih mereka menjadi para prajurit yang tangguh, masih ada yang perlu di bicarakan lagi ?" tanya Karebet.

"Ya," kata Lurah Wiguna :"Besok pagi rombonganku akan pulang ke kotaraja, karena pekerjaan membuat dalem Kadipaten dan ruang pisowanan sudah selesai".
"Ya Ki Lurah, aku berterima kasih Ki Lurah selama tiga candra telah membuatkan aku sebuah dalem Kadipaten" kata Karebet.
"Ah, itu semua sudah tugasku" kata Ki Lurah Wiguna :"Membangun dalem Kadipaten Pajang adalah tugas yang diberikan oleh Kanjeng Sultan kepadaku"
Kemudian merekapun berbincang mengenai beberapa hal seputar pembangunan Kadipaten Pajang.
"Sebelum Pajang mendapat pasokan bahan makanan asok bulu bekti dari para bebahu desa-desa diseluruh Pajang, untuk keperluan makan, bahan makanan tetap akan dikirim dari Pengging dan dari Tingkir, sedangkan untuk tukang adangnya, nanti kita ambilkan tukang adang dari Pajang" kata Karebet menjelaskan.
"Nanti aku akan singgah ke Banyubiru, dan aku akan minta Ki Buyut Banyubiru untuk mengirim tambahan tukang dan mengirim bahan makanan ke Pajang" kata Majasta..
"Terima kasih Ki Majasta" kata Karebet :" Malam ini aku tidak tidur didalam gubug, tetapi aku mulai tidur di ruang tidur dalem Kadipaten" kata Karebet.

Malam itu, setelah lama berbincang, maka merekapun kembali ke gubug, Karebetpun masuk kedalam kamarnya, tidur diatas amben yang baru saja dibuat oleh tukang kayu, sebuah amben yang sederhana.
"Amben ini tidak pantas untuk tidur diajeng Sekar Kedaton" kata Karebet dalam hati, tetapi diapun tidak bisa berbuat banyak, semua tukang yang ada telah berbuat yang terbaik untuk Kadipaten Pajang.
Tak terasa tengah malampun menyapa bumi Pajang. Kentongan yang tergantung di sudut pendapa yang baru saja dibuat oleh salah seorang tukang dari Tingkir, telah ditabuh dengan nada dara muluk.
"Sudah tengah malam, siapa yang memukul kentongan?" tanya Karebet dan pertanyaan itupun telah dijawabnya sendiri. "Mungkin Wenang"
Kembali malam menjadi sepi, dan tanpa terasa malampun telah sampai ke ujungnya, dan dimulailah sebuah hari baru yang diawali dengan seberkas sinar merah di arah bang wetan.
Semua isi bumi Pajang terbangun, tak terkecuali Lurah Wiguna beserta semua rombongan dari kotaraja Demak, dan merekapun bersiap-siap pulang ke kotaraja dengan berjalan kaki, tiga ekor kuda yang mereka bawa untuk membawa beban sewaktu berangkat, tidak mereka bawa pulang, karena kuda itu telah di berikan kepada Kadipaten Pajang.

Demikian juga dengan Majasta, iapun telah bersiap untuk pulang, tetapi ia akan singgah ke Banyubiru untuk minta tambahan bahan pangan kepada Ki Buyut Banyubiru.
Di depan pendapa kadipaten Pajang semuanyapun berkumpul, lalu Lurah Wigunapun minta diri, akan kembali ke kotaraja Demak.
"Sekali lagi, terima kasih kepada Ki Lurah Wiguna beserta semua rombongan dari kotaraja" kata Karebet.
"Aku juga mohon pamit, akan kembali ke Majasta" kata Majasta.
"Terima kasih Ki Majasta" kata Karebet.
"Adi Wuragil, Mas Manca dan kau Jaka Wila, aku pulang dulu" kata Majasta.
"Baik kakang Majasta, jangan lupa kirim tambahan tukang dari Banyubiru" kata Wuragil.
"Baik" kata Majasta menyanggupi.
Tak lama kemudian rombongan dari kotaraja yang dipimpin oleh Lurah Wiguna, telah berjalan meninggalkan dalem Kadipaten Pajang.
Mereka berjalan bersama-sama menuju arah utara, setelah tiga candra mereka bekerja membangun dalem Kadipaten Pajang.

Yang ditinggal di Pajang, masih disibukkan pembuatan beberapa rumah lagi, tukang dari Tingkir masih mengerjakan beberapa pekerjaan di dalem Kadipaten, sedangkan tukang dari Sela bersama Pemanahan dan Penjawi sibuk menebang pohon di hutan jati, untuk keperluan pembangunan dua buah rumah yang akan mereka bangun.
"Tenyata kita masih perlu tambahan beberapa tukang lagi adi Penjawi" kata Pemanahan kepada Penjawi.
"Ya kakang, tetapi sebelum ada penambahan lagi tukang dari Sela, pembuatan rumah untuk kita, kita kerjakan semampu tukang kita" kata Penjawi, sambil terus mengayunkan kapaknya memotong pohon jati didalam hutan.
Pemotongan pohon jati yang dilakukan oleh Pemanahan dan Penjawi menjadi agak lebih mudah karena ukuran rumah yang akan mereka bangun, lebih kecil dari ukuran dalem Kadipaten Pajang.

Di dalem Kadipaten setelah lewat tengah hari, Truna Ompak datang bersama dua orang tukang dari Pengging, dan Karebetpun memerintahkan kepada Wenang untuk menemani tukang yang akan membangun dalem kesatrian.
Demikianlah, hari itu orang-orang masih disibukkan dengan kerja membangun beberapa rumah di Kadipaten Pajang.
Keesokan harinya, dalem Kadipaten Pajang disibukkan oleh kedatangan pemuda-pemuda dari daerah Pajang, Pengging dan Butuh, yang ingin mengikuti pendadaran menjadi calon prajurit Wira Tamtama.

Lebih dari tiga ratus pemuda telah memenuhi tanah lapang di depan dalem Kadipaten, dan diterima oleh Mas Manca, Jaka Wila, dan Wenang. Ketiganya mencatat nama-nama pemuda yang ikut dalam pendadaran calon prajurit Pajang.
Merekapun dibagi menjadi tiga bagian, Mas Manca, Jaka Wila maupun Wenang masing-masing mengajak lebih dari seratus orang untuk berlari-lari.
"Untuk mengikuti pendadaran ini, kalian semua akan kami ajak untuk berjalan, berlari, berenang dan beberapa kegiatan yang lain, bagi yang tidak kuat, jangan dipaksakan, kalian dipersilakan untuk kembali" kata Mas Manca.
Mas Mancapun lalu mengajak mereka berlari-lari menuju arah barat, sedangkan Jaka Wila menuju arah timur, Wenangpun juga mengajak berlari menuju arah utara.
Satu dua orang yang tidak kuat berlari, telah berhenti dan melupakan impian mereka untuk menjadi seorang prajurit.

Menjelang tengah hari semuanya telah kembali di depan dalem Kadipaten, lalu Mas Mancapun meminta mereka untuk datang dua hari lagi untuk melanjutkan rangkaian pelaksanaan pendadaran selanjutnya.
Keesokan harinya, Pemanahan, Penjawi dan Wuragil telah memotong beberapa pohon jati yang ukurannya agak kecil, tidak sebesar kayu yang dipergunakan untuk membuat kayu saka dalem Kadipaten.
Beberapa kayu yang sudah dipotong, oleh Mas Manca bersama Jaka Wila dan Wenang, dibantu dengan beberapa tukang, telah diangkat dan diseret beramai-ramai, dibawa ke bulak amba, dan ditempatkan di beberapa tempat yang akan dibangun beberapa rumah.
Disamping para tukang, ada juga beberapa orang Pajang yang bekerja membantu pemotongan pohon maupun pembangunan rumah di bulak amba dan beberapa orang Pajang lainnya juga bekerja sebagai tukang adang.
Hari itu, disamping membawa kayu ke bulak amba, mereka juga disibukkan dengan memotong banyak sekali pohon-pohon jati yang mempunyai ukuran kecil, diletakkan dipinggir hutan, sehingga besok pagi tinggal membawa kayu-kayu itu ke bulak amba.

Demikianlah, mereka terus bekerja, membangun beberapa rumah di sekitar dalem kadipaten Pajang, dan mereka juga melakukan kelanjutan pendadaran bagi para calon prajurit Pajang.
Lebih dari tiga ratus orang pemuda yang mengikuti pendadaran, lebih dari dua ratus orang yang telah dinyatakan lulus, dan puluhan pemuda dinyatakan gagal, sehingga harus melupakan angan-angannya untuk menjadi prajurit Pajang.
Para pemuda yang telah lulus pendadaran, setiap hari dilatih dasar-dasar ilmu silat oleh Wenang dan Jaka Wila. Mereka masih belum dibagi menjadi beberapa kesatuan prajurit, hanya beberapa belas orang telah dipilih dan dilatih secara khusus oleh Ki Pemanahan untuk menjadi pasukan sandi kadipaten Pajang.
Calon pasukan sandi Kadipaten Pajang, disamping dilatih olah kanuragan, juga dilatih cara-cara menyusup ke daerah musuh, dan dilatih cara mencari berita di daerah lawan.
Demikianlah beberapa hari telah berlalu, dan hari pisowanan agung, pada hari Anggara Kasih menjadi semakin dekat.

Karebetpun mempersiapkan dirinya dengan sebaik-baiknya, pakaian terbaiknya telah disiapkan, bahkan Keris Kyai Naga Siluman yang berada didalam kotak miliknyapun telah diambilnya dari atas pohon beringin dan saat ini telah disimpan didalam kamarnya.
Ketika waktu pisowanan agung masih kurang tiga hari lagi, Karebetpun telah mempersiapkan segala sesuatunya untuk berangkat ke kotaraja Demak.
Di malam hari, sebelum keberangkatan mereka esok pagi, iapun mengumpulkan semua sahabat-sahabatnya di pendapa, di bawah nyala pelita kecil yang apinya terus bergerak terkena semilir angin malam.
"Besok pagi kita berlima berangkat setelah matahari terbit" kata Karebet.
"Kakang Pemanahan dan kakang Penjawi nanti ikut masuk di pisowanan agung yang bertempat di Sasana Sewaka, sedangkan Mas Manca dan Jaka Wila menunggu diluar Kraton" kata Karebet,
"Malam harinya kita menginap di jalan, sedangkan malam selanjutnya kita menginap di pesantren Kadilangu, di tempat Kanjeng Sunan Kalijaga" kata Karebet.
"Ki Wuragil dan Wenang masih tetap melatih para calon prajurit Pajang, sedangkan para tukang tetap bekerja membangun rumah dibantu oleh beberapa pembantunya yang berasal dari Pajang" lanjut Karebet.

Kemudian merekapun masih berbincang sampai larut malam dan tak terasa haripun telah berganti, mataharipun telah bersinar, saat itu didepan dalem Kadipaten Pajang telah besiap lima orang yang akan berangkat menuju kotaraja Demak.
Di pelana kuda mereka, tergantung sebuah bungkusan yang berisi pakaian terbaik yang mereka miliki, serta sebuah keris yang akan mereka pakai untuk kelengkapan pakaian mereka.
Disamping itu ada sebuah bungkusan yang berisi bekal makanan dan sebuah bumbung kecil berisi air minum.
"Ki Wuragil dan kau Wenang" kata Karebet :"Kami berangkat sekarang, hati-hati, jaga dalem Kadipaten sebaik-baiknya"
Karebet lalu naik ke punggung kudanya, demikian juga keempat sahabatnya, mereka semua naik ke punggung kuda, lalu merekapun menjalankan kudanya menuju kotaraja Demak, diikuti tatapan mata dari Wuragil dan Wenang beserta orang-orang yang berada didepan kadipaten.
Perlahan-lahan kelima ekor kuda berjalan meninggalkan dalem kadipaten, berlari-lari kecil, membawa penunggangnya ke empat orang yang ikut mukti ingin menjadi nayaka praja kadipaten Pajang, sedangkan yang seorang, sedang nggayuh kamukten tertinggi, yang nasibnya telah dikatakan oleh seorang Wali yang berpakaian serba wulung ketika ia sedang menunggu padi gaga di sawah, bahwa dia akan menjadi seorang raja.

Saat ini penunggang kuda yang sedang nggayuh kamukten, Karebet, pemuda yang diramal oleh Kanjeng Sunan Kalijaga, dua hari lagi akan segera dilantik menjadi Adipati Pajang, yang bisa dijadikan sebuah pancadan untuk meraih kamukten yang lebih tinggi lagi, raja di tanah Jawa.
Matahari belum begitu tinggi memanjat langit, ketika lima ekor kuda berderap meninggalkan Pajang melewati daerah di sebelah timur gunung Merapi.
Debu mengepul dipagi hari, dibelakang kaki lima ekor kuda yang berlari menuju ke arah utara.
Ketika lima ekor kuda telah sampai di hutan Sima, kudapun tidak bisa di pacu, pepohonan menjadi sedikit agak rapat. Mataharipun telah sampai dipuncak langit, dan Karebetpun mengajak sahabatnya untuk beristirahat, makan bekal yang mereka bawa dan memberi minum kuda-kuda mereka yang kelelahan.
"Kita beristirahat di dekat belik di tepi sungai kecil di hutan Sima" kata Karebet.
Ketika kuda-kuda mereka telah tiba di dekat belik yang terletak ditepi sungai kecil, maka para penunggangnyapun semua turun, Mas Manca dan Jaka Wilapun kemudian memegang tali kendali kuda-kuda itu, serta membawanya ke tepi sungai.
Kuda-kuda itupun kemudian diberi minum, setelah itu kendali kudanyapun diikatkan pada sebuah dahan pohon.

Setelah semua kuda telah tertambat pada dahan pohon disekitar sungai, maka Mas Manca dan Jaka Wila kemudian ikut beristirahat dibawah sebatang pohon yang rindang bersama yang lainnya.
Mereka berlimapun duduk dan membuka bekal masing-masing, perut yang lapar ditambah sejuknya duduk dibawah pohon yang rindang, membuat mereka makan dengan lahapnya.
Beberapa saat kemudian, setelah selesai makan, merekapun minum air yang berada didalam bumbung-bumbung kecil yang mereka bawa.
"Perut sudah kenyang, aku jadi mengantuk" kata Mas Manca
"Ah kau" sahut Jaka Wila.
"Aku masih haus" kata Mas Manca, kemudian iapun menghabiskan air yang berada didalam bumbungnya.
"Kalau airnya habis, bumbungnya akan aku isi air di belik itu" kata Jaka Wila, lalu mengumpulkan bumbung-bumbung yang telah kosong, kemudian dibawanya ke belik di dekat sungai lalu diisinya dengan air belik.

Beberapa saat mereka beristirahat, setelah dirasa cukup maka Karebetpun mengajak yang lainnya untuk meneruskan perjalanannya.
Maka kembali lima ekor kuda berlari di jalan hutan di daerah Sima, dan tak tak lama kemudian sampailah rombongan itu di tepi sungai Tuntang. Beberapa kali mereka menuntun kudanya menyeberangi sungai kecil yang menghadang perjalanannya, beberapa kali pula mereka berhenti memberi kesempatan kuda mereka untuk makan dan minum.
Ketika matahari hampir tenggelam di cakrawala barat, mereka bertemu dengan sebuah kali kecil, kemudian rombongan dari Pajang memutuskan untuk beristirahat ditempat itu.
Setelah menambatkan kudanya, maka merekapun membersihkan dirinya disungai kecil, dan malam harinya, didepan nyala perapian, mereka membakar beberapa jagung yang masih muda. Tak banyak yang mereka bicarakan, angan-angan merekapun masing-masing telah melayang-layang dan berputar-putar ke seluruh bumi Demak.
Ketika malam semakin larut, perapianpun sudah padam, merekapun tidur bersandar pada pohon ditepi jalan, beratap langit berselimut mega.
Rasa dingin yang menyerang menusuk sampai ke tulang, mereka tahan dengan memakai selembar dua lembar kain panjang yang telah mereka bawa..

Disekitar mereka, hanya terdengar suara cengkerik, diselingi suara burung malam, kadang-kadang juga terdengar suara dari kepak sayap beberapa ekor kelelawar yang sedang mencari buah-buahan yang berada di beberapa pohon disekitar sungai Tuntang.
Setelah lewat tengah malam terdengar beberapa kali kokok ayam alas, yang jaraknya agak jauh dari tempat istirahat mereka.
Setelah fajar menyingsing, suara burung liar yang bersahutan di beberapa pohon telah menghiasi udara pagi yang dingin di tepi sungai Tuntang.
Merekapun semua bangun, lalu membersihkan dirinya di tepi sungai kecil, yang melintang di jalan yang akan dilaluinya nanti.
Ketika udara mulai terasa hangat, lima orang dari Pajang telah berada diatas punggung kuda menuju arah utara.
"Sebelum tengah hari, kita sudah berada di Kadilangu" kata Karebet.
"Ya" kata Pemanahan.
"Saat ini kita belum mencapai daerah Godong, nanti setelah sampai di daerah Godong, kotaraja Demak sudah terasa dekat" kata Penjawi.

Merekapun melarikam kudanya, matahari semakin tinggi ketika kaki-kaki kuda yang mereka kendarai telah menginjak daerah Godong.
Kuda-kudapun masih tetap berlari dan ketika menjelang tengah hari, dari jauh daerah Kadilangu telah kelihatan.
"Itu Kadilangu, kita bisa sampai disana sebelum tengah hari" kata Karebet sambil tangannya menuding arah ke Kadilangu.
Tak lama kemudian merekapun telah sampai di pintu gerbang pesantren Kadilangu, disambut oleh beberapa santri yang berada didepan pintu.
Karebetpun mengucap salam, dan dijawab oleh para santri Kadilangu.
Beberapa orang santri mendekat dan memegang kendali kudanya, untuk dirawat di halaman samping.
"Kanjeng Sunan Kalijaga telah menunggu kedatangan kalian di ruang dalam" kata salah seorang santri kepada Karebet.
"Ya, kami datang tepat waktu" kata Karebet sambil turun dari kudanya, dan diikuti oleh semua orang dalam rombongannya.
"Silahkan masuk, Kanjeng Sunan berada di dalam" kata santri yang menyambutnya.

Kemudian Karebet dan semua orang dalam rombongan mencuci kakinya di jambangan samping rumah lalu merekapun masuk kedalam ruang dalam, tempat Kanjeng Sunan Kalijaga telah menanti kedatangan mereka.
Didepan pintu mereka mengucap salam dan terdengar ada orang yang menjawab salam mereka dari dalam ruangan.
"Masuklah Karebet" kata suara dari dalam ruangan, suara Kanjeng Sunan Kalijaga.
Karebetpun masuk kedalam ruangan, diikuti oleh keempat sahabatnya, dan terlihat didalam ruangan, Kanjeng Sunan Kalijaga duduk diatas tikar.
Kemudian Karebet dan para sahabatnya menyalami Kanjeng Sunan Kalijaga, dan setelah itu merekapun duduk bersila didepan Kanjeng Sunan.

(bersambung)