KERIS KYAI SETAN KOBER 19
BAB 7 : BINTANG CEMERLANG 3
Karya : Apung GWAP
"Paman Matahun, apakah tiga orang utusan dari Kraton yang membawa tiga ekor kuda beban sudah sampai disini ?" tanya Penangsang setelah Ki Matahun berada di sebelahnya.
"Sudah anakmas, baru saja mereka datang, tiga orang itu sekarang berada di ruang dalam, kudanyapun sudah diberi makan di belakang" kata Matahun, lalu Matahunpun berkata kepada seseorang yang baru saja keluar dari samping rumah :"Rangkud, kau panggil beberapa abdi yang lain, rawat Gagak Rimang, bawa ke belakang dan beri minum juga kepada kuda-kuda yang lain".
"Baik Ki" kata Rangkud, dan ia pun pergi ke belakang rumah, tak lama kemudian ia dan beberapa abdi lainnya keluar, lalu merekapun membawa kuda-kuda para tamu ke halaman belakang.
"Paman Matahun, antar dulu para tamu ke sumur di belakang" kata Penangsang.
Matahunpun kemudian berjalan, menunjukkan sumur yang terletak dibelakang rumah, dan diikuti oleh para tamu.
Ketika rombongan Penangsang sedang membersihkan dirinya, sementara itu di tempat lain, rombongan Karebet yang menuju ke Pajang telah berjalan memasuki desa Tingkir.
Didepan sendiri, berjalan Karebet yang waktu semasa remaja sering dipanggil Jaka Tingkir, disebelahnya berjalan pamannya Ganjur, adik dari ibu angkatnya, Nyai Ageng Tingkir.
Dibelakang Ganjur dan Karebet, enam orang berjalan kaki disusul kemudian dengan tiga orang yang berjalan menggandeng tiga ekor kuda yang membawa beban.
Mereka terus berjalan, semakin lama semakin dekat dengan rumah Nyi Ageng Tingkir, rumah yang paling besar di desa Tingkir.
Ketika Ganjur masuk kedalam regol rumah Nyai Ageng Tingkir, dilihatnya dua orang pembantu Nyai Ageng Tingkir, maju menyambutnya :"Kakang Ganjur dan kau Karebet, kau pulang ke Tingkir bersama rombongan?"
"Ya adi Suta dan adi Naya, aku bersama rombongan dari Kraton" jawab Ki Ganjur :"Dimana Nyai Ageng Tingkir?"
"Ada di kamar kakang, Nyai Ageng sekarang sudah sedikit lemah, sudah sering lupa" kata Suta menjelaskan.
"Paman Suta dan paman Naya, sebaiknya para tamu dipersilahkan ke belakang dulu" kata Karebet.
"Ya, mari Ki Sanak, silahkan ke sumur dulu, biar kami nanti yang mengurus kudanya" kata Ki Suta sambil memanggil beberapa pembantu Nyai Ageng yang lain.
Setelah membersihkan dirinya, Ki Ganjur dan Karebet menemui Nyai Ageng Tingkir yang sedang berada di kamar.
Nyai Ageng berada dikamar hanya ditunggui oleh seorang pembantunya, seorang perempuan yang umurnya hampir sama dengan Nyai Ageng Tingkir.
"Nyai Ageng, ini aku, Ganjur" kata Ganjur kepada Nyai Ageng Tingkir.
"Kau Ganjur, kau adikku ?" tanya Nyai Ageng Tingkir.
"Ya, aku adikmu nyai, aku Ganjur yang berkerja di kotaraja Demak" kata Ganjur mendekati Nyai Ageng yang duduk di pinggir amben.
"Kau Ganjur, kapan kau datang? Kau bersama siapa ? Anak muda ini siapa Ganjur ?" tanya Nyai Ageng Tingkir.
"Aku baru saja datang Nyai, aku pulang bersama Karebet" kata Ganjur.
"Biyung, aku Karebet" kata Karebet sambil memegang tangan Nyai Ageng.
"Karebet, Karebet siapa?" tanya Nyi Ageng Tingkir, kelihatannya sudah lupa terhadap Karebet.
"Aku Karebet biyung, aku anakmu" kata Karebet.
"O ya, Kau adalah Karebet, aku memang punya anak ontang anting, kau memang anakku Karebet, anakku satu-satunya" kata Nyai Ageng sambil memeluk Karebet.
Nyai Ageng Tingkirpun melepas rindu, tangan Karebet dipegangnya seakan-akan tidak akan dilepaskannya.
Meskipun kadang-kadang pembicaraannya agak kurang dimengerti, tapi sedikit demi sedikit Nyai Ageng Tingkir mulai teringat masa lalunya ketika mengasuh Karebet.
"Karebet, kau jangan pergi jauh lagi, sawah kita yang mengerjakan hanya Suta dan Naya, lumbung kita penuh berisi padi dan jagung. Kita punya beberapa kerbau, sapi dan kuda. Sebaiknya kau menemani biyung yang semakin tua" kata Nyai Ageng Tingkir.
"Ya biyung" kata Karebet mengiyakan permintaan ibunya.
Ganjur dan Karebet beberapa saat masih berada di kamar menemani Nyai Ageng Tingkir.
Beberapa saat kemudian, setelah selesai makan malam, Karebet yang mempunyai sebuah rencana, merasa perlu membicarakannya dengan semua orang didalam rombongannya
Di ruang dalam, duduk diatas tikar sambil minum wedang jahe anget, Karbet beserta tujuh orang rombongan dari Kraton ditambah pamannya Ganjur, ikut juga Suta dan Naya.
"Ki Lurah Wiguna" kata Karebet memulai pembicaraan.
"Ya, adi Karebet, bagaimana rencanamu" kata Ki Lurah Wiguna sambil menggeser duduknya mendekat ke Karebet.
"Untuk tempat calon dalem Kadipaten, aku sudah punya ancar-ancar, aku beberapa kali melewati daerah Pajang, disana ada sebuah bulak yang luas, rencananya besok bangunan Kadipaten bisa dibangun di sekitar bulak itu, kita tidak perlu bekerja memotong pohon-pohon besar, kita tinggal membuat ompak dan mencari beberapa pohon jati yang tidak terlalu besar, untuk dibuat tiang, sedangkan tanah dan pepohonan yang berada disekitar bulak tinggal di atur saja" kata Karebet.
"Meskipun sebuah Kadipaten tidak boleh memiliki sebuah alun-alun, tetapi tidak ada salahnya kalau sebuah Kadipaten mempunyai sebuah tanah lapang yang luas didepannya. Apakah nanti yang akan dibangun oleh Ki Wiguna adalah dalem Kadipaten beserta bangunan tempat untuk paseban ?" tanya Karebet kepada Lurah Wiguna.
"Ya, sebuah Kadipaten harus mempunyai sebuah paseban seperti sebuah Sasana Sewaka, tempat untuk pasewakan para abdi Kadipaten, itu berbeda dengan yang di Kalinyamat atau di Prawata, yang hanya merupakan sebuah bangunan pesanggrahan, hanya untuk tempat tinggal saja, mereka tidak mempunyai bangunan seperti sebuah Sasana Sewaka, yang ada hanyalah sebuah pendapa yang agak luas" kata Ki Lurah.
"Baik Ki Lurah, biar bisa selesai tepat waktu, nanti kita akan dibantu tukang kayu dari Tingkir dan Pengging. Nah paman Suta, berapa orang tukang kayu di Tingkir ?" tanya Karebet kepada Ki Suta.
"Di desa Tingkir ada empat lima orang tukang kayu, coba nanti akan saya hubungi mereka, berapa orang yang bisa berangkat ke Pajang" kata Suta.
"Ki Lurah Wiguna, beberapa hari lagi ada tiga orang sahabat saya dari Sela yang akan membantu perkerjaan kita di Pajang"
"Siapakah mereka adi Karebet?"
"Ki Pemanahan, Ki Penjawi dan Ki juru Martani" kata Karebet.
"Ki Pemanahan cucu dari Ki Ageng Sela ?" tanya Ki Lurah.
"Ya Ki Lurah, selain itu, aku akan meminta bantuan beberapa sahabatku dari Banyubiru" kata Karebet, dan iapun berkata kepada Suta dan Naya.
"Nah, apakah paman Suta dan paman Naya, sudah pernah ke Banyubiru?" tanya Karebet.
Suta dan Nayapun menganggukkan kepalanya, mereka telah beberapa kali pergi ke Banyubiru.
"Besok pagi paman berdua pergi Banyubiru, dari Tingkir tidak begitu jauh, setelah sampai didesa Gedangan, kemudian paman berbelok ke arah barat" kata Karebet.
"Paman berdua nanti menemui Ki Buyut Banyubiru, ceritakan bahwa saat ini aku membangun sebuah Kadipaten di Pajang. Nah, paman bilang bahwa aku butuh bantuan dari Ki Buyut Banyubiru sekarang. Paman bisa berangkat besok pagi, dan siang itu juga paman berdua bisa langsung pulang ke Tingkir, dan sebaiknya paman berdua berangkat naik kuda" kata Karebet.
"Baik" kata Suta:"Aku bersama adi Naya akan ke Banyubiru besok pagi.
"Besok aku akan membawa dua ekor kuda yang masih dikandang, aku bawa ke Pajang sebagai kuda beban, dan bisa diisi dengan padi, beras atau jagung, tetapi, apakah di lumbung kita masih mempunyai simpanan bahan pangan ?" tanya Karebet.
"Ya, lumbung kita saat ini berisi penuh padi dan jagung" jawab Naya.
Karebet menganggukkan kepalanya, lalu iapun berkata :"Besok pagi kita melanjutkan perjalanan ke Pajang, sedangkan paman Suta dan paman Naya berkuda menemui Ki Buyut Banyubiru"
Ketika malam semakin larut, maka rombonganpun beristirahat mempersiapkan tenaga untuk perjalanan besok pagi, dan merekapun tidur nyenyak di udara yang dingin dengan berselimut kain panjang.
Esok paginya, di desa Tingkir, desa yang tidak jauh dari kaki gunung Merbabu sebelah timur, di halaman rumah Nyai Ageng Tingkir, terdapat kesibukan, ada beberapa orang yang akan melakukan perjalanan keluar desa.
Rombongan yang dipimpin oleh Ki Lurah Wiguna, bersiap untuk berangkat ke Pajang. Rombongan sewaktu berangkat dari kotaraja yang berjumlah sembilan orang, telah berkurang satu orang, yaitu Ganjur yang akan ditinggal di desa Tingkir.
Ternyata jumlah keseluruhan rombongan menjadi bertambah karena terdapat tiga orang tukang kayu dari Tingkir yang ikut berangkat ke Pajang.
Jumlah kuda beban juga bertambah dua ekor kuda, beban yang menggantung di kiri dan kanan punggung kuda, berupa dua buah kantung besar, berisi beras dan jagung, dipakai untuk keperluan makan bagi para pekerja yang membangun dalem Kadipaten di Pajang.
Sebelas orang telah bersiap untuk berangkat ke arah selatan sedangkan Suta dan Naya juga sudah bersiap, mereka berdua akan berkuda kearah utara, menuju Banyubiru, menemui Ki Buyut Banyubiru.
"Paman Ganjur, nanti kira-kira tiga pasar lagi, paman bisa mengirim sebuah pedati yang berisi beras dan jagung ke Pajang, nanti pedatinya biar dibawa oleh paman Suta dan paman Naya" kata Karebet.
"Ya Karebet, untuk sementara ini, aku akan berada disini dulu untuk menemani biyungmu. Sekarang kau pamitlah dulu kepada biyungmu" kata Naya.
"Ya paman" kata Karebetpun kemudian masuk ke kamar menemui biyungnya.
Setelah berpamitan kepada biyungnya, tak lama kemudian Karebetpun telah berkumpul kembali bersama rombongannya, dan sesaat kemudian terdengar Lurah Wiguna memberi aba-aba untuk berangkat.
Maka bergeraklah sebuah rombongan sebelas orang beserta lima ekor kuda beban, yang berjalan menuju ke arah selatan, bersamaan dengan lajunya dua ekor kuda yang berlari ke arah utara, menuju ke Banyubiru.
"Nanti setelah sampai di desa Gedangan yang terletak dipinggir Rawa Pening, kita menuju ke arah barat" kata Suta didalam hatinya, dan iapun berharap, malam nanti mereka sudah berada di desa Tingkir lagi.
Mereka menjalankan kudanya beriringan tidak begitu kencang, kuda Suta berlari berada di depan, sedangkan kuda Naya melaju agak jauh di belakangnya.
"Pagi ini udara terasa dingin sekali" kata Naya didalam hatinya.
Perlahan-lahan matahari terus mendaki langit di sebelah timur, semakin lama semakin tinggi, ketika perjalanan mereka berdua melintasi sebuah sungai kecil, maka kuda-kuda merekapun dimasukkan kedalam sungai, menyeberangi sungai yang dangkal, sementara diarah barat laut, terlihat berdiri tegak gunung Telomoyo.
Sementara itu di ruangan dalam di sebuah rumah di Jipang, Arya Penangsang ingin mengadakan pertemuan dengan dua orang abdinya yang setia, Matahun dan Rangkud.
"Rangkud !" panggil Arya Penangsang ketika berada di salah satu ruangan di dalam rumah.
Rangkudpun dengan cepat berjalan dan menghadap Arya Penangsang di ruang dalam.
"Ya raden, raden memanggil saya?" tanya Rangkud.
"Panggil paman Matahun, kita berbicara sebentar diruang dalam." perintah Arya Penangsang sambil menuju ruang dalam.
Rangkudpun segera keluar ruangan, mencari Matahun yang sedang berbicara dengan rombongan dari Kraton.
"Paman, dipanggil raden Penangsang di ruang dalam" kata Rangkud.
Matahunpun segera berjalan ke ruang dalam, menemui Penangsang yang sedang berada disana.
"Duduklah paman Matahun" kata Arya Penangsang setelah Matahun berada didalam ruangan.
Matahunpun segera duduk diatas dingklik, dihadapan Penangsang
Matahun, seorang tua yang semua rambutnya telah berwarna putih, abdi setia yang sejak masih muda telah mengabdikan dirinya di keluarga Sunan Ngudung, kakek dari Penangsang.
"Ya anakmas Penangsang" kata Matahun sambil menggeser duduknya menghadap Penangsang,
"Rencana saya, dalem Kadipaten akan saya bangun disebelah timur rumah ini, bagaimana menurut pendapat paman ?" tanya Arya Penangsang.
"Bagus anakmas, nantinya anakmas bisa tetap tinggal di rumah ini" jawab Matahun :"Nantinya apabila dibuat sebuah pagar mengelilingi dalem Kadipaten, maka rumah ini berada didalam pagar Kadipaten.
"Tepat, maksudku juga begitu paman" kata Penangsang :"Selain itu Paman bisa mencari bahan pangan yang bisa dimasak untuk makan para pekerja"
"Baik anakmas, nanti saya dan Rangkud akan mencarikan beras dan jagung di sekitar Jipang" jawab Matahun
"Kira-kira apa yang akan kita perlukan ?" tanya Penangsang.
"Dengan adanya tambahan tiga orang tukang kayu dari Kudus, itu akan mempercepat pekerjaan yang akan kita kerjakan" kata Mantahun :"Ada satu lagi yang penting bagi Kadipaten Jipang, apakah anakmas sudah menentukan tosan aji mana yang akan anakmas gunakan sebagai sipat kandel Kadipaten Jipang ?"
"Belum paman, tetapi kita mempunyai sebuah keris pusaka, Kyai Tilam Upih. dan dua buah tombak pusaka, Kyai Muntab dan Kyai Biring Lanang, yang sekarang masih kita simpan. Kita telah mempunya tiga buah pusaka sebagai sipat kandel Kadipaten Jipang"
"Kalau hanya tiga buah pusaka tadi, kellihatannya masih kurang anakmas, anakmas masih harus mencari beberapa pusaka lagi yang bisa menjadi rangkapan kekuatan Kadipaten Jipang" kata Ki Matahun yang telah banyak berpengalaman.
"Ya paman, besok akan aku ceritakan semua persoalan ini kepada guruku, Kanjeng Sunan Kudus, tetapi untuk sementara akan aku pakai dulu Kyai Tilam Upih, keris pusaka peninggalan ayahanda Sekar Seda Lepen" kata Penangsang.
"Betul anakmas, nanti pada saat anakmas diwisuda menjadi adipati Jipang, anakmas bisa memakai keris pusaka ayahanda, Kyai Tilam Upih" kata Ki Matahun :"Keris pusaka Kyai Tilam Upih selama ini masih saya rawat dengan baik"
"Bagus paman, coba bawa kesini keris itu" kata Penangsang.
Matahunpun kemudian berjalan menuju ke sebuah ruang lainnya, kemudian mengambil sebuah peti kayu berukir, lalu peti kayu itupun diberikan kepada Arya Penangsang.
Arya Penangsangpun kemudian membuka peti tersebut dan mengeluarkan isinya, sebuah keris pusaka dengan warangka berbentuk gayaman.
Sesaat keris itu di pegang di ukirannya, lalu keris pusaka itupun dipegang didepan dadanya, tangan kanan memegang ukiran keris, tangan kiri memegang gandarnya, lalu ibu jari tangan kanan menekan tampingan, perlahan-lahan Arya Penangsang menarik keris keluar dari wrangkanya.
Kemudian keris yang sudah dicabut dari wrangkanya itupun dipegang sejajar dengan telinga, sesaat kemudian tangannyapun diturunkan, lalu Arya Penangsangpun dengan cermat mengamati keris pusakanya.
Sebuah keris pusaka yang wingit, dapur Tilam Upih dengan bilah lurus, berpamor beras wutah, pamornya terlihat berwarna putih, terlihat bagus, bilah kerisnya berwarna hitam akibat diberi warangan yang kuat.
"Paman, keris ini adalah keris yang bagus, getaran yang tidak kasat mata dari wesi aji-nya masih terasa kuat" kata Arya Penangsang kepada Ki Matahun.
"Ya, getaran yang tidak kasat mata dari wesi aji itu memang terasa sangat kuat raden" jawab Matahun.
Arya Penangsangpun masih mengagumi keris pusaka yang dipegangnya, mengagumi getaran yang tak terlihat dari pancaran kekuatan wesi aji, dan mengagumi pula keindahan wadag keris dapur Tilam Upih yang mempunyai pamor beras wutah.
Pamornya tergambar sangat bagusnya, lukisan pada bilah keris berwarna hitam putih, membentuk puluhan lingkaran bulat dan lonjong yang berdesak-desakan, banyak sekali gambar garis lengkung maupun garis tak beraturan, tergambar penuh mulai dari ujung bilah sampai dengan ganja.
Beberapa saat kemudian, setelah puas mengamati keris pusakanya Kyai Tilam Upih, Arya Penangsang menyarungkan kembali keris itu kedalam wrangkanya, kemudian keris itupun perlahan-lahan dimasukkannya kembali kedalam peti kayu berukir, kemudian peti kayu itupun diberikan kepada Ki Matahun yang duduk didepannya.
"Paman Matahun, kembalikan keris ini ke tempat semula" perintahnya kepada Matahun.
Matahunpun kemudian menerima kotak kayu itu, lalu iapun berjalan keluar kamar menuju ke ruangan tempat menyimpan pusaka.
Beberapa saat kemudian, Arya Penangsangpun keluar dari ruangan menuju ke pendapa, dan disana telah berkumpul semua rombongannya, termasuk Lurah Kerta.
"Ki Lurah Kerta, apakah bisa, kalau nanti rencana dalem Kadipaten, dibangun disebelah timur rumah ini ?" tanya Penangsang ketika sudah berkumpul di pendapa.
"Bisa raden, itu malah bagus, karena rumah raden bisa bersatu dengan dalem Kadipaten" jawab Ki Lurah Kerta.
"Ya Ki Lurah, lalu rencana Ki Lurah selanjutnya bagaimana" tanya Penangsang.
"Kita sudah mulai mencari beberapa bambu untuk membuat gubug yang akan dipergunakan untuk keperluan para pekerja yang akan membangun dalem Kadipaten" kata Ki Lurah.
"Lalu rencana untuk besok pagi Ki Lurah" tanya Penangsang.
"Disamping masih membuat gubug, nanti prajurit Wira Manggala akan berkeliling Jipang menemui beberapa pemimpin, sesepuh dusun, demang, buyut, kamituwa dan sebagainya, di seluruh Jipang dan sekitarnya, lalu keesokan harinya, kita bacakan titah Kanjeng Sultan tentang pembentukan Kadipaten Jipang" kata Ki Lurah.
"Baik Ki Lurah Kerta, lalu apa yang kau perlukan?" tanya Arya Penangsang.
"Kami butuh bantuan seorang sebagai penunjuk jalan, nanti kita bertiga akan naik kuda berkeliling Jipang" kata Lurah Kerta.
"Rangkud" panggil Penangsang kepada salah seorang abdi setianya.
"Ya raden" jawab Rangkud
"Kau besok menjadi penunjuk jalan berkeliling Jipang bersama dua orang prajurit yang akan berbicara kepada rakyat Jipang"
"Baik Raden" jawab Rangkud bersedia.
"Lalu apa lagi yang perlu dilakukan Ki Lurah?"
"Sebetulnya kita akan berbicara dengan orang yang menjadi pimpinan pada setiap daerah yang akan dibangun sebuah Kadipaten maupun pesanggrahan, tetapi karena di daerah Jipang ini orang yang dituakan adalah Raden Penangsang, maka kita tidak perlu melakukan lagi. Cukup besok pagi kita berkuda berkeliling Jipang dan daerah disekitarnya" kata Ki Lurah Kerta menjelaskan.
"Kalau rombongan yang di Kalinyamat, Prawata ataupun Pajang, mereka biasanya menemui Demang, kamituwa atau buyut dari dusun tersebut" kata Lurah Kerta.
"Ya" kata Penangsang, dan iapun memperkirakan paling cepat besok atau lusa, baru bisa diumumkan titah Kanjeng Sultan Trenggana.
Perkiraan Penangsang ternyata tepat, di Kalinyamat, hari ini prajurit Wira Manggala menemui buyut dusun Kalinyamat untuk menyampaikan rencana penyampaian titah Kanjeng Sultan Trenggana.
"Ki Buyut, besok pagi, kami minta bantuan seseorang untuk mengantar berkeliling keseluruh daerah Kalinyamat" kata prajurit Wira Manggala.
"Baik, besok kami yang akan mengantar berkeliling ke seluruh daerah di Kalinyamat dan sekitarnya" kata Ki Buyut menyangupi.
Di daerah Prawata juga hampir sama, seorang prajurit Wira Manggala meminta bantuan penduduk dusun untuk berkeliling daerah Prawata.
Sementara itu ketika matahari telah melewati puncak langit dan sudah condong kebarat, rombongan Karebet yang dipimpin oleh Ki Lurah Wiguna, telah memasuki daerah Pajang.
"Adi Karebet, kita telah memasuki daerah Pajang, dimanakah letak daerah yang akan kita bangun?" tanya Lurah Wiguna.
"Disitu, agak maju sedikit, di sebelah sungai kecil, nanti terlihat ada bulak yang luas" jawab Karebet sambil tangannya menunjuk kedepan.
Merekapun terus berjalan, tak lama kemudian sampailah mereka pada sebuah lapangan perdu dan rumput yang agak luas.
"Disini, disinilah Ki Lurah Wiguna, rencanaku dalem Kadipaten akan dibangun di daerah ini, bagaimana pendapatmu Ki Lurah Wiguna" kata Karebet.
"Bagus adi Karebet, dengan adanya lapangan yang luas, ini membuat pekerjaan agak lebih mudah, nah nanti kita akan lebih dulu mendirikan gubug didaerah sini" kata Ki Lurah sambil menyuruh rombongan beristirahat.
"Adi Karebet, besok pagi kita ke kamituwa atau buyut dusun Pajang, minta satu orang untuk mengantar kita berkeliling ke semua daerah Pajang" kata Lurah Wiguna.
Rombonganpun semuanya beristirahat, sepuluh bungkusan yang berisi beras dan jagung dan beberapa peralatan tukang kayu telah diturunkan dari punggung kuda.
Lima ekor kudapun telah diberi makan dan minum, beberapa orang telah mengambil air dari sungai kecil yang mengalir di pinggir bulak.
"Disebelah sungai tadi banyak terdapat rumpun bambu, setelah beristirahat, kita membuat sebuah tenda sementara untuk menginap kita disini, besok pagi kita akan membuat gubug" kata Ki Lurah.
Beberapa orang telah memotong bambu untuk membuat tenda sementara dari beberapa kain panjang yang dibentangkan.
Waktu berjalan terus, matahari telah lama tenggelam di ufuk barat, dan malampun segera tiba, gelap telah menyelimuti seluruh bumi Pajang
Di langit bintang-bintangpun berkedip, sepotong awan tipis tertiup angin menutupi keindahan angkasa malam, dan hampir semua rombongan Karebet telah tertidur lelap didalam tenda di sebuah bulak di tanah Pajang.
Ketika malam telah melampaui setengahnya, dinginpun menusuk terasa sampai ke tulang, dan langit di arah timur, telah terbit sebuah bintang yang paling terang dibandingkan dengan bintang yang lain, itulah bintang timur, lintang panjer rina.
Malam sudah berganti pagi, matahari sudah mulai memanjat naik dilangit bang wetan, di bulak yang luas di desa Pajang, terlihat ada tenda yang dibuat dari bentangan kain.
Di dalam tenda Lurah Wiguna sedang berbicara dngan Karebet.
"Hari ini kita akan membangun tiga buah gubug untuk tempat istirahat para pekerja, dan sebagian lagi kita gunakan sebagai lumbung, setelah gubug yang kita buat sudah jadi, selanjutnya tenda sementara bisa kita bongkar" kata Ki Lurah Wiguna.
"Ya Ki Lurah" kata Karebet.
Ki Lurah Wigunapun kemudian berkata kepada orang yang berada disebelahnya :" Panggil prajurit Tumpak dan prajurit Banu"
Tak lama kemudian masuklah Tumpak dan Banu dua orang yang berpakaian prajurit dari kesatuan Wira Tamtama dan dari kesatuan Wira Manggala.
"Tumpak dan Banu, kau pergilah naik kuda ke buyut dusun Pajang sekarang, mintalah kepada Buyut, satu orang penunjuk jalan, untuk ikut berkeliling didaerah Pajang dan sekitarnya kau gunakan kuda yang itu saja" kata Ki Lurah Wiguna sambil menunjuk beberapa ekor kuda yang di ikat di depan kemah di tepi bulak.
Tumpak dan Banu pun berjalan keluar dari tenda, lalu mengambil kuda lalu dilarikannya ke dusun Pajang
Ketika di persimpangan jalan mereka bertemu dengan seorang petani, maka Tumpakpun bertanya tentang rumah ki Buyut dusun Pajang.
Beberapa saat kemudian, di sebuah rumah di dusun Pajang, tampak dua orang prajurit yang sedang berbicara dengan seorang tua, Buyut dusun Pajang.
"Ki Buyut, ini adalah dawuh dalem Kanjeng Sultan Trenggana, tidak lama lagi, tlatah Pajang akan menjadi sebuah Kadipaten, semua bebahu dusun di seluruh tlatah Pajang, demang, lurah, buyut, kamituwa, jagabaya, beserta semua penduduk laki-laki, tua maupun muda, besok pagi supaya berkumpul di bulak, yang disebelahnya terdapat sungai, untuk mendengarkan sabda Kanjeng Sultan Demak" kata prajurit Wira Manggala yang bernama Banu.
"Baik anakmas, aku akan datang bersama para bebahu dusun ini" kata Ki Buyut.
"Bulak yang berada ditepi sungai itu bernama apa Ki Buyut?" tanya Banu.
"Itu daerah bulak amba, bulak yang luas" jawab Ki Buyut.
"Setelah dari dusun ini, aku akan berkeliling di daerah Pajang dan sekitarnya, sekarang aku minta satu orang yang bisa mengantarku, kau punya seekor kuda Ki Buyut?" kata Tumpak.
"Punya anakmas, biar cucuku yang akan mengantar nakmas keliling Pajang" kata Ki Buyut dusun Pajang.
Kemudian Ki Buyutpun bangkit berdiri dan menghampiri seorang pemuda yang sedang membelah kayu bakar dibelakang rumah, lalu pemuda itupun diajaknya menghadap Tumpak dan Banu.
"Siapa namamu anak muda ?" tanya Tumpak.
"Nama saya Dami" kata anak muda itu.
"Nanti kau antar kami berkeiling tlatah Pajang" kata Tumpak.
"Baik"
Beberapa saat kemudian tiga ekor kuda telah keluar dari halaman rumah Ki Buyut, berkeliling di belasan dusun di daerah Pajang, menemui semua bebahu dusun, untuk datang besok pagi ke tempat pembangunan dalem Kadipaten yang akan dibangun di daerah bulak amba yang termasuk daerah Pajang.
Ketika matahari sudah lewat di puncak langit, maka datanglah dua orang prajurit di atas punggung kuda, prajurit Tumpak dan prajurit Banu yang diantar oleh anak muda cucu Buyut dusun Pajang, telah selesai mengunjungi semua dusun-dusun di dalam wilayah Pajang, dan mereka berduapun kembali ke bulak amba.
Matahari sudah condong ke barat, sementara itu di tepi bulak amba, pembangunan tiga buah gubug tempat beristirahat telah selesai. beberapa buah bambu telah ditanam dalam tanah dan diikat kuat, sehingga gubugpun bisa berdiri kokoh, lalu di beri atap dari daun kelapa yang dicepit dengan beberapa bambu yang dibelah tipis.
Ketika pembuatan gubug sudah selesai, maka semua bahan makanan dan peralatan dimasukkan semua ke dalam salah satu gubug itu.
Ketika matahari sudah tenggelam temaram menyelimuti seluruh bumi Pajang, orang-orang yang berada di gubugpun segera bersiap membuat sebuah perapian.
Di gelap malam, terlihat nyala api dari perapian di bulak amba, perapian untuk menghangatkan badan sekaligus untuk membakar jagung dan ketela pohon
Malam semakin larut, tiga buah gubug yang didirikan di daerah bulak amba telah menjadi senyap tanpa suara, hanya terdengar suara beberapa ekor cengkerik yang berbunyi nyaring
Fajar telah terbit, langitpun semakin terang, penghuni gubug telah bangun dan membersihkan dirinya, mempersiapkan pertemuan dengan semua bebahu dusun-dusun di tlatah Pajang.
Matahari merayap ke atas semakin tinggi, beberapa orang telah mulai berdatangan di lapangan bulak amba.
Satu demi satu, bebahu dusun di daerah Pajang mulai berdatangan
Didepan gubug yang baru saja di bangun, berkibarkah bendera Gula Kelapa yang diikatkan pada sebatang bambu yang tinggi, sedangkan tiang bambunya ditanam agak dalam didalam tanah.
Bendera Gula Kelapa yang berkibar di bulak amba berukuran agak lebih kecil dibandingkan dengan bendera Gula Kelapa yang berada di Kasultanan Demak, saat itu angin yang bertiup agak kencang, sehingga bendera gula Kelapa terlihat berkelebat gagah.
Dibawah bendera Gula Kelapa, disebelah tiang bendera yang terbuat dari bambu, berdiri dengan tegak seseorang yang memakai pakaian prajurit pengawal raja, prajurit Wira Tamtama yang bernama Tumpak
Semakin lama orang orang yang datang semakin banyak, puluhan bebahu semua dusun di daerah Pajang, beserta ratusan orang laki-laki, semua berkumpul di bulak amba, didepan bendera Gula Kelapa.
Ketika yang hadir sudah cukup banyak, ada ratusan orang, maka terdengarlah suara bende yang ditabuh sebanyak tiga kali oleh seorang prajurit Wira Manggala, prajurit Banu.
Setelah terdengar suara bende yang di tabuh tiga kali maka majulah Lurah Wiguna dan iapun naik diatas ancik-ancik yang terbuat dari bambu yang baru saja dibuat oleh para pekerja.
Ketika Lurah Wiguna naik di atas ancik-ancik, maka penduduk yang hadir semuanya berjongkok menunggu perintah dari Ki Lurah yang telah berdiri di depan mereka.
Lurah Wiguna mengedarkan pandangannya berkeliling, dilihatnya ratusan orang sudah berjongkok, sehingga Ki Lurahpun turun dari ancik-ancik dan berjalan ke depan, agak dekat dengan rakyat yang berjongkok di bulak amba.
Lurah Wigunapun kemudian berbicara keras, supaya bisa di dengar oleh semua orang yang berkumpul di bulak amba.
"Semua bebahu dan penduduk tlatah Pajang, yang merupakan rakyat dari Kasutanan Demak. Saya adalah seorang Lurah dari kesatuan Wira Manggala, nama saya Lurah Wiguna, yang mendapat mandat dari Sultan Demak untuk mengumumkan titah dalem Kanjeng Sultan Trenggana" kata Lurah Wiguna.
Lurah Wiguna berhenti sejenak, kemudian iapun melanjutkan dengan suara yang lebih keras..
"Semua rakyat Pajang wajib mematuhi titah dalem yang akan dibacakan oleh prajurit Kasultanan Demak. Wara-wara yang dibacakan nanti tidak ubahnya seperti ucapan dari Kanjeng Sultan sendiri" demikian kata Lurah Wiguna.
Kemudian Lurah Wigunapun mundur kebelakang, sesaat kemudian prajurit Wira Manggala, yang bernama Banu maju kedepan dan berdiri disamping bendera Gula Kelapa, sebelah menyebelah dengan prajurit Wira Tamtama, Tumpak.
Banu pun melihat kedepan, diedarkan pandangannya ke semua bebahu dan penduduk yang berjongkok didepannya.
"Akan saya bacakan titah dari Kanjeng Sultan Demak, semua rakyat Pajang supaya mendengarkannya" kata Banu berteriak keras.
Kemudian Banupun mengeluarkan sebuah bumbung, lalu dari dalam bumbung, ia mengambil sehelai kulit binatang berukuran kecil yang masih tergulung rapi. Gulungan kulit itupun kemudian dibuka, lalu dibacanya dengan keras.
"Semua penduduk tlatah Pajang, saya adalah Sultan Trenggana, dari Kasultanan Demak yang membawahi tlatah Pajang. Sebentar lagi, tlatah Pajang akan menjadi sebuah Kadipaten, yang bernama Kadipaten Pajang" kata Banu.
Banu berhenti sebentar, sesaat kemudian iapun melanjutkan membacakan titah Kanjeng Sultan.
"Kadipaten Pajang, nanti akan dipimpin oleh seorang Adipati dan yang akan memimpin tlatah Pajang adalah Mas Karebet" kata Banu seanjutnya.
Terdengar suara seperti lebah berdengung, ketika rakyat Pajang telah mendengar nama calon Adipati Pajang.
Prajurit Banu mengangkat tangannya, dan suasana di bulak amba kembali menjadi senyap, lalu prajurit Banupun melanjutkan pembacaannya lagi.
"Semua rakyat di tlatah Pajang, mulai besok pagi, diharapkan secara bergantian, datang ke sini ikut membangun dalem Kadipaten, sedangkan para bebahu dusun supaya mengatur rakyat yang akan membantu pembangunan dalem Kadipaten Pajang"
Prajurit Banu berhenti sejenak, pembacaan wara-wara pun segera diakhiri.
"Titah ini supaya didengarkan dan dipatuhi oleh semua rakyat Pajang" kata Banu mengakhiri titah sultan Trenggana.
Prajurit Banu lalu menggulung kembali kulit yang telah dibacanya dan dimasukkannya kain itu kedalam bumbung.
Beberapa saat kemudian, Lurah Wigunapun maju kedepan, dan iapun berkata :"Mulai besok, para bebahu dusun diseluruh tlatah Pajang, supaya mengirim rakyat untuk bekerja membangun dalem Kadipaten"
Lurah Wiguna menengok ke arah gubug, lalu iapun memberi isyarat kepada prajurit Banu, lalu terlihat Banupun kemudian masuk kedalam gubug.
Sesaat kemudian prajurit Banu keluar lagi dengan seseorang, lalu Lurah Wigunapun memperkenalkan dialah orang yang bernama Mas Karebet, calon Adipati Pajang.
Kembali terdengar suara seperti lebah berdengung, ketika rakyat Pajang telah melihat calon Adipati Pajang yang bernama Mas Karebet.
Karebet yang berdiri disamping Ki Lurah Wiguna, mengangkat tangannya dan suasana didepan gubug di bulak amba kembali menjadi tenang.
Setelah suasana tenang, Karebetpun mengangguk hormat kepada semua bebahu dan rakyat Pajang.
"Rakyat Pajang, saya adalah Mas Karebet, saya adalah yang ditunjuk oleh Kanjeng Sultan Demak untuk menjadi calon Adipati di Pajang" kata Karebet.
Karebetpun kemudian mengajak rakyat Pajang untuk bersama-sama menjadikan Pajang menjadi sebuah Kadipaten yang makmur dan besar.
Tidak banyak yang dikatakan Karebet, dia hanya minta pembangunan dalem Kadipaten supaya dibantu oleh semua bebahu dan rakyat Pajang yang akan diatur secara bergilir.
Setelah itu Karebetpun kemudian masuk ke gubug kembali, Lurah Wigunapun kemudian membubarkan para bebahu dan rakyat Pajang yang berkumpul.
Perlahan-lahan, ratusan orang yang berada di depan gubug, satu demi satu meninggalkan bulak amba, dan suasana disanapun menjadi sepi kembali, yang ada disana hanya rombongan yang dipimpin oleh Lurah Wiguna.
Lurah Wigunapun mengajak semua orang berkumpul untuk membicarakan langkah-langkah selanjutnya.
"Prajurit Tumpak dan Banu, apakah besok pagi kau akan pulang ke Demak ?" tanya Ki Lurah Wiguna.
"Belum Ki Lurah" jawab Tumpak :"Kami masih berada disini beberapa hari lagi, kami harus mengamankan titah Kanjeng Sultan, jangan sampai ada bebahu yang mbalela tidak mau mengirimkan rakyatnya untuk ikut membangun dalem Kadipaten"
"Ya" kata Ki Lurah, lalu iapun menggeser duduknya menghadap Karebet.
"Adi Karebet, hari ini kita sudah bisa mulai kerja, kita menentukan lokasi yang akan dibuat dalem Kadipaten, mengurug dengan tanah bisa dilakukan besok pagi bersama tenaga yang akan dikirim oleh para bebahu. Lalu untuk membuat tiang, di sebelah barat, tidak jauh dari Pajang, ada beberapa pohon jati, nanti dua orang dari Demak bersama tiga orang dari Tingkir akan memotong kayu jati, jangan pilih yang ukurannya besar, pilih saja yang ukuannya pas dengan yang kita butuhkan" kata Lurah Wiguna.
"Kita bawa tiga buah kapak pemotong kayu, nanti lima orang itu bisa bekerja bergantian, untuk membawa kayu itu, kita bisa menggunakan tenaga sapi, atau kalau tidak ada, kayu itu kita seret bersama-sama ketempat ini" Kemudian Ki Wiguna melanjutkan perintahnya :"Kalian bisa berangkat sekarang, cari pohonnya dulu, besok pagi baru kita potong"
Kelima orang itupun kemudian mempersiapkan diri, akan mencari beberapa pahon jati ke hutan di sebelah barat tidak jauh dari Pajang.
"Untuk pembuatan ompak, di daerah sebelah utara Pengging, banyak terdapat batu-batu bekas muntahan dari gunung Merapi, besok akan saya tentukan siapa yang akan ditugaskan membuat ompak" kata Ki Lurah Wiguna.
Kemudian Ki Lurah Wigunapun berdiri, lalu bersama Karebet iapun berjalan keluar untuk menentukan letak dalem Kadipaten.
Matahari masih tetap berjalan ke arah barat, pagi berganti menjadi siang, siangpun berganti menjadi sore.
Menjelang matahari terbenam, dari dalam gubug di bulak amba, terdengar suara derap kuda mendekat.
Karebet, Ki Lurah Wiguna dan beberapa orang lainnya segera keluar dan melihat siapakah orang yang berkuda menuju tempat gubug mereka.
Didepan gubug, terlihat empat orang laki-laki sedang turun dari punggung kuda mereka.
(bersambung)
Rabu, 10 September 2014
Senin, 08 September 2014
KERIS KYAI SETAN KOBER 18
- KERIS KYAI SETAN KOBER 18
BAB 7 :
BINTANG CEMERLANG 2
Karya :
Apung GWAP
Langit di
ufuk timur berbias warna merah, perlahan-lahan fajarpun terbit, kokok ayam
jantan terdengar nyaring, langit semakin lama semakin terang, Karebetpun telah
bangun dari tidurnya, dan bersiap akan mandi, iapun berencana pergi ke
Kadilangu, ketempat Kanjeng Sunan Kalijaga.
Matahari
memanjat langit semakin tinggi, ketika Karebet dan Ganjur akan melangkahkan
kakinya keluar dari rumah, terlihat didepan pintu regol Suranatan, seseorang
yang berpakaian Lurah Wira Manggala memasuki halaman dalem Suranatan dan
berjalan menuju rumah yang ditempati oleh Ganjur.
Ketika
Karebet melihat orang itu, iapun segera mengenalnya, seorang Lurah dari
kelompok prajurit Prabayasa, kelompok prajurit yang bertugas membangun dan
merawat bangunan Kraton, yang termasuk didalam kesatuan prajurit Wira Manggala.
"Ki
Lurah Wiguna" kata Karebet sambil tersenyum :"Silahkan masuk Ki
Lurah"
"Silahkan
Ki Lurah Wiguna, silahkan kalau ingin bertemu dengan Karebet, aku mau
menyelesaikan pekerjaanku yang di depan" kata Ganjur mempersilahkan dan
iapun lalu berjalan ke halaman depan.
"Silahkan
duduk Ki Lurah" kata Karebet, dan Lurah Wigunapun kemudian masuk kedalam
rumah, dan Karebetpun kini duduk berhadapan dengan Ki Lurah.
"Adi
Karebet" kata Lurah Wiguna.
"Ya
Ki Lurah" jawab Karebet sambil memperhatikan kalimat yang akan dikatakan
oleh Lurah Wiguna.
"Besok
pagi kita jadi berangkat ke Pajang, kita berangkat pagi hari, aku yang akan
memimpin rombongan dari Kraton yang berjumlah tujuh orang" kata Lurah
Wiguna
"Rombongan
dari Kraton nanti akan berangkat serentak ke empat daerah, ke daerah
Kalinyamat, ke Prawata, ke Jipang dan ke Pajang, tiap rombongan masing-masing
tujuh orang" kata Lurah Wiguna menjelaskan kegiatan untuk besok pagi.
"Ya
Ki Lurah, nanti kita berangkat dari kraton?" tanya Karebet.
"Ya,
kita berangkat pagi hari, kita kumpul di depan Sasana Sewaka, lalu kita
bersama-sama berangkat ke Pajang" jawab Lurah Wiguna.
Kemudian
Karebetpun mengutarakan keinginannya untuk mengajak pamannya Ganjur ikut
bersama rombongan sampai di Tingkir.
"Ki
Lurah, rombongan kita nantinya akan bertambah satu orang, karena nanti aku akan
mengajak paman Ganjur untuk ikut pulang ke Tingkir" maka Karebetpun menjelaskan
alasan pamannya yang ingin ikut pulang ke Tingkir.
"Apakah
nanti Ki Ganjur akan kembali ke kotaraja ?" tanya Lurah Wiguna.
"Aku
belum tahu Ki Lurah, terserah kemauan paman Ganjur saja, Ki Tumenggung Suranata
juga sudah mengatakan semuanya terserah paman Ganjur, apakah mau kembali ke
kotaraja atau akan menetap seterusnya di desa Tingkir" kata Karebet.
Lurah
Wiguna menganggukkan kepalanya, dan iapun menjawab:"Ya, tidak masalah
kalau rombongan kita bertambah satu orang, tetapi kita tidak bisa berjalan
cepat karena kita membawa tiga ekor kuda yang memuat beban"
Karebetpun
mengangguk-anggukkan kepalanya, kalau berangkat bersama rombongan dari kotaraja
ke Tingkirpun tidak bisa ditempuh dalam satu hari, apalagi kini Lurah Wiguna
membawa kuda beban, yang berjalan lambat.
Merekapun
berbincang sebentar tentang keberangkatan mereka besok pagi, dan setelah dirasa
cukup, kemudian Lurah Wiguna pun pamit untuk kembali ke Kraton.
Beberapa
saat kemudian Karebetpun melangkahkan kakinya keluar dari dalem Suranatan,
menuju ke arah selatan, ke desa Kadilangu.
Disepanjang
jalan, langit yang cerah dan udara pagi yang segar di kotaraja mengiringi
langkah Karebet yang berjalan menuju tempat Kanjeng Sunan Kalijaga.
Sambil
berjalan, angan-angan Karebet mengembara, seperti burung rajawali dari Pengging
yang terbang tinggi diangkasa menembus awan dan melampaui beberapa puncak
gunung di tanah Jawa.
Karebet
merasa, ia belum lama berada di kotaraja Demak, dan besok pagi dia sudah harus
berangkat ke Pajang bersama rombongan pekerja dari Kraton, bekerja babad alas,
sebuah hutan yang akan dibuatnya menjadi sebuah Kadipaten, dan ia adalah orang
yang akan diangkat menjadi seorang Adipati di Pajang.
"Aku
akan jadikan Pajang bukan hanya sebuah Kadipaten kecil, tetapi harus lebih
besar dari Pengging Witaradya, seperti pada saat Eyang Adipati Dayaningrat
berkuasa" kata Karebet sambil terus berjalan ke Kadilangu.
Dengan
langkah yang teratur, Karebet terus berjalan ke selatan, lalu berbelok ke arah
timur.
Lalu
angan-angan Karebetpun masih mengembara melayang-layang, menukik ke bawah,
kemudian terbang lagi menyusuri pantai.
Karebetpun
berpikir mengenai sebuah sipat kandel yang akan dimiliki Kadipaten Pajang,
sebuah keris pusaka Kyai Naga Siluman, yang merupakan sipat kandel yang pernah
dipakai oleh eyangnya sewaktu masih menjadi Adipati Pengging Witaradya.
"Kata
siwa Kebo Kanigara, keris Kyai Naga Siluman akan diwariskan kepadaku, untuk
sipat kandel Kadipaten Pajang" kata Karebet dalam hati.
"Masih
kurang, kalau sipat kandel Kadipaten Pajang hanya sebuah keris Kyai Naga
Siluman, paling tidak Kadipaten Pajang harus mempunyai tiga buah tosan aji,
yang bisa dijadikan sipat kandel tegaknya Kadipaten Pajang" guman Karebet
sambil terus melangkah menuju ke arah timur.
"Bagaimana
kalau aku ingin menjadikan Kadipaten Pajang menjadi sebuah Kasultanan yang
besar, sebesar Kasultanan Demak? Tentu Pajang nantinya bukan hanya menjadi
sebuah Kadipaten yang kecil sepanjang masa, tetapi sudah berubah menjadi
Kasultanan Pajang yang besar" kata Karebet yang masih terus
berangan-angan.
"Kalau
Kadipaten Pajang nanti bisa menjadi sebuah Kasultanan yang besar, sebesar
Kasultanan Demak, apa yang bisa aku perbuat untuk mencari beberapa pusaka
sebagai sipat kandel ?" tanya Karebet kepada diri sendiri.
"Pusaka
apa yang bisa dijadikan sipat kandel untuk Kasultanan Pajang kalau Pajang
nantinya menjadi sebesar Kasultanan Demak ?" guman Karebet hampir tak
terdengar.
"Yang
bisa menjadi sipat kandel kerajaan besar adalah pusaka dari Kraton
Majapahit" pertanyaan Karebet dijawabnya sendiri, sambil melanjutkan
angan-angan besarnya.
"Saat
itu Kerajaan Majapahit mampu menguasai Nuswantara, dan pada saat perang dengan
Kerajaan Demak yang baru berdiri, Sang Prabu Brawijaya Pamungkas kalah perang,
maka semua pusaka Majapahit di boyong ke Demak. Semua pusaka dari Majapahit
yang sekarang berada di Kasultanan Demak, besok bisa dijadikan sebagai sipat
kandel Kasultanan Pajang yang besar" kata Karebet berangan angan.
"Kyai
Nagasasra, Kyai Sabuk Inten dan Kyai Sengkelat, ketiga pusaka itu bisa menjadi
sipat kandel Kasultanan Pajang yang besar" kata Karebet sambil terus
berjalan.
"Bagaimana
caranya ketiga pusaka sipat kandel Kasultanan Demak, dipindahkan dari ruang
pusaka Kraton Demak ke Pajang ?" pertanyaan itu melingkar-lingkar di
pikiran Karebet.
Angan-angan
Karebet terputus ketika ia sampai di sungai Tuntang, dan iapun menyeberang
masuk ke dalam sungai, berjalan menuju ke arah timur, ke desa Kadilangu.
Ketika
Karebet telah sampai di Kadilangu, santri yang menyambutnya bercerita kalau
kedua sahabatnya, Pemanahan dan Penjawi telah kembali ke Sela tadi pagi
beberapa saat setelah matahari terbit.
Hari itu
Kanjeng Sunan Kalijagapun mengajar Karebet sampai menjelang siang.
Seperti
biasanya, setelah sholat dhuhur berjamaah, maka Karebetpun bekerja membantu
para santri mengerjakan beberapa pekerjaan.
Ketika
matahari sudah condong kebarat, setelah sholat Ashar berjamaah, Karebetpun
pamit kepada Kanjeng Sunan Kalijaga, karena besok pagi ia bersama rombongan
akan berangkat menuju Pajang.
Kanjeng
Sunan Kalijagapun memberi beberapa nasehat dan petunjuk untuk bekal Karebet
disaat babad alas didaerah Pajang.
"Kalau
kau ada keperluan ke kotaraja, kau bisa mampir ke Kadilangu Karebet" kata
Kanjeng Sunan Kalijaga perlahan-lahan.
"Kau
bisa bawa beberapa pikul jagung yang ada di lumbung Kadilangu untuk bekalmu
nanti" kata Kanjeng Sunan
"Terima
kasih Kanjeng Sunan, kelihatannya dari Kraton sudah membawa banyak bekal,
lagipula nanti rombongan akan mampir di Tingkir" dan Karebetpun
menjelaskan keinginan pamannya Ganjur yang ingin pergi ke Tingkir.
Kemudian
Karebetpun mohon diri, dan iapun melangkahkan kakinya keluar dari dalem
Kadilangu, menuju ke kotaraja.
Ketika
matahari semakin turun di langit barat, dan langitpun semakin redup, Nyai
Madusari yang baru saja keluar dari gerbang Kraton dan saat ini sedang bejalan
di alun-alun, melihat Karebet sedang berjalan menuju kearahnya.
"Karebet"
kata Nyai Madusari setelah Karebet berada didepannya.
"Nyai
Madusari, mau pulang ?" tanya Karebet.
"Ya,
eh Karebet, baru saja didepan Kaputren, Tumpak bicara kepadaku, besok pagi dia
akan ikut didalam rombongan dari Kraton yang akan pergi ke Pajang
bersamamu" kata Nyai Madusari sambil tersenyum manis.
"Ya,
kata Tumpak kemarin memang dia ingin ikut ke Pajang, rupanya dia sudah minta
ijin ke Tumenggung Gajah Birawa" kata Karebet.
Nyai
Menggungpun tersenyum, lalu iapun berkata :"Ya, Tumpak juga bilang
begitu"
"Nyai,
jangan lupa, pamitkan ke Gusti Putri besok pagi aku akan berangkat bersama
rombongan ke Pajang" kata Karebet.
"Ya,
Karebet, tetapi jangan lupa, kalau ada kesempatan, kau harus memberi kabar ke
Gusti Putri" pesan Nyai Madusari.
"Ya,
pasti nyai, aku tak akan lupa. Nyai, aku akan kembali ke dalem Suranatan nyai,
aku besok akan berangkat bersama paman Ganjur" kata Karebet
"Baik
Karebet" kata nyai Menggung.
Dan
merekapun berpisah, Nyai Madusari pulang ke dalem Katumenggungan, sedangkan
Karebet menuju ke dalem Suranatan.
Malam itu,
setelah selesai mandi dan makan, Karebet duduk didepan rumah, tetapi pamannya
Ganjur yang tadi terlihat sedang duduk didepan, sekarang tidak terlihat lagi.
"Pergi
kemana Paman Ganjur, biasanya dia tidak pernah pergi, kenapa sekarang
menghilang ?" Karebetpun menengok kanan dan ke kiri, tak nampak seorangpun
yang berada disana. Setelah menunggu agak lama, terlihatlah Ganjur berjalan
sambil tersenyum, Karebetpun tertawa melihat Ki Ganjur tersenyum, bukan karena
ia mengetahui penyebab pamannya tersenyum, tetapi Karebet tertawa karena
melihat pamannya yang sudah tua sedang tersenyum.
"Paman
dari mana, eh, selama ini saya jarang melihat paman tersenyum, tetapi malam ini
paman bisa tersenyum senang, kenapa ?" tanya Karebet sambil menggeser
duduknya, memberi tempat kepada pamannya.
"Aku
sudah pamit kepada Ki Tumenggung Suranata" kata pamannya, ternyata
pamannya pergi menemui Ki Tumenggung.
"Kalau
hanya pamit kepada Ki Tumenggung, itu bukan suatu hal yang luar biasa paman,
tetapi kenapa paman bisa tersenyum senang ?" tanya Karebet.
"Aku
diberi bekal uang oleh Ki Tumenggung, ini yang penting Karebet" kata
pamannya sambil tertawa.
"Ya
paman, uangnya disimpan saja, jangan sampai hilang. Paman, semua yang akan
dibawa besok pagi apakah sudah di bungkus pakai kain?"
"Sudah,
besok kita tinggal berangkat, lagipula yang akan dibungkus tidak ada, pamanmu
ini hanya mempunyai beberapa pakaian saja" kata pamannya.
"Kalau
soal pakaian, kita sama paman" kata Karebet sambil tertawa lepas
Malam
sudah sampai di saat sepi wong, keduanyapun sudah masuk ke dalam rumah,
bersiap-siap untuk beristirahat karena akan melakukan sebuah perjalanan yang
jauh.
Malam
semakin larut, saat itu sudah lingsir wengi, sudah lewat tengah malam,
terdengar suara cengkerik yang tanpa henti mengusik sepinya malam, dan
kadang-kadang masih diselingi suara serak seekor burung malam.
Fajar
memerah di bang wetan, ketika beberapa kali terdengar kokok ayam jantan
bersahut-sahutan menyambut pagi, kemudian disusul pula oleh bunyi kicau burung
liar di beberapa pohon di halaman dalem Suranatan, di kamarnya, terlihat
Karebet dan Ki Ganjur menggeliat bangun, dan mulai mempersiapkan dirinya untuk
melakukan sebuah perjalanan jauh.
Setelah
semuanya siap, terlihatlah Ki Ganjur dan Karebet yang masing-masing membawa
sebuah bungkusan, keluar dari pintu regol dalem Suranatan menuju ke Kraton.
Hari masih
pagi, ketika keduanya memasuki pintu gerbang Kraton yang dijaga oleh dua orang
prajurit Wira Braja, ternyata didepan Sasana Sewaka sudah berkumpul belasan
orang prajurit yang sudah siap berangkat ke empat daerah.
Agak di
sudut tembok dekat pintu gerbang, sudah siap belasan ekor kuda yang diberi
beban di punggung sebelah kiri dan kanannya, beban yang berisi bahan pangan dan
beberapa alat yang diperlukan untuk membangun sebuah dalem Kadipaten.
Ketika
Lurah Wiguna melihat Karebet sudah datang, maka iapun mendekati dan berkata
:"Kita menunggu Ki Patih Wanasalam"
"Ki
Lurah, apakah nanti kita perlu dilepas oleh Ki Patih ?" tanya Karebet.
"Ya,
karena nanti kita akan diberi sebuah bendera Gula Kelapa yang besar, yang akan
dikibarkan di halaman calon bangunan pendapa Sasana Sewaka Kadipaten
Pajang" jawab Ki Lurah.
"Karebet"
ada suara memanggil nama Karebet, iapun menengok, terlihatlah seorang prajurit
Wira Tamtama sedang tersenyum, ternyata dia adalah Tumpak.
"Aku
jadi ikut ke Pajang, aku sudah minta ijin kepada Ki Tumenggung Gajah
Birawa" kata Tumpak.
"Ya,
tapi nanti di Pajang kita bekerja berat, membangun sebuah dalem Kadipaten"
kata Karebet menjelaskan.
"Tidak
begitu berat, jauh lebih berat disaat aku bertempur melawan Klabang Ireng"
kata Tumpak sambil tertawa.
Karebet
juga tertawa, ternyata Tumpak masih selalu ingat akan pertempuran yang berat
ketika didekat sungapan sungai Tuntang.
Satu demi
satu prajurit yang akan berangkat mulai berdatangan, sehingga rombongan hampir
lengkap, tinggal menunggu Pangeran Arya, Pangeran Hadiri dan Arya Penangsang
yang saat itu sudah dijemput oleh prajurit Wira Tamtama.
Tak lama
kemudian, ketiganya sudah tiba didepan Sasana Sewaka, dan dari ruang dalam,
keluarlah Ki Patih Wanasalam, bersama Tumenggung Gajah Birawa, dengan dikawal
oleh seorang prajurit Wira Tamtama.
Setelah
berada di depan rombongan, maka Ki Patih Wanasalam berpesan untuk berhati-hati
dalam bekerja, lalu iapun menyerahkan sebuah bendera Gula Kelapa yang masih
terlipat rapi kepada setiap ketua rombongan.
Lurah
Wiguna maju kedepan dan menerima bendera gula Kelapa, bersama tiga orang Lurah
dari kelompok Prabayasa, kelompok yang akan membangun dalem Kadipaten dan
pesanggrahan.
Setelah
semuanya selesai, maka Patih Wanasalampun kembali masuk kedalam ruang dalam
bersama Tumenggung Gajah Birawa dan seorang prajurit Wira Tamtama.
Beberapa
saat kemudian, Lurah Wigunapun mengajak rombongan untuk berangkat, dan
rombongan yang terdiri dari tiga orang prajurit kelompok Prabayasa, dua orang
tukang adang, seorang prajurit Wira Tamtama dan seorang prajurit Wira Manggala,
ditambah Karebet dan Ki Ganjur, mereka semua segera berjalan menuju pintu
gerbang kraton.
Ki Lurah
Wiguna lalu menuju ke tempat kuda beban yang menungu didekat pintu gerbang,
lalu iapun menyuruh tiga orang dari rombongannya untuk menuntun tiga ekor kuda
yang membawa beban, yang akan dibawa ke Pajang.
Ketika
Karebet bersama rombongan berjalan keluar dari pintu gerbang kraton, terlihat
ada beberapa ekor kuda yang berada di halaman luar.
"Kuda
siapakah ini ? Rombongan siapakah yang akan naik kuda ?" tanya Karebet
dalam hati.
Beberapa
kuda yang berada di halaman luar, diantaranya tampak seekor kuda gagah berwarna
hitam, Gagak Rimang, yang sedang dijaga oleh seseorang yang sudah pernah
dilihatnya, Lurah Pasar Pon.
"Sembilan
ekor kuda, termasuk kuda hitam Gagak Rimang milik Penangsang, berarti Ki Lurah
Pasar Pon juga ikut pergi ke Jipang" kata Karebet dalam hati, sambil
menghitung jumlah kuda yang berada diluar pintu gerbang.
Melihat
Karebet sedang memperhatikan kuda Gagak Rimang, Ki Lurah Wigunapun mendekatinya
dan berkata:"Kemarin Raden Penangsang telah membeli beberapa ekor kuda,
jadi hanya rombongan menuju Jipang yang berangkat naik kuda, sedangkan tiga
rombongan lainnya berjalan kaki"
"Ya"
kata Karebet sambil terus berjalan ke arah selatan.
"Ternyata
perhitungan siwa Kebo Kanigara tepat sekali, aku memang butuh kuda untuk para
prajurit Pajang, demikian juga dengan Penangsang, diapun butuh puluhan kuda
untuk para prajurit Jipang" kata Karebet dalam hati, sambil memuji jalan
pikiran Penangsang.
Pada saat
itu, empat buah rombongan kecil, secara bersamaan sedang melakukan perjalanan,
berangkat ke Kalinyamat, Prawata, Jipang dan Pajang.
Pangeran
Hadiri beserta rombongannya berjalan menuju ke arah utara, menuju daerah
Kalinyamat:"Kalinyamat tidak begitu jauh, tidak sampai satu hari sudah
sampai disana. Letaknya disebelah selatan Bandar Jepara"
"Membuat
sebuah bangunan Pesanggrahan hanya butuh waktu sebentar saja, tidak seperti
membuat Kadipaten yang harus ada bangunan Sasana Sewaka" kata Pangeran
Hadiri yang senang mendapat bagian daerah Kalinyamat :"untuk selanjutnya
aku akan tinggal di Kalinyamat"
Rombongan
Pangeran Arya adalah rombongan yang paling belakang, berjalan kaki ke arah
timur dibelakang rombongan ke Jipang.
"Daerah
Prawata sudah semakin ramai" kata Pangeran Arya, yang juga bernama Bagus
Mukmin.
"Daerah
Prawata, berada didekat hutan, mudah-mudahan bisa menjadi pesanggrahan yang
nyaman, aku akan menetap di Prawata" kata Pangeran Arya sambil terus
berjalan ke arah timur.
Rombongan
Penangsang adalah satu-satunya rombongan yang naik kuda, semuanya berjumlah dua
belas ekor kuda, termasuk tiga ekor kuda milik Kraton yang dipergunakan sebagai
kuda beban.
Melalui
Lurah Pasar Pon, Penangsang memang membeli delapan ekor kuda sekaligus,
kuda-kuda yang tegar, nanti akan diperuntukkan bagi keperluan prajurit Jipang.
Didepan
sendiri, diatas punggung Gagak Rimang, duduk seorang bertubuh sedang, kokoh
kuat, berkumis melintang, itulah Penangsang yang sedang berpikir untuk
membesarkan Kadipaten Jipang. "Untuk masa yang akan datang, Kadipaten
Jipang harus menjadi sebuah kadipaten yang besar" kata Penangsang dalam
hati.
"'Kita
singgah di Panti Kudus" kata Arya Penangsang kepada Lurah Kerta, pemimpin
rombongannya, seorang Lurah dari kelompok Prabayasa, yang termasuk dalam
kesatuan prajurit Wira Manggala.
"Ke
tempat Kanjeng Sunan Kudus?" tanya Ki Lurah Kerta sambil mendekatkan
kudanya ke arah Gagak Rimang.
"Ya"
jawab Arya Penangsang:"Kita sebentar saja di singgah di Kudus"
"Baik
raden" kata lurah Kerta.
Setelah
melewati sungai Tuntang, rombongan Arya Penangsang yang menuju Jipang berjalan
agak lambat karena adanya tiga ekor kuda beban. "Lambat sekali" kata
Arya Penangsang, dia tidak sabar ketika melihat ketiga ekor kuda beban yang
berjalan sangat lambat:"Ki Lurah Kerta, tiga ekor kuda beban itu berjalan
seperti siput, kau lepas tiga orangmu untuk menggandeng tiga ekor kuda beban,
kita mendahului menuju Panti Kudus, nanti sebelum matahari terbenam kita bisa
bertemu lagi"
"Baik
Raden" kata Ki Lurah Kerta, dan iapun kemudian memilih tiga orang, dan
tiap orang akan naik di punggung kuda dengan menggandeng seekor kuda yang
membawa beban.
Dua orang
juru adang dan seorang prajurit Wira Manggala, ditugaskan untuk membawa
masing-masing seekor kuda beban, sedangkan yang enam lainnya akan memacu
kudanya menuju Panti Kudus.
"Kalian
bertiga membawa tiga ekor kuda beban itu, nanti sore sebelum matahari terbenam
kita bertemu di wit growong di sebelah selatan hutan Prawata, yang dekat dengan
sebuah ara ara. kalian tahu tempat wit growong ?" tanya Arya Penangsang
kepada ketiganya.
"Saya
tahu tempatnya, Raden" kata salah seorang dari mereka;"Sebuah pohon
yang ukurannya besar sekali yang batangnya berlubang, berada didekat sebuah
ara-ara, letaknya berada disebelah selatan hutan Prawata"
"Ya,
kalau kau tidak bisa menemukan tempatnya, kau bisa tidur di manapun"
"Baik
Raden" jawab prajurit Wira Manggala.
"Kalau
kau bisa menemukan wit growong dan aku belum datang, kau bisa menginap disana,
pagi harinya, kau tinggalkan saja aku, lanjutkan perjalanan menuju rumahku di
Jipang" kata Penangsang.
"Sekitar
tengah hari kau akan sampai di Jipang, dan kalau aku belum datang juga,
temuilah orang tua yang tinggal di rumah itu, dia adalah penjaga rumahku di
Jipang, namanya paman Matahun, bilang saja kepadanya, kalau kau adalah
utusanku" kata Arya Penangsang.
"Baik
Raden, saya akan menemui ki Matahun" jawab prajurit itu.
"Kalau
begitu Ki Lurah Kerta, kita bisa lebih cepat sekarang" ajak Penangsang.
"Baik
Raden" jawab Ki Lurah.
Kaki
Penangsangpun kemudian menyentuh perut Gagak Rimang, dan kuda berwarna hitam
itu cepat melompat kedepan, diikuti oleh kuda Lurah Pasar Pon, Lurah Kerta dan
tiga orang lainnya.
Gagak
Rimang melompat gembira, berlari kedepan dengan cepat dan tidak bisa dikejar
oleh kuda-kuda lainnya.
Matahari
memanjat langit sudah agak tinggi, ketika rombongan Penangsang terhenti di tepi
barat sungai Serang.
Gagak
Rimang adalah seekor kuda pilihan, yang tidak takut melihat air, maka dengan
tangkasnya, Penangsang mengajaknya turun, masuk ke dalam sungai Serang,
berjalan memotong arus sungai, setelah itu baru diikuti oleh kuda-kuda yang
lain.
"Kita
hampir sampai" kata Penangsang kepada Lurah Kerta ketika berada di
seberang sungai, dan kembali merekapun menjalankan kudanya dengan ceoat menuju
Panti Kudus.
Beberapa
saat kemudian, rombongan berkuda Arya Penangsang memasuki halaman Panti Kudus,
terlihat beberapa santri yang berada di halaman segera berlari menghampiri
rombongan berkuda.
Setelah
semua tamu turun dari kuda, para santripun kemudian memegang kendali kuda, dan
membawa kudanya kehalaman belakang untuk diberi minum.
Beberapa
orang santri mempersilahkan para tamu untuk duduk di pendapa, hanya Penangsang
yang berjalan menuju keruang dalam.
Salah
seorang santri segera mencari Kanjeng Sunan Kudus, memberi tahukan kalau ada
tamu.
Kanjeng
Sunan Kudus pun kemudian bergegas ke ruang dalam, dan dilihatnya salah seorang
tamunya telah duduk di ruang dalam.
"'Kau
Penangsang" kata Kanjeng Sunan Kudus menyapa tamunya, tampak senyum di
bibirnya, melihat murid yang dikasihinya.
Penangsangpun
berdiri dan mencium tangan Kanjeng Sunan Kudus, dan Kanjeng Sunan Kuduspun
memeluknya.
"Kau
selamat Penangsang ?" tanya Kanjeng Sunan Kudus
"Atas
pengestu Kanjeng Sunan, saya tak kurang suatu apapun" jawab Penangsang.
"Kau
bersama rombongan ?" tanya Sunan Kudus.
"Ya
Kanjeng Sunan, sebuah rombongan resmi dari Kraton, akan pergi ke Jipang"
kata Penangsang.
"Kau cerita
nanti saja Penangsang, kau istirahat dan minum saja dulu" kata Kanjeng
Sunan Kudus dan dipanggilnya salah seorang santrinya untuk mengambilkan minum
untuk para tamu.
Tak lama
kemudian, ada seorang santri masuk kedalam ruangan, dengan membawa kelapa muda
yang sudah diratakan sabutnya dan disuguhkan kepada Arya Penangsang, sedangkan
beberapa santri yang lainnya sedang membawakan minuman untuk para tamu yang ada
di pendapa.
Setelah
beberapa saat beristirahat dan minum air kelapa muda, maka dihadapan Kanjeng
Sunan Kudus, Penangsang bercerita tentang titah Kanjeng Sultan Trenggana yang
akan mengangkatnya menjadi Adipati Jipang.
Selain itu
Penangsangpun juga bercerita tentang pengangkatan Karebet sebagai Adipati di
Pajang dan pembuatan pesanggrahan di daerah Kalinyamat untuk Pangeran Hadiri
dan di daerah Prawata untuk Pangeran Arya.
"Bapa
Sunan, rombongan ini dipimpin oleh Ki Lurah Kerta, seorang prajurit dari
kelompok Prabayasa yang termasuk dalam kesatuan Wira Manggala" kata Arya
Penangsang menjelaskan.
"Bagus
sekali Penangsang, kalau pamanmu Sultan Trenggana mau memikirkan masa depanmu,
dan kaupun akan diangkat menjadi seorang Adipati di Jipang" kata Sunan
Kudus.
"Ya
Bapa Sunan, nanti saya akan dibuatkan sebuah dalem Kadipaten di Jipang"
jawab Penangsang.
"Selain
kau Penangsang, Pangeran Arya dan Pangeran Hadiri, juga mendapat pesanggrahan
di Prawata dan Kalinyamat ?" tanya Kanjeng Sunan.
"Betul
Bapa Sunan" jawab Penangsang.
"Kau
bilang Karebet juga akan menjadi Adipati Pajang?" tanya Kanjeng Sunan
Kudus.
"Ya
bapa Sunan" jawab Penangsang.
Kanjeng
Sunan Kudus terdiam sejenak, tapi kemudian Kanjeng Sunan Kuduspun bertanya lagi
:"Berapa orang yang berangkat dari Kraton, Penangsang ?"
"Dari
Kraton berangkat tujuh orang, bapa Sunan" kata Arya Penangsang :"Ditambah
saya dan seorang lagi, Lurah Pasar Pon, beserta tiga ekor kuda beban yang
berisi bahan makanan dan beberapa alat untuk mendirikan bangunan."
"Ketika
berangkat dari Kraton semuanya berjumlah sembilan orang ?" tanya Kanjeng
Sunan Kudus :"Kenapa yang datang ke Panti Kudus hanya enam orang?"
"Saya
bersama lima orang berangkat lebih dulu, yang tiga orang prajurit saya tinggal
dibelakang, bapa Sunan, saya suruh mereka berjalan sendiri sambil membawa tiga
ekor kuda beban, mereka langsung ke Jipang, tidak singgah di Panti Kudus, tiga
ekor kuda beban itu jalannya seperti siput, lambat sekali" kata
Penangsang.
"Penangsang"
kata Sunan Kudus sareh :"Kau harus lebih bersabar lagi, lebih sabar
Penangsang, tidak seharusnya kau tinggalkan tiga orang berjalan sendiri menggandeng
tiga ekor kuda beban"
Arya
Penangsang mendengarkan semua nasehat Kanjeng Sunan Kudus, dan iapun
menundukkan kepalanya.
"Kalau
tiga orang itu bertemu dengan beberapa orang perampok, maka pekerjaan tiga
orang prajurit itu sangat berat, mempertahankan enam ekor kuda beserta semua
barang yg dibawanya" kata Sunan Kudus.
"Ya
bapa Sunan" jawab Penangsang sambil menundukkan kepalanya.
"Kalau
ada yang berani merampok, akan aku kejar perampoknya meskipun harus sampai
diujung tanah Jawa" kata Arya Penangsang di dalam hatinya.
"Penangsang,
Kau sudah mempersiapkan warangka praja Kadipaten Jipang ?" tanya gurunya.
"Belum
bapa Sunan, saya belum mencari orang yang akan menjadi patih dan beberapa
jabatan keprajuritan Jipang" jawab Penangsang.
"Kau
bisa mencari orang yang setia kepada keluargamu, yang sudah terbukti taat
kepadamu" kata Kanjeng Sunan Kudus.
"Baik
bapa Sunan" kata Penangsang.
"Dari
tujuh orang yang berangkat dari Kraton, ada berapa tukang kayu yang ikut serta
?" tanya Kanjeng Sunan Kudus
Penangsangpun
menjelaskan :"Ada tiga orang tukang kayu Kanjeng Sunan, yang dua orang
adalah tukang adang, sedangkan yang seorang adalah prajurit Wira Tamtama yang
mengawal bendera Gula Kelapa dan seorang lagi prajurit Wira Manggala yang akan
membacakan titah Kanjeng Sultan"
"Kau
malam ini sebaiknya menginap di Kudus, Penangsang, disamping kau bisa mengaji
lagi, nanti akan aku carikan tambahan tiga orang tukang kayu dari Kudus, mereka
besok akan ikut bersamamu membangun dalem Kadipaten di Jipang" kata
gurunya.
"Besok
mereka akan berangkat naik kuda bersamamu, dan setelah selesai, kudanya
ditinggal saja di Jipang, biar kuda itu menjadi milikmu, dan dapat kau gunakan
untuk kepentingan Kadipaten Jipang" kata Sunan Kudus
"Terima
Kasih Kanjeng Sunan, biarlah malam nanti rombongan akan tidur disini"
jawab Penangsang, dan iapun beberapa saat kemudian masih berbincang dengan
Kanjeng Sunan Kudus, sampai terdengar suara kentongan tanda sudah masuk waktu
dhuhur, maka Kanjeng Sunan Kuduspun mengajak para tamu untuk sholat berjamaah
bersama para santri, setelah itu merekapun dijamu makan siang di Panti Kudus.
Sementara
itu, rombongan yang menuju Pajang telah menyeberangi sungai Tuntang dan setelah
sampai di seberang, merekapun beristirahat di bawah pohon di tepi sungai
Tuntang. Merekapun membuka bekal nasi yang dibawanya, ikan asin, dan sayur
terong, dan sambal lombok ijo.
"Nasinya
paman Ganjur, silahkan tambah lagi" kata Karebet kepada pamannya.
"Ada
ikan asin beserta sambelnya Ki Ganjur" Lurah Wigunapun menawarkan lauk
kepada Ganjur
"Ya,
nanti aku ambil sendiri" kata Ganjur.
"Paman
Ganjur jarang melakukan perjalanan jauh, apakah badan paman terasa lelah
?" tanya Karebet kepada pamannya yang tampak kelelahan.
"Sedikit
lelah Karebet" kata pamannya.
"Adi
Karebet, kita terpaksa berjalan agak lambat, karena kita harus menuntun tiga
ekor kuda beban" kata Lurah Wiguna sambil mengambil air minum.
"Tidak
apa-apa Ki Lurah, hanya terpaut sedikit, tidak seberapa, malam ini kita tetap
menginap di jalan, baru besok kita sampai di desa Tingkir" kata Karebet.
"Ya,
besok kita menginap di desa Tingkir, baru lusa kita berangkat ke Pajang"
kata Ki Lurah.
"Ya,
mudah-mudahan lusa sebelum sore hari kita sudah sampai di Pajang" kata
Karebet sambil menyelesaikan makan siangnya.
"Tapi
Adi, apakah adi Karebet tahu daerah mana di Pajang yang akan kita bangun
menjadi sebuah Kadipaten ?" tanya Ki Lurah.
"Aku
tahu di daerah Pajang, ada sebuah daerah yang berupa sebuah bulak yang luas,
sebaiknya disitu nanti yang akan kita bangun menjadi sebuah Kadipaten"
kata Karebet..
Lurah
Wigunapun menjawab :"Itu bagus adi, kalau sudah berupa lapangan, akan
memudahkan para tukang yang akan bekerja"
"Ya,
kita tinggal menebang pohon untuk mencari kayu jati dan membuat ompak dari batu
yang banyak terdapat di kaki gunung Merapi" jawab Karebet.
"Mudah-mudahan
pekerjaan kita bisa lancar" guman Ki Lurah.
Waktupun
berjalan terus, matahari merayap dilangit sebelah barat, rombongan Karebet yang
menuju Pajang sudah meneruskan perjalanannya kembali.
Ketika
senja menjelang, langit menjadi redup, sebentar lagi angkasa menjadi gelap,
Lurah Wigunapun mencari tempat untuk bermalam.
"Kita
hampir sampai di daerah Sima, besok tengah hari, mudah-mudahan bisa sampai di
desa Tingkir" kata Lurah Wiguna.
"Kita
bermalam disini, tidak jauh dari sungai kecil" kata Lurah Wiguna dan
kemudian memerintahkan rombongannya untuk berhenti.
"Kita
buat perapian" kata ki Lurah Wiguna.
Ketika
perapian sudah menyala, merekapun segera berjongkok mengelilingi api, dan
terasa betapa nyala api bisa menghangatkan udara yang terasa agak dingin.
"Ki
Lurah" kata salah seorang juru adang kepada Lurah Wiguna :"Malam ini
kita menanak nasi atau membakar ubi dan jagung?"
"Nasi
yang tadi pagi masih ada, tetapi tinggal sedikit. Untuk kekurangannya kita bisa
membakar jagung dan ubi saja, begitu adi Karebet ?" tanya Lurah Wiguna
"Ya,
tidak apa apa, saya akan makan jagung bakar saja" kata Karebet sambil
mengambil sebuah jagung muda dan dimasukkannya kedalam perapian.
"Malam
ini kenapa nyamuknya banyak sekali ?" Ki Ganjur menggeremang sendiri di
dekat sebuah batu besar.
"Agak
mendekat ke perapian paman, disini tidak ada nyamuk" kata Karebet sambil
makan jagung bakar.
Malam
semakin larut, bukan hanya rombongan yang akan ke Pajang saja yang
beristirahat, rombongan yang lainnyapun semuanya juga telah beristirahat,
Pangeran Hadiri beserta rombongannya telah beristirahat disebuah bulak di
daerah Kalinyamat. Dengan membentangkan beberapa kain panjang, maka jatuhnya
embun malam dapat dikurangi.
Rombongan
Pangeran Arya juga beristirahat di gubug hutan Prawata yang biasanya dipakai
untuk berkemah Kanjeng Sultan Trenggana.
Suasana
terasa gelap didalam hutan, kemudian seorang prajurit membuat sebuah obor yang
menyala sampai akhirnya setelah melewati tengah malam, obor itupun padam.
Ditempat
lainnya, rombongan tiga orang prajurit yang membawa tiga ekor kuda beban telah
beristirahat di dekat Wit Growong di sebelah selatan hutan Prawata.
"Ternyata
Raden Penangsang malam ini tidak menginap di dekat Wit Growong, berarti besok
pagi kita langsung menuju rumah Raden Penangsang di Jipang, menemui Ki
Matahun" kata prajurit Wira Manggala kepada dua orang tukang adang.
"Kita
berangkat setelah fajar" katanya sekali lagi.
"Ya"
jawab salah seorang tukang adang:"Malam ini Raden Penangsang, Ki Lurah dan
lainnya tidur dimana?"
Sementara
itu di rombongan Arya Penangsang, Lurah Kerta dan empat orang temannya, malam
ini tidur di tempat yang tidak jauh dari kaki gunung Muria sebelah selatan,
tidur lelap berkerudung kain panjang di pendapa Panti Kudus, sedangkan Arya
Penangsang tidur di ruang dalam.
Malampun
segera berlalu, matahari telah naik di langit semakin tinggi, langitpun
berwarna biru cerah, sebentuk awan putih tertiup angin berjalan ke arah barat.
Pagi yang
cerah, di daerah Kalinyamat, Pangeran Hadiri bersama sorang lurah dari
Prabayasa, Lurah Truna, sedang berkeliling mencari tempat yang dianggap tepat
untuk didirikan sebuah pesanggrahan.
"Ki
Lurah Truna, kelihatannya di tempat inilah yang paling tepat untuk didirikan
sebuah bangunan, tempat yang nyaman dan tidak begitu panas" kata Pangeran
Hadiri
"Baik
Pangeran, kita akan bangun pesanggrahan disini, dan untuk saat ini kita buat
dulu beberapa gubug untuk tempat tinggal kita" kata Ki Lurah Truna, lalu
iapun memerintahkan prajuritnya untuk mencari bambu untuk dibuat beberapa gubug
untuk tempat berteduh dan bermalam.
"Esok
lusa, baru kita bacakan titah dari Kanjeng Sultan kepada rakyat
Kalinyamat" kata Lurah Truna.
Sementara
itu, di daerah Prawata, Pangeran Arya tertarik dengan sebuah daerah yang dekat
dengan sebuah sungai kecil.
"Aku
senang mendengar suara air mengalir, Ki Lurah Semi, aku pilih tempat ini, dan
untuk seterusnya aku akan tinggal di tempat ini, rasanya kalau tinggal di
daerah ini, hati akan terasa nyaman" kata Bagus Mukmin.
"Baik
Pangeran, akan saya bangun pesanggrahan di daerah ini" kata Lurah Semi,
pemimpin rombongan dari Kraton.
Pada saat
yang sama, rombongan berkuda Arya Penangsang berderap menuju Jipang. Mereka
berkuda telah jauh meninggalkan Kudus.
Jumlah
rombongan Arya Penangsang ternyata menjadi sembilan orang, bertambah tiga orang
tukang kayu dari Kudus, bantuan dari gurunya, Kanjeng Sunan Kudus.
"Ki
Lurah Kerta" panggil Penangsang kepada Lurah Kerta, pemimpin rombongannya.
"Ya
Raden" Lurah Kerta pun mendekatkan kudanya berjejer dengan Gagak Rimang.
"Kita
tidak usah berhenti di Wit Growong, kita terus saja berjalan ke selatan menuju
Jipang, supaya selisih kita dengan tiga orang yang membawa tiga ekor kuda beban
tidak terlalu jauh" kata Penangsang.
"Baik
Raden" kata ki Lurah Kerta, yang kemudian bersama Penangsang menambah
kecepatan laju kudanya.
Derap kuda
rombongan Arya Penangsang meninggalkan debu yang berhamburan di sebelah
menyebelah jalan yang dilaluinya.
Matahari
terus bergerak naik ke atas, dan setelah melewati puncak langit, Wit Growong
sudah jauh dibelakang,
"Sebentar
lagi kita sampai disebuah sungai, kita istirahat sambil memberi minum kuda
kita" kata Penangsang sambil memperlambat kuda hitamnya.
Beberapa
saat kemudian merekapun beistirahat, sambil makan bekal pemberian dari Sunan
Kudus.
"Semua
kuda-kuda juga diberi minum" kata Ki Lurah Kerta setelah semuanya telah
selesai makan.
"Kita
masih agak jauh, setelah hari menjadi gelap, kita baru sampai di Jipang"
kata Penangsang, dan setelah itu iapun mengajak meneruskan perjalanan.
Matahari
terlalu cepat turun kebawah, malampun sudah lama menyelimuti Jipang, ketika
rombongan Arya Penangsang memasuki daerah Jipang dengan membawa beberapa buah
obor.
Penangsangpun
memperlambat kudanya, ketika dilihatnya dua orang Jipang membungkuk hormat
padanya.
Perlahan-lahan
kuda-kuda itu berjalan menuju sebuah rumah yang paling besar di Jipang, rumah
Penangsang peninggalan kakeknya Sunan Ngudung, seorang Senapati Perang dari
Kasultanan Demak yang gugur sewaktu berperang melawan Majapahit.
Kuda
Penangsangpun dibelokkan memasuki sebuah regol, dan ketika Gagak Rimang
berhenti, maka semua penumpang kuda yang datang ke Jipang, semuanya turun.
Dari dalam
rumah keluarlah seorang yang sudah tua, rambut dan jenggotnya telah memutih,
tetapi badannya yang terlatih olah kanuragan menjadikannya tetap segar.
"Paman
Matahun" sapa Arya Penangsang kepada orang tua itu.
"Ya,
anakmas Penangsang" kata Ki Matahun.
(bersambung)
Langganan:
Postingan (Atom)