Rabu, 09 Juli 2014

KERIS KYAI SETAN KOBER 7

BAB 3 : BUNGA CEMPAKA 1

Ditulis oleh : Apung GWAP

Semuanya terjadi dalam waktu yang singkat, tubuh Klabang Ireng yang dadanya terkena telapak tangan Karebet yang dilambari aji Hasta Dahana, terdorong kebelakang dan terbanting ketanah dan tidak bangun kembali, mati, menyusul adiknya, Klabang Ijo yang telah mati lebih dulu.
Dua orang kakak beradik Klabang Ireng dan Klabang Ijo, sepasang perampok yang malang melintang tak terkalahkan disekitar bandar Jepara, akhirnya menemui ajalnya ditangan Karebet, seorang prajurit Wira Tamtama yang saat itu berpakaian seperti seorang petani.
Rangga Pideksa dan Tumpak baru tersadar setelah melihat Klabang Ireng terbanting di atas tanah dan tidak dapat bangun lagi.

Keduanya lalu berjalan mendekati Karebet. yang masih memandang tubuh Klabang Ireng yang tidak bergerak.
"Klabang Ireng dan Klabang Ijo sudah mati" kata Rangga Pideksa.
"Ya Ki Rangga" kata Karebet.
"Nanti biar dikubur oleh penduduk di desa ini, sekarang kita lihat dua orang perempuan yang pingsan itu" kata Rangga Pideksa.
"Perempuan itu masih pingsan, mari kita lihat disana" kata Karebet. Mereka lalu berjalan mendekati dua orang perempuan yang masih pingsan. Rangga Pideksa menebarkan pandangan, ternyata di kejauhan, ada beberapa orang laki-laki yang sedang berdiri dan melihat ke arah perkelahian, tetapi mereka terlihat ketakutan dan tidak berani mendekat.

Rangga Pideksa melambaikan tangannya memanggil mereka supaya mendekat.
Lima orang laki-laki datang mendekat, dan Rangga Pideksapun menyuruh mereka merawat dua orang perempuan yang masih pingsan, dan menguburkan dua mayat perampok.
Mereka bertiga lalu mendekati mayat perampok kakak beradik, betapa herannya Rangga Pideksa dan Tumpak, ketika melihat di dada Klabang Ireng ada gambar telapak tangan yang berwarna hitam, yang terjadi akibat terkena telapak tangan Karebet yang dilambari aji Hasta Dahana.
Tak berapa lama kemudian, dua orang perempuan yang pingsan telah siuman kembali, lalu dua seorang bergeser mendekati Rangga Pideksa. "Ki Sanak, aku mengucapkan terima kasih karena Ki Sanak telah menolong membebaskan istriku dari penculikan" kata salah seorang dari mereka
"Ya, itu sudah menjadi kewajiban kita, tolong menolong sesama manusia, kami juga minta tolong kepada kalian, untuk menguburkan dua orang perampok yang telah mati, selanjutnya karena perempuan yang pingsan sekarang sudah sadar, kami mohon pamit" kata Rangga Pideksa.

"Jangan lupa, coba nanti kalian cari disekitar daerah ini pasti ada perahu yang telah digunakan oleh dua perampok itu" kata Rangga Pideksa selanjutnya.
Setelah berpamitan, maka ketiganya berjalan menuju perahu mereka yang berada dekat muara sungai Tuntang dengan membawa serta senjata yang digunakan oleh para perampok.
Tak banyak yang mereka bicarakan, Rangga Pideksa dan Tumpak merasa heran akibat dari perkelahian tadi, tidak ada luka segorespun di tubuh Karebet, padahal mereka melihat beberapa kali cemeti Klabang Ireng menghantam tubuh Karebet.

Matahari sudah sedikit condong ke barat, ketika Karebet dan Tumpak naik ke atas perahu dan mendayungnya kembali ke kotaraja Demak.
Perlahan-lahan perahupun melaju kembali di sungai yang berkelok-kelok menuju ke hulu, ke arah kotaraja Demak.
Karebet dan Tumpak meminggirkan perahunya ketika mereka sampai di tempat pemberangkatan tadi pagi, di arah jalan yang menuju ke Kraton. 

Setelah menambatkan perahunya, maka ketiganya berjalan menuju Kraton dan akan selesailah tugas yang dibebankan kepada mereka hari itu. Matahari hampir terbenam, ketika mereka bertiga memasuki pintu gerbang Kraton, dan merekapun menuju ruangan Wira Tamtama untuk menyimpan pedang mereka serta golok dan cemeti milik para perampok. 
Setelah selesai semuanya merekapun berpisah, Tumpak pulang kerumahnya, Karebetpun pulang ke dalem lor, sedangkan Ki Rangga, bergegas menuju dalem Suranatan untuk melaporkan hasil dari tugas yang diberikan oleh Tumenggung Suranata.

Ketika Rangga Pideksa sampai di pintu dalem Suranatan, dilihatnya seekor kuda berwarna coklat, gagah, ditambatkan di tonggak sebelah pohon belimbing.
"Kebetulan, Ki Tumenggung Gajah Birawa berada disini" kata Rangga Pideksa dalam hati.
Rangga Pideksa berjalan menuju pintu rumah dan kebetulan Tumenggung Suranata melihat dirinya, sehingga Ki Rangga dipersilahkan masuk.
"Silahkan masuk Ki Rangga" kata Tumenggung Suranata yang duduk berhadapan dengan Tumenggung Gajah Birawa.
"Bagaiamana hasil perjalananmu Ki Rangga ?" tanya Tumenggung Suranata.
"Ki Tumenggung, kami semua selamat, tetapi ada suatu peristiwa yang mengejutkan" kata Ki Rangga, lalu Ki Rangga pun bercerita semuanya, tanpa ada yang terlewati.
Tumenggung Suranata dan Tumenggung Gajah Birawa mendengarkan cerita Rangga Pideksa dengan wajah yang penuh keheranan dan kekaguman.
"Jadi Karebet mampu membunuh dua orang perampok Klabang Ireng dan Klabang Ijo sekaligus?" tanya Tumenggung Suranata.

"Ya Ki Tumenggung, kalau Klabang Ireng tidak diambil alih oleh Karebet, saya bersama Tumpak pasti sudah mati dibunuhnya" kata Rangga Pideksa.
"Aku tahu, memang Klabang Ireng adalah perampok yang berilmu tinggi" kata Tumenggung Suranata.
"Ya Ki Tumenggung, pedang Tumpak sudah terlepas, pedang saya tidak bisa menyentuh tubuhnya, padahal saat itu Klabang Ireng belum mengeluarkan senjata cemetinya" kata Rangga Pideksa.
Tumenggung Gajah Birawa mengangukkan kepalanya mendengar cerita tentang Karebet.
"Jadi ada gambar telapak tangan hitam di dada Klabang Ireng ?" tanya Tumenggung Gajah Birawa
"Ya Ki Tumenggung, kulit daging di dada Klabang Ireng hangus terbakar membentuk gambar telapak tangan, itu gambar bekas telapak tangan Karebet" kata Rangga Pideksa.
"Bagaimana selanjutnya Ki Tumenggung Suranata ?" tanya Tumenggung Gajah Birawa
"Ya, matinya Klabang kakak beradik harus dilaporkan kepada Kanjeng Sultan" kata Tumenggung Suranata
"Kebetulan malam ini saya dipanggil ke Kraton, peristiwa hari ini semuanya akan saya sampaikan kepada Kanjeng Sultan" kata Tumenggung Gajah Birawa

Waktu berjalan terus, pertemuanpun telah selesai, Rangga Pideksa sudah pulang ke rumahnya, sedangkan Tumenggung Gajah Birawa menuju Kraton, menghadap Sultan Trenggana.
Di dalem lor, setelah mandi dan membersihkan badannya, Karebet duduk diluar rumah, menganyam angan-angan tentang Gusti Mas Cempaka, putri Kanjeng Sultan Trenggana.
Sekar Kedaton yang dipingit, hampir tidak pernah keluar Kaputren, tetapi mengharapkan bertemu dengannya. "Hm besok lusa aku bertemu dengan Sekar Kedaton" kata Karebet dalam hati.
"Sekar kedaton Gusti Putri Mas Cempaka, inikah yang dikatakan Kanjeng Sunan Kalijaga ? Mungkinkah disini tempatku nggayuh kamukten ? Atau menjadi menantu Kanjeng Sultan ?" pertanyaan itu yang melingkar-lingkar di pikiran Karebet.

Pikiran Karebet juga melayang-layang, disamping melamunkan Sekar Kedaton putri Sultan Trenggana, ia juga membayangkan putra Pangeran Sekar Seda Lepen yang sebaya dirinya, Arya Penangsang.
Mereka semua adalah cucu buyut Sang Prabu Brawijaya Pamungkas, sama seperti dirinya.
Pada saat yang bersamaan, di ruang dalam Kraton, Tumenggung Gajah Birawa telah menghadap Kanjeng Sultan Trenggana.
Ki Tumenggung bercerita tentang tugas Rangga Pideksa beserta Tumpak dan Karebet sewaktu menyusuri sungai hingga ke tepi pantai.
"Jadi Karebet berhasil membunuh dua orang perampok Klabang Ireng dan Klabang Ijo ?" tanya Sultan Trenggana.
"Kasinggihan dawuh Kanjeng Sultan" jawab Ki Tumenggung.
"Dada Klabang Ireng hangus terbakar berupa gambar telapak tangan ?" tanya Kanjeng Sultan.
"Kasinggihan dalem, menurut Ki Rangga Pideksa memang dadanya berwarna hitam, bekas tangan Karebet" kata Ki Tumenggung
"Besok Rangga Pideksa supaya menghadap di Kraton, aku ingin mendengar langsung dari dia" kata Sultan Trenggana.
"Kasinggihan dawuh Kanjeng Sultan" kata Tumenggung Gajah Birawa.

"Hm mungkin Karebet punya aji Guntur Geni, Brama Dedali, atau Hasta Dahana, pada umur yang masih sangat muda, bagaimana mungkin dia mempunyai aji seperti itu" kata Sultan Trenggana.
"Kasinggihan dalem, mungkin bisa juga dia punya aji Salaksa Mawa yang bisa membakar tubuh lawannya" kata Tumenggung Gajah Birawa.
"Tumenggung Gajah Birawa" kata Kanjeng Sultan.
"Melihat kemampuan Karebet yang tinggi, dan jasanya yang telah membunuh dua orang perampok, Klabang kakak beradik, kelihatannya Karebet sudah saatnya diangkat menjadi seorang Lurah Wira Tamtama" kata Kanjeng Sultan.
"Kasinggihan dawuh Kanjeng Sultan" jawab Tumenggung Gajah Birawa.
Tumenggung Gajah Birawa mengangguk-anggukkan kepalanya, dia berpikir, memang sudah sepantasnya kalau Karebet diangkat menjadi seorang Lurah Wira Tamtama.
Meskipun Karebet baru beberapa candra menjadi prajurit Wira Tamtama, tetapi kemampuan ilmu kanuragannya melebihi seorang Lurah, Rangga, Panji, bahkan seorang Tumenggungpun belum tentu bisa menang andaikan beradu ilmu kanuragan melawan Karebet.

Tetapi Tumenggung Gajah Birawa sadar, bahwa semua keputusan ada pada Kanjeng Sultan, tetapi ternyata keinginan mengangkat Karebet menjadi seorang Lurah Wira Tamtama justru datang dari Kanjeng Sultan Trenggana sendiri.
"Ternyata perhatian Kanjeng Sultan kepada Karebet besar sekali" kata Tumenggung Gajah Birawa dalam hati.
"Tumenggung Gajah Birawa" kata Sultan Trenggana.
"Dawuh dalem Kanjeng Sultan" kata Ki Tumenggung.
"Besok yang berangkat ke pantai ada berapa perahu?" tanya Kanjeng Sultan.
"Yang berangkat tujuh perahu Kanjeng Sultan, satu buah perahu kerajaan, dua buah perahu untuk para sentana dalem, sedangkan perahu untuk prajurit empat buah" kata Ki Tumenggung Gajah Birawa.

"Berapa orang Tumenggung yang ikut naik perahu ?" tanya Suktan Trenggana.
"Tiga orang, yang berangkat hamba sendiri, ditambah Tumenggung Suranata dan Tumenggung Gagak Anabrang" kata Tumenggung Gajah Birawa.
"Baik, ada lagi yang akan kau laporkan ? Kalau sudah selesai laporanmu, kau boleh pulang sekarang" kata Sultan Trenggana.
"Kasinggihan dawuh, sudah selesai Kanjeng Sultan" kata Ki Tumenggung.
Tumenggung Gajah Birawa menyembah, perlahan-lahan ia bergeser kearah pintu dan keluar dari ruang dalam.

Malam itu suasana di kaputren masih seperti malam-malam sebelumnya, kaputren yang sepi, dibalut keheningan malam, bintang masih terus terlihat berkedip di angkasa, seakan ingin bertanya, apa yang kau cari Putri Sekar Kedaton?
Di kamarnya, putri Sekar Kedaton Kasultanan Demak, Gusti Mas Cempaka merasa betapa lama waktu berjalan, malampun merayap amat lambat.
"Tinggal dua malam lagi, aku bisa bertemu dengan Karebet" kata Sang Putri dalam hati.
Pada saat yang bersamaan, di dalem lor, Karebet tidur pulas karena tubuhnya terasa lelah, setelah seharian mendayung perahu, serta bertempur melawan melawan dua orang perampok kakak beradik yang berilmu tinggi, Klabang Ireng dan Klabang Ijo

Waktu terus merayap, diangkasa, bulanpun bersembunyi, malu karena matahari mulai memancarkan sinarnya, siap menjalankan tugasnya menyinari bumi.
Pagi itu, Karebet bersiap untuk berangkat ke Kraton, dirapikan pakaiannya, dan dengan langkah ringan, Karebetpun segera berjalan menuju ke Kraton
"Hari ini yang dikerjakan adalah mempersiapkan perahu dan joli jempana untuk keperluan besok pagi" kata Karebet dalam hati
Udara pagi yang segar, Karebet berjalan dengan senyum yang mengembang, hatinya senang dapat menjalankan tugasnya sebagai prajurit Wira Tamtama dengan baik.
Didepan pintu gerbang Kraton, Karebet berpapasan dengan seorang pemuda yang baru saja keluar dari pintu gerbang Kraton, pemuda dengan pandangan mata yang tajam berada diatas punggung kuda berwarna hitam, orang itu adalah putra Pangeran Sekar Seda Lepen, Arya Penangsang.
Karebet mengangguk hormat, terlihat Arya Penangsangpun dengan wajah yang dingin membalasnya, setelah itu tanpa menghiraukan Karebet, Penangsang menjalankan kudanya yang berwarna hitam, Gagak Rimang, ke lapangan ditepi sungai untuk berlatih kuda bersama temannya, Ki Lurah Pasar Pon.

Gagak Rimang berlari tidak terlalu kencang, hari masih pagi. Arya Penangsang menghirup udara di pagi hari: "Betapa segarnya udara pagi ini"
Tak lama kemudian Arya Penangsang sampai di pinggir lapangan rumput ditepi sungai, tetapi tidak seperti biasanya, kali ini tidak terlihat Ki Lurah Pasar menyambutnya.
"Sepi sekali, dimana Ki Lurah Pasar Pon? Biasanya dia sudah menanti di lapangan ini" kata Penangsang dalam hati.
Perlahan lahan Arya Penangsang menebarkan pandangannya berkeliling, sepi, tidak ada seekor kudapun yang kelihatan, hanya di kejauhan, terlihat seseorang sedang duduk diatas batang pohon kering yang telah tumbang, melintang ditepi sungai kecil.
"Siapa dia ? Apakah dia Ki Lurah Pasar ?" kata Penangsang dalam hati, dan perlahan-lahan Gagak Rimang berjalan maju mendekati orang itu.
Semakin lama semakin dekat, Penangsang menajamkan penglihatannya, dan orang itupun semakin jelas:"Ki Lurah Pasar ?" kata Penangsang dalam hati.
"Betul, dia Ki Lurah Pasar" kata Arya Penangsang.
Ketika sampai didekat orang yang duduk diatas sebuah batang pohon tumbang, Arya Penangsang turun dari kudanya dan menghampiri orang tersebut.
"
Kau Lurah Pasar Pon, apa yang terjadi ? Kenapa wajahmu bengkak membiru seperti itu ?" tanya Arya Penangsang.
"Baru saja ada beberapa orang yang memukulku tanpa sebab raden" kata Ki Lurah.
"Siapa dia?" tanya Penangsang.
"Sepasang Alap-alap Gunung Kendeng, mereka berdua bersama seorang pembantunya, mencari orang yang membunuh Sura Alap-alap" kata Ki Lurah.
Arya Penangsang mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Dimana kudamu" tanya Penangsang.
"Kudaku diambilnya, dibawa oleh pembantunya yang bertubuh pendek" kata Lurah Pasar.
"Sepasang Alap-alap Gunung Kendeng sekarang berada dimana ?" tanya Penangsang dengan suara dalam dan pelan.
"Mereka menunggu raden di arah selatan, di ara-ara amba didekat sebuah pohon kelapa yang melengkung, mereka menantang raden" kata Ki Lurah.

"Mereka menantangku ?" tanya Penangsang dengan suara bergetar.
"Ya, dia berkata, kalau Arya Penangsang yang gagah perkasa karena telah membunuh Sura Alap-alap, tidak berani menemui Sepasang Alap-alap Gunung Kendeng, maka Penangsang tidak usah keluar dari dalem Kesatrian, cukup didalam Kraton saja minta pengawalan para prajurit Wira Tamtama" kata Ki Lurah.
"Minggir !!!" teriak Penangsang.
Ki Lurah Pasar Pon terkejut, dilihatnya wajah Arya Penangsang menjadi memerah, tangannya gemetar, dengan cepat Lurah Pasar Pon bangkit berdiri dan bergeser menjauhi Arya Penangsang yang sedang berdiri dengan kaki renggang, dan sedang bersiap memusatkan semua kekuatannya di kedua telapak tangannya.
Lurah Pasar terkejut dan membelalakkan matanya ketika melihat Arya Penangsang mateg aji kebanggaannya yang mampu menghancurkan batu padas sebesar gudel.
"Aji Panglebur Jagad" kata Ki Lurah Pasar Pon ketakutan, sambil berjalan tertatih-tatih menjauh dari tempat Arya Penangsang.

Ketika aji Panglebur Jagad sudah manjing di telapak tangannya, Penangsang dengan cepat melompat kearah batang pohon melintang yang sudah kering yang baru saja menjadi tempat duduk Lurah Pasar Pon.
Batang pohon kering, menjadi sasaran kemarahan Arya Penangsang, dihantam oleh sisi telapak tangan yang dilambari aji Panglebur Jagad.
Dengan suara berderak keras, batang pohon kering yang ukurannya lebih besar dari paha orang dewasa, patah menjadi dua.
Lurah Pasar Pon terkejut dan ketakutan mendengar suara berderak keras, ketika batang pohon kering yang melintang, yang baru saja dipakainya sebagai tempat duduk, patah menjadi dua terkena sisi telapak tangan Arya Penangsang.
"Kau tunggu disini !" teriak Penangsang kepada Lurah Pasar Pon.

Lurah Pasar Pon hanya diam mematung, tetapi dadanya berdegub kencang sekali.
Kemarahan Arya Penangsang belum mereda, dia segera berbalik dan berjalan menuju kudanya, dan segera meninggalkan pohon yang telah patah terkena sisi telapak tangannya yang berisi aji Panglebur Jagad.
Arya Penangsang berjalan menuju tempat Gagak Rimang, lalu dengan cepat diambilnya sebuah pedang pendek yang tersimpan dibawah pelana kudanya.
Arya Penangsang yang tak kenal takut, tidak pernah menghindar dari tantangan pertarungan, dengan cepat naik diatas punggung Gagak Rimang dan dipacunya menuju tempat yang dikatakan oleh Sepasang Alap-alap Gunung Kendeng, ke arah selatan, ke sebuah ara-ara amba yang didekatnya terdapat sebuah pohon kelapa yang melengkung
Tangan kiri Penangsang memegang pedang pendeknya, sedangkan tangan kanan memegang kendali Gagak Rimang, pandangannya tajam menyapu kedepan untuk mencari lawan yang telah menantangnya..
Gagak Rimang berlari ke arah selatan, dan tak lama kemudian Arya Penangsang akan sampai di daerah ara-ara amba.

Ketika dilihatnya sebuah pohon kelapa yang melengkung kebawah, Arya Penangsangpun segera memasuki sebuah daerah ara-ara yang luas, sebuah tanah lapang, padang rumput yang sebagian tanahnya tumbuh tanaman perdu yang tidak begitu lebat.
Dikejauhan, dilihatnya tiga orang duduk diatas punggung kuda, menunggu kedatangannya.
Berada di atas punggung kuda disebelah kanan, seorang berumur setengah baya, bertubuh sedang, berkumis melintang, mempunyai pandangan mata yang tajam.
Ditengah-tengah, seorang perempuan duduk diatas punggung kuda, memakai pakaian laki-laki, berumur setengah baya, dalam bayangan matanya menyorot penuh dendam kesumat.

Duduk diatas punggung kuda di ujung paling kiri, seorang kepercayaan sepasang Alap-alap gunung Kendeng, seorang yang bertubuh pendek, ditangannya tergenggam sebuah pedang.
Sedangkan dibelakangnya terdapat seekor kuda tanpa penumpang, itulah kuda milik Lurah Pasar Pon.
"Nyai, itu dia orangnya, benar dugaanku, Penangsang pasti datang, orang itulah yg telah membunuh adikmu" kata orang yang duduk dipunggung kuda, yang matanya tajam, setajam mata burung Alap-alap.
"Ya Ki Lurah, kali ini aku yang akan membalaskan dendam adikku, Sura Alap-alap" kata perempuan yang duduk dipunggung kuda disebelahnya, Nyai Alap-alap.
"Biar aku sendiri yang membunuhnya Ki Lurah" kata orang kepercayaannya yang bertubuh pendek.
"Hati-hati Branjangan, siapkan pedangmu, bunuh dia pada tusukan pertama" kata Nyai Alap-alap.
"Ya, Nyai, lihat saja nanti, dia akan kubunuh" kata Branjangan.
"Hati-hati Manuk Kuntet, dia berilmu tinggi" kata Alap-alap kepada orang kepercayaannya, Branjangan yang bertubuh pendek.
"Tenang saja Ki Lurah, nanti dia akan bernasib sama dengan Jagabaya dusun Selur yang saya bunuh sepasar yang lalu" jawab Branjangan.
"Manuk Kuntet, jangan kau samakan Penangsang dengan Jagabaya dusun Selur yang baru bisa bermain gobag sodor" kata Alap-alap.
Branjangan tidak menjawab, tapi dia mempersiapkan pedangnya, untuk membunuh Arya Penangsang pada tusukan pertama.

Arya Penangsang memasuki ara-ara amba dengan penuh kewaspadaan, pedangnya dipegang dengan tangan kiri, Gagak Rimangpun berderap perlahan menuju ke arah Sepasang Alap-alap Gunung Kendeng.
"Itu dia Penangsang, aku mohon Ki Lurah tunggu disini dulu, biar aku yang melawannya, nanti Ki Lurah bisa melihat kehebatan ilmuku, akan aku bunuh dia pada jurus yang pertama, tidak sampai sepenginang, dia pasti sudah mati" kata Branjangan.
"Manuk Kuntet, bunuh dia, jangan kau kecewakan Lurahmu" kata Alap-alap Gunung Kendeng.
Meskipun Sepasang Alap-alap Gunung Kendeng mengetahui Arya Penangsang berilmu tinggi, tetapi mereka percaya kepada pembantunya yang bertubuh pendek, Branjangan, tidak pernah gagal dalam melaksanakan tugasnya.
Jarak antara Gagak Rimang dengan Sepasang Alap-alap Gunung Kendeng masih agak jauh, tetapi Penangsang melihat ada seekor kuda yang berlari menuju ke arah dirinya.
Orang kepercayaan Sepasang Alap-alap Gunung Kendeng yang bernama Branjangan, meskipun mempunyai tubuh yang pendek, namun dengan penuh percaya diri, dia berani menempatkan dirinya seorang melawan seorang menghadapi Arya Penangsang.

"Ada seorang yang mendekat, aku harus mengurangi seorang lawan, supaya nanti lebih mudah menghadapi Sepasang Alap-alap Gunung Kendeng" kata Penangsang didalam hatinya.
Ketika kuda lawannya sudah dekat Gagak Rimang seakan-akan mengerti tugasnya, kuda hitam yang tadinya berlari, tiba-tiba berhenti menunggu lawan.
Kuda hitam Arya Penangsang, Gagak Rimang terlihat senang mendapatkan lawan, dia meringkik keras dan dengan tiba-tiba kuda itu berdiri tegak diatas kedua kaki belakangnya.
Penangsang yang tubuh dan hatinya telah menyatu dengan kuda hitamnya tidak mengalami kesulitan, meskipun Gagak Rimang mengangkat kedua kaki depannya, dan dengan segera pedang pendeknya dipindah ke tangan kanannya, sedangkan kendali kuda dipegang dengan tangan kiri.
Ketika Gagak Rimang menurunkan kaki depannya, dilihatnya lawannya yang berada dipunggung kuda terkejut dan mengalami kesulitan untuk menguasai kudanya.

Kuda yang dikendarai oleh Branjangan terkejut ketika kendalinya tertarik oleh penunggangnya karena didepannya ada seekor kuda hitam yang mengangkat kaki depannya, sehingga kuda Branjanganpun berhenti dan juga berdiri diatas kaki belakangnya.
Branjangan yang berada dipunggung kudanya menjadi gugup, belum hilang rasa terkejutnya, tiba-tuba kuda hitam Penangsang yang berdiri diatas kaki belakangnya, telah menurunkan kaki depannya dan kuda hitam itu melompat menyerang ke arahnya.
Branjangan yang terkejut, telah kehilangan waktu sekejap, dan ternyata waktu yang sekejap itu ternyata telah merubah segalanya
Susah payah Branjangan menguasai kudanya yang baru saja menurunkan kaki depannya, datang serangan dari Penangsang yang berada diatas kuda hitamnya, tebasan pedang kearah dadanya.
Branjangan terkejut melihat pedang yang mengarah ke dadanya, dia yang kehilangan waktu sesaat, tidak ada jalan lain, Branjangan segera melintangkan pedangnya mencoba menahan laju pedang pendek Penangsang.
Semua terjadi dalam waktu singkat, tebasan kuat dari pedang Arya Penangsang, ditambah dorongan tenaga lompatan kuda hitam Gagak Rimang, tidak dapat ditahan oleh pedang Branjangan.

Terjadi benturan keras, pedang Arya Penangsang beradu tenaga dengan pedang Branjangan, ternyata tenaga Branjangan bukan tandingan tenaga Arya Penangsang, akibatnya pedang Branjangan terlempar jatuh kebawah, dan pedang Arya Penangsangpun terus bergerak kedepan tidak tertahan, menyobek dada Branjangan, sehingga ia terpelanting dari kuda, dengan luka sabetan pedang yang parah.
Branjangan jatuh terbanting ketanah tidak dapat bangun kembali, dan dari kejauhan, Sepasang Alap-alap Gunung Kendeng terkejut ketika melihat Branjangan jatuh pada serangan pertama.
Alap-alap Gunung Kendeng memajukan kudanya sambil menghunus pedangnya:
"Manuk Kuntet telah mati, ayo Nyai, kita mulai, kita keroyok dia" katanya sambil membawa kudanya berderap maju.
Cepat Nyai Alap-alap menghunus pedang tipisnya dan iapun menyongsong kuda lawannya.
Arya Penangsang meninggalkan Branjangan yang tergeletak ditanah dan membawa Gagak Rimang menyongsong mendekati lawannya.
Alap-alap Gunung Kendeng berkuda disebelah kanan, sedikit merenggang untuk memberi ruang kepada pasangannya menjalankan rencananya membunuh Arya Penangsang.
Sepasang Alap-alap Gunung Kendeng melarikan kudanya sejajar, berusaha menjepit Arya Penangsang ditengah, tetapi Penangsang bukan orang bodoh yang mau dijepit oleh dua orang lawan, maka dengan cepat dibelokkannya Gagak Rimang ke sebelah kanan dan dipacunya dengan cepat untuk menghindari jepitan lawannya.
Nyai Alap-alap terkejut ketika melihat Arya Penangsang menghindar, cepat ia membelokkan kudanya ke kiri mengejar kuda Arya Penangsang.
Arya Penangsang membawa Gagak Rimang berputar setengah melingkar di ara-ara amba, berusaha untuk berada dibelakang kuda Nyai Alap-alap.
Arya Penangsang segera memacu kuda hitamnya dengan cepat, dan Gagak Rimang adalah seekor kuda yang tegap dan gagah serta mempunyai kecepatan yang tinggi.

Arya Penangsang mengendalikan kuda hitamnya berputar setengah lingkaran, dekat dibelakangnya mengejar kuda Nyai Alap-alap, tapi Gagak Rimang adalah kuda yang mampu berlari kencang, sehingga dengan mudah Arya Penangsang berlari menghindar, menjauh dari kuda Nyai Alap-alap, dan iapun memacu Gagak Rimang mengejar kuda Alap-alap Gunung Kendeng.
Alap-alap Gunung Kendeng melihat Arya Penangsang mendekat dari sebelah kiri, maka kudanya dilarikan dengan cepat, menghindari serangan dari sebelah kiri yang akan sulit ditangkis dengan tangan kirinya.
Dengan cepat Alap-alap Gunung Kendeng memutar kudanya sehingga berhadapan dengan Penangsang, dan keduanya saling memacu kudanya mendekat.
Pedang Alap-alap Gunung Kendeng terjulur kearah lawannya, dengan mudah Arya Penangsang menangkis dengan pedangnya, belum sempat dia membalas menyerang, datang serangan dari kuda Nyai Alap-alap yang dipacu ke arahnya.

Terjadilah perkelahian diatas punggung kuda, dua lawan satu, dua ekor kuda yang dikendarai oleh Sepasang Alap-alap Gunung Kendeng melawan Arya Penangsang yang duduk diatas punggung kuda hitamnya, Gagak Rimang.
Arya Penangsang adalah orang yang cerdik, dia tidak mau melawan dua orang berkuda sekaligus, dia berusaha untuk melawan Sepasang Alap-alap Gunung Kendeng satu demi satu.
Penangsang memacu kudanya untuk mencari posisi yang baik, Alap-alap Gunung Kendeng mengejarnya, tetapi lawannya adalah Gagak Rimang, kuda hitam yang kecepatannya seperti tatit. Nyai Alap-alap terkejut ketika kuda hitam Arya Penangsang dipacu melingkar dan berusaha berada disebelah kirinya.
Nyai Alap-alap berusaha memacu kudanya menjauh, tetapi Arya Penangsang tetap mengejar dan tidak melepaskannya. Nyai Alap-alap berdesir hatinya, dia merasa kesulitan untuk menghindar dari kejaran lawannya, sedangkan kuda Alap-alap Gunung Kendeng berada disebelah kanannya, sehingga tidak bisa membantunya.

 Alap-alap Gunung Kendeng berusaha menggeser kudanya, dari sebelah kanan ke belakang kuda Nyai Alap-alap lalu mengejar kuda Arya Penangsang untuk menolong pasangannya, tetapi dia telah kehilangan waktu sekejap, karena Arya Penangsang telah berada didepannya dengan pedang pendek yang mengancam ke arah Nyai Alap-alap.
Nyai Alap-alap segera memindahkan pedangnya ke tangan kiri, dan iapun sudah siap bertempur dengan tangan kiri.
Arya Penangsang melihat kelemahan lawannya, dipacunya Gagak Rimang menyusul kuda Nyai Alap-alap, sedangkan dibelakangnya menyusul kuda Alap-alap Gunung Kendeng mengejarnya.
Dengan lompatan yang panjang, Gagak Rimang dalam sekejap telah berada disamping kuda lawannya, dan Pedang Arya Penangsang terjulur kearah Nyai Alap-alap, dengan susah payah Nyai Alap-alap menangkisnya, tapi tusukan pedang berubah menjadi sabetan menyilang.

Nyai Alap-alap masih berusaha menangkis dengan pedang yang berada di tangan kirinya, tapi tenaganya tidak sekuat tenaga Arya Penangsang, dan pedang tipisnya tidak bisa menahan kekuatan yang tersalur lewat tangan lawannya.
Sabetan Arya Penangsang ditangkisnya dengan pedang yang berada di tangan kirinya, dan terjadilah benturan keras, tanpa bisa dicegah, pedang tipisnya jatuh terlempar,
Dengan cepat tangan Nyai Alap-alap meraba ikat pinggangnya, sekejap kemudian tangannya telah memegang sebuah pisau belati.
Tanpa senjata panjang, Nyai Alap-alap merasa kesulitan menghadapi lawannya, maka segera kudanya dipacu menjauh dari lawannya.
Arya Penangsang sudah berniat mengurangi lawan satu demi satu, maka dipacunya Gagak Rimang mengejar Nyai Alap-alap dan Gagak Rimangpun mengerti keinginan penunggangnya, dikejarnya kuda didepannya dengan sekuat tenaga.

Hati Alap-alap Gunung Kendeng tercekat, kudanya dipacu untuk menghalangi niat Arya Penangsang membunuh pasangannya, tetapi jaraknya tidak bertambah dekat, dan dilhatnya kuda Arya penangsang sudah mendekati kuda Nyai Alap-alap.
Nyai Alap-alap berada dalam kesulitan, lawannya berada disebelah kiri dan selalu bisa mengejarnya, belatinya terlalu pendek untuk melawan sebuah pedang, dia tidak dapat minta pertolongan pasangannya, karena kuda Alap-alap Gunung Kendeng berada dibelakangnya.
Gagak Rimang adalah seekor kuda yang baik, dan penunggangnya sangat trampil diatas punggung kuda. Beberapa saat kemudian Gagak Rimang sudah bisa sejajar dengan kuda lawannya,
Penangsang menyerang dengan sabetan pedangnya, Nyai Alap-alap terpaksa menghindar dengan memiringkan tubuhnya, tapi Arya Penangsang menjulurkan pedangnya menyentuh leher, dengan susah payah Nyai Alap-alap menangkis dengan pisau belatinya dan semuanya terjadi dalam waktu sekejap.

Ketika pedangnya ditangkis lawannya dengan pisau belati, Arya Penangsang menarik serangannya dan merubahnya menjadi sabetan menyilang kearah punggung dan Nyai Alap-alap menjerit nyaring karena merasa punggungnya terkena sabetan pedang lawannya sehingga tanpa dapat dicegah diapun jatuh dari atas punggung kuda.
Setelah berhasil menjatuhkan lawannya, Penangsang memutar kudanya untuk menghadapi Alap-alap Gunung Kendeng yang marah karena kehilangan pasangannya.
Matahari pagi semakin terang, menyinari ara-ara amba, embunpun semakin lama semakin menipis.
Alap-alap Gunung Kendeng menjadi sangat marah, maka iapun mengejar kuda hitam Arya Penangsang yang lari berputar di ara-ara.
Kudanya dipacu dengan cepat, seperti burung alap-alap mengejar mangsanya, tetapi yang dikejar adalah Gagak Rimang, kuda tinggi besar yang larinya cepat seperti kilat, tak akan bisa dikejar oleh seekor burung alap-alap.
Arya Penangsang adalah seorang yang cerdik, ia melarikan kudanya mengelilingi ara-ara, lalu dengan cepat Gagak Rimang dilarikannya kearah timur.

Agak jauh dibelakangnya, Alap-alap Gunung Kendeng mengejarnya, ketika sampai diujung timur, maka Gagak Rimang berbalik ke arah barat, menyongsong kuda Alap-alap Gunung Kendeng.
Alam telah memberi keuntungan kepada Arya Penangsang yang cerdik, yang berpacu membelakangi matahari pagi.
Ketika kuda Alap-alap Gunung Kendeng sudah berhadapan dengan kuda Arya Penangsang, Alap-alap Gunung Kendeng terkejut karena wajahnya menghadap kearah matahari, matanya silau terkena sinar matahari pagi.
Dia menyadari kesalahannya,tetapi sudah terlambat, karena lawannya telah berada dihadapannya.
Lebih terkejut lagi ketika datang serangan tebasan pedang dari Arya Penangsang, dengan sekuat tenaga dia bertahan dengan membentur pedang Arya Penangsang.

Alap-alap Gunung Kendeng yang pendangannya silau oleh sinar matahari pagi, tidak melihat ketika Arya Penangsang membelokkan arah pedangnya, dia hanya merasakan lengannya tersentuh pedang lawannya, sehingga pedangnya terlempar jatuh kebawah.
Penangsang segera memutar kudanya menghadap lawannya, untuk menyelesaikan Alap-alap Gunung Kendeng, tetapi alangkah terkejutnya ketika dilihatnya lawannya telah memacu kudanya kencang sekali, melarikan diri ke arah selatan.
"Pengecut !!" teriak Arya Penangsang dan betapa marahnya dia ketika melihat lawannya memacu kudanya menjauh, dengan segera ujung kakinya menyentuh perut Gagak Rimang dan kudanyapun melompat mengejar Alap-alap Gunung Kendeng ke arah selatan.
Lengannya sudah terluka, dan tanpa menggunakan senjata panjang, Alap-alap Gunung Kendeng merasa tidak akan mampu menghadapi Arya Penangsang, dan selagi ia masih punya kesempatan, ia mempergunakan waktu yang sekejap untuk menyelamatkan dirinya.

Dendamnya yang sundul langit karena pasangannya dibunuh Arya Penangsang, membuatnya berpikir untuk menyelamatkan diri, lain waktu ia akan datang lagi ke Demak untuk membalas dendamnya, membunuh Arya Penangsang.
Alap-alap Gunung Kendeng memacu kudanya cepat sekali, menghindari Arya Penangsang yang kini telah berubah menjadi orang yang sangat menakutkan.
Penangsang yang marah melihat Alap-alap Gunung Kendeng secara pengecut tinggal glanggang colong playu, melarikan diri, berkali-kali menyentuh perut Gagak Rimang dengan kakinya, dan Gagak Rimangpun semakin cepat mengejar kuda yang didepannya dengan sekuat tenaga.
Alap-alap Gunung Kendeng menjadi ketakutan, kudanya sudah dilecutnya, tapi masih terasa lambat, dan ketika dia menengok kebelakang untuk melihat pengejarnya, hatinya kecut ketika melihat lawannya bukannya semakin jauh, tetapi menjadi semakin dekat dengan dirinya.

Semakin lama Gagak Rimang semakin dekat dengan kuda Alap-alap Gunung Kendeng, dan Arya Penangsang merasa sudah tiba saatnya untuk mengakhiri petualangan Sepasang Alap-alap Gunung Kendeng.
Ketika jarak Gagak Rimang dengan kuda Alap-alap Gunung Kendeng tinggal dua-tiga langkah, maka iapun bersiap menyelesaikan pengejarannya.
Arya Penangsang lalu memegang pedang pendeknya, bukan di hulu pedangnya, tetapi tangan kanannya memegang pedang pendek pada ujungnya yang runcing, dan dengan tenaganya yang kuat, ditambah daya dorong kudanya, Arya Penangsang melempar pedang pendeknya ke arah punggung Alap-alap Gunung Kendeng yang hanya berjarak dua-tiga langkah.
Sekejap kemudian Alap-alap Gunung Kendeng terjungkal dari atas punggung kudanya, jatuh terlempar ketanah, karena di punggungnya telah tertancap pedang pendek Arya Penangsang.
Gagak Rimang masih berlari beberapa puluh langkah kedepan, semakin lama semakin pelan, lalu Arya Penangsangpun membelokkan kudanya, memutar menuju ke tempat Alap-alap Gunung Kendeng terjatuh.
Arya Penangsang turun dari kudanya, dan dengan penuh kewaspadaan, ia mendekati Alap-alap Gunung Kendeng, dan setelah memastikan lawannya mati, maka pedang pendeknya dicabut dari pungung lawannya.

Penangsangpun naik ke punggung Gagak Rimang dan di jalankannya kembali utara, ke arah ara-ara amba.
Di ara-ara amba, dilihatnya ada tiga ekor kuda yang berpencar, seekor kuda milik Nyai Alap-alap, seekor kuda milik Branjangan dan seekor kuda milik Lurah Pasar Pon.
Arya Penangsang mendekati kuda milik Lurah Pasar Pon, lalu dipegangnya kendali kuda itu, dan dibawa menuju pemiliknya, Lurah Pasar Pon yang masih menunggu di lapangan rumput tempat mereka berlatih kuda.
Penangsang lalu menyerahkan kuda kepada pemiliknya, dan dengan tangan gemetar, Lurah Pasar Pon menerima kudanya kembali.
"Ini kudamu, Sepasang Alap-alap Gunung Kendeng beserta pembantunya telah mati, ada dua mayat di ara-ara amba, satu lagi agak di sebelah selatannya" kata Penangsang.
"Aku akan melaporkan kejadian ini kepada prajurit Wira Manggala, biar nanti para prajurit yang mengurus penguburannya serta mengurus kuda dan senjata milik Sepasang Alap-alap Gunung Kendeng beserta pembantunya. Kau tunggu disini, nanti kalau kau ditanya prajurit Wira Manggala, katakan apa yang telah terjadi sebenarnya" kata Penangsang.
"Ya raden" jawab Lurah Pasar Pon.
 Setelah itu Arya Penangsang mengendarai Gagak Rimang menuju ke Kraton untuk melaporkan peristiwa terbunuhnya Sepasang Alap-alap Gunung Kendeng dan seorang pembantunya, kepada prajurit Wira Manggala.

Pada saat yang bersamaan, saat itu di halaman Kraton telah berkumpul beberapa orang prajurit Wira Tamtama, dan mereka berkumpul menunggu perintah dari Rangga Pideksa.
Sesaat kemudian terlihat Rangga Pideksa memasuki pintu gerbang, lalu berjalan mendekati para prajurit Wira Tamtama.
"Kalian tunggu disini dulu, aku dipanggil menghadap Kanjeng Sultan" kata Rangga Pideksa, dan tanpa menunggu jawaban, Ki Rangga telah berjalan menuju ruang dalam, menghadap Kanjeng Sultan Trenggana.
Karebet dan belasan orang prajurit Wira Tamtama masih menunggu di halaman Kraton,

Setelah cukup lama Rangga Pideksa berada didalam ruangan Kanjeng Sultan, maka Ki Ranggapun terlihat berjalan keluar menuju ketempat para prajurit.
"Itu Ki Rangga sudah selesai" kata seorang prajurit Wira Tamtama, Tumpak.
Rangga Pideksa terlihat sedang berjalan menuju tempat para prajurit, setelah tadi di ruang dalam, Kanjeng Sultan bertanya tentang peristiwa terbunuhnya perampok Klabang kakak beradik, dan Rangga Pideksa telah menceritakan semuanya.
Setelah itu, Kanjeng Sultanpun mengutarakan keinginannya untuk mengangkat Karebet menjadi seorang Lurah Wira Tamtama.
"Hm sebentar lagi Karebet akan menjadi seorang Lurah Wira Tamtama, bagus, kemarin aku masih bernasib baik, kalau kemarin tidak ada Karebet, aku sudah mati dibunuh Klabang Ireng" kata Rangga Pideksa dalam hati.

Rangga Pideksa juga ikut senang kalau nanti Karebet diangkat menjadi seorang Lurah Wira Tamtama, karena Karebet memang sudah pantas menjadi seorang Lurah Wira Tamtama.
Rangga Pideksa yang baru saja meninggalkan ruangan dalam, berjalan menuju ke halaman, dan berbicara dengan para prajurit Wira Tamtama.
"Hari ini kita mempersiapkan perahu yang akan digunakan untuk keperluan besok pagi, selain itu juga mempersiapkan tandu joli jempana untuk Kanjeng Prameswari dan untuk Sekar Kedaton Gusti Mas Cempaka, Sedangkan Kanjeng Sultan akan mengendarai kuda bersama yang lain sampai di sungai Tuntang" kata Rangga Pideksa.
"Sekarang kita mulai mempersiapkan perahu, sedangkan sebagian lag mempersiapkan tandu joli jempana, ayo kita berangkat sekarang" kata Rangga Pideksa sambil berjalan keluar dari Kraton menuju sebuah bangunan dibelakang Kraton, tempat penyimpanan perahu dan tandu kerajaan. Rangga Pideksa membawa mereka masuk ke sebuah bangunan yang besar.

Karebet melihat didalam bangunan, ada sebuah sungai kecil yang kering, tanpa air, didalamnya terdapat beberapa perahu.
Perahu yang terbesar bisa memuat belasan orang, dan perahu itu mempunyai atap yang terbuat dari kayu.
Para prajurit mulai dibagi tugas, ada sebagian yang membersihkan tandu joli jempana, dan sebagian lagi ada yang membersihkan perahu.
Beberapa prajurit diperintahkan membersihkan dua buah perahu ukuran kecil, dan satu buah perahu ukuran yang agak lebih besar. Karebet bersama beberapa prajurit yang lain, bertugas membersihkan perahu yang paling bagus, perahu yang beberapa bagian kayunya diukir, yang nanti akan diperuntukkan bagi Sultan Trenggana, Kanjeng Prameswari dan putri Sekar Kedaton Putri Mas Cempaka.
Dengan menggunakan sepotong kain kecil yang dibasahi dengan air, Karebet bersama beberapa prajurit lainnya bertugas membersihkan ukiran perahu yang agak besar.

Sebuah perahu kerajaan, canthik-nya yang besar terbuat dari kayu jati yang diukir berupa kepala seekor burung, paruhnya melengkung, matanya melihat tajam kedepan, dengan lehernya yang berupa ukiran bulu .
Sambil membersihkan canthik perahu yang berbentuk kepala burung, Karebet melihat ada ukiran aksara yang bisa dibaca, diukir halus dibawah ukiran bulu leher, sebuah suku kata, yang terdiri dari tiga buah aksara.
Ga nglegena, Ra suku, Dha nglegena.
"Ga Ru Dha, perahu Kyai Garuda, ternyata ini adalah perahu Kasultanan Demak yang bernama Kyai Garuda" kata Karebet dalam hati, sambil mengagumi ukiran canthik perahu.

Sebuah kayu yang diukir bagus dan rapi, ukiran sebuah kepala burung garuda, dengan paruh yang melengkung kebawah, mata garuda yang menatap tajam kedepan, dengan bulu leher yang tertata rapi
"Ini perahu Kasultanan Demak, hanya dipakai oleh Kanjeng Sultan, namanya Kyai Garuda" kata Tumpak yang sedang membersihkan dinding perahu dengan menggunakan kain basah. "Ya" jawab Karebet.
"Perahu Kyai Garuda pernah dipakai Kanjeng Sultan menyusuri pantai sampai bandar Jepara, tetapi dua candra yang lalu perahu ini sedikit bocor, tapi kemarin sudah ditambal dengan kulit pohon yang berbau wangi, dan sekarang sudah baik, tidak bocor lagi" kata Tumpak.
(bersambung)

Minggu, 29 Juni 2014

KERIS KYAI SETAN KOBER 6



BAB 3 : BUNGA CEMPAKA 1

Ditulis oleh : Apung GWAP


Sultan Trenggana yang sudah merasakan pijatan tangan Karebet, menjadi heran, kekuatan jari tangannya memang luar biasa, di umur yang masih muda, Karebet sudah mempunyai kekuatan yang besar.
Aji Raga Jati miliknya yang sudah matang tidak bisa dipatahkan, tetapi bisa disentuh oleh kekuatan Karebet, telah membuat dirinya kagum kepada Karebet.
Karebet yang masih berusia muda sudah mampu menembus aji Raga Jati, cukup memuatnya heran, karena itulah maka Sultan Trenggana berkata :"Cukup Karebet, pijatanmu cukup terasa"
"Mohon ampun Kanjeng Sultan" kata Karebet yang merasa Kanjeng Sultan Trenggana sangat memperhatikan dirinya.
"Ya, kau sekarang boleh kembali bertugas lagi" kata Sultan Trenggana.
"Kasinggihan dawuh Kanjeng Sultan" kata Karebet dan setelah menyembah, Karebetpun bergeser ke pintu.

Sultan Trenggana memandang Karebet yang melangkah keluar ruangan, sampai hilang dibalik pintu.
Karebet yang merupakan cucu buyut Sang Prabu Brawijaya Pamungkas, meninggalkan ruangan menuju pintu masuk ruang dalam, tempat dia berjaga semula.
Karebetpun kembali ke tempat tugasnya, dan ketika ditanya diapun bercerita seadanya.
"Jadi kau disuruh memijat Kanjeng Sultan?" tanya temannya heran.
"Ya , apakah ada yang aneh?" tanya Karebet.
"Selama ini belum pernah ada yang dipanggil Sultan untuk memijat" kata temannya.
Karebetpun menjawab seadanya :"Ya, mungkin Kanjeng Sultan lelah"
Matahari bergeser terus ke barat, ketika langit berganti menjadi gelap, Karebetpun pulang ke tempat paman Ganjur, dan bercerita tentang perintah tinggal di rumah khusus untuk prajurit di dalem lor.
"Jadi besok malam kau sudah tidak tidur disini?" tanya Ganjur.
"Ya paman, aku tidur di dalem lor" kata Karebet.
"Jaga dirimu baik-baik Karebet, laksanakan semua tugas keprajuritan yang diberikan kepadamu" kata pamannya, Ganjur.

Malam itu, Karebet dapat tidur nyenyak, di kegelapan malam, ribuan bintang angkasa tanpa kenal lelah terus bergerak kearah barat
Mulailah hari demi hari Karebet menjalani hidupnya sebagai prajurit Wira Tamtama, Karebetpun telah beberapa kali dipanggil untuk memijat, betul-betul memijat Kanjeng Sultan, bukan karena Kanjeng Sultan ingin mencoba untuk mengetahui kekuatannya.
Ternyata beberapa hari saja setelah Karebet menjadi prajurit Wira Tamtama, telah menjadi perbincangan laki-laki dan perempuan se kotaraja Demak.
Banyak laki-laki yang mendengar dari para prajurit yang ikut berburu ke hutan Prawata, yang bercerita tentang keberanian dan keperkasaan Karebet menaklukkan seekor macan gembong.
Sedangkan yang perempuan banyak yang jatuh hati ketika melihat ketampanan Karebet, apalagi ketika Karebet mengenakan pakaian prajurit Wira Tamtama.

Di suatu pagi yang cerah, Karebet telah selesai melakukan magang beberapa hari, dan pada hari itu dia mendapat tugas berjaga di depan ruang dalam.
Sudah beberapa hari ini, setiap pagi ada seorang perempuan setengah baya, cantik dan menarik, setiap lewat pasti tersenyum kepada para penjaga dan memberikan senyum yang paling manis kepada Karebet. "Sssstt itu siapa?" tanya Karebet kepada temannya sesama prajurit Wira Tamtama yang bernama Tumpak.
"Mana?" tanya Tumpak
"Itu..." Kata Karebet sambil menunjuk perempuan itu dengan dagunya.
"Yang mana? O itu,, itu Nyai Menggung" jawab Tumpak, lalu ia melanjutkan :"Nyai Menggung, janda cantik yang sudah beberapa tahun ditinggal mati suaminya, seorang Tumenggung"

Karebet hanya mendengarkan saja cerita Tumpak tentang Nyai Menggung.
"Nama sebenarnya dari Nyai Menggung adalah Nyai Madusari" kata Tumpak, dan iapun terus bercerita :"Dulu sewaktu masih gadis, Nyai Madusari tinggalnya juga di kaputren karena masih sentana dalem, dan setelah menjadi istri dari seorang Tumenggung, lalu pindah ke rumah Ki Tumenggung"
"Kenapa Nyai Menggung tiap hari ke keputren? tanya Karebet.
"Ya, karena Nyai Menggung mengajari putri Kanjeng Sultan yang menginjak dewasa, Sekar Kedaton Gusti Putri Mas Cempaka, mengajar ngadi busana dan ngadi salira"
Karebet hanya mendengarkan saja semua cerita Tumpak, pikirannya sedang mengembara mencari satu nama, Sekar Kedaton Kasultanan Demak, Gusti Putri Mas Cempaka.

Siang harinya, ketika matahari sedikit condong ke barat, terlihat pintu kaputren sedikit terbuka, dan keluarlah wanita setengah baya yang masih cantik, Nyai Madusari.
Langkah kaki dari Nyai Madusari perlahan-lahan menuju pintu gerbang, lambaian tangannya enak dipandang, seperti blarak sempal.
Ketika lewat didepan Karebet, Nyai Madusari tersenyum manis kepada Karebet, dan terdengar suara merdu memanggil sebuah nama :" Karebet"
Karebet tersenyum, dan dilihatnya Nyai Madusari berjalan terus keluar dari pintu gerbang. "Coba misalnya kalau aku setampan kau Karebet, Nyai Mengggung pasti sudah menjadi istriku" kata Tumpak sambil tertawa.
Karebetpun juga ikut tertawa ketika mendengar kata-kata dari Tumpak.

Waktu berjalan terus, beberapa hari kemudian, tidak jauh dari kotaraja Demak, di sebuah lapangan yang agak luas di tepi sungai, dua orang pemuda yang berada di punggung kuda, terlihat sedang membicarakan sesuatu.
"Ki Lurah, kudamu digeser agak ke utara sedikit, jangan terlalu dekat dengan Gagak Rimang" kata seorang pemuda yang duduk diatas punggung kuda hitam yang gagah.
"Baik Raden" kata orang yang diajak bicara, Lurah Pasar Pon, sambil memajukan kudanya, lalu iapun turun dari punggung kudanya, mendekati pemuda yang mengajaknya bicara.
"Raden Penangsang sudah mendengar apa yang dibicarakan orang-orang se kotaraja Demak ?" kata Lurah Pasar Pon.
"Membicarakan tentang apa ?" tanya pemuda itu, Arya Penangsang, kemenakan Kanjeng Sultan Trenggana.
"Tentang keberanian seorang prajurit Wira Tamtama yang baru" kata Ki Lurah.
"Karebet ?" kata Arya Penangsang
"Ya raden, kekuatan tangan Karebet mampu memukul kepala seekor macan gembong hingga pingsan" kata Lurah Pasar Pon.

Arya Penangsang menganggukkan kepalanya :"Ya, Karebet mampu memukul kepala seekor macan gembong hingga pingsan, tangannya pasti kuat sekali"
"Ya, orang sekotaraja Demak mengaguminya" kata Lurah Pasar Pon.
"Ya, aku juga mendengar soal itu dari para prajurit Wira Tamtama, biar saja, malah bagus itu, seorang prajurit Wira Tamtama mempunyai ilmu yang tinggi" jawab Penangsang.
"Dulu raden pernah membuat pangeram-eram, memukul batu padas sebesar gudel hingga pecah berserakan" kata Lurah Pasar Pon.
Arya Penangsang tidak menjawab, dilihatnya tangan kanannya yang mempunyai kekuatan yang dahsyat.
"Dengan lambaran aji Panglebur Jagad, sekali saja terkena tanganku, kepala seekor macan gembong pasti pecah" kata Arya Penangsang dalam hati.
"Raden, apakah Karebet mampu memukul kepala macan gembong hingga pecah berserakan, atau menghancurkan batu padas sebesar gudel ?" tanya Ki Lurah Pasar Pon.

Arya Penangsang tidak menjawab, tapi ada suatu keinginan untuk menakar ilmu kanuragan melawan Karebet.
"Kelihatannya aku dan Karebet perlu adu kerasnya tulang, liatnya kulit, adu ilmu kanuragan jaya kawijayan guna kasantikan, bagaimana pendapatmu he Lurah Pasar, kalau aku tantang Karebet sekarang?" tanya Arya Penangsang.
"Raden, misalnya Raden suatu saat bisa bertanding ilmu kanuragan melawan Karebet, kalau Karebet kalah dan mati, seperti Sura Alap-alap yang telah raden bunuh, apakah Kanjeng Sultan tidak marah kepada raden?" kata Lurah Pasar Pon.

Arya Penangsang mengangguk-anggukkan kepalanya, kemudian iapun berkata :"Ya, Kanjeng Sultan pasti akan murka kalau aku tanpa alasan membunuh seorang prajurit Wira Tamtama"
"Kalau Raden Penangsang bertanding melawan Karebet yang cuma seorang prajurit Wira Tamtama, perbandingan kekuatannya tidak seimbang, Raden" kata Lurah Pasar Pon.
Arya Penangsang menarik nafas dalam-dalam untuk menekan hasratnya yang menggelora.
"Ya, kalau aku menang tidak menjadi terkenal, kalau aku kalah hanya akan mendapat malu" kata Arya Penangsang yang telah kehilangan hasrat untuk bertanding melawan Karebet.
Sebenarnya Penangsang memang segan dan takut kepada pamannya, Sultan Trenggana, disamping sebagai seorang Sultan yang merupakan penguasa tunggal di Kasultanan Demak, ilmu kanuragan Kanjeng Sultan adalah sangat tinggi, hampir tak terukur, serta menguasai beberapa aji jaya kawijayan yang tak akan dapat dilawannya.
"Biar saja Karebet mampu mengalahkan seekor macan gembong, tidak apa-apa, itu bukan urusanku, ayo, sekarang kita berlatih berpacu kuda, Ki Lurah, kau pacu kudamu lebih dulu, nanti aku kejar" kata Arya Penangsang.
Ki Lurah segera naik ke atas punggung kudanya, dan memacu kudanya lari terlebih dulu, beberapa saat kemudian, Arya Penangsang diatas punggung Gagak Rimang memacu kudanya secepat tatit mengejar kuda didepannya.

Pada saat yang bersamaan, didepan kaputren dua orang prajurit Wira Tamtama sedang berjaga, salah satu prajurit itu, Karebet, tidak menyadari bahwa dirinya sedang diperhatikan oleh dua pasang mata yang mengintip dari balik pintu kaputren yang tertutup.
"Itu pemuda tampan yang bernama Karebet, Gusti Putri" kata salah seorang yang mengintip.
"Nyai Menggung, ternyata Karebet memang pemuda yang tampan" kata orang yang mengintip lainnya, Sekar Kedaton Kasultanan Demak, putri Kanjeng Sultan Trenggana, Gusti Putri Mas Cempaka.
"Disamping tampan, kata orang-orang keberanian dan ilmu kanuragan Karebet memang luar biasa, katanya dia di hutan Prawata mampu mengalahkan macan gembong sebesar kerbau ?" tanya Gusti Mas Cempaka.
"Ya Gusti Putri, kata orang-orang memang begitu" jawab Nyai Menggung.
"Nyai Menggung, aku ingin sekali bisa ketemu Karebet" kata Mas Cempaka.
"Sulit Gusti Putri, hanya saya saja yang bisa ketemu Karebet" kata Nyai Madusari sambil tersenyum.
"Ah kau" kata Gusti Putri Mas Cempaka.

Sore harinya, terlihat Karebet pulang dari berjaga di Kraton, setelah keluar dari pintu gerbang Kraton, dijalan berpapasan dengan Nyai Menggung, dan seperti biasanya Nyai Menggung memberi senyum yang manis.
"Karebet" panggil Nyai Menggung.
"Ya Nyai Menggung" jawab Karebet.
"Karebet, panggil nama saya, Nyai Madusari" kata Nyai Menggung.
"Ya Nyai Madusari" kata Karebet.
"Karebet, kau jangan bilang siapapun, Gusti Mas Cempaka ingin bertemu dengan kau" kata Nyai Menggung.
Karebet terkejut, dia tak sempat menjawab, karena Nyai Menggung sudah berjalan kembali.
Malam harinya, Karebet sulit sekali memejamkan matanya, di angan-angannya hanya terbayang satu nama yang telah mengutarakan maksudnya ingin bertemu dengannya, Gusti Mas Cempaka, Sekar Kedaton Kasultanan Demak, putri Kanjeng Sultan Trenggana.

Keesokan harinya, seperti biasa Karebet mendapat tugas berjaga, kali ini Karebet bertugas berjaga di gedung pusaka, ketika seorang prajurit Wira Tamtama menemuinya.
"Karebet" kata prajurit itu.
"Ya Tumpak, ada apa ?" tanya Karebet.
"Kau dipanggil Tumenggung Gajah Birawa sekarang, di ruang Wira Tamtama, disini sementara aku yang jaga" kata Tumpak.
"Baik, aku kesana sekarang" kata Karebet dan iapun berjalan menuju ruangan Wira Tamtama.
Karebet berdiri didepan pintu, sesaat kemudian terdengar suara dari dalam: "Masuklah Karebet"
Karebet masuk kedalam ruangan, disana sudah ada empat orang, dua diantaranya sudah dia kenal, Tumenggung Gajah Birawa dan satunya lagi Lurah Wirya Sentika, sedangkan dua orang lainnya, belum dikenalnya, tetapi terlihat dari pakaiannya adalah seorang Tumenggung dan seorang Rangga.
"Duduklah Karebet" kata Tumenggung Gajah Birawa.

Setelah mengangguk hormat, Karebetpun duduk bersama mereka.
"Karebet disebelah saya adalah Ki Tumenggung Suranata dan Ki Rangga Pideksa, keduanya baru pulang dari bertugas di daerah Pati" kata Tumenggung Gajah Birawa.
"Hormat saya Ki Tumenggung dan Ki Rangga" kata Karebet.
"Kau keponakannya Ki Ganjur ?" tanya Tumenggung Suranata.
"Ya Ki Tumenggung, mohon maaf saya pernah menumpang menginap beberapa hari di dalem Suranatan" kata Karebet.
"Ya, tidak apa-apa Karebet" kata Tumenggung Suranata.
"Karebet" kata Tumenggung Gajah Birawa: " Tiga hari lagi, Kanjeng Sultan Trenggana beserta Prameswari dan Putri Sekar Kedaton, Gusti Mas Cempaka, akan pergi langen suka, ingin pesiar naik perahu ke pantai"
"Ya Ki Tumenggung" jawab Karebet. "Silahkan Ki Tumenggung Suranata yang menjelaskan kepada Karebet." kata Tumenggung Gajah Birawa.
"Karebet" kata Tumenggung Suranata :"Nanti yang akan ikut mengawal ke pantai ada beberapa orang, diantaranya adalah aku sendiri, Ki Rangga Pideksa, Tumpak dan kau Karebet"

"Sebelum kau mengawal Kanjeng Sultan naik perahu, ada tugas penting yang harus kau laksanakan besok pagi" kata Tumenggung Suranata.
"Ya Ki Tumenggung" jawab Karebet.
"Besok pagi Ki Rangga Pideksa bersama kau dan Tumpak naik perahu sampai ke pantai, untuk memeriksa dan memastikan sungai yang akan dilewati Kanjeng Sultan dalam keadaan aman. Besok kau berangkat pagi hari, dan yang akan memimpin adalah Ki Rangga Pideksa" kata Tumenggung Suranata.
"Baik Ki Tumenggung" jawab Karebet.
"Ya, hanya itu saja, jangan lupa besok pagi berangkat bersama Ki Rangga Pideksa dan sekarang silahkan kembali bertugas menjaga gedung pusaka" kata Tumenggung Suranata.
Karebet lalu mohon diri, dan berjalan kembali ke gedung pusaka untuk melanjutkan tugasnya disana.
"Besok kita berangkat pagi hari" kata Karebet kepada Tumpak.

Matahari terus bergerak kearah barat tanpa mengenal lelah, ketika Karebet sedang dalam perjalanan pulang dari bertugas, tidak jauh dari pintu gerbang, dia bertemu dengan Nyai Menggung.
"Bagaimana Karebet, apa jawabanmu ?" tanya Nyai Menggung
"Nyai Madusari, tiga hari lagi, saya diperintahkan ikut mengawal di perahu Kanjeng Sultan, nanti Gusti Putri akan bertemu dengan saya disana, sedangkan besok pagi saya akan ke pantai, memeriksa tempat yang akan dikunjungi Kanjeng Sultan" kata Karebet.
"Baik, besok saya sampaikan ke Gusti Putri" kata Nyai Menggung.
"Terima kasih Nyai" kata Jaka Tingkir.
"Karebet, saya kemarin panen pisang raja, sudah matang, enak dan manis, nanti kau mau datang kerumahku cah bagus?" Kata Nyai Madusari sambil tersenyum manis.
"Nyai Madusari, setelah ini, saya harus mempersiapkan keperluan untuk perjalanan ke pantai bersama Ki Rangga Pideksa besok pagi" jawab Jaka Tingkir.
"Besok kau akan berangkat pagi-pagi sekali Karebet ?" tanya Nyai Menggung.
"Ya Nyai Madusari, saya berangkat dari dalem Suranatan setelah fajar" jawab Karebet.
"Ya sudah, tidak apa-apa Karebet, tetapi lain kali kau harus datang kerumahku cah bagus" kata Nyai Madusaripun dan iapun segera berlalu dari pandangan Karebet.

Keesokan harinya, matahari dilangit sebelah timur belum begitu tinggi, sinarnya menghangati bumi kotaraja Demak, ketika tiga orang laki-laki berpakaian petani keluar dari pintu gerbang Kraton.
Dua orang prajurit Wira Tamtama beserta seorang perwira berpangkat Rangga, tanpa mengenakan pakaian keprajuritan, berjalan ke arah timur, mereka terus berjalan menuju sungai Tuntang, yang terletak disebelah timur kotaraja Demak.
Ditangan Karebet tergenggam sebuah bungkusan yang berisi tiga buah pedang pendek dan sedikit bekal untuk makan dan minum.
Belum lama mereka berjalan, dihadapan mereka, terlihat seorang gadis tanggung, seorang prawan kencur, ditangannya tergantung sesisir pisang raja,
Gadis itu menghampiri Karebet, dan memanggilnya:" Kakang Karebet"
Karebet berhenti dan bertanya:" Siapa namamu nduk cah ayu?"

"Menur" jawab anak perempuan itu, lalu pisang raja yang dibawanya, diberikan kepada Karebet.
Setelah memberikan pisang, Menurpun lari menjauh, Karebet lalu memasukkan pisang itu kedalam bungkusan yang dibawanya.
"Siapa dia ?" tanya Karebet kepada se-akan kepada diri sendiri.
"Menur, gadis yang cantik, secantik ibunya, Nyai Madusari" jawab Ki Rangga sambil tertawa, diikuti oleh tawa Tumpak.
Ternyata Ki Ranggapun suka bercanda. Karebetpun akhirnya tertawa juga.
"Dulu sewaktu aku masih muda, Nyai Madusari tidak mau kujadikan istri, aku kalah bersaing, dikalahkan oleh Ki Tumenggung" kata Ki Rangga sambil tertawa, dan mereka bertigapun tertawa lepas.
Ketiganya berjalan terus, sebentar lagi mereka akan sampai di sungai Tuntang.
"Di sungai sudah disiapkan sebuah perahu kecil" kata Rangga Pideksa "Ya Ki Rangga" jawab Karebet dan Tumpak hampir bersamaan

Beberapa saat kemudian, sampailah mereka bertiga ditepi sungai Tuntang dan ditepi sungai sudah tertambat sebuah perahu kecil yang didalamnya terdapat dua buah dayung.
"Itu perahunya, kita kesana" kata Ki Rangga.
Mereka bertigapun menuruni pinggir sungai, melepas tali yang masih tertambat pada sebuah pohon.
"Hati-hati, jalannya licin, kalau kalian terpeleset masuk ke sungai, kalian akan berubah menjadi dua ekor buaya putih" kata Ki Rangga sambil tertawa, disusul oleh Karebet dan Tumpak yang tertawa berderai. Setelah tali yang tertambat di sebuah pohon sudah dilepas, maka mereka bertiga naik ke perahu.
Tak berapa lama perahu itupun pelan-pelan meluncur ke arah utara, menuju muara sungai.
Dua orang prajurit yang berpakaian petani, Karebet dan Tumpak, duduk agak dibelakang disebelah kanan dan kiri, masing-masing memegang sebuah dayung,
Mereka menggerakkan dayung dengan kuat, dan perahupun bergerak kedepan, menyibak air sungai Tuntang.

Perlahan-lahan perahu itu berjalan terus, berkelok-kelok mengikuti alur sungai menuju muara, dipertemuan antara sungai dengan laut.
Pepohonan mulai agak jarang, udara yang bertiup sudah mulai berbau angin laut.
"Hati-hati, mulai daerah ini sampai di muara, kadang-kadang muncul satu atau dua ekor buaya muara" kata Rangga Pideksa.
"Ya Ki Rangga" kata Karebet dan Tumpak.
Perahupun masih tetap melaju pelan ke arah laut, sungai sudah terlihat semakin lebar, angin laut bertiup kencang menerpa wajah mereka.

Matahari hampir mencapai puncaknya, ketika mereka sampai di muara sungai Tuntang, riak ombak berkejaran dari arah laut.
"Kita menyusuri pantai ke arah timur dan disana kita minggir, mendarat dan istirahat sebentar di pantai" kata Rangga Pideksa.
Karebet dan Tumpakpun mendayung menyusuri pantai, dan beberapa saat kemudian, mereka meminggirkan perahunya di pasir pantai, lalu ketiganya turun di pantai.
"Perutku sudah lapar, Karebet, bekalnya kita makan sekarang" kata Ki Rangga.
"Yang bawa bungkusan adalah saya Ki Rangga, harusnya saya dapat bagian yang lebih banyak" kata Karebet.
"Jatah makanan seorang Rangga dua kali lipat dari jatah makanan seorang prajurit" kata Ki Rangga sambil tertawa, disusul tawa dari Tumpak dan Karebet.
Karebet mengambil bungkusan yang dibawanya dari kotaraja, bungkusan yang berisi makanan dan minuman, tidak ketinggalan didalam bungkusan juga terdapat tiga buah pedang pendek.
Karebet menebarkan pandangan berkeliling, beberapa waktu yang lalu dia pernah melewati daerah ini, ketika berjalan menyusuri pantai dari bandar Jepara menuju daerah Asem Arang.
Karebet juga tahu, bahwa dibalik pohon bakau agak disebelah timur, ada beberapa bangunan gubug, yang dihuni oleh beberapa keluarga nelayan.

Ketiganya lalu berjalan menuju sebuah pohon yang tidak begitu besar, tapi dapat digunakan untuk berteduh, serta menikmati bekal yang dibawanya, nasi yang sudah dingin, tiga ekor ikan lele bakar, beberapa buah ketimun dan sebungkus kecil sambal
"Enak juga makan ditepi pantai" kata Ki Rangga.
"Ikan lelenya ini ukurannya agak besar" kata Karebet.
"Tumpak, kenapa ikan lelemu kau cabuti kumisnya" tanya Rangga Pideksa.
"Ya Ki Rangga, aku tidak senang dengan kumis ikan lele, sebab dulu istriku mau di jadikan istri oleh orang yang berkumis seperti kumis ikan lele, aku hanya membayangkan yang aku cabuti adalah kumis orang itu" jawab Tumpak, lalu terdengar tiga orang itu tertawa berderai.
"Makan secukupnya saja, jangan terlalu banyak" kata Rangga Pideksa.
"Sambalnya terlalu pedas" kata Karebet.
Setelah makan nasi, maka merekapun beristirahat sambil makan pisang raja yang diberi oleh Nyai Madusari
"Pisangnya manis, semanis senyum Nyai Madusari" kata Rangga Pideksa, dan kembali mereka bertiga tertawa.
"Sering-sering saja kau dapat pisang Karebet, biar perutku kenyang" kata Tumpak, dan suara tawa mereka bertigapun terdengar panjang.

"Enak kalau jadi suami Nyai Madusari, rumah warisan Ki Tumenggung besar sekali" kata Tumpak, dan terdengar lagi mereka tertawa.
"Kalau jadi suami Nyai Madusari, kita tidak perlu punya modal apapun juga" kata Ki Rangga sambil tertawa, disusul suara tertawa Tumpak dan Karebet.
Tetapi suara tertawa Karebet yang berkepanjangan tiba-tiba berhenti, cep klakep seperti orong-orong kena injak, sehingga suara tertawa Ki Rangga dan Tumpakpun juga ikut berhenti.
"Ada apa?" tanya Rangga Pideksa.
"Suara titir" jawab Karebet dan iapun segera berdiri dan berkata :"Dari arah timur"

Rangga Pideksa berdiri dan menegakkan kepalanya, lamat-lamat ia mendengar suara kentongan yang dipukul dengan irama cepat :"Ya, itu suara titir"
Tumpak segera berdiri, dia berusaha menelan pisang yang masih berada didalam mulutnya.
Karebet segera meraih tiga buah pedang pendek yang berada didalam bungkusan dan yang dua buah diberikannya kepada Rangga Pideksa dan Tumpak.
"Mari kita kesana, mumpung belum terlambat" kata Rangga Pdeksa dan Ki Ranggapun mendahului lari ke arah timur, diikuti oleh Karebet dan Tumpak.
Dengan cepat mereka bertiga berlari, Karebet menduga, suara kentongan yang dipukul dengan irama titir berasal dari beberapa rumah dibalik pohon bakau. Beberapa saat setelah mereka berlari, agak jauh didepan terlihat dua orang sedang memanggul sesuatu dipundaknya, sedang berlari kearah pantai.
"Itu orangnya, dua orang perampok, mereka tidak akan bisa kita kejar, jaraknya terlalu jauh" kata Ki Rangga.

"Kita cegat mereka disebelah pohon bakau" kata Karebet, dan iapun langsung melompat dan lari berbelok ke arah pohon bakau diikuti oleh Ki Rangga dan Tumpak.
Karebet berlari memotong jalan, melompati beberapa genangan air laut, setelah melewati dua gerumbul pohon bakau, maka dia telah berada didepan dua orang yang dikejarnya.
Kedua orang yang sedang berlari menuju pantai menjadi terkejut. ketika didepannya, dari balik sebuah pohon bakau, muncul seorang pemuda yang melompat menghadang, kemudian diikuti oleh dua orang lainnya.
Kedua orang itu lalu meletakkan benda yang dipanggulnya yang ternyata adalah dua orang perempuan yang telah pingsan.

Melihat ada tiga orang yang menghadang didepannya, salah seorang dari mereka tertawa berkepanjangan
"Ha ternyata kau Rangga Pideksa, hari ini kita bertemu lagi, dulu kau bisa lolos dari tanganku karena kau dibantu prajurit segelar sepapan, sekarang kau tidak akan bisa lari lagi, kau akan mati disini" kata salah seorang dari mereka sambil tertawa senang.
"Klabang Ireng dan kau Klabang Ijo, kalian dua orang perampok kakak beradik, disini kau culik dua orang perempuan, disini pula akhir dari petualanganmu, menyerahlah supaya aku tidak membunuhmu" kata Rangga Pideksa.
"Kakang Ireng, kita bunuh mereka bertiga, karena berani mengganggu kesenangan kita" kata Klabang Ijo.
"Baik, adi Ijo, kau layani yang seorang, sedangkan Rangga Pideksa dan satu temannya lagi biar menjadi bagianku, akan kubunuh mereka berdua" kata Klabang Ireng.
"Karebet dan Tumpak" kata Ki Rangga :"Dua orang itu, Klabang Ireng dan Klabang Ijo adalah dua orang perampok kakak beradik yang sering merampok disekitar bandar Jepara, dulu dia bisa melarikan diri, tetapi sekarang dia akan mati disini"
"Ayo Rangga Pideksa, majulah kalian berdua, keroyoklah aku" kata Klabang Ireng.
"Tumpak, kau bantu Ki Rangga, biar aku sendiri yang melawan Klabang Ijo" kata Karebet.
"Hati-hati Karebet" kata Ki Rangga.

Karebet yang belum mengetahui tingkat kemampuan lawannya, tidak berani bertindak tergesa-gesa, segera dibangunnya kekuatan aji Lembu Sekilan untuk membentengi dirinya.
"Kalian bertiga, bersiaplah untuk mati disini" kata Klabang Ireng.
Ki Rangga mengetahui betapa ganas dan berbahaya sepak terjang Klabang Ireng, sehingga Ki Rangga segera mencabut pedang pendeknya, diikuti oleh Tumpak dan Karebet
"Rangga Pideksa, keluarkan semua senjatamu sebelum kau mati disini" kata Klabang Ireng sambil tertawa.
Karebet menggeser badannya sehingga berhadapan dengan Klabang Ijo, sedangkan Tumpak melangkah mendekati Ki Rangga dan bersiap menghadapi Klabang Ireng.
Melihat lawannya sudah menggenggam sebuah pedang pendek, Klabang Ijopun mencabut goloknya, sambil berjalan mendekati lawannya.
"Kakang Ireng, mari kita berlomba, siapa yang lebih dulu membunuh lawannya" kata Klabang Ijo,
"Rangga Pideksa memang sudah bosan hidup, dia yang pertama kali akan mati" kata Klabang Ireng.
"Namamu Karebet? Kau yang akan mati lebih dulu" kata Klabang Ijo:"Kau terlalu sombong, kau anak kemarin sore sudah berani menempatkan diri melawan Klabang Ijo yang tak terkalahkan di .........."

Belum selesai Klabang Ijo berbicara, tiba-tiba pemuda yang disebutnya sebagai anak kemarin sore itu telah menjulurkan pedang kearah dadanya, sehingga Klabang Ijo dengan tergesa-gesa melompat mundur kebelakang..
Hampir saja Klabang Ijo tidak bisa menyelesaikan ucapannya.
Mereka belum mulai bertempur, tetapi Klabang ijo sudah marah terlebih dulu, dadanya hampir saja berlubang ditembus pedang Karebet.
"Kau membuat aku marah" kata Klabang Ijo sambil menunjuk muka Karebet dengan goloknya.
"Aku sudah marah sejak tadi" kata Karebet.
"Kau memang ingin mati disini" kata Klabang Ijo dan tanpa menunggu jawaban, Klabang Ijopun mengayunkan goloknya menyerang Karebet.
Karebet mundur selangkah untuk menghindari ayunan golok Klabang Ijo, tetapi Klabang Ijo masih menyerangnya dengan sebuah tusukan lurus kedepan.
Kali ini Karebet tidak menghindar, tetapi memukul golok Klabang ijo kesamping dengan menggunakan pedang pendeknya.

Terdengar suara beradunya dua buah senjata, dan sekilas terlihat loncatan bunga api.
Klabang ijo berputar mengikuti arah pukulan lawan, dan dengan sigap iapun mundur dua langkah, dan bersiap untuk menyerang kembali.
Belum sempat Klabang Ijo menyerang, Karebet telah menyerangnya lebih dulu dengan ayunan menyilang, dan Klabang ijopun melayaninya dengan menggerakkan goloknya membentur pedang Karebet.
Keduanya telah terlibat perkelahian yang sengit, pengalaman Klabang Ijo yang bertahun-tahun menjadi perampok tak terkalahkan, menjadikan tingkah lakunya sangat ganas, ingin cepat-cepat mengalahkan lawannya yang umurnya masih sangat muda.

Klabang Ireng masih melihat bagaimana adiknya bertempur, dan iapun mengangguk-anggukkan kepalanya, melihat adiknya mendesak lawannya mundur.
"Kau lihat Rangga Pideksa, sebentar lagi temanmu pasti mati dibunuh oleh adikku, Klabang Ijo, ayo Rangga Pideksa, mari kita mulai" katanya sambil mencabut golok dipinggangnya, dan tanpa menunggu jawaban, Klabang Ireng melompat kedepan, dan goloknya terayun dengan tebasan menyilang kearah Rangga Pideksa.
Rangga Pideksa melompat mundur, Klabang Ireng menjulurkan goloknya mengejar, tetapi terpaksa serangannya ditarik kembali karena sebuah pedang pendek yang lain terjulur kearah perutnya,
Klabang Ireng cepat menarik goloknya, dan digunakan untuk memukul pedang yang terjulur ke arah perutnya, sesaat kemudian terjadi benturan antara golok Klabang Ireng dengan pedang pendek milik Tumpak.

Tumpak terkejut sekali ketika pedang pendeknya terbentur golok Klabang Ireng, tangannya bergetar dan terasa sakit, hampir saja pedangnya terlepas dari genggaman tangannya.
Tumpak mundur selangkah, dilihatnya Rangga Pideksa kembali menyerang Klabang Ireng dengan cepatnya.
Terjadilah dua lingkaran perkelahian, Karebet melawan Klabang Ijo, dan perkelahian Rangga Pideksa bersama Tumpak melawan Klabang Ireng.
Klabang Ireng terlihat masih bisa tertawa, meskipun harus menghadapi dua orang lawannya, sedangkan Klabang Ijo hatinya berdebar kencang menghadapi kekuatan dan ketangkasan Karebet.
Perkelahian telah berlangsung beberapa saat, silih ungkih singa lena,
Saling menyerang dengan seluruh kemampuan untuk mengalahkan lawannya, pedang dan golok saling berkejaran dan berbenturan sehingga beberapa kali terlihat loncatan bunga api.
Karebet melihat sesuatu yang mengkhawatirkan pada perkelahian Ki Rangga bersama Tumpak melawan Klabang Ireng.

Terlihat perkelahian yang berat sebelah, meskipun Ki Rangga dan Tumpak sudah mengeluarkan segala kemampuannya, tapi lawannya, Klabang Ireng masih bisa melayani mereka berdua sambil tertawa keras.
Karebet harus mengambil sebuah keputusan yang cepat, dia harus mengalahkan Klabang Ijo terlebih dulu, sebelum perlawanan Ki Rangga dan Tumpak semakin lemah.
Mulailah Karebet berpacu dengan waktu, diapun menyerang Klabang Ijo dengan cepat dan kuat seperti berputarnya angin lesus.
Tangannya yang hanya dua buah, digerakkan dengan lambaran ilmu Trisula Manik menyerang kearah Klabang Ijo.

Klabang Ijo terkejut melihat perubahan gerak lawannya, tangannya berubah seakan-akan menjadi tiga buah, pedang pendeknya berubah ubah dari tangan kanan, tiba-tiba sudah berada di tangan kiri.
Klabang Ijo sama sekali tidak mempunyai kesempatan untuk menyerang, yang bisa dilakukannya adalah bergerak mundur berputar-putar, bertahan sekuat tenaga berusaha menghindar dari serangan pedang pendek lawannya yang dilambari ilmu Trisula Manik.
Pada saat yang bersamaan, Klabang Ireng berniat untuk mengakhiri perkelahian, goloknya diputar seperti baling-baling, dan ketika datang serangan pedang pendek dari Tumpak, dibenturkan pedang lawannya dengan golok yang diputarnya dengan kekuatan penuh, dan tanpa dicegah, pedang Tumpakpun terlempar jatuh ke tanah.

Telapak tangan Tumpak terasa sakit, dia melompat mundur dua langkah, Rangga Pideksapun segera bergeser mendekati Tumpak sambil mengacungkan pedangnya.
Klabang Ireng tertawa, iapun segera bersiap untuk membunuh kedua lawannya.
Perkelahian Karebet melawan Klabang Ijo sudah sampai pada saat yang menentukan, Karebet dalam puncak ilmu Trisula Manik berhasil memutar pedang pendeknya menempel pada golok lawannya, dan dengan satu hentakan keras kesamping, golok Klabang Ijo terlempar jatuh ke tanah.
Klabang Ijo melompat mundur, tetapi Karebet tidak melepaskannya, dengan satu lompatan panjang, pedangnya terjulur mengejar ke dada lawannya.

Di perkelahian lainnya, setelah berhasil menjatuhkan pedang dari salah satu lawannya, Klabang Ireng menyerang Rangga Pideksa dengan ayunan goloknya, Ki Ranggapun menangkis dengan pedang pendeknya dan terjadilah satu benturan keras, akibatnya pedang Rangga Pideksa hampir saja terlepas, dan ketika Klabang Ireng bersiap akan menyerang kembali, ia terkejut ketika mendengar suara adiknya berteriak nyaring: "Kakang Ireng!!!"
Klabang Ireng menoleh dan iapun terkejut, dilihatnya pedang Karebet mengancam dada adiknya, dan dibuatnya sebuah keputusan yang cepat, dibatalkannya niat untuk membunuh Rangga Pideksa, dengan cepat tangannya meraba ikat pinggangnya, sekejap kemudian meluncurlah dua buah pisau belati mengarah tepat ke punggung Karebet.
Wajah Klabang Ijo pucat pasi, pedangnya telah terlempar, dan kini ia tanpa senjata menghadapi Karebet, anak kemarin sore yang masih memegang pedang pendeknya.
Klabang Ijo mundur selangkah, menghindari tusukan pedang pendek lawannya, Karebet yang mempunyai panggrahita yang tajam, merasa ada senjata tajam yang menyerang punggungnya.
Menghadapi serangan yang mengarah ke punggungnya, Karebet berpikir cepat dan mengambil sebuah keputusan yang tepat.

Karebet tidak menghiraukan serangan yang mengarah ke punggungnya, dengan suatu lompatan panjang, pedangnya yang disabetkan secara menyilang, berhasil menggores dada Klabang Ijo.
Sebuah goresan menyilang yang dalam, telah mengakibatkan Klabang Ijo berteriak nyaring, karena merasa dadanya terbelah.
Tubuh Klabang Ijo terdorong selangkah kebelakang, lalu dengan keras jatuh terbanting ke tanah.
Klabang Ijo, salah satu dari dua perampok bersaudara yang tak terkalahkan disekitar bandar Jepara, kini telah jatuh dan terbaring diam, mati ditangan seorang prajurit Wira Tamtama yang berpakaian petani, Karebet,
Teriakan Klabang Ijo bersamaan dengan runtuhnya dua buah pisau belati yang dilempar kepunggung Karebet oleh Klabang Ireng.

Dua buah pisau belati runtuh ke tanah, hanya berjarak sekilan dari punggung Karebet.
Klabang Ireng sangat terkejut mendengar teriakan kesakitan adiknya, dengan tergesa-gesa ia tinggalkan kedua lawannya, Rangga Pideksa dan Tumpak yang telah kehilangan pedangnya, dan dengan dua lompatan panjang, ia telah berdiri di depan Karebet yang masih memegang pedang pendek berlumuran darah, darah adiknya.
"Kau bunuh adikku" kata Klabang Ireng gemetar.
"Ya" kata Karebet.
"Hutang nyawa bayar nyawa, hutang pati bayar pati" kata Klabang Ireng.
"Cobalah kalau kau mampu" kata Karebet.

Klabang ireng yang marah karena kehilangan adiknya, tidak mau menunggu lama, goloknya digerakkan menebas kesamping menyerang kearah lawannya, sehingga Karebet, terpaksa mundur dua langkah.
Ketika Klabang Ireng merubah tebasan kesamping menjadi tusukan lalu berubah lagi menjadi tebasan menyilang, maka Karebetpun membenturkan pedang pendeknya ke golok lawannya, dan terjadiah benturan keras dan tangan keduanya menjadi bergetar.
Karebet tidak mau diserang terus menerus, maka tangannya pun bergerak dengan cepat, menyerang silih berganti, berputar mengelilingi Klabang ireng.
Sementara itu, Tumpak telah mengambil kembali pedangnya yang lepas ketika bertempur melawan Klabang Ireng, dan bersama Ki Rangga Pideksa mereka melihat Klabang Ireng yang marah karena adiknya terbunuh, sedang bertahan atas serangan gencar dari Karebet yang menggunakan ilmu Trisula Manik.
Karebet bergerak memutar setengah lingkaran, menyerang Klabang Ireng dari sebelah kiri, dan pedang pendeknya terjulur tepat ke arah dada.

Klabang Ireng tidak mau dadanya berlubang, cepat ia menangkis dengan goloknya, dan itu yang sebetulnya ditunggu oleh Karebet. Ketika golok Klabang Ireng menangkis pedang pendeknya, maka dengan sekuat tenaga, Karebet memutar pedang pendeknya, sehingga golok Klabang Ireng ikut berputar, dan dengan satu hentakan keras kesamping, maka terlepaslah golok Klabang Ireng dari tangannya.
Melihat goloknya terlepas, Klabang Ireng melompat mundur dua langkah, tangannya bergerak meraba ikat pinggangnya, sekejap kemudian ditangannya telah tergenggam sebuah cemeti panjang, sebuah cemeti pusaka warisan dari nenek moyangnya.
Di ujung cemeti terikat erat beberapa buah logam kecil yang tajam seperti pisau, yang mampu mengoyak kulit dan daging lawannya.
Sekali cemeti itu diusapkan di ubun-ubunnya, sekejap kemudian terdengarlah suara ledakan keras, ketika cemeti itu dilecutkan di udara.
Dengan bersenjatakan sebuah cemeti, Klabang Ireng selalu mengambil jarak dari lawannya, menghindari pertarungan jarak dekat.

Jangkauan cemeti yang panjang, membuatnya mampu menyerang lebih banyak daripada serangan lawannya.
Ketika cemeti Klabang Ireng mendesing cepat menyambar leher, Karebet membungkukkan badannya, belum sempat berdiri tegak, ujung cemeti Klabang Ireng membelit pedang pendeknya, dan dengan satu hentakan sendal pancing yang kuat, pedang pendek Karebet terlepas jatuh ketanah.
Klabang Ireng tertawa berkepanjangan ketika melihat lawannya tanpa senjata, dan dengan penuh nafsu membunuh, dihajarnya tubuh Karebet dengan lecutan cemeti beruntun.
Tangan kanan Klabang Ireng bergerak cepat memainkan cemetinya yang berujung beberapa logam tajam, yang mampu mengoyak kulit daging seseorang.

Berkali-kali ujung cemeti yang tajam dilecut dengan keras mengarah ke tubuh Karebet, tetapi ujung cemeti yang tajam itu seakan-akan tertahan oleh perisai yang tidak kasat mata.
Sementara itu Ki Rangga Pideksa dan Tumpak yang melihat peristiwa itu menjadi heran, mereka jelas melihat ujung cemeti mengarah ke tubuh Karebet, tetapi cemeti itu tidak pernah bisa menyentuh tubuh Karebet.
Gempuran cemeti yang berujung tajam dari Klabang Ireng seakan tertahan oleh sesuatu yang tidak terlihat, hanya berjarak sekilan dari tubuh Karebet.
Tak lama kemudian, setelah bertempur beberapa saat, maka Karebetpun berniat ingin mengakhiri perlawanan Klabang Ireng.

Dengan cepat dihimpunnya kekuatan aji Hasta Dahana dan dipusatkan di tangan kanannya.
Aji Hasta Dahana, sebuah aji Tangan Api, yang didapat dari menghimpun panas kawah gunung Merapi, dan ditangan Karebet aji Hasta Dahana mampu membakar dan menghanguskan batang pohon sebesar sepelukan orang
Karebet tidak menghiraukan ketika ujung cemeti menyerangnya, bukannya menghindari serangan cemeti lawan, tetapi Karebet malah melompat maju menyongsong hantaman cemeti Klabang Ireng.
Ketika Klabang Ireng melihat Karebet maju, maka iapun melompat mundur untuk mengambil jarak, lalu dengan keras dilecutkan cemetinya diatas kepala lawannya.
Tedengar sebuah ledakan keras diudara, lalu ujung cemeti menyambar cepat ke arah dada Karebet.
Sekali lagi Karebet melompat maju dua langkah, dan dengan cepat tangan kirinya menangkap cemeti, bukan pada ujung cemeti, tetapi hampir di pangkal cemeti, hanya berjarak sedepa dari pangkal cemeti.

Dengan kekuatan penuh, tangan kiri Karebet menarik cemeti ke arah dirinya, tetapi Klabang Ireng tidak mau kehilangan cemeti pusaka warisan leluhurnya, dia mempertahankan cemeti itu sekuat tenaganya, jangan sampai cemeti pusakanya itu jatuh ke tangan lawannya.
Tangannya masih menggenggam cemeti dengan kuatnya, sehingga badan Klabang Ireng tersentak maju kedepan, dan semuanya itu sudah diperhitungkan oleh Karebet.
Semua terjadi dalam waktu sekejap.. Ketika badan Klabang Ireng tersentak maju selangkah kedepan, maka dengan cepat Karebet melompat kedepan menyongsong tubuh lawannya, tangan kanannya digunakan untuk menyentuh wajah Klabang Ireng, serta dua jari tangannya menyerang ke arah ke mata.
Klabang Ireng terkejut, dia tidak mau kehilangan dua buah bola matanya, maka serangan dua jari tangan itu ditangkisnya.

Tangan kanan Klabang Ireng masih memegang dengan erat cemeti pusakanya, maka tidak ada jalan lain, Klabang Ireng terpaksa menangkis tangan kanan Karebet dengan tangan kirinya,.
Tetapi Klabang Ireng terkejut bukan buatan, tangan kirinya yang sudah terlanjur diangkat keatas untuk menangkis serangan Karebet menemui tempat kosong, ternyata Karebet telah menyerang dengan sebuah gerak tipuan.
Sebelum tangan Karebet menyentuh tangan Klabang Ireng, dengan cepat Karebet merubah serangan tangannya kebawah, bukan lagi berupa sebuah serangan dua jari kearah mata, tetapi berupa serangan telapak tangan kanan yang menyerang ke arah dada.
Telapak tangan yang dilambari aji Hasta Dahana, menghantam tepat didada Klabang Ireng.
Klabang Ireng merasa, dadanya terasa seperti tertimpa kawah gunung Merapi, panas sekali, hanya sekejap, setelah itu dia tidak pernah merasakan rasa sakit lagi.
(bersambung)