Senin, 13 Oktober 2014

KERIS KYAI SETAN KOBER 25


KERIS KYAI SETAN KOBER 25

KARYA : APUNG SWARNA

BAB 9 : MBANGUN PRAJA 3

Selain aji Lembu Sekillan, Karebetpun mempunyai beberapa aji jaya kawijayan dari berbagai perguruan, dan telah beberapa kali dipergunakan untuk menghadapi lawan.
"Tugasmu sebagai Adipati Pajang cukup berat, selama Sultan Trenggana masih hidup, kau dalam keadaan aman, tetapi kalau Sultan Trenggana sudah meninggal, kedudukanmu sebagai Adipati Pajang terancam, karena kau juga berhak mewarisi tahta meskipun hanya sebagai putra menantu Sultan Demak" kata uwanya.
"Nanti apabila terjadi sebuah pergantian Sultan Demak, tidak semudah membalik telapak tangan, karena keturunan Pangeran Sekar Seda Lepen juga merasa berhak atas tahta Demak". kata Ki Kebo Kanigara.
"Ya wa, Arya Penangsang tidak akan mudah melupakan haknya untuk menjadi seorang Sultan di Demak karena Penangsang adalah cucu Raden Patah" kata Karebet.
"Kau tidak usah nggege mangsa tentang tahta Demak, diatasmu masih ada Sunan Prawata dan Pangeran Hadiri, merekalah yang saat ini berada di urutan teratas pewaris tahta Demak" kata Kebo Kanigara.
Karebet menganggukkan kepalanya, dia mengerti dan memahami sepenuhnya perkataan dari uwanya Kebo Kanigara.

Pembicaraan terhenti sebentar karena pembantunya yang setia membawakan sebutir kelapa muda.
"Minum dulu ngger Karebet" kata pembantunya, Ki Purwa sambil meletakkan kelapa muda di depan Karebet.
"Terima kasih wa" jawab Karebet.
Setelah meletakkan buah kelapa muda, pembantunyapun kemudian berjalan menuju ke halaman, memberi makan dan minum kuda yang dibawa oleh Karebet.
"Nah Karebet, sekarang kau cerita mengenai dirimu, berkaitan kau dipanggil menghadap Sultan Trenggana kemarin dulu" kata uwanya.
Karebet menggeser duduknya, lalu iapun berkata :"Ya wa, saya kemarin dipanggil menghadap Kanjeng Sultan di Kraton, membicarakan rencana pelantikan Adipati Pajang dan Jipang, yang akan diadakan nanti pada pisowanan agung pada hari Anggara Kasih, sekitar tiga pasar lagi".
Kebo Kanigara menganggukkan kepalanya, sambil mendengarkan penuturan Karebet
"Pada saat menghadap Kanjeng Sultan, saya bertemu dengan Arya Penangsang wa" kata Karebet.
"Kau bertemu dengan Penangsang ?" tanya Kebo Kanigara.
"Ya wa" jawab Karebet.
Kebo Kanigarapun berkata lagi :"Kalau kau bertemu Penangsang, kau harus hati-hati Karebet, kau harus waspada, bagaimanapun juga Penangsang adalah seorang yang berilmu tinggi"
"Ya wa, kami hanya berpapasan saja"
"Lalu apa rencanamu untuk menghadiri pisowanan agung nanti ?" tanya uwanya.
"Saya akan berangkat dari Pajang bersama kakang Pemanahan dan kakang Penjawi, lalu menginap di Kadilangu wa, lalu esok paginya bersama dengan Kanjeng Sunan Kalijaga, menghadiri pisowanan agung di Sasana Sewaka" kata Karebet.
"Ya, mudah-mudahan kau tidak mengalami kesulitan untuk menghadiri Pisowanan Agung, jangan lupa kau pakai keris Naga Siluman yang telah aku berikan kepadamu" kata Kebo Kanigara.
"Ya wa, nanti setelah pisowanan agung, dua tiga pasar selanjutnya, dilanjutkan dengan acara melamar Sekar Kedaton, serta acara pahargyan pengantin, apakah siwa bisa menghadiri acara itu dan datang sebagai pengganti ayahanda Kebo Kenanga ?" tanya Karebet.

Kebo Kanigara tidak menjawab, hatinya bimbang, teringat akan adiknya Kebo Kenanga yang telah dibunuh oleh Sunan Kudus atas perintah Kanjeng Sultan Demak
"Wa, Kanjeng Sultan pernah berkata kepadaku, bahwa persoalan ayahanda Ki Ageng Pengging telah selesai, jadi tidak ada masalah kalau siwa ikut ke Kraton" kata Karebet.
"Ya, itu aku juga sudah tahu, baik Karebet, akan aku pertimbangkan, apakah aku akan muncul sekali-sekali didepan umum atau tetap seperti ini" kata uwanya.
"Terima kasih wa, kemudian saya ingin membangun rumah kesatrian yang akan saya bangun dibelakang dalem kadipaten, saya bermaksud mengajak Sutawijaya tinggal di Pajang wa, supaya Tombak Kanjeng Kyai Plered bisa disimpan di Pajang" kata Karebet sekanjutnya.
"Ya, jadi untuk keperluan itu kau singgah di Pengging?" tanya Ki Kebo Kanigara.
"Ya wa, tadinya saya akan langsung menuju Pajang, tapi saya belokkan ke Pengging untuk mencari tukang kayu yang akan membangun sebuah rumah kesatrian"
"Kau akan menyuruh orang atau akan mencari sendiri?" tanya uwanya.
"Nanti saya menemui Truna Ompak wa" kata Karebet.

Keduanya kemudian berbincang berdua sambil makan ubi dan minum wedang jahe dan kelapa muda.
"Ubinya dimakan Karebet" kata uwanya.
"Ya wa" kata Karebet , tangannyapun kemudian mengambil sebuah ubi rebus.
Selepas tengah hari, Karebet kemudian pamit keluar, mengambil kudanya dan melarikannya menuju dekat umbul Pengging, dan beberapa saat sebelum sampai di umbul Pengging, Karebetpun berbelok menuju kesebuah rumah.
Dirumah itu, di sudut halaman dibawah sebatang pohon, Karebetpun berhenti kemudian turun dari kudanya, menambatkannya pada dahan pohon lalu mendekati seseorang yang sedang membuat ompak.
"Truna Ompak" kata Karebet
"Kita ketemu lagi calon Adipati Pajang" kata Truna Ompak sambil tertawa.
Karebetpun tertawa lalu iapun berkata :"Aku masih butuh bantuanmu Truna, aku akan membangun beberapa buah rumah lagi, kau segera persiapkan ompaknya"
"Baik, akan aku buatkan ompaknya, kau bisa utusan orang kemari, tidak perlu harus menemui aku disini" kata Truna Ompak.

"Kebetulan aku pulang kerumahku, Truna, coba kau cari dua tiga orang tukang yang bisa membangun rumah di Pajang" kata Karebet.
"Baik, besok aku akan datang ke Pajang dengan tukang dari Pengging seperti yang kau pesan itu" kata Truna Ompak.
"Ya aku tunggu di Pajang" kata Karebet :"Rumah yang akan dibangun nantinya tidak terlalu besar, lebih kecil daripada dalem Kadipaten yang baru dibangun"
"Baik, aku akan membuat semua ompak yang kau butuhkan untuk membangun beberapa rumah" kata Truna Ompak.
"Dua candra yang lalu, setelah kau menyelesaikan pembuatan ompak dalem kadipaten, apakah kau masih terus membuat ompak sampai sekarang?" tanya Karebet.
"Ya, itu dibelakang rumah ada belasan ompak yang sudah siap pakai, nanti bisa segera aku bawa ke Pajang, dengan menggunakan pedati" kata Truna Ompak dan iapun menyanggupi akan segera membawa ompak-ompak yang sudah jadi, ke Pajang.
"Kau bawa juga dua orang tukang gali sumur yang ada di Pengging, untuk membuat sumur di halaman belakang dalem Kadipaten"
"Baik, besok tukang gali sumur akan saya ajak ke Pajang" kata Truna Ompak.
"Ya" kata Karebet.
"Selain itu beberapa hari ini hampir semua perbincangan para pemuda Pengging adalah mengenai akan diadakannya pendadaran untuk menjadi prajurit Pajang" kata Truna Ompak.

Karebetpun kemudian menganggukkan kepalanya, ternyata Pemanahan atau yang lainnya sudah mengadakan wara-wara mengenai akan diadakannya pendadaran untuk menjadi prajurit Pajang. "Lalu apakah ada yang berminat menjadi prajurit Pajang ?" tanya Karebet.
"Banyak, banyak sekali pemuda Pengging yang akan ikut pendadaran di Pajang" jawab Truna Ompak.
Sejenak Karebet masih masih berbincang-bincang, dan beberapa saat kemudian iapun pamit akan kembali kerumahnya.
Karebetpun kemudian berjalan menghampiri kudanya, mengambil tali kendali lalu iapun naik kepunggung kudanya, lalu sesaat kemudian iapun menjalankannya kembali menuju kerumah peninggalan ayahnya, Ki Ageng Pengging.
Waktupun terus berjalan, matahari telah condong kebarat, di pendapa rumah peninggalan Ki Ageng Pengging, Karebet pamit kepada uwanya Kebo Kanigara akan kembali ke dalem Kadipaten di Pajang.
"Karebet, nanti pada waktu pelantikanmu sebagai Adipati, aku akan mengamatimu dari luar, kemudian tentang perkawinanmu, beri aku waktu untuk memikirkannya, mudah-mudahan aku bisa mendampingimu meskipun aku harus bertemu dengan Sultan Trenggana" kata Kebo Kanigara.
"Ya wa, terima kasih" kata Karebet.
"Hati-hati dijalan" kata Ki Kebo Kanigara.
Karebetpun kemudian keluar dari pendapa, naik ke punggung kudanya dan tak lama kemudian seekor kuda keluar dari halaman rumah peninggalan Ki Ageng Pengging dengan Karebet duduk diatas punggungnya.
Kuda Karebet berlari dengan meninggalkan debu yang beterbangan di belakang kakinya.
Jarak yang tidak begitu jauh, jalan setapak yang dilaluinya sudah rata dan hanya sedikit menurun tanpa adanya tanjakan terjal, menyebabkan perjalanan Karebet menjadi lancar dan tak lama kemudian iapun hampir sampai di Pajang.

Ketika sinar matahari sudah berubah kemerahan menjelang lembayung senja, Karebetpun tiba di dalem Kadipaten, dan disanapun sudah berkumpul menyambutnya, Majasta bersama rombongannya dari Banyubiru, Pemanahan dan Penjawi, Wenang dan adapula disana Lurah Wiguna.
Karebetpun turun dari kudanya, Wenangpun dengan cepat memegang kendali kudanya dan membawa ke halaman samping gubug.
"Nanti aku akan cerita, sekarang aku akan membersihkan badanku dulu" kata Karebet dan iapun kemudian pergi ke sungai dan iapun segera membersihkan dirinya.
Malam harinya, dibawah cahaya lampu kecil yang berisi lemak binatang, beberapa orang berkumpul di pendapa duduk diatas tikar yang dibuat dari daun kelapa.
"Ketika aku menghadap Kanjeng Sultan" Karebet mulai bercerita :"Ternyata hampir bersamaan dengan datangnya Penangsang yang juga dipanggil menghadap Kanjeng Sultan."
"Besok pada hari Anggara Kasih, akan diadakan Pisowanan Agung, aku akan dilantik menjadi Adipati Pajang sedangkan Arya Penangsang akan diangkat sebagai Adipati Jipang" kata Karebet.

Mereka mendengarkan dengan sungguh-sungguh kalimat yang diucapkan Karebet.
"Nanti pada saat Pisowanan Agung, kakang Pemanahan dan Kakang Penjawi aku ajak ke kotaraja menemani aku di Sasana Sewaka, sedangan Mas Manca dan Jaka Wila juga ikut, tetapi menunggu di luar Kraton" kata Karebet.
"Ki Wuragil dan Wenang tetap disini, mengawasi para pekerja, sedangkan Ki Majasta, apakah Ki Majasta jadi pulang besok pagi ?" tanya Karebet.
"Ya, besok pagi aku akan pulang ke desa Majasta" kata Majasta.
"Baik Ki Majasta, lalu selanjutnya, tadi siang aku menemui Truna Ompak di rumahnya, ompak-ompak yang akan dipakai untuk landasan beberapa rumah yang akan kita bangun sebagian sudah tersedia, tinggal membawa ke Pajang. Besok akan datang beberapa tukang gali sumur dari Pengging, mereka akan menggali sumur di halaman belakang dalem Kadipaten" kata Karebet.
"Selanjutnya, aku akan membuat sebuah rumah Kesatrian di bagian belakang yang akan dibangun oleh tukang dari Pengging, nanti Wenang untuk sementara akan tinggal disana"
"Baik kakangmas" kata Wenang.
"Kakang Pemanahan, bagaimana dengan rencana pendadaran untuk para calon prajurit Pajang yang akan kita adakan lusa ?" tanya Karebet.
"Ya, kita sudah menghubungi para bebahu di Pajang, Butuh dan Pengging, ternyata banyak pemuda yang berminat menjadi prajurit Pajang" kata Pemanahan.
"Ya, nanti kita akan melatih mereka menjadi para prajurit yang tangguh, masih ada yang perlu di bicarakan lagi ?" tanya Karebet.

"Ya," kata Lurah Wiguna :"Besok pagi rombonganku akan pulang ke kotaraja, karena pekerjaan membuat dalem Kadipaten dan ruang pisowanan sudah selesai".
"Ya Ki Lurah, aku berterima kasih Ki Lurah selama tiga candra telah membuatkan aku sebuah dalem Kadipaten" kata Karebet.
"Ah, itu semua sudah tugasku" kata Ki Lurah Wiguna :"Membangun dalem Kadipaten Pajang adalah tugas yang diberikan oleh Kanjeng Sultan kepadaku"
Kemudian merekapun berbincang mengenai beberapa hal seputar pembangunan Kadipaten Pajang.
"Sebelum Pajang mendapat pasokan bahan makanan asok bulu bekti dari para bebahu desa-desa diseluruh Pajang, untuk keperluan makan, bahan makanan tetap akan dikirim dari Pengging dan dari Tingkir, sedangkan untuk tukang adangnya, nanti kita ambilkan tukang adang dari Pajang" kata Karebet menjelaskan.
"Nanti aku akan singgah ke Banyubiru, dan aku akan minta Ki Buyut Banyubiru untuk mengirim tambahan tukang dan mengirim bahan makanan ke Pajang" kata Majasta..
"Terima kasih Ki Majasta" kata Karebet :" Malam ini aku tidak tidur didalam gubug, tetapi aku mulai tidur di ruang tidur dalem Kadipaten" kata Karebet.

Malam itu, setelah lama berbincang, maka merekapun kembali ke gubug, Karebetpun masuk kedalam kamarnya, tidur diatas amben yang baru saja dibuat oleh tukang kayu, sebuah amben yang sederhana.
"Amben ini tidak pantas untuk tidur diajeng Sekar Kedaton" kata Karebet dalam hati, tetapi diapun tidak bisa berbuat banyak, semua tukang yang ada telah berbuat yang terbaik untuk Kadipaten Pajang.
Tak terasa tengah malampun menyapa bumi Pajang. Kentongan yang tergantung di sudut pendapa yang baru saja dibuat oleh salah seorang tukang dari Tingkir, telah ditabuh dengan nada dara muluk.
"Sudah tengah malam, siapa yang memukul kentongan?" tanya Karebet dan pertanyaan itupun telah dijawabnya sendiri. "Mungkin Wenang"
Kembali malam menjadi sepi, dan tanpa terasa malampun telah sampai ke ujungnya, dan dimulailah sebuah hari baru yang diawali dengan seberkas sinar merah di arah bang wetan.
Semua isi bumi Pajang terbangun, tak terkecuali Lurah Wiguna beserta semua rombongan dari kotaraja Demak, dan merekapun bersiap-siap pulang ke kotaraja dengan berjalan kaki, tiga ekor kuda yang mereka bawa untuk membawa beban sewaktu berangkat, tidak mereka bawa pulang, karena kuda itu telah di berikan kepada Kadipaten Pajang.

Demikian juga dengan Majasta, iapun telah bersiap untuk pulang, tetapi ia akan singgah ke Banyubiru untuk minta tambahan bahan pangan kepada Ki Buyut Banyubiru.
Di depan pendapa kadipaten Pajang semuanyapun berkumpul, lalu Lurah Wigunapun minta diri, akan kembali ke kotaraja Demak.
"Sekali lagi, terima kasih kepada Ki Lurah Wiguna beserta semua rombongan dari kotaraja" kata Karebet.
"Aku juga mohon pamit, akan kembali ke Majasta" kata Majasta.
"Terima kasih Ki Majasta" kata Karebet.
"Adi Wuragil, Mas Manca dan kau Jaka Wila, aku pulang dulu" kata Majasta.
"Baik kakang Majasta, jangan lupa kirim tambahan tukang dari Banyubiru" kata Wuragil.
"Baik" kata Majasta menyanggupi.
Tak lama kemudian rombongan dari kotaraja yang dipimpin oleh Lurah Wiguna, telah berjalan meninggalkan dalem Kadipaten Pajang.
Mereka berjalan bersama-sama menuju arah utara, setelah tiga candra mereka bekerja membangun dalem Kadipaten Pajang.

Yang ditinggal di Pajang, masih disibukkan pembuatan beberapa rumah lagi, tukang dari Tingkir masih mengerjakan beberapa pekerjaan di dalem Kadipaten, sedangkan tukang dari Sela bersama Pemanahan dan Penjawi sibuk menebang pohon di hutan jati, untuk keperluan pembangunan dua buah rumah yang akan mereka bangun.
"Tenyata kita masih perlu tambahan beberapa tukang lagi adi Penjawi" kata Pemanahan kepada Penjawi.
"Ya kakang, tetapi sebelum ada penambahan lagi tukang dari Sela, pembuatan rumah untuk kita, kita kerjakan semampu tukang kita" kata Penjawi, sambil terus mengayunkan kapaknya memotong pohon jati didalam hutan.
Pemotongan pohon jati yang dilakukan oleh Pemanahan dan Penjawi menjadi agak lebih mudah karena ukuran rumah yang akan mereka bangun, lebih kecil dari ukuran dalem Kadipaten Pajang.

Di dalem Kadipaten setelah lewat tengah hari, Truna Ompak datang bersama dua orang tukang dari Pengging, dan Karebetpun memerintahkan kepada Wenang untuk menemani tukang yang akan membangun dalem kesatrian.
Demikianlah, hari itu orang-orang masih disibukkan dengan kerja membangun beberapa rumah di Kadipaten Pajang.
Keesokan harinya, dalem Kadipaten Pajang disibukkan oleh kedatangan pemuda-pemuda dari daerah Pajang, Pengging dan Butuh, yang ingin mengikuti pendadaran menjadi calon prajurit Wira Tamtama.

Lebih dari tiga ratus pemuda telah memenuhi tanah lapang di depan dalem Kadipaten, dan diterima oleh Mas Manca, Jaka Wila, dan Wenang. Ketiganya mencatat nama-nama pemuda yang ikut dalam pendadaran calon prajurit Pajang.
Merekapun dibagi menjadi tiga bagian, Mas Manca, Jaka Wila maupun Wenang masing-masing mengajak lebih dari seratus orang untuk berlari-lari.
"Untuk mengikuti pendadaran ini, kalian semua akan kami ajak untuk berjalan, berlari, berenang dan beberapa kegiatan yang lain, bagi yang tidak kuat, jangan dipaksakan, kalian dipersilakan untuk kembali" kata Mas Manca.
Mas Mancapun lalu mengajak mereka berlari-lari menuju arah barat, sedangkan Jaka Wila menuju arah timur, Wenangpun juga mengajak berlari menuju arah utara.
Satu dua orang yang tidak kuat berlari, telah berhenti dan melupakan impian mereka untuk menjadi seorang prajurit.

Menjelang tengah hari semuanya telah kembali di depan dalem Kadipaten, lalu Mas Mancapun meminta mereka untuk datang dua hari lagi untuk melanjutkan rangkaian pelaksanaan pendadaran selanjutnya.
Keesokan harinya, Pemanahan, Penjawi dan Wuragil telah memotong beberapa pohon jati yang ukurannya agak kecil, tidak sebesar kayu yang dipergunakan untuk membuat kayu saka dalem Kadipaten.
Beberapa kayu yang sudah dipotong, oleh Mas Manca bersama Jaka Wila dan Wenang, dibantu dengan beberapa tukang, telah diangkat dan diseret beramai-ramai, dibawa ke bulak amba, dan ditempatkan di beberapa tempat yang akan dibangun beberapa rumah.
Disamping para tukang, ada juga beberapa orang Pajang yang bekerja membantu pemotongan pohon maupun pembangunan rumah di bulak amba dan beberapa orang Pajang lainnya juga bekerja sebagai tukang adang.
Hari itu, disamping membawa kayu ke bulak amba, mereka juga disibukkan dengan memotong banyak sekali pohon-pohon jati yang mempunyai ukuran kecil, diletakkan dipinggir hutan, sehingga besok pagi tinggal membawa kayu-kayu itu ke bulak amba.

Demikianlah, mereka terus bekerja, membangun beberapa rumah di sekitar dalem kadipaten Pajang, dan mereka juga melakukan kelanjutan pendadaran bagi para calon prajurit Pajang.
Lebih dari tiga ratus orang pemuda yang mengikuti pendadaran, lebih dari dua ratus orang yang telah dinyatakan lulus, dan puluhan pemuda dinyatakan gagal, sehingga harus melupakan angan-angannya untuk menjadi prajurit Pajang.
Para pemuda yang telah lulus pendadaran, setiap hari dilatih dasar-dasar ilmu silat oleh Wenang dan Jaka Wila. Mereka masih belum dibagi menjadi beberapa kesatuan prajurit, hanya beberapa belas orang telah dipilih dan dilatih secara khusus oleh Ki Pemanahan untuk menjadi pasukan sandi kadipaten Pajang.
Calon pasukan sandi Kadipaten Pajang, disamping dilatih olah kanuragan, juga dilatih cara-cara menyusup ke daerah musuh, dan dilatih cara mencari berita di daerah lawan.
Demikianlah beberapa hari telah berlalu, dan hari pisowanan agung, pada hari Anggara Kasih menjadi semakin dekat.

Karebetpun mempersiapkan dirinya dengan sebaik-baiknya, pakaian terbaiknya telah disiapkan, bahkan Keris Kyai Naga Siluman yang berada didalam kotak miliknyapun telah diambilnya dari atas pohon beringin dan saat ini telah disimpan didalam kamarnya.
Ketika waktu pisowanan agung masih kurang tiga hari lagi, Karebetpun telah mempersiapkan segala sesuatunya untuk berangkat ke kotaraja Demak.
Di malam hari, sebelum keberangkatan mereka esok pagi, iapun mengumpulkan semua sahabat-sahabatnya di pendapa, di bawah nyala pelita kecil yang apinya terus bergerak terkena semilir angin malam.
"Besok pagi kita berlima berangkat setelah matahari terbit" kata Karebet.
"Kakang Pemanahan dan kakang Penjawi nanti ikut masuk di pisowanan agung yang bertempat di Sasana Sewaka, sedangkan Mas Manca dan Jaka Wila menunggu diluar Kraton" kata Karebet,
"Malam harinya kita menginap di jalan, sedangkan malam selanjutnya kita menginap di pesantren Kadilangu, di tempat Kanjeng Sunan Kalijaga" kata Karebet.
"Ki Wuragil dan Wenang masih tetap melatih para calon prajurit Pajang, sedangkan para tukang tetap bekerja membangun rumah dibantu oleh beberapa pembantunya yang berasal dari Pajang" lanjut Karebet.

Kemudian merekapun masih berbincang sampai larut malam dan tak terasa haripun telah berganti, mataharipun telah bersinar, saat itu didepan dalem Kadipaten Pajang telah besiap lima orang yang akan berangkat menuju kotaraja Demak.
Di pelana kuda mereka, tergantung sebuah bungkusan yang berisi pakaian terbaik yang mereka miliki, serta sebuah keris yang akan mereka pakai untuk kelengkapan pakaian mereka.
Disamping itu ada sebuah bungkusan yang berisi bekal makanan dan sebuah bumbung kecil berisi air minum.
"Ki Wuragil dan kau Wenang" kata Karebet :"Kami berangkat sekarang, hati-hati, jaga dalem Kadipaten sebaik-baiknya"
Karebet lalu naik ke punggung kudanya, demikian juga keempat sahabatnya, mereka semua naik ke punggung kuda, lalu merekapun menjalankan kudanya menuju kotaraja Demak, diikuti tatapan mata dari Wuragil dan Wenang beserta orang-orang yang berada didepan kadipaten.
Perlahan-lahan kelima ekor kuda berjalan meninggalkan dalem kadipaten, berlari-lari kecil, membawa penunggangnya ke empat orang yang ikut mukti ingin menjadi nayaka praja kadipaten Pajang, sedangkan yang seorang, sedang nggayuh kamukten tertinggi, yang nasibnya telah dikatakan oleh seorang Wali yang berpakaian serba wulung ketika ia sedang menunggu padi gaga di sawah, bahwa dia akan menjadi seorang raja.

Saat ini penunggang kuda yang sedang nggayuh kamukten, Karebet, pemuda yang diramal oleh Kanjeng Sunan Kalijaga, dua hari lagi akan segera dilantik menjadi Adipati Pajang, yang bisa dijadikan sebuah pancadan untuk meraih kamukten yang lebih tinggi lagi, raja di tanah Jawa.
Matahari belum begitu tinggi memanjat langit, ketika lima ekor kuda berderap meninggalkan Pajang melewati daerah di sebelah timur gunung Merapi.
Debu mengepul dipagi hari, dibelakang kaki lima ekor kuda yang berlari menuju ke arah utara.
Ketika lima ekor kuda telah sampai di hutan Sima, kudapun tidak bisa di pacu, pepohonan menjadi sedikit agak rapat. Mataharipun telah sampai dipuncak langit, dan Karebetpun mengajak sahabatnya untuk beristirahat, makan bekal yang mereka bawa dan memberi minum kuda-kuda mereka yang kelelahan.
"Kita beristirahat di dekat belik di tepi sungai kecil di hutan Sima" kata Karebet.
Ketika kuda-kuda mereka telah tiba di dekat belik yang terletak ditepi sungai kecil, maka para penunggangnyapun semua turun, Mas Manca dan Jaka Wilapun kemudian memegang tali kendali kuda-kuda itu, serta membawanya ke tepi sungai.
Kuda-kuda itupun kemudian diberi minum, setelah itu kendali kudanyapun diikatkan pada sebuah dahan pohon.

Setelah semua kuda telah tertambat pada dahan pohon disekitar sungai, maka Mas Manca dan Jaka Wila kemudian ikut beristirahat dibawah sebatang pohon yang rindang bersama yang lainnya.
Mereka berlimapun duduk dan membuka bekal masing-masing, perut yang lapar ditambah sejuknya duduk dibawah pohon yang rindang, membuat mereka makan dengan lahapnya.
Beberapa saat kemudian, setelah selesai makan, merekapun minum air yang berada didalam bumbung-bumbung kecil yang mereka bawa.
"Perut sudah kenyang, aku jadi mengantuk" kata Mas Manca
"Ah kau" sahut Jaka Wila.
"Aku masih haus" kata Mas Manca, kemudian iapun menghabiskan air yang berada didalam bumbungnya.
"Kalau airnya habis, bumbungnya akan aku isi air di belik itu" kata Jaka Wila, lalu mengumpulkan bumbung-bumbung yang telah kosong, kemudian dibawanya ke belik di dekat sungai lalu diisinya dengan air belik.

Beberapa saat mereka beristirahat, setelah dirasa cukup maka Karebetpun mengajak yang lainnya untuk meneruskan perjalanannya.
Maka kembali lima ekor kuda berlari di jalan hutan di daerah Sima, dan tak tak lama kemudian sampailah rombongan itu di tepi sungai Tuntang. Beberapa kali mereka menuntun kudanya menyeberangi sungai kecil yang menghadang perjalanannya, beberapa kali pula mereka berhenti memberi kesempatan kuda mereka untuk makan dan minum.
Ketika matahari hampir tenggelam di cakrawala barat, mereka bertemu dengan sebuah kali kecil, kemudian rombongan dari Pajang memutuskan untuk beristirahat ditempat itu.
Setelah menambatkan kudanya, maka merekapun membersihkan dirinya disungai kecil, dan malam harinya, didepan nyala perapian, mereka membakar beberapa jagung yang masih muda. Tak banyak yang mereka bicarakan, angan-angan merekapun masing-masing telah melayang-layang dan berputar-putar ke seluruh bumi Demak.
Ketika malam semakin larut, perapianpun sudah padam, merekapun tidur bersandar pada pohon ditepi jalan, beratap langit berselimut mega.
Rasa dingin yang menyerang menusuk sampai ke tulang, mereka tahan dengan memakai selembar dua lembar kain panjang yang telah mereka bawa..

Disekitar mereka, hanya terdengar suara cengkerik, diselingi suara burung malam, kadang-kadang juga terdengar suara dari kepak sayap beberapa ekor kelelawar yang sedang mencari buah-buahan yang berada di beberapa pohon disekitar sungai Tuntang.
Setelah lewat tengah malam terdengar beberapa kali kokok ayam alas, yang jaraknya agak jauh dari tempat istirahat mereka.
Setelah fajar menyingsing, suara burung liar yang bersahutan di beberapa pohon telah menghiasi udara pagi yang dingin di tepi sungai Tuntang.
Merekapun semua bangun, lalu membersihkan dirinya di tepi sungai kecil, yang melintang di jalan yang akan dilaluinya nanti.
Ketika udara mulai terasa hangat, lima orang dari Pajang telah berada diatas punggung kuda menuju arah utara.
"Sebelum tengah hari, kita sudah berada di Kadilangu" kata Karebet.
"Ya" kata Pemanahan.
"Saat ini kita belum mencapai daerah Godong, nanti setelah sampai di daerah Godong, kotaraja Demak sudah terasa dekat" kata Penjawi.

Merekapun melarikam kudanya, matahari semakin tinggi ketika kaki-kaki kuda yang mereka kendarai telah menginjak daerah Godong.
Kuda-kudapun masih tetap berlari dan ketika menjelang tengah hari, dari jauh daerah Kadilangu telah kelihatan.
"Itu Kadilangu, kita bisa sampai disana sebelum tengah hari" kata Karebet sambil tangannya menuding arah ke Kadilangu.
Tak lama kemudian merekapun telah sampai di pintu gerbang pesantren Kadilangu, disambut oleh beberapa santri yang berada didepan pintu.
Karebetpun mengucap salam, dan dijawab oleh para santri Kadilangu.
Beberapa orang santri mendekat dan memegang kendali kudanya, untuk dirawat di halaman samping.
"Kanjeng Sunan Kalijaga telah menunggu kedatangan kalian di ruang dalam" kata salah seorang santri kepada Karebet.
"Ya, kami datang tepat waktu" kata Karebet sambil turun dari kudanya, dan diikuti oleh semua orang dalam rombongannya.
"Silahkan masuk, Kanjeng Sunan berada di dalam" kata santri yang menyambutnya.

Kemudian Karebet dan semua orang dalam rombongan mencuci kakinya di jambangan samping rumah lalu merekapun masuk kedalam ruang dalam, tempat Kanjeng Sunan Kalijaga telah menanti kedatangan mereka.
Didepan pintu mereka mengucap salam dan terdengar ada orang yang menjawab salam mereka dari dalam ruangan.
"Masuklah Karebet" kata suara dari dalam ruangan, suara Kanjeng Sunan Kalijaga.
Karebetpun masuk kedalam ruangan, diikuti oleh keempat sahabatnya, dan terlihat didalam ruangan, Kanjeng Sunan Kalijaga duduk diatas tikar.
Kemudian Karebet dan para sahabatnya menyalami Kanjeng Sunan Kalijaga, dan setelah itu merekapun duduk bersila didepan Kanjeng Sunan.

(bersambung)

Senin, 06 Oktober 2014

KERIS KYAI SETAN KOBER 24

KERIS KYAI SETAN KOBER 24

KARYA : APUNG SWARNA


BAB 9 : MBANGUN PRAJA 2

"Tumenggung Gajah Birawa" kata Kanjeng Sultan Trenggana.
"Dawuh dalem Kanjeng Sultan" kata Tumenggung Gajah Birawa.
"Dalam pertempuran di Panarukan nanti, seorang Tumenggung dari kesatuan Wira Tamtama dan seorang Tumenggung dari kesatuan Wira Braja juga akan menjadi Senapati Pengapit pasukan Demak" kata Kanjeng Sultan. "Penangsang dan Karebet tidak perlu ikut bertempur di Panarukan, biarlah mereka menata kadipatennya yang baru mulai tumbuh, demikian juga anakku yang sulung Pangeran Arya yang sekarang bernama Sunan Prawata serta Pangeran Hadiri atau Pangeran Kalinyamat, biarlah mereka tinggal dipesanggrahannya masing-masing" kata Kanjeng Sultan selanjutnya.
"Perkiraan kita berangkat menggempur Panarukan sekitar satu candra setelah pahargyan pengantin Sekar Kedaton. Mulai sekarang Tumenggung Siung Laut, aku harap kau terus memantau perbaikan perahu-perahu yang akan kita pergunakan nanti" lanjut Kanjeng Sultan.
"Sendika dawuh Kanjeng Sultan" kata Tumenggung Siung Laut.
"Mulai sekarang Tumenggung Gajah Birawa supaya merencanakan pasukan dari daerah mana yang akan ditarik ke kotaraja, dan akan ikut dalam pertempuran ke bang wetan"
"Sendika dawuh Kanjeng Sultan" jaab Ki Tumenggung.
 "Ya kali ini cukup sekian, Tumenggung Gajah Birawa, persiapkan pisowanan agung, pahargyan pengantin serta rencana boyongan Sekar Kedaton ke kadipaten Pajang yang hanya berjarak beberapa hari saja. Setelah itu baru kita beragkat ke Panarukan. Sekarang silakan kalian kembali ketempatmu" perintah Kanjeng Sultan
Kedua orang Tumenggung itu menyembah, lalu bergeser ke pintu dan segera keluar dari ruangan dalam.

Sementara itu, dipenjagaan kaputren, seorang prajurit Wira Tamtama, Tumpak, sedang berbincang dengan sahabatnya, Karebet.
"Kau belum cerita Karebet, kenapa kau dipanggil Kanjeng Sultan" tanya Tumpak setelah Karebet didekatnya.
"Tumpak, dengarkan baik-baik kenapa hari ini aku dari Pajang dipanggil menghadap Kanjeng Sultan di kotaraja Demak" kata Karebet.
Tumpakpun diam bersiap mendengarkan kalimat yang akan dikatakan oleh Karebet.
"Dengarkan, aku dipanggil menghadap Kanjeng Sultan karena...."
"Karena apa?" tanya Tumpak.
"Karena Kanjeng Sultan rindu padaku" kata Karebet.
Tumpakpun tertawa dan iapun berkata :"Ah kau, padahal tadi aku sudah bersungguh-sungguh mendengarkan perkataanmu".

Karebetpun ikut tertawa, kemudian iapun berkata :"Besok pada hari Anggara Kasih, akan ada pisowanan agung"
"Ya, aku sudah tahu" kata Tumpak.
"Kau ikut pisowanan di Sasana Sewaka ?" tanya Karebet.
"Tidak, hanya yang berpangkat lurah keatas yang ikut pisowanan agung, aku yang hanya seorang prajurit tentu akan ikut pisowanan, tetapi aku akan berada diluar, lalu ada apa dengan pisowanan agung?".
"Nanti dalam pisowanan agung aku.." kata karebet tidak dilanjutkan.
"Kau akan diangkat menjadi adipati Pajang" kata Tumpak memotong kata-kata Karebet..
"Darimana kau tahu ?" kata Karebet.
"Tebakanku pasti betul" kata Tumpak bangga.
Karebetpun mengangguk kecil.
"Betul, tebakanmu betul, aku akan dilantik menjadi adipati Pajang, bersama raden Penangsang yg dilantik menjadi Adipati Jipang" kata Karebet.
"Sebetulnya aku iri dengan kau Karebet" kata Tumpak.
"Iri ?" Karebetpun heran dengan perkataan Tumpak.
"Ya, aku yang lebih dulu menjadi prajurit Wira Tamtama dibandingkan dengan kau, tetapi kau bisa lebih dulu menjadi seorang lurah prajurit, sekarang kau malah akan diangkat menjadi adipati Pajang" kata Tumpak.
"Kaupun bisa seperti aku, Tumpak" kata Karebet.
"Tidak, aku tidak akan berani melawan seekor buaya besar didalam air, tidak berani melawan seekor macan gembong, dan tidak berani melawan Klabang Ijo maupun Klabang Ireng seorang lawan seorang" jawab Tumak sambil tersenyum.
"Ya" kata Karebet.

"Melawan seekor buaya ataupun seekor macan gembong, dengan menggunakan senjatapun aku belum tentu menang, apalagi tidak menggunakan senjata apapun, tetapi kalau melawan seekor kerbau gila yang mengamuk diperkemahan aku berani, maksudku aku berani melawan kalau bersama puluhan prajurit yang lain" kata Tumpak.
"Ada beberapa orang prajurit telah terluka terkena tanduknya" desis Karebet perlahan.
"Kerbau itu memang gila, pedangku pernah sekali mengenai perutnya, tetapi ternyata tubuhnya kebal, kulitnya terlalu liat. Untung saat itu Kanjeng Sultan melihatmu, lalu dipanggil untuk membunuh kerbau itu, lalu kau pukul kepala kerbau itu hingga terbakar" kata Tumpak.
"Hanya kebetulan, kerbau itu memang kasihan kepadaku, memberi kesempatan padaku untuk kembali menjadi Lurah Wira Tamtama" kata Karebet.

Tumpakpun tertawa, lalu iapun berkata :"Sampai sekarang aku masih heran, kenapa tiba-tiba ada seekor kerbau yang muncul dan mengamuk di perkemahan Kanjeng Sultan, padahal selama ini, tidak ada seekor binatangpun yang berani mendekat ke pekemahan pemburu"
"Harusnya dulu kau tanyakan kepada kerbaunya, kenapa dia menjadi gila dan mengamuk di perkemahan" kata Karebet.

Keduanya kemudian tertawa, tawa dari dua orang sahabat yang pada waktu dulu adalah senasib menjadi prajurit Wira Tamtama, namun dalam beberapa hari lagi nasibnya akan berbeda.
"Karebet, besok pada waktu kau datang ke pisowanan agung, kau akan menginap dimana?" tanya Tumpak
"Njanur gunung kau bertanya dimana aku akan tidur, kau sudah tahu kalau aku sudah terbiasa tidur dengan bersandar pada sebatang pohon" kata Karebet.
"Ya, tetapi nanti setelah pisowanan agung, kau adalah seorang Adipati Pajang, kau sudah tidak pantas lagi tidur dengan bersandar pada sebatang pohon" kata Tumpak.
"Sama saja bagiku, nanti kalau aku menjadi seorang Adipati, kalau kemalaman diperjalanan, aku tetap akan tidur di hutan Kau akan menawarkan kepadaku untuk menginap dirumahmu ?" tanya Karebet
"Andaikan rumahku besar dan pantas untukmu, pasti kau akan kutawarkan untuk menginap di rumahku, tetapi aku hanya mempunyai rumah yang berukuran kecil" jawab Tumpak.
"Dalam pisowanan agung, aku akan berangkat dari Pajang beserta dua orang lainnya" kata Tumpak.
"Rumahku tidak cukup kalau untuk tidur tiga orang tamu, lalu siapa saja yang kau ajak menghadiri pisowanan agung?" tanya Tumpak.
"Kakang Pemanahan dan kakang Penjawi" kata Karebet.
"Mereka berdua masih di Pajang ?" tanya Tumpak.
"Ya, mereka akan tinggal di Pajang, mereka akan menjadi warangka praja Kadipaten Pajang" kata Karebet.
"Karebet, kalau ada jabatan patih Pajang yang masih belum terisi, coba kau tawarkan kepadaku" kata Tumpak

Karebetpun tertawa, dan mereka berdua masih berbicara dan bercanda, tak lama kemudian Karebetpun pamit akan pulang ke Pajang.
"Aku pulang dulu ke Pajang, Tumpak, tetapi aku akan singgah dulu di Kadilangu" kata Karebet.
"Ya, Karebet hati-hati diperjalanan" kata Tumpak, dan kedua sahabat itupun berpisah, Tumpak masih tetap melaksanakan tugasnya, berjaga di depan pintu Kaputren, sedangkan Karebet kemudian berjalan menuju pintu gerbang Kraton, mengambil tali kendali kudanya, dan menuntunnya keluar dari halaman kraton.
Sebuah bungkusan yang selalu tergantung di pelana kudanya, setia menemaninya selama dalam perjalanan. Bungkusan yang berisi beberapa bekal makanan mentah, serta beberapa lembar pakaian, dan sebilah pedang pendek yang selalu tersimpan didalamnya.

Ketika Karebet berada didepan pintu gerbang dan bersiap akan naik ke punggung kudanya, dari jauh terlihat ada seekor kuda berlari mendekat dengan penunggangnya berpakaian seorang Tumenggung.
Kuda itu berhenti di depan Karebet, lalu dan Karebetpun sedikit membungkukkan badannya dambil mengangguk memberi hormat.
Orang yang berpakaian Tumenggung itupun kemudian turun dari kudanya, kemudian seorang prajurit penjaga pintu gerbang kraton mendekati kuda itu, memegang kendalinya dan menuntunnya masuk kedalam halaman, lalu menambatkannya pada tonggak yang berada di sudut halaman.
"Hormat saya untuk Ki Tumenggung Suranata" kata Karebet.
"Terima kasih, Karebet, kau dari mana" kata Tumenggung Suranata.
"Saya dipanggil untuk menghadap Kanjeng Sultan, Ki Tumenggung"
"Kanjeng Sultan membicarakan tentang pisowanan agung nanti ?" tanya Ki Tumenggung.
"Ya, Ki Tumenggung"
"Bagus, sebentar lagi kau akan resmi menjadi Adipati Pajang" kata Ki Tumenggung.
"Terima kasih Ki Tumenggung" jawab Karebet.
"Kau dari Pajang singgah di Tingkir? Bagaimana kabar pamanmu sekarang ?" tanya Ki Tumenggung Suranata.

"Paman Ganjur sekarang berada di desa Tingkir Ki Tumenggung, menemani biyung yang sudah tua" jawab Karebet.
"Tidak apa-apa Karebet, akupun kalau sudah tidak lagi menjadi seorang prajurit, aku tidak mau tinggal di kotaraja yang panas ini, tetapi aku ingin menghabiskan sisa umurku tinggal di sebuah desa, di kaki sebuah gunung" kata Tumenggung Suranata.
"Ya Ki Tumenggung, saya mohon maaf, paman Ganjur sekarang tidak kembali ke Suranatan" kata Karebet.
"Ya" Ki Tumenggung Suranatapun menganggukkan kepalanya, diapun menyadari tidak mungkin orang bisa bekerja seterusnya sampai tua tanpa henti, semua ada batasnya.
Ki Tumenggungpun lalu bertanya kepada Karebet :"Besok pada waktu pisowanan agung, kau datang dari Pajang ke Demak, kau akan menginap di kotaraja?"
"Saya belum tahu menginap dimana, Ki Tumenggung" jawab Karebet.

Ki Tumenggung tersenyum, lalu iapun berkata :"Menginaplah di dalem Suranatan, di dalam masih ada kamar yang kosong atau kalau kau tidak mau tidur di dalem tengah, menginaplah di bekas kamar yang pernah ditempati oleh pamanmu Ki Ganjur"
"Terima kasih Ki Tumenggung, tetapi dari Pajang saya akan datang bertiga"
"Bertigapun tidak apa-apa Karebet" kata Ki Tumenggung.
"Ya Ki Tumenggung, terima kasih."
"Karebet, aku akan ke Kraton, kita berpisah, kita saling mendo'akan semoga kita semua selamat" kata ki Tumenggung
"Ya Ki Tumenggung" kata Karebet
Tumenggung Suranatapun kemudian berjalan masuk ke dalam Kraton, sedangkan Karebetpun naik ke punggung kudanya, lalu menjalankan kudanya ke arah selatan.
Karebet sengaja menjalankan kudanya tidak terlalu cepat, karena jarak ke Kadilangu tidak terlalu jauh, apalagi sekarang dia berada dipunggung kuda.

Matahari telah condong ke barat, sinarnya telah membentuk bayangan di arah timur, bayangan orang sedang menunggang seekor kuda yang berlari sejajar dengan kuda Karebet yang berlari ke arah selatan.
Beberapa saat kemudian Karebetpun membelokkan kudanya ke arah timur, menuju tepian barat sungai Tuntang.
Derap kaki kudanya terdengar teratur, karena Karebet menjalankan kudanya tidak terlalu cepat.
Sungai Tuntang terlihat semakin dekat, tak lama lagi kuda yang ditunggangi Karebet menyeberangi sungai Tuntang.
Tak berapa lama kuda yang ditunggangi Karebet telah sampai di tepian sungai Tuntang, lalu Karebetpun turun dari punggung kudanya dan bersiap untuk masuk kedalam air sungai, menyeberang ke sisi sebelah timur.
Karebet memegang tali kendali kudanya, kemudian perlahan-lahan iapun turun, memasukkan kakinya kedalam sungai, lalu berjalan menyeberangi sungai yang dalamnya sebatas perutnya, sambil menuntun kudanya menyeberang ke arah timur.
Sambil menyeberangi sungai dengan berjalan perlahan-lahan, tangan kanan Karebet memegang tali kendali kudanya, sedangkan tangan kirinya diangkat keatas sambil memegang bungkusannya.

Setapak demi setapak Karebet menuntun kudanya menyeberangi sungai Tuntang, dan tak lama kemudian diapun telah tiba di tepi sungai sebelah timur.
Setelah menambatkan tali kendali kudanya pada dahan sebuah pohon, kemudian Karebetpun membuka bungkusan yang dibawanya, lalu diambilnya sebuah pakaian kering sebagai penganti pakaiannya yg basah terkena air sungai.
Setelah berganti pakaian yang kering dan bersih, Karebetpun memeras pakaian yang basah, lalu di jemurnya pakaian itu di cabang pohon yang agak tinggi.
"Malam ini aku akan menginap di Kadilangu" kata Karebet dalam hati.
Sesaat kemudian Karebetpun telah naik dipunggung kudanya, lalu menjalankannya menuju pesantren Kanjeng Sunan Kalijaga yang jaraknya tidak begitu jauh lagi.
Didepan pintu gerbang Karebetpun turun dari kudanya, lalu iapun mengucap salam, dan terdengar jawaban dari seorang santri yang sedang mengambil air untuk mengisi padasan.
"Kanjeng Sunan Kalijaga berada di dalam ?" tanya Karebet.
"Ada, silahkan masuk, langsung saja ke ruang Kanjeng Sunan" kata santri Kadilangu.
Karebetpun lalu masuk ke halaman dan menambatkan kudanya pada tonggak kayu yang terdapat di dekat pohon belimbing.

Mataharipun telah bergeser semakin turun, beberapa santri berjalan beriringan membersihkan diri ke sungai yang tidak jauh dari pesantren, sedangkan di sebuah ruang didalam, Kanjeng Sunan Kalijaga duduk berhadapan dengan muridnya, calon Adipati Pajang, Karebet.
"Jadi kau akan dilantik pada hari Anggara Kasih disaat pisowanan agung di Sasana Sewaka ?" tanya Kanjeng Sunan Kalijaga.
"Betul Kanjeng Sunan" jawab Karebet.
"Mungkin sebentar lagi ada undangan dari Kanjeng Sultan, tetapi sekarang diantara para ulama Wali Sanga, sudah ada yang meninggal dunia. Memang sudah agak lama Wali Sanga tidak berkumpul di Kraton Demak. Sejak Demak berdiri, dan Raden Patah menjadi raja pertama sampai sekarang sudah lebih dari delapan windu. Hampir sembilan windu, memang sudah lama sekali" kata Sunan Kalijaga.
Karebetpun menunduk mendengarkan perkataan Kanjeng Sunan Kalijaga.
"Beberapa waktu yang lalu Sunan Kudus juga sakit" kata Sunan Kalijaga.
"Mudah-mudahan sekarang sudah sembuh Kanjeng Sunan" kata Karebet.
"Ya, Karebet, kau akan kembali ke Pajang besok pagi ?" tanya Kanjeng Sunan Kalijaga.
"Ya Kanjeng Sunan, mohon ijin untuk bisa menginap di Kadilangu" kata Karebet.
"Ya menginaplah disini, nanti setelah sholat Isya, kau bisa mengaji lagi"
"Ya Kanjeng Sunan"
"Pada hari pisowanan agung, kau juga bisa menginap di sini Karebet" kata Sunan Kalijaga.
"Terima kasih Kanjeng Sunan, saya nanti bersama kakang Pemanahan dan kakang Penjawi" kata Karebet.
"Ya , tidurlah kalian bertiga di Kadilangu" kata Kanjeng Sunan.

Waktu terus berjalan, mataharipun terus bergerak turun, dan alampun berangsur-angsur menjadi gelap.
Setelah sholat isya, Kanjeng Sunan Kalijaga pun mengajar Karebet mengaji, bersama beberapa orang santri yang lain.
Pada saat yang bersamaan, di Panti Kudus, didalam sebuah ruangan yang diterangi dengan sebuah lampu minyak, Kanjeng Sunan Kudus duduk bersila berhadapan dengan muridnya, calon adipati Jipang, Arya Penangsang.
"Penangsang, kapan akan diadakan Pisowanan Agung?" tanya Kanjeng Sunan Kudus.
"Hari Anggara Kasih, tiga pasar lagi Bapa Sunan" jawab Penangsang.
"Biasanya ada utusan dari Kraton yg akan mengundang aku untuk menghadiri pisowanan Agung, kali ini sekaligus dengan pelantikanmu sebagai Adipati Jipang" kata Sunan Kudus :"Pada malam menjelang pelantikanmu nanti, kau tidurlah di Panti Kudus, nanti kita bersama-sama menuju Demak"
"Ya Bapa Sunan" kata Arya Penangsang.
"Kita berangkat sehari sebelumnya, kita tidak usah menginap di Kraton, kau ada tempat menginap di Demak?" tanya Sunan Kudus.
"Ada Bapa Sunan, dirumah sahabat saya, Lurah Pasar Pon, orangnya saat ini berada di Jipang, membantu pembangunan Kadipaten, nantinya dia akan berangkat mendahului ke Demak, untuk mempersiapkan tempat untuk kita Bapa Sunan" jawab Penangsang.


"Baik, kita berangkat sehari sebelumnya dan kita akan menginap di rumah Lurah Pasar Pon" kata Sunan Kudus.
"Ya Bapa Sunan" jawab Penangsang.
"Dalam pisowanan nanti, kau akan berangkat dari Jipang bersama siapa Penangsang?" tanya Kanjeng Sunan Kudus.
"Saya akan mengajak Dimas Arya Mataram dan paman Matahun, Bapa Sunan" kata Penangsang.
"Bagus, Matahun adalah orang yang sangat setia kepadamu, dia pantas kau jadikan warangka praja Kadipaten Jipang" kata Sunan Kudus.
"Ya Kanjeng Sunan, paman Matahun adalah orang yang setia terhadap keluarga eyang Sunan Ngudung, dan paman Matahun adalah orang yang cerdik dan berilmu tinggi, iapun juga bersedia diajak bersama-sama membesarkan kadipaten Jipang" kata Penangsang.
"Ya, mulai sekarang bisa kau pikirkan sebuah jabatan di Kadipaten Jipang, yang pantas kau berikan kepada Matahun, orang yang mengabdikan seumur hidupnya kepada keluarga Sekar Seda Lepen" kata Kanjeng Sunan.

Arya Penangsang menganggukkan kepalanya, iapun mempertimbangkan akan memberikan jabatan tertinggi kadipaten Jipang kepada Matahun, patih Jipang.
"Paman Matahun yang setia, sangat pantas kalau aku beri jabatan sebagai patih Jipang, Patih Matahun" kata Penangsang dalam hati.
"Nanti kalau Kadipaten Jipang mengadakan acara pisowanan untuk yang pertama kali, paman Matahun akan aku angkat sebagai patih Kadipaten Jipang" kata Penangsang dalam hati.
"Penangsang" kata Kanjeng Sunan Kudus :"Kau berangkat ke Jipang besok pagi ?".
"Ya Kanjeng Sunan" jawab Penangsang.
"Bagus, berangkatlah setelah kita menjalankan sholat subuh berjamaah, malam ini masih ada sedikit waktu, pergunakanlah untuk mengaji" kata Kanjeng Sunan Kudus.
"Ya Kanjeng Sunan"
Maka di awal malam itu, Penangsangpun mengaji dengan dibimbing oleh gurunya, Sunan Kudus.
Malampun semakin gelap, hanya nyala lampu minyak yang menari-nari ditiup angin yang semilir perlahan. Bintangpun berkedip di angkasa, sesekali satu dua buah bintang berpindah tempat.
Malam yang gelap, hanya suara cengkerik yang terdengar perlahan, kadang-kadang juga terdengar suara kelelawar yang sedang mencari buah-buahan, sesekali terdengar suara burung hantu memecah keheningan malam.

Diujung malam, lintang panjer rina yang muncul di arah timur bersinar semakin cemerlang, fajarpun telah merekah, warna merahpun terlihat di langit bang wetan, seisi bumi Kuduspun mulai terbangun.
Ketika matahari mulai bergerak naik, langitpun mulai terlihat terang, meskipun bumi Kudus masih terasa dingin, namun seekor kuda gagah berwarna hitam telah keluar dari pintu gerbang Panti Kudus menembus dinginnya pagi, berlari menuju ke arah selatan, lalu sedikit berbelok kearah tenggara.
Arya Penangsang telah berada diatas punggung Gagak Rimang yang berlari cepat menuju arah tenggara, ke arah hutan Prawata, lalu setelah sampai disana, kudanya berbelok ke selatan, ke arah Jipang Panolan.
"Mudah-mudahan malam nanti aku sudah sampai di Jipang" kata Penangsang sambil memacu kuda hitamnya, Gagak Rimang.
Sementara itu, di daerah kotaraja Demak, seekor kuda keluar dari pintu gerbang pesantren Kadilangu, dengan dituntun oleh seseorang.
Setelah keluar dari pintu gerbang, maka orang yang menuntun kuda itu, Karebet, kemudian melompat menunggangi kuda itu dipunggungnya.
Dengan cepat kuda yang ditunggangi Karebet, menyusuri sungai Tuntang menuju arah selatan, menuju Pajang, setelah terlebih dulu mengambil pakaiannya yg dijemur diatas pohon lalu memasukkannya kedalam bungkusan yang dibawanya.

Matahari semakin tinggi ketika Karebet memacu kudanya sejajar dengan sungai Tuntang, dan beberapa kali iapun menuntun kudanya menyeberangi beberapa sungai kecil yang melintang menghadang perjalanannya.
Matahari hampir tenggelam di cakrawala, ketika Karebet memasuki hutan di daerah Sima, kudanya terlihat kelelahan meskipun telah beberapa kali istirahat dan telah diberi makan dan minum.
"Kuda ini sudah lelah, aku tidak dapat memacunya lebih cepat lagi" kata Karebet dalam hati :"Nanti malam aku terpaksa bermalam di dekat Sima"
Ketika langit sudah dirembang petang, Karebetpun turun dari kudanya, lalu mengikat tali kendali kudanya di dahan sebuah pohon, kemudian iapun berjalan untuk membersihkan dirinya disebuah sungai kecil ditepi hutan tidak jauh dari desa Sima.

Malam itu setelah makan bekal yang didapat dari pemberian para santri Kadilangu, Karebetpun berselimut kain panjang, menghindari dari gigitan nyamuk, sekaligus untuk menahan udara dingin dipinggir hutan Sima.
Malam semakin dalam, suasana gelap pekat menyelimuti hutan didekat desa Sima, angin bertiup agak kencang, suara angin yang mengalir di sela-sela dahan pohon yang sempit menimbulkan suara seperti siulan dari sesosok memedi, seperti akan menerkam Karebet yang sedang berusaha tidur dengan bersandar pada sebatang pohon.
Tetapi Karebet bukan seorang penakut, Ayam Jantan dari Pengging itupun tidak memperdulikan suara siulan memedi yang mengganggunya, dan iapun dengan tenangnya berusaha untuk bisa tidur.
Sekejap Karebet sempat tertidur, dan ketika ia terbangun, malam telah sampai di ujungnya, terlihat langit di ufuk timur telah berwarna merah, pertanda alam akan berangsur terang.
Karebetpun segera bangkit, lalu berjalan menuju ke sungai kecil untuk membersihkan diri.
Tidak beberapa lama, Karebetpun kembali telah berada diatas punggung kudanya, menuju arah Pajang.
Kudanya dilarikannya tidak begitu kencang, diapun tidak perlu tergesa-gesa.
"Sudah dekat" gumannya pelan.

Kudanya masih tetap berlari ditepi hutan Sima yang tidak begitu lebat
"Masih pagi" kata Karebet :"Siang nanti aku akan sampai di Pajang"
"Hm sudah lama aku berpikir untuk menjadikan tombak pusaka Kyai Pleret untuk menjadi sipat kandel Kadipaten Pajang" kata Karebet berangan angan diatas punggung kudanya.
"Bagaimana caranya supaya tombak Kyai Plered bisa disimpan di Pajang ?" tanya Karebet kepada dirinya sendiri,
Tetapi Karebet terkejut, ketika beberapa lembar daun pada sebuah dahan dari sebatang pohon hampir menyapu wajahnya, dengan tangkas iapun menggerakkan kepalanya kesamping, sehingga dahan beserta daunnya tidak mengenai wajahnya.
"Hampir saja kepalaku terkena dahan yang melintang" kata Karebet di dalam hatinya.
"Sutawijaya,,,tombak pusaka itu dikuasai Sutawijaya" kata Karebet.
"Aku harus bisa menarik Sutawijaya, tinggal di Kadipaten Pajang" Karebetpun masih meneruskan lamunannya.
"Kalau Sutawijaya berada di Pajang, dia akan tidur dimana ?" pertanyaan itupun berputar didalam pikirannya.
"Aku harus membuat satu rumah lagi, membuat sebuah rumah untuk Kesatrian, yang terletak dibelakang dalem kadipaten. Biarlah sementara Sutawijaya nanti berdiam di ksatrian bersama Wenang, putra Ki Ageng Butuh. Kalau Wenang berdiam di ksatrian dibelakang dalem kadipaten, dia bisa menjaga keamanan dalem kadipaten di bagian belakang" kata Karebet.
Karebetpun menganggukkan kepalanya, menyetujui rencananya sendiri, membuat sebuah rumah dibelakang dalem Kadipaten.
"Baik, aku akan membuat sebuah rumah kesatrian, dan yang akan membangun Kesatrian adalah tukang yang baru, yang akan diambilkan dari Pengging. Sekarang aku akan menuju ke Pengging, mencari tukang yang bisa membangun rumah" kata karebet, lalu iapun segera memacu kudanya menuju Pengging.

Matahari telah merayap agak tinggi di langit sebelah timur, ketika kuda yang ditumpangi Karebet semakin dekat dengan desa Pengging, desa tempat kelahirannya.
Di sebelah kanannya, tegak berdiri gunung Merapi, yang saat itu kawahnya dalam keadaan tidur, sehingga terlihat begitu tenang. Lekuk liku lembah jurang di lereng gunung kelihatan indah dipandang mata, terkena sinar matahari dari arah timur.
"Hm saat ini gunung Merapi dalam keadaan tenang, kalau gunung itu murka, tak seorangpun mampu menahan amukannya. Amukan wedus gembelnya mampu membakar hangus sebuah desa, apalagi kalau ia memuntahkan batu-batu yang membara, hancur luluh desa yang ditimpanya" kata Karebet didalam hatinya.
Kudanya terus berlari, meninggalkan debu dibelakangnya, dan tak lama kemudian iapun telah memasuki desa Pengging, sebuah desa yang pada jaman Majapahit pernah mengalami masa kejayaannya, pernah menjadi sebuah Kadipaten yang bernama Kadipaten Pengging Witaradya yang dipimpin oleh Adipati Dayaningrat.
Karebetpun memperlambat lari kudanya, beberapa orang petani yang bertemu dengannya, semuanya membungkukkan badannya, menghormati putra Ki Ageng Pengging, mereka bangga, salah seorang pemuda kelahiran Pengging, Karebet, putra Ki Kebo Kenanga atau yang lebih dikenal dengan sebutan Ki Ageng Pengging, akan menjadi seorang Adipati di Pajang
Kuda yang ditunggangi Karebet terus berlari, lalu berbelok di sebuah rumah yang halamannya luas, rumah peninggalan orang tuanya Ki Kebo Kenanga yang pernah menjadi penguasa daerah Pengging.

Ketika kuda yang ditunggangi Karebet berhenti maka Karebetpun turun dari kuda, dan berjalan menuju ke pendapa.
Dari halaman samping rumah, keluarlah seorang yang sudah tua, pembantu ayahnya yang setia berlari-lari kecil menghampirinya.
"Ngger Karebet, kebetulan kau datang hari ini ngger, uwamu, Ki Kebo Kanigara datang tadi malam, sekarang Ki Kanigara sedang berada di ruang dalam" kata penunggu rumah ayahnya, Ki Purwa.
"Siwa Kanigara berada didalam ?" tanya Karebet senang, ia terlihat gembira mendengar uwanya berada di Pengging.
"Ya, silakan kau temui uwa-mu didalam, aku akan mencarikanmu buah kelapa muda ngger" kata pembantunya yang setia.

Karebetpun kemudian mencuci kakinya dengan menggunakan air yang berada didalam jambangan yang berada di sudut halaman, lalu iapun naik ke pendapa, berjalan masuk ke ruang dalam, dan dilihatnya seseorang sedang duduk bersila diatas amben, sambil menilmati wedang jahe ditambah secuil gula aren dan beberapa ubi rebus.
"Kau Karebet" kata orang itu, Kebo Kanigara.
"Ya wa" kata Karebet, diraihnya tangan uwanya, kemudian diciumnya sebagai tanda rasa hormat.
"Duduklah" kata uwanya.
Karebetpun kemudian duduk bersila didepan uwanya.
"Kau selamat Karebet, dari mana saja kau" kata uwanya.
"Atas pangestu siwa Kanigara, saya selamat, dan baru saja saya dipanggil menghadap Kanjeng Sultan Trenggana di Demak".
"Tentang pelantikanmu sebagai adipati Pajang ?" tanya uwanya.
"Ya wa, Kanjeng Sultan Trenggana membicarakan pelantikan saya sebagai Adipati Pajang besok pada saat Pisowanan Agung Kasultanan Demak, sekalian membicarakan pernikahan saya dengan Sekar Kedaton Gusti Putri Mas Cempaka" kata Karebet.
"Sebelum kau bercerita tentang pelantikan dan penikahanmu, aku mau bertanya kepadamu, apakah saat ini Demak dalam keadaan persiapan perang?" tanya Karebet.
"Perang ?" kata Karebet terkejut, lalu iapun berkata kepada uwanya :"Kanjeng Sultan tidak pernah membicarakannya wa, yang dibicarakan hanyalah soal pelantikan dan pernikahan saya dengan diajeng Sekar Kedaton, soal kesiapan Demak akan berperang, mungkin Kanjeng Sultan hanya membicarakannya dengan Ki Tumenggung Gajah Birawa dari kesatuan Wira Tamtama".

Kebo Kanigara menganggukkan kepalanya, lalu iapun berkata perlahan.
"Aku melihat sebuah persiapan untuk berperang, lebih dari dua puluh lima buah kapal perang yang dulu pernah digunakan oleh Pangeran Sabrang Lor, sudah siap untuk diterjunkan di peperangan di laut" kata Kebo Kanigara.
"Dimana siwa melihatnya?" tanya Karebet.
"Disekitar bandar Jepara, di pesisir Keling dan pesisir Wedung" jawab uwanya.
"Kalau begitu, berarti semua yang memperbaiki adalah dari kesatuan pasukan laut yang dipimpin oleh Tumenggung Siung Laut" kata Karebet.
"Apakah Kasultanan Demak akan menyerang orang asing ke seberang ?" tanya uwanya.
"Selama ini tidak ada berita apapun, tidak ada berita mengenai orang asing, tidak ada permintaan bantuan untuk sebuah pertempuran di laut" kata Karebet..
"Pasti menyerang daerah pesisir, kalau bukan di daerah pesisir, tidak akan ada persiapan kapal perang" kata uwanya, lalu Kebo Kanigarapun melanjutkan pertanyaannya.
"Apakah ada daerah pesisir yang mbalela terhadap Kasultanan Demak?" tanya Kebo Kanigara.
"Kalau bang kulon kelihatannya tidak ada yang mbalela, wa, hubungan Demak dengan Cirebon selama ini adalah sangat baik" kata Karebet.

"Kalau bang wetan, Lasem, Tuban, Gresik, Madura, Panarukan apakah ada yang mbalela terhadap Kasultanan Demak?" tanya uwanya.
"Saya tidak tahu wa"
Kebo Kanigarapun menganggukkan kepalanya.
"Karebet, persiapan pasukan Demak untuk berperang telah terasa sekali" kata uwanya.
"Ya wa, memang pengangkatan saya sebagai adipati Pajang dan pernikahan saya kelihatannya dibuat agak tergesa-gesa, ternyata jawabannya adalah, saat ini Demak memang akan berangkat berperang" kata Karebet.
"Karebet, kalau kau diajak berangkat berperang, kau harus siap, kalau Kanjeng Sultan nanti madeg Senapati sebagai seorang Senapati Agung yang memimpin pasukan Demak segelar sepapan, kau nanti yang akan menjadi Senapati Pengapitnya" kata uwanya.
"Ya, wa" jawab Karebet.
"Karebet, diajak berperang ataupun tidak, kau harus mematangkan ilmumu Lembu Sekilan, bagaimanapun kalau kau sebagai Adipati Pajang, kau pasti membutuhkan aji Lembu Sekilan pada tingkat tertinggi."kata Kebo Kanigara.
"Baik, wa" jawab Karebet.
Karebet kemudian memandang kepada dirinya sendiri yang telah mempunyai sebuah aji yang jarang tandingannya, Lembu Sekilan.

(bersambung)

KERIS KYAI SETAN KOBER 23

  • KERIS KYAI SETAN KOBER 23

    BAB 9 : MBANGUN PRAJA 1

    Karya : Apung GWAP

    "Baik Wenang, bergabunglah dengan para sahabat yang telah lebih dahulu berada di Pajang, aku kabulkan permintaanmu untuk mengabdi di Kadipaten Pajang, silahkan beristirahat ke gubug yang berada disebelah utara" kata Karebet.
    "Terima kasih" kata Wenang, kemudian iapun berjalan dan masuk kedalam gubug yang terletak disebelah utara.
    Tak lama kemudian iapun keluar dari gubuk, berjalan kearah orang yang sedang sibuk bekerja, dan Wenangpun bersiap untuk ikut bekerja bersama-sama membangun dalem Kadipaten Pajang.

    Hari demi hari telah berlalu, Wenangpun telah larut dalam kerja bersama puluhan orang-orang yang lain, membangun dalem kadipaten Pajang dan ruang paseban.
    Setelah hampir tiga candra sejak dimulainya pembangunan, saat ini dalem kadipaten dan ruang Paseban, hampir selesai dikerjakan dan tinggal menyelesaikan dan merapikan beberapa dinding saja.
    Gugur gunung yang dilakukan oleh rakyat Pajangpun telah selesai, para bebahu tidak mewajibkan lagi orang-orang Pajang untuk ikut dalam penyelesaian pembangunan dalem kadipaten.
    Yang masih tersisa bekerja disana hanyalah pekerja dari Demak dibantu para orang dari Sela, Banyubiru, dan dari Butuh, beserta tukang-tukang yang dibawa oleh mereka.
    Dalem kadipaten dan ruang paseban, telah bediri tegak, berdinding papan jati tebal, berlantai bata merah, beratap daun kelapa.
    Pembakaran bata telah dilakukan dengan menggunakan kayu bakar yang diambil dari hutan dan ditambah dari tatal-tatal kayu yang telah dikeringkan, yang didapat dari sisa-sisa pembuatan tiang, lalu dibuatkan aling-aling dari bata mentah yang disusun rapat, yang dibuat untuk menghalangi tiupan angin kencang.
    Bata mentah yang dibakar dilakukan dengan mengatur posisi bata yang disusun secara berongga, tidak rapat antara bata yang satu dengan yang lain, sehingga bisa menghasilkan hasil pembakaran yang baik.

    Bata yang sudah jadi, diletakkan di lantai dan diatur secara mendatar di dalem kadipaten dan di ruang paseban, sehingga setelah selesai terlihat lantai dari bata merah yang rata dan tersusun rapi.
    Dindingnyapun dibuat dari kayu jati lurus yang dijejer rapi, dibuat dari kayu yang tidak terlalu besar, kemudian di tipiskan, dikurangi dengan menggunakan pethel, sehingga dinding yang terpasang adalah dinding kayu yang cukup tebal.
    Atapnya dibuat dengan menggunakan daun kelapa yang dijepit dengan belahan bambu dan dibuat rangkap dua, sehingga cukup kuat untuk menahan panas dan air hujan.
    "Dalem kadipaten dan ruang paseban hampir selesai dikerjakan, sepasar lagi semua pekerjaan telah selesai" kata Ki Lurah Wiguna kepada Karebet ketika di suatu siang mereka bekerja merapikan dinding dalem kadipaten.
    "Ya, nanti kekurangan tambahan bangunan bisa dikerjakan oleh tukang dari Tingkir, kalau perlu akan aku panggilkan tukang dari Pengging" kata Karebet
    "Tukang dari desa Tingkir bisa melanjutkan pembuatan sumur, pakiwan, kandang kuda, pagar, pintu gerbang dan membuat sebuah rumah lagi yang tidak terlalu besar untuk para emban" kata Lurah Wiguna.
    "Ya, mungkin aku perlu membuat bukan hanya sebuah rumah, tetapi beberapa buah rumah lagi untuk nayaka praja Kadipaten Pajang yang akan segera dibentuk" kata Karebet.
    "Sepasar lagi, dalem kadipaten ini sudah bisa ditempati, dan tugaskupun sudah selesai"

    Ketika mereka sedang berbincang, keduanya mendengar suara derap kaki kuda yang mendekati dalem kadipaten.
    Ketika derap sudah terdengar semakin dekat, terlihatlah seekor kuda yang ditumpangi oleh seorang berpakaian prajurit Wira Tamtama Demak.
    Kuda itupun berjalan mendekati mereka yang sedang bekerja, dan setelah berada di depan dalem kadipaten, maka prajurit itupun turun, lalu berjalan menghampiri Karebet yang sedang bersama Lurah Wiguna.
    "Ki Lurah Wiguna dan Karebet" prajurit Itupun menyapa mereka berdua.
    "Kau Wasis" kata Ki Lurah dan Karebet hampir bersamaan.
    "Mari duduk dulu, kita masuk ke gubug" kata Lurah Wiguna dan iapun mengajak Wasis untuk masuk ke gubug.
    Mereka bertiga duduk didalam gubug, lalu tukang adangpun menyuguhkan air minum kepada tamunya.
    "Aku diutus Kanjeng Sultan, Karebet dipanggil besok Kanjeng Sultan ke Demak" kata Wasis
    "Aku dipanggil ke Demak?" kata Karebet.
    "Ya, besok kita berangkat bersama-sama ke Demak" kata Wasis menjelaskan.
    "Baik, bagaimana Ki Lurah Wiguna, besok aku dipanggil Kanjeng Sultan ke Demak?" kata Karebet kepada Ki Lurah.
    "Silakan, aku akan disini dulu, menunggu kepulanganmu dari kotaraja Demak" kata Ki Lurah.
    "Ya Ki Lurah" kata Karebet, dan kepada Wasis, iapun bertanya :" Wasis, ada kabar apa dari Demak?".

    "Dua pasar yang lalu Keluarga Pangeran Arya telah pindah boyongan ke Prawata, dan mulai sekarang ia dipanggil dengan sebutan Sunan Prawata, kemudian sepasar yang lalu keluarga Pangeran Hadiri juga sudah boyongan ke Kalinyamat, disana, orang-orang ada yang menyebutnya Pangeran Kalinyamat, istrinyapun dipanggil dengan sebutan Ratu Kalinyamat" kata Wasis.
    "Bagaimana dengan Penangsang ?" tanya Karebet
    "Dari dulu raden Penangsang sering berkunjung ke Jipang, lagipula di Jipang ia punya rumah peninggalan kakeknya, Sunan Ngudung dan sejak membangun kadipaten Jipang, raden Penangsang belum pernah sekalipun berada di Demak, tetapi sekarang raden Penangsangpun juga dipanggil oleh Kanjeng Sultan ke Demak" kata Wasis menjelaskan berita dari kotaraja Demak.
    Karebetpun menganggukkan kepalanya, dan iapun berkata :"Semuanya sudah berada di rumahnya masing-masing, akupun mulai sekarang juga akan menempati rumah ini"
    Kemudian pada malam harinya, Karebet mengumpulkan sahabat-sahabatnya di salah satu gubug di bulak amba.

    Hadir disana dua orang dari Sela, Pemanahan dan Penjawi, dari Banyubiru, Majasta, Wuragil, Mas Manca, Jaka Wila, dan putra Ki Ageng Butuh, Wenang.
    "Aku besok dipanggil Kanjeng Sultan" kata Karebet menjelaskan
    "Kita harus punya rencana kedepan untuk membentuk nayaka praja Kadipaten Pajang" kata Karebet.
    "Aku harapkan semua bisa menjadi nayaka praja, bagaimana kakang Pemanahan dan kakang Penjawi, apakah kakang berdua bersedia menjadi nayaka praja Kadipaten Pajang ?" tanya Karebet.
    "Baik adi, aku bersedia tinggal di Pajang, kita bersama-sama akan membesarkan Kadipaten Pajang" kata Pemanahan dan disambung oleh Penjawi :"Ya adi Karebet, aku bersedia bekerja untuk Kadipaten Pajang"
    "Terima kasih kakang Pemanahan dan kakang Penjawi" kata Karebet, laluiapun bertanya kepada Majasta :"Bagaimana Ki Majasta, apakah Ki Majasta bersedia menjadi warangka praja Kadipaten Pajang?"
    "Angger Karebet, aku sudah tua, aku akan kembali ke rumahku di desa Majasta, tetapi aku akan titip adikku Wuragil dan dua orang keponakanku, Mas Manca dan Jaka Wila untuk menjadi nayaka praja kadipaten Pajang" kata Ki Majasta.
    "Baiklah Ki Majasta, silakan kalau Ki Majasta ingin kembali ke Majasta, tetapi sekarang bagaimana dengan Ki Wuragil, Mas Manca dan Jaka Wila, apakah semuanya bersedia menjadi nayaka praja kadipaten Pajang ?" kata Karebet.
    "Ya, kami bertiga bersedia bersama-sama membesarkan kadipaten Pajang" kata Wuragil.
    "Ya, saya bersedia" kata Mas Manca lalu disambung oleh Jaka Wila :"Akupun bersedia menjadi nayaka praja kadipaten Pajang"
    "Terima kasih, bagaimana dengan kau, Wenang, apakah kau bersedia tinggal di Pajang ?" tanya Karebet.
    "Ya kakangmas, sejak semula aku sudah bertekad akan mengabdi untuk Kadipaten Pajang" jawab Wenang.
    "Terima kasih semuanya, terutama Ki Majasta, yang telah membantu pembangunan dalem kadipaten ini sejak awal" kata Karebet.
    "Ya, kepulangku ke desa Majasta nanti menunggu kedatangan angger karebet setelah pulang dari Demak" kata Ki Majasta.

    Karebet menganggukkan kepalanya, lalu iapun berkata :"Besok kira-kira sepasar lagi setelah aku pulang dari Demak, Ki Lurah Wiguna dan para tukang akan pulang ke kotaraja Demak, padahal saat ini kita masih akan membangun beberapa rumah lagi".
    "Setelah tukang dari Demak pulang, nanti para tukang yang berasal dari Sela biar tetap disini, nanti mereka akan terus melanjukan kerjanya dengan membuat dua buah rumah lagi untuk kakang Pemanahan dan kakang Penjawi, sedangkan para tukang dari Banyubiru akan membuat tiga buah rumah untuk Ki Wuragil, Mas Manca dan Jaka Wila" kata Karebet selanjutnya.
    "Kalau kita kekurangan tenaga, kita bisa memakai tambahan tukang dari Sela atau Banyubiru, sedangkan tukang dari Tingkir akan terus melanjutkan penyelesaian dalem kadipaten yaitu membuat sumur dan pakiwan, membuat lumbung padi, membuat pagar keliling dan membuat kandang kuda, nanti aku akan menyuruh beberapa tukang dari Pengging atau dari Pajang untuk membuat satu rumah lagi untuk para emban" kata Karebet, lalu iapun melanjutkan :"Untuk pembuatan sumur nanti bisa memakai tukang gali sumur dari Pengging"
    Semuanya mendengarkan kata Karebet, dan Karebetpun melanjutkan kata-katanya :"Kita ketinggalan selangkah dari kadipaten Jipang, saat ini Jipang sudah mempunyai prajurit kadipaten, sedangkan kita belum mempunyai prajurit apapun".

    Karebet berhenti sebentar, lalu iapun kemudian melanjutkan :"Besok sambil kita bekerja menyelesaikan pekerjaan disini, nanti secara bergantian kita semua mulai menghubungi para bebahu untuk mencari para pemuda yang akan dijadikan sebagai calon prajurit, nanti kita tentukan harinya, lalu akan kita adakan pendadaran untuk menyaring mereka, dan bagi yang lolos pendadaran akan kita jadikan sebagai prajurit kadipaten Pajang"
    "Karena desa Butuh dan desa Pengging juga termasuk didalam wilayah kadipaten Pajang, maka para pemudanya akan kita jadikan prajurit Pajang. Besok pagi kakang Pemanahan pergi ke para bebahu di Pengging untuk mencari pemuda calon prajurit, Mas Manca dan Jaka Wila ke Pajang, lalu kau Wenang pergilah ke Ki Ageng Butuh" kata Karebet.
    Semuanya mendengarkan perkataan Karebet, dan merekapun bersiap untuk melaksanakan tugas yang diberikan kepada mereka.

    Malam itu bintang-bintang masih berkedip di angkasa, Karebetpun segera membubarkan pertemuan, lalu berjalan keluar dari gubug, dan mempersiapkan untuk melakukan perjalanan ke Demak esok pagi.
    Ketika malam telah berlalu dan langit menjadi terang, Karebet telah bersiap di atas punggung kuda bersama Wasis, seorang prajurit Wira Tamtama utusan Kanjeng Sultan Trenggana.
    Didalam kantung yang dibawanya, terdapat beberapa bekal makanan yang dapat digunakan diperjalanan ke Demak selama beberapa hari.
    Setelah berpamitan, maka Karebet dan Wasispun perlahan-lahan menjalankan kudanya meninggalkan dalem kadipaten Pajang.
    Setelah agak jauh maka Wasispun mulai melarikan kudanya, meskipun tidak terlalu cepat, dua ekor kuda yang berlari telah meninggalkan daerah Pajang.
    Setelah beberapa kali berhenti memberi minum kuda yang kehausan, pada siang hari mereka berdua telah sampai di Sima.
    "Kita istirahat dulu dibawah pohon, kita makan bekal yang kita bawa dari Pajang" kata Karebet
    "Ya, aku sudah lapar" jawab Wasis.

    Wasis dan Karebet kemudian berhenti dan menambatkan kudanya di cabang pohon, lalu mereka berdua duduk dan beristirahat di bawah pohon. Wasispun mengeluarkan dua buah bungkusan dari daun pisang, lalu yang satu bungkus diberikan kepada Karebet.
    "Ini nasinya" kata Wasis sambil memberikan nasi yang dibungkus oleh daun pisang itu.
    "Ini cuma nasi, ikan asinnya mana?" tanya Karebet.
    Wasispun kemudian mengambil ikan asin beserta sambalnya dari dalam bungkusannya, kemudian diberikan kepada Karebet, lalu keduanyapun menikmati makan siang di bawah pohon di daerah Sima.
    "Yang masak ini tukang adang?" tanya Wasis.
    "Ya" jawab Karebet.
    "Aku tidak menyangka kalau tukang adang bisa memasak seenak ini" kata Wasis sambil menikmati sambalnya.

    Karebet mau menjawab, tetapi ia tersedak, lalu iapun minum dari bumbung yang berada didalam bungkusan.
    Setelah minum, Karebetpun berkata :"Kau membikin aku tersedak Wasis, masakan ini memang enak, karena kau jarang sekali makan masakan dari tukang adang. Tetapi aku tiap hari makan makanan seperti ini"
    Wasispun tertawa, lalu iapun mengambil bumbung berisi air dan meminumnya untuk mendorong nasi yang berhenti di kerongkongannya.
    "Nasi, ikan asin dan sambal, makanan ini memang terasa enak karena saat ini perutku terasa lapar" kata Wasis sambil mengambil lagi sepotong ikan asin.
    "Adanya cuma nasi dengan lauk ikan asin" kata Karebet, lalu keduanyapun masih terus mengunyah makanan hingga perut merekapun kenyang.
    "Kalau perjalanan tidak tergesa-gesa, sebetulnya kita bisa berburu ayam alas, dan kitapun bisa makan ayam bakar" kata Wasis
    Kerebet tidak menjawab, iapun meneruskan makan sampai semua nasi dan ikan asin habis dimakannya. Setelah mereka selesai makan, dan beristirahat sejenak, maka beberapa saat kemudian Karebetpun berdiri dan diikuti oleh Wasis.
    Karebet menepuk leher kudanya perlahan-lahan, dan dengan tangkasnya ia naik ke punggung kuda, lalu berjalanlah kuda itu memasuki hutan yang tidak begitu lebat, menuju arah sungai Tuntang.
    Di belakangnya, kuda yang ditumpangi Wasis berlari mengikuti dibelakang kuda Karebet, tidak terlalu rapat untuk menghindari debu yang dihamburkan dari kaki-kaki kuda yang ditunggangi oleh Karebet.

    Matahari telah turun ketika keduanya telah berada ditepi sungai Tuntang sebelah timur.
    "Wasis, kita beristirahat dimana?" tanya Karebet ketika melihat matahari semakin turun mendekati cakrawala.
    "Kita beristirahat didepan, mudah-mudahan besok siang kita sudah sampai di kotaraja Demak" kata Wasis.
    "Ya" jawab Karebet menyetujui perkataan temannya.
    Ketika lembayung senja menghiasi langit bang kulon, keduanya berhenti, karebet dan Wasispun turun dari punggung kuda, kemudian membersihkan dirinya di sungai Tuntang,
    Malam itu keduanya, seorang prajurit Demak dan seorang calon Adipati Pajang, tidur bersandarkan sebatang pohon berselimut bintang, dan semilir angin malam yang bertiup di tepian sungai Tuntang, mampu membawa hawa dingin yang menggigit tulang, sehingga kain panjangnyapun dikerudungkan semakin rapat.
     Malampun berjalan sampai ke ujungnya, bang wetan sudah membias warna merah, keduanyapun bangun dari mimpinya, tidur yang sekejap ternyata mampu membuat tubuh mereka menjadi agak segar,

    Ketika matahari bergerak memanjat dinding langit, keduanyapun menyeberangi sungai Tuntang ditempat yang tidak terlalu dalam.
    Dengan memegang tali kendali, kudanyapun dituntun menyeberangi air yang dalamnya sebatas paha, dan arus sungai yang bergerak perlahan ke arah utara seperti mengusap tubuh-tubuh mereka.
    Sesampai di seberang, ditepian sungai sebelah barat, kemudian mereka berduapun melanjutkan perjalanan ke arah utara.
    Panas yang menyengat tidak menyebabkan langkah kuda mereka surut, derap kaki kudanya telah meninggalkan daerah Mrapen, yang kini telah berada jauh di belakang.
    "Tengah hari kita sudah memasuki kota raja" gumam Wasis hampir tidak terdengar.
    Mataharipun telah berada di puncak langit, ketika kaki-kaki kuda mereka menapak di alun-alun Demak
    Ketika berada di depan pintu gerbang yang dijaga dua orang prajurit Wira Braja, keduanya turun dari kudanya, dan setelah Wasis berbicara sebentar dengan prajurit penjaga pintu gerbang, maka keduanyapun lalu masuk ke halaman, menambatkan kudanya disebelah seekor kuda berwarna hitam, yang sudah tertambat lebih dulu pada tonggak di dekat dinding Kraton.
    "Gagak Rimang" desis Karebet ketika melihat seekor kuda hitam yang gagah di sebelahnya.
     
    Setelah menambatkan kudanya, maka keduanyapun berjalan menuju penjagaan ruang dalam.
    "Kau Karebet" kata seorang prajurit Wira Tamtama yang sedang berjaga ruang dalam.
    "Ya,kau Wira, kau berjaga disini?" tanya karebet.
    "Ya, Kanjeng Sultan saat ini sedang menerima Raden Penangsang di dalam ruangan". kata Wira.
    "Ya, aku akan menunggu disini" kata Wasis lalu merekapun duduk tidak jauh dari prajurit Wira Tamtama.
    Tidak berapa lama keluarlah dari dalam ruangan, seorang laki-laki bertubuh sedang berkumis melintang berpandangan tajam, Arya Penangsang, calon Adipati Jipang yang hampir bersamaan dengan Karebet telah dipanggil menghadap Kanjeng Sultan Trenggana di Demak.
    Ketika Karebet melihat Penangsang berjalan melintas di depannya, maka iapun mengangguk hormat, menundukkan kepalanya dan sedikit membungkukkan badannya.
    Penangsang, yang melihat Karebet menghormat kepadanya, membalas dengan menganggukkan kepalanya, setelah itu iapun bejalan menuju ketempat tambatan kuda hitamnya, Gagak Rimang.
    Prajurit Wira Tamtama, yang bernama Wira, kemudian berjalan menuju ruangan dalam dan sesaat kemudian iapun keluar ruangan lalu menuju ketempat Karebet.
    "Silakan menghadap Kanjeng Sultan, sekarang" kata Wira.
    "Ya" kata Karebet, kemudian iapun berjalan menuju ruangan dalam,
    Sampai didepan pintu, Karebet berdiri bersikap ngapurancang, menunggu panggilan Kanjeng Sultan.
    "Masuklah Karebet" terdengar suara Kanjeng Sultan dari dalam ruangan.
    Karebetpun masuk keruangan, dengan laku dodok, iapun menyembah Kanjeng Sultan, dan duduk bersila dihadapannya.
    "Karebet" kata Kanjeng Sultan Trengana.
    "Dawuh dalem Kanjeng Sultan" jawab Karebet.
    "Bagaimana keadaanmu Karebet" tanya Kanjeng Sultan.
    "Atas pangestu Kanjeng Sultan, hamba dalam keadaan selamat" kata Karebet.
    "Bagaimana pembangunan dalem kadipaten Pajang?"
    "Hampir selesai Kanjeng Sultan, tiga empat hari lagi Ki Lurah Wiguna akan pulang ke Demak, selanjutnya kekurangannya akan hamba kerjakan sendiri" kata Karebet.

    "Karebet, apakah selama ini kau pernah mengalami kesulitan dalam membangun dalem Kadipaten ?" tanya Kanjeng Sultan.
    "Tidak ada kesulitan apapun Kanjeng Sultan, semuanya lancar" jawab Karebet
    "Kau tadi sempat bertemu Penangsang ?" tanya Kanjeng Sultan.
    "Ya Kanjeng Sultan, kami bertemu diluar" jawab Karebet.
    "Kau dan Penangsang saat ini aku panggil ke Demak, karena tiga pasar lagi, pada hari Anggara Kasih, di ruangan Sasana Sewaka akan diadakan pisowanan agung" kata Sultan Trenggana
    Karebet terus menundukkan kepala, mendengarkan apa yang dikatakan oleh Kanjeng Sultan.
    "Dalam pisowanan agung nanti, kau akan aku lantik sebagai Adipati Pajang, sedangkan Penangsang akan aku lantik sebagai Adipati Jipang" kata Sultan Demak.
    "Terima kasih Kanjeng Sultan" kata Karebet.
    "Nanti di dalam pisowanan agung, kau akan didampingi oleh dua orang kepercayaanmu, siapakah yang akan kau pilih untuk mendampingimu dalam pelantikan nanti ?"
    "Kalau dua orang, hamba akan membawa kakang Pemanahan dan kakang Penjawi untuk mendampingi hamba dalam pisowanan agung nanti Kanjeng Sultan" jawab Karebet.
    "Pemanahan dan Penjawi? Dua orang yang berasal dari Sela ?" tanya Sultan Trenggana.
    "Betul Kanjeng Sultan, keduanya memang berasal dari Sela" jawab Karebet.
    "Baik Karebet, nanti dua tiga pasar setelah pisowanan agung, setelah kau menjadi Adipati Pajang, maka kau bisa melamar anakku Sekar Kedaton, tinggal nanti kita cari hari yang baik. Nanti setelah selesai pisowanan agung, kau jangan pulang dulu ke Pajang, tetapi tunggu sebentar, kau akan kupanggil dan kuberi tahu kapan kau melamar anakku Sekar Kedaton" kata Sultan Demak.
    "Sendika dawuh Kanjeng Sultan" kata Karebet.
    "Kau akan pulang langsung ke Pajang?" tanya Kanjeng Sultan.
    "Tidak Kanjeng Sultan, hamba akan singgah dulu di Kadilangu" jawab Karebet.
    "Ke tempat Kanjeng Sunan Kalijaga?"
    "Kasinggihan dawuh Kanjeng Sultan"
    "Bagus" kata Kanjeng Sultan:"Nah, cukup sekian, kau boleh pulang.

    Karebetpun menyembah, lalu iapun bergeser kepintu, kemudian keluar dari ruangan, berjalan keluar menemui Wira dan Wasis yang masih menunggu diluar.
    "Bagaimana Karebet?" tanya Wasis setelah Karebet berada didekatnya.
    "Sudah selesai, aku sudah menghadap Kanjeng Sultan" kata Karebet.
    "Nah kalau begitu tugasku sudah selesai, aku akan pulang ke rumahku dan aku akan tidur sampai sore, baru besok pagi aku bertugas lagi" kata Wasis, lalu iapun meninggalkan Wira dan Karebet yang masih berada di depan pintu masuk ruang dalam.
    Setelah Wasis tidak terlihat lagi, Karebetpun kemudian bertanya kepada Wira :"Wira, kalau prajurit Tumpak saat ini betugas dimana Wira?"
    "Tumpak saat ini bertugas di depan Kaputren" jawab Wira.
    "Baiklah Wira, aku sedang ada keperluan dengan Tumpak, aku akan menemuinya ke Kaputren sebentar" kata Karebet.
    "Silakan" kata Wira.

    Karebetpun kemudian berjalan menuju Kaputren untuk menemui Tumpak.
    Langkah Karebetpun terhenti ketika dari kejauhan terllihat seorang perempuan yang telah dikenalnya, berjalan menuju ke arah ruang dalam.
    Ketika melihat Karebet, perempuan itu, yang ternyata adalah Nyai Madusari, tersenyum dan berjalan menghampiri Karebet.
    "Karebet, kau tunggu didepan Kaputren, aku akan ke Kanjeng Prameswari, minta ijin, Gustri Putri Sekar Kedaton akan menghadap ibundanya" kata Nyai Madusari.
    Belum sempat Karebet menjawab, dengan tergesa-gesa Nyai Madusari telah bejalan meninggalkannya menuju ruang dalam.
    Karebetpun kemudian berjalan ke Kaputren, dan disana terlihat Tumpak dan seorang temannya bertugas disana.
    Ketika melihat Karebet, Tumpakpun kemudian tersenyum dan meyapa sahabatnya :"Karebet, kau dipanggil Kanjeng Sultan?"
    "Ya, aku baru saja menghadap Kanjeng Sultan di ruang dalam" kata Karebet.
    "Kau berangkat kemarin?" tanya Tumpak.
    "Ya, aku bersama Wasis" kata Karebet.

    Tumpakpun melihat ke arah ruang dalam, dan terlihat Nyai Madusari berjalan tergesa-gesa menuju Kaputren.
    "Sebentar lagi Nyai Madusari masuk ke Kaputren" kata Tumpak.
    "Ya" kata Karebet sambil tersenyum.
    "Sebentar lagi Gusti Putri pasti keluar menuju ruang dalam menemui ibundanya" kata Tumpak.
    Karebet mengernyitkan dahinya, lalu Tumpakpun menyambung perkataannya.
    "Ya karena kau berada disini" kata Tumpak.
    Karebetpun juga tertawa mendengar perkataan Tumpak.
    Nyai Madusaripun berjalan masuk ke pintu Kaputren, tak lama kemudian pintupun terbuka kembali, dan keluarlah Nyai Madusari beserta Sekar Kedaton Gusti Putri Mas Cempaka.
    Nyai Madusari lalu berjalan menuju ke arah Tumpak yang sedang berdiri di seberang gerbang kaputren, sedangkan Karebet berjalan mendekati Gusti Putri Sekar Kedaton.
    Ketika Putri Sekar Kedaton Mas Cempaka melihat Karebet mendekatinya, wajah Gusti Putri Sekar Kedaton begitu cerah, senyumnya mengembang tiada henti.

    "Kau selamat kakangmas ?" kata Sekar Kedaton Gusti Putri Mas Cempaka, ketika Karebet telah berada di dekatnya.
    "Ya diajeng, aku baik-baik saja, bagaimana keadaanmu diajeng, setelah aku tinggal ke Pajang" kata Karebet.
    "Ya kakangmas, aku selalu sehat, dan aku selalu menunggu kabar keselamatanmu dari prajurit yang datang dari Pajang"
    "Ketika Tumpak pulang dari Pajang, apakah dia mengabarkan keadaanku kepada Nyai Madusari"
    "Ya kakangmas, dan aku senang sekali mendengar kabar tentang kakangmas dari Pajang dan aku sudah tahu kalau hari ini kakangmas akan datang di Demak"
    "Ya diajeng, kemarin prajurit Wasis datang ke Pajang, dan kata Wasis aku dipanggil menghadap Kanjeng Sultan"
    "Aku sudah diberi tahu rencana ayahanda Sultan, pada hari Anggara Kasih, dalam pisowanan agung nanti, kakangmas akan dilantik menjadi adipati Pajang"
    "Ya diajeng, setelah itu tiga pasar setelah pisowanan agung, aku akan melamar diajeng" kata Karebet.
    "Tidak lama lagi kakangmas" kata Sekar Kedaton sambil tersenyum.
    "Ya diajeng, tidak lama lagi" kata Karebet.
    "Kakangmas, pada pisowanan agung nanti, kakangmas berangkat dari Pajang tanpa pengawal? Sebaiknya kakangmas berangkat ke Demak dengan dikawal calon warangka praja kadipaten Pajang"
    "Ya diajeng, nanti aku berangkat bersama dua orang yang selama ini membantu mendirikan kadipaten Pajang" kata Karebet.

    Gusti Putri menganggukkan kepalanya, lalu iapun berkata kepada Karebet :"Kakangmas, aku akan menghadap ibunda Kanjeng Prameswari sekarang, nanti ibunda terlalu lama menunggu"
    Karebet tersenyum, katanya :"Silakan diajeng, aku juga pamit akan pulang ke Pajang"
    "Kakangmas akan langsung pulang ke Pajang?" tanya Sekar Kedaton.
    "Tidak diajeng, aku akan singgah dulu di Kadilangu, ketempat Kanjeng Sunan Kalijaga" kata Karebet.
    "Ya kakangmas, aku menghadap ibunda sekarang" kata Sekar Kedaton Gusti Putri Mas Cempaka, lalu iapun memanggil Nyai Madusari untuk mengantar ke ruang dalam.
    Nyai Madusaripun kemudian meninggalkan Tumpak, lalu keduanya berjalan menuju ruang dalam, ke ruangan Kanjeng Prameswari.
    Ketika Sekar Kedaton dan Nyai Madusari sudah tidak terlihat lagi, Karebetpun berjalan mendekati sahabatnya, prajurit yang sedang berjaga di kaputren, Tumpak.
    Sementara itu, pada saat yang bersamaan, di ruang dalam, Kanjeng Sultan sedang dihadap oleh dua orang Tumenggung yang duduk bersila dihadapannya, Tumenggung Gajah Birawa dan Tumenggung Siung Laut.
    Kedua Tumenggung itu dipanggil Kanjeng Sultan, sesaat setelah Karebet keluar dari ruang dalam.
    "Tumenggung Gajah Birawa" kata Kanjeng Sultan.
    "Dawuh dalem Kanjeng Sultan" kata Tumenggung Gajah Birawa.
    "Dan kau Tumenggung Siung Laut" kata Sultan Trenggana.
    "Dawuh dalem Kanjeng Sultan.
    "Kalian berdua aku panggil, sehubungan dengan beberapa persoalan yang sudah lama aku rencanakan, dan akan aku laksanakan dalam waktu dekat ini" kata Kanjeng Sultan.

    Kedua Tumenggung itupun bersiap mendengarkan titah Kanjeng Sultan Trenggana.
    "Kalian sudah mendengar nanti pada hari Anggara Kasih, pada saat pisowanan agung, aku akan mengangkat Penangsang sebagai adipati Jipang dan mengangkat Karebet sebagai adipati Pajang" kata Sultan Demak, lalu Kanjeng Sultanpun berkata :"Setelah itu, tiga pasar setelah pisowanan agung, adipati Pajang akan melamar anakku Sekar Kedaton"
    "Dua tiga pasar setelah itu, maka aku akan menikahkan anakku dengan Adipati Pajang, sepasar setelah pahargyan pengantin, anakku Sekar Kedaton akan diboyong pindah ke Pajang" kata Kanjeng Sultan, lalu Kanjeng Sultan berhenti sebentar, mengamati wajah Tumenggung Gajah Birawa dan Tumenggung Siung Laut.
    "Tumenggung Gajah Birawa, seperti ada yang akan kau tanyakan?" kata Kanjeng Sultan.
    "Sendika dawuh Kanjeng Sultan, kalau boleh hamba bertanya, sepertinya waktu pelantikan adipati, lalu melamar Sekar Kedaton dan waktu pahargyan pengantin, apakah jaraknya memang dibuat terlalu pendek ?" tanya Tumenggung Gajah Birawa.
    "Ya, itu semua memang aku sengaja, memang aku percepat, karena berkaitan dengan rencanaku selanjutnya yaitu menggempur Panarukan, nah sekarang kau Tumenggung Siung Laut, bagaimana dengan tugas yang aku berikan kepadamu?" tanya Kanjeng Sultan kepada Tumenggung Siung Laut.
    "Sendika dawuh Kanjeng Sultan, dari tiga puluh perahu yang masih tersisa, yang pernah dipakai oleh Pangeran Sabrang Lor, hampir semuanya bisa diperbaiki oleh para pembuat perahu dari Wedung" kata Ki Tumenggung.

    Tumenggung Siung Laut berhenti sebentar, lalu iapun menjelaskan lagi :"Perahu-perahu yang bisa diperbaiki sebanyak dua puluh tujuh perahu, sedangkan tiga buah perahu sudah tidak bisa diperbaiki lagi karena kerusakannya terlalu parah" kata Tumenggung Siung Laut.
    "Bagus, dua puluh tujuh perahu yang bisa diperbaiki, cukup untuk menggempur Panarukan dari laut" kata Sultan Trenggana :"Tumenggung Siung Laut, sekarang perahunya kau simpan dimana?"
    "Perahu itu sebagian berada di daerah Wedung dan sebagian lagi berada di daerah Keling" kata Ki Tumenggung.
    "Bagamana dengan pasukan laut mu, apakah masih bersemangat tinggi untuk bertempur di bang wetan ?" tanya Sultan Trenggana.
    "Ya Kanjeng Sultan, mereka masih bersemangat dan masih cukup banyak untuk memenuhi perahu-perahu itu" kata Tumenggung Siung Laut.
    "Nanti aku sendiri yang akan menjadi Senapati Agung, aku yang akan memimpin prajurit Demak segelar sepapan untuk menuju Bang Wetan, sedangkan yang menjadi Senapati Pengapit, yang memimpin para prajurit laut adalah Tumenggung Siung Laut" kata Kanjeng Sultan.
    "Sendika dawuh Kanjeng Sultan" kata Tumenggung Siung Laut.

    (bersambung)