Senin, 06 Oktober 2014

KERIS KYAI SETAN KOBER 24

KERIS KYAI SETAN KOBER 24

KARYA : APUNG SWARNA


BAB 9 : MBANGUN PRAJA 2

"Tumenggung Gajah Birawa" kata Kanjeng Sultan Trenggana.
"Dawuh dalem Kanjeng Sultan" kata Tumenggung Gajah Birawa.
"Dalam pertempuran di Panarukan nanti, seorang Tumenggung dari kesatuan Wira Tamtama dan seorang Tumenggung dari kesatuan Wira Braja juga akan menjadi Senapati Pengapit pasukan Demak" kata Kanjeng Sultan. "Penangsang dan Karebet tidak perlu ikut bertempur di Panarukan, biarlah mereka menata kadipatennya yang baru mulai tumbuh, demikian juga anakku yang sulung Pangeran Arya yang sekarang bernama Sunan Prawata serta Pangeran Hadiri atau Pangeran Kalinyamat, biarlah mereka tinggal dipesanggrahannya masing-masing" kata Kanjeng Sultan selanjutnya.
"Perkiraan kita berangkat menggempur Panarukan sekitar satu candra setelah pahargyan pengantin Sekar Kedaton. Mulai sekarang Tumenggung Siung Laut, aku harap kau terus memantau perbaikan perahu-perahu yang akan kita pergunakan nanti" lanjut Kanjeng Sultan.
"Sendika dawuh Kanjeng Sultan" kata Tumenggung Siung Laut.
"Mulai sekarang Tumenggung Gajah Birawa supaya merencanakan pasukan dari daerah mana yang akan ditarik ke kotaraja, dan akan ikut dalam pertempuran ke bang wetan"
"Sendika dawuh Kanjeng Sultan" jaab Ki Tumenggung.
 "Ya kali ini cukup sekian, Tumenggung Gajah Birawa, persiapkan pisowanan agung, pahargyan pengantin serta rencana boyongan Sekar Kedaton ke kadipaten Pajang yang hanya berjarak beberapa hari saja. Setelah itu baru kita beragkat ke Panarukan. Sekarang silakan kalian kembali ketempatmu" perintah Kanjeng Sultan
Kedua orang Tumenggung itu menyembah, lalu bergeser ke pintu dan segera keluar dari ruangan dalam.

Sementara itu, dipenjagaan kaputren, seorang prajurit Wira Tamtama, Tumpak, sedang berbincang dengan sahabatnya, Karebet.
"Kau belum cerita Karebet, kenapa kau dipanggil Kanjeng Sultan" tanya Tumpak setelah Karebet didekatnya.
"Tumpak, dengarkan baik-baik kenapa hari ini aku dari Pajang dipanggil menghadap Kanjeng Sultan di kotaraja Demak" kata Karebet.
Tumpakpun diam bersiap mendengarkan kalimat yang akan dikatakan oleh Karebet.
"Dengarkan, aku dipanggil menghadap Kanjeng Sultan karena...."
"Karena apa?" tanya Tumpak.
"Karena Kanjeng Sultan rindu padaku" kata Karebet.
Tumpakpun tertawa dan iapun berkata :"Ah kau, padahal tadi aku sudah bersungguh-sungguh mendengarkan perkataanmu".

Karebetpun ikut tertawa, kemudian iapun berkata :"Besok pada hari Anggara Kasih, akan ada pisowanan agung"
"Ya, aku sudah tahu" kata Tumpak.
"Kau ikut pisowanan di Sasana Sewaka ?" tanya Karebet.
"Tidak, hanya yang berpangkat lurah keatas yang ikut pisowanan agung, aku yang hanya seorang prajurit tentu akan ikut pisowanan, tetapi aku akan berada diluar, lalu ada apa dengan pisowanan agung?".
"Nanti dalam pisowanan agung aku.." kata karebet tidak dilanjutkan.
"Kau akan diangkat menjadi adipati Pajang" kata Tumpak memotong kata-kata Karebet..
"Darimana kau tahu ?" kata Karebet.
"Tebakanku pasti betul" kata Tumpak bangga.
Karebetpun mengangguk kecil.
"Betul, tebakanmu betul, aku akan dilantik menjadi adipati Pajang, bersama raden Penangsang yg dilantik menjadi Adipati Jipang" kata Karebet.
"Sebetulnya aku iri dengan kau Karebet" kata Tumpak.
"Iri ?" Karebetpun heran dengan perkataan Tumpak.
"Ya, aku yang lebih dulu menjadi prajurit Wira Tamtama dibandingkan dengan kau, tetapi kau bisa lebih dulu menjadi seorang lurah prajurit, sekarang kau malah akan diangkat menjadi adipati Pajang" kata Tumpak.
"Kaupun bisa seperti aku, Tumpak" kata Karebet.
"Tidak, aku tidak akan berani melawan seekor buaya besar didalam air, tidak berani melawan seekor macan gembong, dan tidak berani melawan Klabang Ijo maupun Klabang Ireng seorang lawan seorang" jawab Tumak sambil tersenyum.
"Ya" kata Karebet.

"Melawan seekor buaya ataupun seekor macan gembong, dengan menggunakan senjatapun aku belum tentu menang, apalagi tidak menggunakan senjata apapun, tetapi kalau melawan seekor kerbau gila yang mengamuk diperkemahan aku berani, maksudku aku berani melawan kalau bersama puluhan prajurit yang lain" kata Tumpak.
"Ada beberapa orang prajurit telah terluka terkena tanduknya" desis Karebet perlahan.
"Kerbau itu memang gila, pedangku pernah sekali mengenai perutnya, tetapi ternyata tubuhnya kebal, kulitnya terlalu liat. Untung saat itu Kanjeng Sultan melihatmu, lalu dipanggil untuk membunuh kerbau itu, lalu kau pukul kepala kerbau itu hingga terbakar" kata Tumpak.
"Hanya kebetulan, kerbau itu memang kasihan kepadaku, memberi kesempatan padaku untuk kembali menjadi Lurah Wira Tamtama" kata Karebet.

Tumpakpun tertawa, lalu iapun berkata :"Sampai sekarang aku masih heran, kenapa tiba-tiba ada seekor kerbau yang muncul dan mengamuk di perkemahan Kanjeng Sultan, padahal selama ini, tidak ada seekor binatangpun yang berani mendekat ke pekemahan pemburu"
"Harusnya dulu kau tanyakan kepada kerbaunya, kenapa dia menjadi gila dan mengamuk di perkemahan" kata Karebet.

Keduanya kemudian tertawa, tawa dari dua orang sahabat yang pada waktu dulu adalah senasib menjadi prajurit Wira Tamtama, namun dalam beberapa hari lagi nasibnya akan berbeda.
"Karebet, besok pada waktu kau datang ke pisowanan agung, kau akan menginap dimana?" tanya Tumpak
"Njanur gunung kau bertanya dimana aku akan tidur, kau sudah tahu kalau aku sudah terbiasa tidur dengan bersandar pada sebatang pohon" kata Karebet.
"Ya, tetapi nanti setelah pisowanan agung, kau adalah seorang Adipati Pajang, kau sudah tidak pantas lagi tidur dengan bersandar pada sebatang pohon" kata Tumpak.
"Sama saja bagiku, nanti kalau aku menjadi seorang Adipati, kalau kemalaman diperjalanan, aku tetap akan tidur di hutan Kau akan menawarkan kepadaku untuk menginap dirumahmu ?" tanya Karebet
"Andaikan rumahku besar dan pantas untukmu, pasti kau akan kutawarkan untuk menginap di rumahku, tetapi aku hanya mempunyai rumah yang berukuran kecil" jawab Tumpak.
"Dalam pisowanan agung, aku akan berangkat dari Pajang beserta dua orang lainnya" kata Tumpak.
"Rumahku tidak cukup kalau untuk tidur tiga orang tamu, lalu siapa saja yang kau ajak menghadiri pisowanan agung?" tanya Tumpak.
"Kakang Pemanahan dan kakang Penjawi" kata Karebet.
"Mereka berdua masih di Pajang ?" tanya Tumpak.
"Ya, mereka akan tinggal di Pajang, mereka akan menjadi warangka praja Kadipaten Pajang" kata Karebet.
"Karebet, kalau ada jabatan patih Pajang yang masih belum terisi, coba kau tawarkan kepadaku" kata Tumpak

Karebetpun tertawa, dan mereka berdua masih berbicara dan bercanda, tak lama kemudian Karebetpun pamit akan pulang ke Pajang.
"Aku pulang dulu ke Pajang, Tumpak, tetapi aku akan singgah dulu di Kadilangu" kata Karebet.
"Ya, Karebet hati-hati diperjalanan" kata Tumpak, dan kedua sahabat itupun berpisah, Tumpak masih tetap melaksanakan tugasnya, berjaga di depan pintu Kaputren, sedangkan Karebet kemudian berjalan menuju pintu gerbang Kraton, mengambil tali kendali kudanya, dan menuntunnya keluar dari halaman kraton.
Sebuah bungkusan yang selalu tergantung di pelana kudanya, setia menemaninya selama dalam perjalanan. Bungkusan yang berisi beberapa bekal makanan mentah, serta beberapa lembar pakaian, dan sebilah pedang pendek yang selalu tersimpan didalamnya.

Ketika Karebet berada didepan pintu gerbang dan bersiap akan naik ke punggung kudanya, dari jauh terlihat ada seekor kuda berlari mendekat dengan penunggangnya berpakaian seorang Tumenggung.
Kuda itu berhenti di depan Karebet, lalu dan Karebetpun sedikit membungkukkan badannya dambil mengangguk memberi hormat.
Orang yang berpakaian Tumenggung itupun kemudian turun dari kudanya, kemudian seorang prajurit penjaga pintu gerbang kraton mendekati kuda itu, memegang kendalinya dan menuntunnya masuk kedalam halaman, lalu menambatkannya pada tonggak yang berada di sudut halaman.
"Hormat saya untuk Ki Tumenggung Suranata" kata Karebet.
"Terima kasih, Karebet, kau dari mana" kata Tumenggung Suranata.
"Saya dipanggil untuk menghadap Kanjeng Sultan, Ki Tumenggung"
"Kanjeng Sultan membicarakan tentang pisowanan agung nanti ?" tanya Ki Tumenggung.
"Ya, Ki Tumenggung"
"Bagus, sebentar lagi kau akan resmi menjadi Adipati Pajang" kata Ki Tumenggung.
"Terima kasih Ki Tumenggung" jawab Karebet.
"Kau dari Pajang singgah di Tingkir? Bagaimana kabar pamanmu sekarang ?" tanya Ki Tumenggung Suranata.

"Paman Ganjur sekarang berada di desa Tingkir Ki Tumenggung, menemani biyung yang sudah tua" jawab Karebet.
"Tidak apa-apa Karebet, akupun kalau sudah tidak lagi menjadi seorang prajurit, aku tidak mau tinggal di kotaraja yang panas ini, tetapi aku ingin menghabiskan sisa umurku tinggal di sebuah desa, di kaki sebuah gunung" kata Tumenggung Suranata.
"Ya Ki Tumenggung, saya mohon maaf, paman Ganjur sekarang tidak kembali ke Suranatan" kata Karebet.
"Ya" Ki Tumenggung Suranatapun menganggukkan kepalanya, diapun menyadari tidak mungkin orang bisa bekerja seterusnya sampai tua tanpa henti, semua ada batasnya.
Ki Tumenggungpun lalu bertanya kepada Karebet :"Besok pada waktu pisowanan agung, kau datang dari Pajang ke Demak, kau akan menginap di kotaraja?"
"Saya belum tahu menginap dimana, Ki Tumenggung" jawab Karebet.

Ki Tumenggung tersenyum, lalu iapun berkata :"Menginaplah di dalem Suranatan, di dalam masih ada kamar yang kosong atau kalau kau tidak mau tidur di dalem tengah, menginaplah di bekas kamar yang pernah ditempati oleh pamanmu Ki Ganjur"
"Terima kasih Ki Tumenggung, tetapi dari Pajang saya akan datang bertiga"
"Bertigapun tidak apa-apa Karebet" kata Ki Tumenggung.
"Ya Ki Tumenggung, terima kasih."
"Karebet, aku akan ke Kraton, kita berpisah, kita saling mendo'akan semoga kita semua selamat" kata ki Tumenggung
"Ya Ki Tumenggung" kata Karebet
Tumenggung Suranatapun kemudian berjalan masuk ke dalam Kraton, sedangkan Karebetpun naik ke punggung kudanya, lalu menjalankan kudanya ke arah selatan.
Karebet sengaja menjalankan kudanya tidak terlalu cepat, karena jarak ke Kadilangu tidak terlalu jauh, apalagi sekarang dia berada dipunggung kuda.

Matahari telah condong ke barat, sinarnya telah membentuk bayangan di arah timur, bayangan orang sedang menunggang seekor kuda yang berlari sejajar dengan kuda Karebet yang berlari ke arah selatan.
Beberapa saat kemudian Karebetpun membelokkan kudanya ke arah timur, menuju tepian barat sungai Tuntang.
Derap kaki kudanya terdengar teratur, karena Karebet menjalankan kudanya tidak terlalu cepat.
Sungai Tuntang terlihat semakin dekat, tak lama lagi kuda yang ditunggangi Karebet menyeberangi sungai Tuntang.
Tak berapa lama kuda yang ditunggangi Karebet telah sampai di tepian sungai Tuntang, lalu Karebetpun turun dari punggung kudanya dan bersiap untuk masuk kedalam air sungai, menyeberang ke sisi sebelah timur.
Karebet memegang tali kendali kudanya, kemudian perlahan-lahan iapun turun, memasukkan kakinya kedalam sungai, lalu berjalan menyeberangi sungai yang dalamnya sebatas perutnya, sambil menuntun kudanya menyeberang ke arah timur.
Sambil menyeberangi sungai dengan berjalan perlahan-lahan, tangan kanan Karebet memegang tali kendali kudanya, sedangkan tangan kirinya diangkat keatas sambil memegang bungkusannya.

Setapak demi setapak Karebet menuntun kudanya menyeberangi sungai Tuntang, dan tak lama kemudian diapun telah tiba di tepi sungai sebelah timur.
Setelah menambatkan tali kendali kudanya pada dahan sebuah pohon, kemudian Karebetpun membuka bungkusan yang dibawanya, lalu diambilnya sebuah pakaian kering sebagai penganti pakaiannya yg basah terkena air sungai.
Setelah berganti pakaian yang kering dan bersih, Karebetpun memeras pakaian yang basah, lalu di jemurnya pakaian itu di cabang pohon yang agak tinggi.
"Malam ini aku akan menginap di Kadilangu" kata Karebet dalam hati.
Sesaat kemudian Karebetpun telah naik dipunggung kudanya, lalu menjalankannya menuju pesantren Kanjeng Sunan Kalijaga yang jaraknya tidak begitu jauh lagi.
Didepan pintu gerbang Karebetpun turun dari kudanya, lalu iapun mengucap salam, dan terdengar jawaban dari seorang santri yang sedang mengambil air untuk mengisi padasan.
"Kanjeng Sunan Kalijaga berada di dalam ?" tanya Karebet.
"Ada, silahkan masuk, langsung saja ke ruang Kanjeng Sunan" kata santri Kadilangu.
Karebetpun lalu masuk ke halaman dan menambatkan kudanya pada tonggak kayu yang terdapat di dekat pohon belimbing.

Mataharipun telah bergeser semakin turun, beberapa santri berjalan beriringan membersihkan diri ke sungai yang tidak jauh dari pesantren, sedangkan di sebuah ruang didalam, Kanjeng Sunan Kalijaga duduk berhadapan dengan muridnya, calon Adipati Pajang, Karebet.
"Jadi kau akan dilantik pada hari Anggara Kasih disaat pisowanan agung di Sasana Sewaka ?" tanya Kanjeng Sunan Kalijaga.
"Betul Kanjeng Sunan" jawab Karebet.
"Mungkin sebentar lagi ada undangan dari Kanjeng Sultan, tetapi sekarang diantara para ulama Wali Sanga, sudah ada yang meninggal dunia. Memang sudah agak lama Wali Sanga tidak berkumpul di Kraton Demak. Sejak Demak berdiri, dan Raden Patah menjadi raja pertama sampai sekarang sudah lebih dari delapan windu. Hampir sembilan windu, memang sudah lama sekali" kata Sunan Kalijaga.
Karebetpun menunduk mendengarkan perkataan Kanjeng Sunan Kalijaga.
"Beberapa waktu yang lalu Sunan Kudus juga sakit" kata Sunan Kalijaga.
"Mudah-mudahan sekarang sudah sembuh Kanjeng Sunan" kata Karebet.
"Ya, Karebet, kau akan kembali ke Pajang besok pagi ?" tanya Kanjeng Sunan Kalijaga.
"Ya Kanjeng Sunan, mohon ijin untuk bisa menginap di Kadilangu" kata Karebet.
"Ya menginaplah disini, nanti setelah sholat Isya, kau bisa mengaji lagi"
"Ya Kanjeng Sunan"
"Pada hari pisowanan agung, kau juga bisa menginap di sini Karebet" kata Sunan Kalijaga.
"Terima kasih Kanjeng Sunan, saya nanti bersama kakang Pemanahan dan kakang Penjawi" kata Karebet.
"Ya , tidurlah kalian bertiga di Kadilangu" kata Kanjeng Sunan.

Waktu terus berjalan, mataharipun terus bergerak turun, dan alampun berangsur-angsur menjadi gelap.
Setelah sholat isya, Kanjeng Sunan Kalijaga pun mengajar Karebet mengaji, bersama beberapa orang santri yang lain.
Pada saat yang bersamaan, di Panti Kudus, didalam sebuah ruangan yang diterangi dengan sebuah lampu minyak, Kanjeng Sunan Kudus duduk bersila berhadapan dengan muridnya, calon adipati Jipang, Arya Penangsang.
"Penangsang, kapan akan diadakan Pisowanan Agung?" tanya Kanjeng Sunan Kudus.
"Hari Anggara Kasih, tiga pasar lagi Bapa Sunan" jawab Penangsang.
"Biasanya ada utusan dari Kraton yg akan mengundang aku untuk menghadiri pisowanan Agung, kali ini sekaligus dengan pelantikanmu sebagai Adipati Jipang" kata Sunan Kudus :"Pada malam menjelang pelantikanmu nanti, kau tidurlah di Panti Kudus, nanti kita bersama-sama menuju Demak"
"Ya Bapa Sunan" kata Arya Penangsang.
"Kita berangkat sehari sebelumnya, kita tidak usah menginap di Kraton, kau ada tempat menginap di Demak?" tanya Sunan Kudus.
"Ada Bapa Sunan, dirumah sahabat saya, Lurah Pasar Pon, orangnya saat ini berada di Jipang, membantu pembangunan Kadipaten, nantinya dia akan berangkat mendahului ke Demak, untuk mempersiapkan tempat untuk kita Bapa Sunan" jawab Penangsang.


"Baik, kita berangkat sehari sebelumnya dan kita akan menginap di rumah Lurah Pasar Pon" kata Sunan Kudus.
"Ya Bapa Sunan" jawab Penangsang.
"Dalam pisowanan nanti, kau akan berangkat dari Jipang bersama siapa Penangsang?" tanya Kanjeng Sunan Kudus.
"Saya akan mengajak Dimas Arya Mataram dan paman Matahun, Bapa Sunan" kata Penangsang.
"Bagus, Matahun adalah orang yang sangat setia kepadamu, dia pantas kau jadikan warangka praja Kadipaten Jipang" kata Sunan Kudus.
"Ya Kanjeng Sunan, paman Matahun adalah orang yang setia terhadap keluarga eyang Sunan Ngudung, dan paman Matahun adalah orang yang cerdik dan berilmu tinggi, iapun juga bersedia diajak bersama-sama membesarkan kadipaten Jipang" kata Penangsang.
"Ya, mulai sekarang bisa kau pikirkan sebuah jabatan di Kadipaten Jipang, yang pantas kau berikan kepada Matahun, orang yang mengabdikan seumur hidupnya kepada keluarga Sekar Seda Lepen" kata Kanjeng Sunan.

Arya Penangsang menganggukkan kepalanya, iapun mempertimbangkan akan memberikan jabatan tertinggi kadipaten Jipang kepada Matahun, patih Jipang.
"Paman Matahun yang setia, sangat pantas kalau aku beri jabatan sebagai patih Jipang, Patih Matahun" kata Penangsang dalam hati.
"Nanti kalau Kadipaten Jipang mengadakan acara pisowanan untuk yang pertama kali, paman Matahun akan aku angkat sebagai patih Kadipaten Jipang" kata Penangsang dalam hati.
"Penangsang" kata Kanjeng Sunan Kudus :"Kau berangkat ke Jipang besok pagi ?".
"Ya Kanjeng Sunan" jawab Penangsang.
"Bagus, berangkatlah setelah kita menjalankan sholat subuh berjamaah, malam ini masih ada sedikit waktu, pergunakanlah untuk mengaji" kata Kanjeng Sunan Kudus.
"Ya Kanjeng Sunan"
Maka di awal malam itu, Penangsangpun mengaji dengan dibimbing oleh gurunya, Sunan Kudus.
Malampun semakin gelap, hanya nyala lampu minyak yang menari-nari ditiup angin yang semilir perlahan. Bintangpun berkedip di angkasa, sesekali satu dua buah bintang berpindah tempat.
Malam yang gelap, hanya suara cengkerik yang terdengar perlahan, kadang-kadang juga terdengar suara kelelawar yang sedang mencari buah-buahan, sesekali terdengar suara burung hantu memecah keheningan malam.

Diujung malam, lintang panjer rina yang muncul di arah timur bersinar semakin cemerlang, fajarpun telah merekah, warna merahpun terlihat di langit bang wetan, seisi bumi Kuduspun mulai terbangun.
Ketika matahari mulai bergerak naik, langitpun mulai terlihat terang, meskipun bumi Kudus masih terasa dingin, namun seekor kuda gagah berwarna hitam telah keluar dari pintu gerbang Panti Kudus menembus dinginnya pagi, berlari menuju ke arah selatan, lalu sedikit berbelok kearah tenggara.
Arya Penangsang telah berada diatas punggung Gagak Rimang yang berlari cepat menuju arah tenggara, ke arah hutan Prawata, lalu setelah sampai disana, kudanya berbelok ke selatan, ke arah Jipang Panolan.
"Mudah-mudahan malam nanti aku sudah sampai di Jipang" kata Penangsang sambil memacu kuda hitamnya, Gagak Rimang.
Sementara itu, di daerah kotaraja Demak, seekor kuda keluar dari pintu gerbang pesantren Kadilangu, dengan dituntun oleh seseorang.
Setelah keluar dari pintu gerbang, maka orang yang menuntun kuda itu, Karebet, kemudian melompat menunggangi kuda itu dipunggungnya.
Dengan cepat kuda yang ditunggangi Karebet, menyusuri sungai Tuntang menuju arah selatan, menuju Pajang, setelah terlebih dulu mengambil pakaiannya yg dijemur diatas pohon lalu memasukkannya kedalam bungkusan yang dibawanya.

Matahari semakin tinggi ketika Karebet memacu kudanya sejajar dengan sungai Tuntang, dan beberapa kali iapun menuntun kudanya menyeberangi beberapa sungai kecil yang melintang menghadang perjalanannya.
Matahari hampir tenggelam di cakrawala, ketika Karebet memasuki hutan di daerah Sima, kudanya terlihat kelelahan meskipun telah beberapa kali istirahat dan telah diberi makan dan minum.
"Kuda ini sudah lelah, aku tidak dapat memacunya lebih cepat lagi" kata Karebet dalam hati :"Nanti malam aku terpaksa bermalam di dekat Sima"
Ketika langit sudah dirembang petang, Karebetpun turun dari kudanya, lalu mengikat tali kendali kudanya di dahan sebuah pohon, kemudian iapun berjalan untuk membersihkan dirinya disebuah sungai kecil ditepi hutan tidak jauh dari desa Sima.

Malam itu setelah makan bekal yang didapat dari pemberian para santri Kadilangu, Karebetpun berselimut kain panjang, menghindari dari gigitan nyamuk, sekaligus untuk menahan udara dingin dipinggir hutan Sima.
Malam semakin dalam, suasana gelap pekat menyelimuti hutan didekat desa Sima, angin bertiup agak kencang, suara angin yang mengalir di sela-sela dahan pohon yang sempit menimbulkan suara seperti siulan dari sesosok memedi, seperti akan menerkam Karebet yang sedang berusaha tidur dengan bersandar pada sebatang pohon.
Tetapi Karebet bukan seorang penakut, Ayam Jantan dari Pengging itupun tidak memperdulikan suara siulan memedi yang mengganggunya, dan iapun dengan tenangnya berusaha untuk bisa tidur.
Sekejap Karebet sempat tertidur, dan ketika ia terbangun, malam telah sampai di ujungnya, terlihat langit di ufuk timur telah berwarna merah, pertanda alam akan berangsur terang.
Karebetpun segera bangkit, lalu berjalan menuju ke sungai kecil untuk membersihkan diri.
Tidak beberapa lama, Karebetpun kembali telah berada diatas punggung kudanya, menuju arah Pajang.
Kudanya dilarikannya tidak begitu kencang, diapun tidak perlu tergesa-gesa.
"Sudah dekat" gumannya pelan.

Kudanya masih tetap berlari ditepi hutan Sima yang tidak begitu lebat
"Masih pagi" kata Karebet :"Siang nanti aku akan sampai di Pajang"
"Hm sudah lama aku berpikir untuk menjadikan tombak pusaka Kyai Pleret untuk menjadi sipat kandel Kadipaten Pajang" kata Karebet berangan angan diatas punggung kudanya.
"Bagaimana caranya supaya tombak Kyai Plered bisa disimpan di Pajang ?" tanya Karebet kepada dirinya sendiri,
Tetapi Karebet terkejut, ketika beberapa lembar daun pada sebuah dahan dari sebatang pohon hampir menyapu wajahnya, dengan tangkas iapun menggerakkan kepalanya kesamping, sehingga dahan beserta daunnya tidak mengenai wajahnya.
"Hampir saja kepalaku terkena dahan yang melintang" kata Karebet di dalam hatinya.
"Sutawijaya,,,tombak pusaka itu dikuasai Sutawijaya" kata Karebet.
"Aku harus bisa menarik Sutawijaya, tinggal di Kadipaten Pajang" Karebetpun masih meneruskan lamunannya.
"Kalau Sutawijaya berada di Pajang, dia akan tidur dimana ?" pertanyaan itupun berputar didalam pikirannya.
"Aku harus membuat satu rumah lagi, membuat sebuah rumah untuk Kesatrian, yang terletak dibelakang dalem kadipaten. Biarlah sementara Sutawijaya nanti berdiam di ksatrian bersama Wenang, putra Ki Ageng Butuh. Kalau Wenang berdiam di ksatrian dibelakang dalem kadipaten, dia bisa menjaga keamanan dalem kadipaten di bagian belakang" kata Karebet.
Karebetpun menganggukkan kepalanya, menyetujui rencananya sendiri, membuat sebuah rumah dibelakang dalem Kadipaten.
"Baik, aku akan membuat sebuah rumah kesatrian, dan yang akan membangun Kesatrian adalah tukang yang baru, yang akan diambilkan dari Pengging. Sekarang aku akan menuju ke Pengging, mencari tukang yang bisa membangun rumah" kata karebet, lalu iapun segera memacu kudanya menuju Pengging.

Matahari telah merayap agak tinggi di langit sebelah timur, ketika kuda yang ditumpangi Karebet semakin dekat dengan desa Pengging, desa tempat kelahirannya.
Di sebelah kanannya, tegak berdiri gunung Merapi, yang saat itu kawahnya dalam keadaan tidur, sehingga terlihat begitu tenang. Lekuk liku lembah jurang di lereng gunung kelihatan indah dipandang mata, terkena sinar matahari dari arah timur.
"Hm saat ini gunung Merapi dalam keadaan tenang, kalau gunung itu murka, tak seorangpun mampu menahan amukannya. Amukan wedus gembelnya mampu membakar hangus sebuah desa, apalagi kalau ia memuntahkan batu-batu yang membara, hancur luluh desa yang ditimpanya" kata Karebet didalam hatinya.
Kudanya terus berlari, meninggalkan debu dibelakangnya, dan tak lama kemudian iapun telah memasuki desa Pengging, sebuah desa yang pada jaman Majapahit pernah mengalami masa kejayaannya, pernah menjadi sebuah Kadipaten yang bernama Kadipaten Pengging Witaradya yang dipimpin oleh Adipati Dayaningrat.
Karebetpun memperlambat lari kudanya, beberapa orang petani yang bertemu dengannya, semuanya membungkukkan badannya, menghormati putra Ki Ageng Pengging, mereka bangga, salah seorang pemuda kelahiran Pengging, Karebet, putra Ki Kebo Kenanga atau yang lebih dikenal dengan sebutan Ki Ageng Pengging, akan menjadi seorang Adipati di Pajang
Kuda yang ditunggangi Karebet terus berlari, lalu berbelok di sebuah rumah yang halamannya luas, rumah peninggalan orang tuanya Ki Kebo Kenanga yang pernah menjadi penguasa daerah Pengging.

Ketika kuda yang ditunggangi Karebet berhenti maka Karebetpun turun dari kuda, dan berjalan menuju ke pendapa.
Dari halaman samping rumah, keluarlah seorang yang sudah tua, pembantu ayahnya yang setia berlari-lari kecil menghampirinya.
"Ngger Karebet, kebetulan kau datang hari ini ngger, uwamu, Ki Kebo Kanigara datang tadi malam, sekarang Ki Kanigara sedang berada di ruang dalam" kata penunggu rumah ayahnya, Ki Purwa.
"Siwa Kanigara berada didalam ?" tanya Karebet senang, ia terlihat gembira mendengar uwanya berada di Pengging.
"Ya, silakan kau temui uwa-mu didalam, aku akan mencarikanmu buah kelapa muda ngger" kata pembantunya yang setia.

Karebetpun kemudian mencuci kakinya dengan menggunakan air yang berada didalam jambangan yang berada di sudut halaman, lalu iapun naik ke pendapa, berjalan masuk ke ruang dalam, dan dilihatnya seseorang sedang duduk bersila diatas amben, sambil menilmati wedang jahe ditambah secuil gula aren dan beberapa ubi rebus.
"Kau Karebet" kata orang itu, Kebo Kanigara.
"Ya wa" kata Karebet, diraihnya tangan uwanya, kemudian diciumnya sebagai tanda rasa hormat.
"Duduklah" kata uwanya.
Karebetpun kemudian duduk bersila didepan uwanya.
"Kau selamat Karebet, dari mana saja kau" kata uwanya.
"Atas pangestu siwa Kanigara, saya selamat, dan baru saja saya dipanggil menghadap Kanjeng Sultan Trenggana di Demak".
"Tentang pelantikanmu sebagai adipati Pajang ?" tanya uwanya.
"Ya wa, Kanjeng Sultan Trenggana membicarakan pelantikan saya sebagai Adipati Pajang besok pada saat Pisowanan Agung Kasultanan Demak, sekalian membicarakan pernikahan saya dengan Sekar Kedaton Gusti Putri Mas Cempaka" kata Karebet.
"Sebelum kau bercerita tentang pelantikan dan penikahanmu, aku mau bertanya kepadamu, apakah saat ini Demak dalam keadaan persiapan perang?" tanya Karebet.
"Perang ?" kata Karebet terkejut, lalu iapun berkata kepada uwanya :"Kanjeng Sultan tidak pernah membicarakannya wa, yang dibicarakan hanyalah soal pelantikan dan pernikahan saya dengan diajeng Sekar Kedaton, soal kesiapan Demak akan berperang, mungkin Kanjeng Sultan hanya membicarakannya dengan Ki Tumenggung Gajah Birawa dari kesatuan Wira Tamtama".

Kebo Kanigara menganggukkan kepalanya, lalu iapun berkata perlahan.
"Aku melihat sebuah persiapan untuk berperang, lebih dari dua puluh lima buah kapal perang yang dulu pernah digunakan oleh Pangeran Sabrang Lor, sudah siap untuk diterjunkan di peperangan di laut" kata Kebo Kanigara.
"Dimana siwa melihatnya?" tanya Karebet.
"Disekitar bandar Jepara, di pesisir Keling dan pesisir Wedung" jawab uwanya.
"Kalau begitu, berarti semua yang memperbaiki adalah dari kesatuan pasukan laut yang dipimpin oleh Tumenggung Siung Laut" kata Karebet.
"Apakah Kasultanan Demak akan menyerang orang asing ke seberang ?" tanya uwanya.
"Selama ini tidak ada berita apapun, tidak ada berita mengenai orang asing, tidak ada permintaan bantuan untuk sebuah pertempuran di laut" kata Karebet..
"Pasti menyerang daerah pesisir, kalau bukan di daerah pesisir, tidak akan ada persiapan kapal perang" kata uwanya, lalu Kebo Kanigarapun melanjutkan pertanyaannya.
"Apakah ada daerah pesisir yang mbalela terhadap Kasultanan Demak?" tanya Kebo Kanigara.
"Kalau bang kulon kelihatannya tidak ada yang mbalela, wa, hubungan Demak dengan Cirebon selama ini adalah sangat baik" kata Karebet.

"Kalau bang wetan, Lasem, Tuban, Gresik, Madura, Panarukan apakah ada yang mbalela terhadap Kasultanan Demak?" tanya uwanya.
"Saya tidak tahu wa"
Kebo Kanigarapun menganggukkan kepalanya.
"Karebet, persiapan pasukan Demak untuk berperang telah terasa sekali" kata uwanya.
"Ya wa, memang pengangkatan saya sebagai adipati Pajang dan pernikahan saya kelihatannya dibuat agak tergesa-gesa, ternyata jawabannya adalah, saat ini Demak memang akan berangkat berperang" kata Karebet.
"Karebet, kalau kau diajak berangkat berperang, kau harus siap, kalau Kanjeng Sultan nanti madeg Senapati sebagai seorang Senapati Agung yang memimpin pasukan Demak segelar sepapan, kau nanti yang akan menjadi Senapati Pengapitnya" kata uwanya.
"Ya, wa" jawab Karebet.
"Karebet, diajak berperang ataupun tidak, kau harus mematangkan ilmumu Lembu Sekilan, bagaimanapun kalau kau sebagai Adipati Pajang, kau pasti membutuhkan aji Lembu Sekilan pada tingkat tertinggi."kata Kebo Kanigara.
"Baik, wa" jawab Karebet.
Karebet kemudian memandang kepada dirinya sendiri yang telah mempunyai sebuah aji yang jarang tandingannya, Lembu Sekilan.

(bersambung)

KERIS KYAI SETAN KOBER 23

  • KERIS KYAI SETAN KOBER 23

    BAB 9 : MBANGUN PRAJA 1

    Karya : Apung GWAP

    "Baik Wenang, bergabunglah dengan para sahabat yang telah lebih dahulu berada di Pajang, aku kabulkan permintaanmu untuk mengabdi di Kadipaten Pajang, silahkan beristirahat ke gubug yang berada disebelah utara" kata Karebet.
    "Terima kasih" kata Wenang, kemudian iapun berjalan dan masuk kedalam gubug yang terletak disebelah utara.
    Tak lama kemudian iapun keluar dari gubuk, berjalan kearah orang yang sedang sibuk bekerja, dan Wenangpun bersiap untuk ikut bekerja bersama-sama membangun dalem Kadipaten Pajang.

    Hari demi hari telah berlalu, Wenangpun telah larut dalam kerja bersama puluhan orang-orang yang lain, membangun dalem kadipaten Pajang dan ruang paseban.
    Setelah hampir tiga candra sejak dimulainya pembangunan, saat ini dalem kadipaten dan ruang Paseban, hampir selesai dikerjakan dan tinggal menyelesaikan dan merapikan beberapa dinding saja.
    Gugur gunung yang dilakukan oleh rakyat Pajangpun telah selesai, para bebahu tidak mewajibkan lagi orang-orang Pajang untuk ikut dalam penyelesaian pembangunan dalem kadipaten.
    Yang masih tersisa bekerja disana hanyalah pekerja dari Demak dibantu para orang dari Sela, Banyubiru, dan dari Butuh, beserta tukang-tukang yang dibawa oleh mereka.
    Dalem kadipaten dan ruang paseban, telah bediri tegak, berdinding papan jati tebal, berlantai bata merah, beratap daun kelapa.
    Pembakaran bata telah dilakukan dengan menggunakan kayu bakar yang diambil dari hutan dan ditambah dari tatal-tatal kayu yang telah dikeringkan, yang didapat dari sisa-sisa pembuatan tiang, lalu dibuatkan aling-aling dari bata mentah yang disusun rapat, yang dibuat untuk menghalangi tiupan angin kencang.
    Bata mentah yang dibakar dilakukan dengan mengatur posisi bata yang disusun secara berongga, tidak rapat antara bata yang satu dengan yang lain, sehingga bisa menghasilkan hasil pembakaran yang baik.

    Bata yang sudah jadi, diletakkan di lantai dan diatur secara mendatar di dalem kadipaten dan di ruang paseban, sehingga setelah selesai terlihat lantai dari bata merah yang rata dan tersusun rapi.
    Dindingnyapun dibuat dari kayu jati lurus yang dijejer rapi, dibuat dari kayu yang tidak terlalu besar, kemudian di tipiskan, dikurangi dengan menggunakan pethel, sehingga dinding yang terpasang adalah dinding kayu yang cukup tebal.
    Atapnya dibuat dengan menggunakan daun kelapa yang dijepit dengan belahan bambu dan dibuat rangkap dua, sehingga cukup kuat untuk menahan panas dan air hujan.
    "Dalem kadipaten dan ruang paseban hampir selesai dikerjakan, sepasar lagi semua pekerjaan telah selesai" kata Ki Lurah Wiguna kepada Karebet ketika di suatu siang mereka bekerja merapikan dinding dalem kadipaten.
    "Ya, nanti kekurangan tambahan bangunan bisa dikerjakan oleh tukang dari Tingkir, kalau perlu akan aku panggilkan tukang dari Pengging" kata Karebet
    "Tukang dari desa Tingkir bisa melanjutkan pembuatan sumur, pakiwan, kandang kuda, pagar, pintu gerbang dan membuat sebuah rumah lagi yang tidak terlalu besar untuk para emban" kata Lurah Wiguna.
    "Ya, mungkin aku perlu membuat bukan hanya sebuah rumah, tetapi beberapa buah rumah lagi untuk nayaka praja Kadipaten Pajang yang akan segera dibentuk" kata Karebet.
    "Sepasar lagi, dalem kadipaten ini sudah bisa ditempati, dan tugaskupun sudah selesai"

    Ketika mereka sedang berbincang, keduanya mendengar suara derap kaki kuda yang mendekati dalem kadipaten.
    Ketika derap sudah terdengar semakin dekat, terlihatlah seekor kuda yang ditumpangi oleh seorang berpakaian prajurit Wira Tamtama Demak.
    Kuda itupun berjalan mendekati mereka yang sedang bekerja, dan setelah berada di depan dalem kadipaten, maka prajurit itupun turun, lalu berjalan menghampiri Karebet yang sedang bersama Lurah Wiguna.
    "Ki Lurah Wiguna dan Karebet" prajurit Itupun menyapa mereka berdua.
    "Kau Wasis" kata Ki Lurah dan Karebet hampir bersamaan.
    "Mari duduk dulu, kita masuk ke gubug" kata Lurah Wiguna dan iapun mengajak Wasis untuk masuk ke gubug.
    Mereka bertiga duduk didalam gubug, lalu tukang adangpun menyuguhkan air minum kepada tamunya.
    "Aku diutus Kanjeng Sultan, Karebet dipanggil besok Kanjeng Sultan ke Demak" kata Wasis
    "Aku dipanggil ke Demak?" kata Karebet.
    "Ya, besok kita berangkat bersama-sama ke Demak" kata Wasis menjelaskan.
    "Baik, bagaimana Ki Lurah Wiguna, besok aku dipanggil Kanjeng Sultan ke Demak?" kata Karebet kepada Ki Lurah.
    "Silakan, aku akan disini dulu, menunggu kepulanganmu dari kotaraja Demak" kata Ki Lurah.
    "Ya Ki Lurah" kata Karebet, dan kepada Wasis, iapun bertanya :" Wasis, ada kabar apa dari Demak?".

    "Dua pasar yang lalu Keluarga Pangeran Arya telah pindah boyongan ke Prawata, dan mulai sekarang ia dipanggil dengan sebutan Sunan Prawata, kemudian sepasar yang lalu keluarga Pangeran Hadiri juga sudah boyongan ke Kalinyamat, disana, orang-orang ada yang menyebutnya Pangeran Kalinyamat, istrinyapun dipanggil dengan sebutan Ratu Kalinyamat" kata Wasis.
    "Bagaimana dengan Penangsang ?" tanya Karebet
    "Dari dulu raden Penangsang sering berkunjung ke Jipang, lagipula di Jipang ia punya rumah peninggalan kakeknya, Sunan Ngudung dan sejak membangun kadipaten Jipang, raden Penangsang belum pernah sekalipun berada di Demak, tetapi sekarang raden Penangsangpun juga dipanggil oleh Kanjeng Sultan ke Demak" kata Wasis menjelaskan berita dari kotaraja Demak.
    Karebetpun menganggukkan kepalanya, dan iapun berkata :"Semuanya sudah berada di rumahnya masing-masing, akupun mulai sekarang juga akan menempati rumah ini"
    Kemudian pada malam harinya, Karebet mengumpulkan sahabat-sahabatnya di salah satu gubug di bulak amba.

    Hadir disana dua orang dari Sela, Pemanahan dan Penjawi, dari Banyubiru, Majasta, Wuragil, Mas Manca, Jaka Wila, dan putra Ki Ageng Butuh, Wenang.
    "Aku besok dipanggil Kanjeng Sultan" kata Karebet menjelaskan
    "Kita harus punya rencana kedepan untuk membentuk nayaka praja Kadipaten Pajang" kata Karebet.
    "Aku harapkan semua bisa menjadi nayaka praja, bagaimana kakang Pemanahan dan kakang Penjawi, apakah kakang berdua bersedia menjadi nayaka praja Kadipaten Pajang ?" tanya Karebet.
    "Baik adi, aku bersedia tinggal di Pajang, kita bersama-sama akan membesarkan Kadipaten Pajang" kata Pemanahan dan disambung oleh Penjawi :"Ya adi Karebet, aku bersedia bekerja untuk Kadipaten Pajang"
    "Terima kasih kakang Pemanahan dan kakang Penjawi" kata Karebet, laluiapun bertanya kepada Majasta :"Bagaimana Ki Majasta, apakah Ki Majasta bersedia menjadi warangka praja Kadipaten Pajang?"
    "Angger Karebet, aku sudah tua, aku akan kembali ke rumahku di desa Majasta, tetapi aku akan titip adikku Wuragil dan dua orang keponakanku, Mas Manca dan Jaka Wila untuk menjadi nayaka praja kadipaten Pajang" kata Ki Majasta.
    "Baiklah Ki Majasta, silakan kalau Ki Majasta ingin kembali ke Majasta, tetapi sekarang bagaimana dengan Ki Wuragil, Mas Manca dan Jaka Wila, apakah semuanya bersedia menjadi nayaka praja kadipaten Pajang ?" kata Karebet.
    "Ya, kami bertiga bersedia bersama-sama membesarkan kadipaten Pajang" kata Wuragil.
    "Ya, saya bersedia" kata Mas Manca lalu disambung oleh Jaka Wila :"Akupun bersedia menjadi nayaka praja kadipaten Pajang"
    "Terima kasih, bagaimana dengan kau, Wenang, apakah kau bersedia tinggal di Pajang ?" tanya Karebet.
    "Ya kakangmas, sejak semula aku sudah bertekad akan mengabdi untuk Kadipaten Pajang" jawab Wenang.
    "Terima kasih semuanya, terutama Ki Majasta, yang telah membantu pembangunan dalem kadipaten ini sejak awal" kata Karebet.
    "Ya, kepulangku ke desa Majasta nanti menunggu kedatangan angger karebet setelah pulang dari Demak" kata Ki Majasta.

    Karebet menganggukkan kepalanya, lalu iapun berkata :"Besok kira-kira sepasar lagi setelah aku pulang dari Demak, Ki Lurah Wiguna dan para tukang akan pulang ke kotaraja Demak, padahal saat ini kita masih akan membangun beberapa rumah lagi".
    "Setelah tukang dari Demak pulang, nanti para tukang yang berasal dari Sela biar tetap disini, nanti mereka akan terus melanjukan kerjanya dengan membuat dua buah rumah lagi untuk kakang Pemanahan dan kakang Penjawi, sedangkan para tukang dari Banyubiru akan membuat tiga buah rumah untuk Ki Wuragil, Mas Manca dan Jaka Wila" kata Karebet selanjutnya.
    "Kalau kita kekurangan tenaga, kita bisa memakai tambahan tukang dari Sela atau Banyubiru, sedangkan tukang dari Tingkir akan terus melanjutkan penyelesaian dalem kadipaten yaitu membuat sumur dan pakiwan, membuat lumbung padi, membuat pagar keliling dan membuat kandang kuda, nanti aku akan menyuruh beberapa tukang dari Pengging atau dari Pajang untuk membuat satu rumah lagi untuk para emban" kata Karebet, lalu iapun melanjutkan :"Untuk pembuatan sumur nanti bisa memakai tukang gali sumur dari Pengging"
    Semuanya mendengarkan kata Karebet, dan Karebetpun melanjutkan kata-katanya :"Kita ketinggalan selangkah dari kadipaten Jipang, saat ini Jipang sudah mempunyai prajurit kadipaten, sedangkan kita belum mempunyai prajurit apapun".

    Karebet berhenti sebentar, lalu iapun kemudian melanjutkan :"Besok sambil kita bekerja menyelesaikan pekerjaan disini, nanti secara bergantian kita semua mulai menghubungi para bebahu untuk mencari para pemuda yang akan dijadikan sebagai calon prajurit, nanti kita tentukan harinya, lalu akan kita adakan pendadaran untuk menyaring mereka, dan bagi yang lolos pendadaran akan kita jadikan sebagai prajurit kadipaten Pajang"
    "Karena desa Butuh dan desa Pengging juga termasuk didalam wilayah kadipaten Pajang, maka para pemudanya akan kita jadikan prajurit Pajang. Besok pagi kakang Pemanahan pergi ke para bebahu di Pengging untuk mencari pemuda calon prajurit, Mas Manca dan Jaka Wila ke Pajang, lalu kau Wenang pergilah ke Ki Ageng Butuh" kata Karebet.
    Semuanya mendengarkan perkataan Karebet, dan merekapun bersiap untuk melaksanakan tugas yang diberikan kepada mereka.

    Malam itu bintang-bintang masih berkedip di angkasa, Karebetpun segera membubarkan pertemuan, lalu berjalan keluar dari gubug, dan mempersiapkan untuk melakukan perjalanan ke Demak esok pagi.
    Ketika malam telah berlalu dan langit menjadi terang, Karebet telah bersiap di atas punggung kuda bersama Wasis, seorang prajurit Wira Tamtama utusan Kanjeng Sultan Trenggana.
    Didalam kantung yang dibawanya, terdapat beberapa bekal makanan yang dapat digunakan diperjalanan ke Demak selama beberapa hari.
    Setelah berpamitan, maka Karebet dan Wasispun perlahan-lahan menjalankan kudanya meninggalkan dalem kadipaten Pajang.
    Setelah agak jauh maka Wasispun mulai melarikan kudanya, meskipun tidak terlalu cepat, dua ekor kuda yang berlari telah meninggalkan daerah Pajang.
    Setelah beberapa kali berhenti memberi minum kuda yang kehausan, pada siang hari mereka berdua telah sampai di Sima.
    "Kita istirahat dulu dibawah pohon, kita makan bekal yang kita bawa dari Pajang" kata Karebet
    "Ya, aku sudah lapar" jawab Wasis.

    Wasis dan Karebet kemudian berhenti dan menambatkan kudanya di cabang pohon, lalu mereka berdua duduk dan beristirahat di bawah pohon. Wasispun mengeluarkan dua buah bungkusan dari daun pisang, lalu yang satu bungkus diberikan kepada Karebet.
    "Ini nasinya" kata Wasis sambil memberikan nasi yang dibungkus oleh daun pisang itu.
    "Ini cuma nasi, ikan asinnya mana?" tanya Karebet.
    Wasispun kemudian mengambil ikan asin beserta sambalnya dari dalam bungkusannya, kemudian diberikan kepada Karebet, lalu keduanyapun menikmati makan siang di bawah pohon di daerah Sima.
    "Yang masak ini tukang adang?" tanya Wasis.
    "Ya" jawab Karebet.
    "Aku tidak menyangka kalau tukang adang bisa memasak seenak ini" kata Wasis sambil menikmati sambalnya.

    Karebet mau menjawab, tetapi ia tersedak, lalu iapun minum dari bumbung yang berada didalam bungkusan.
    Setelah minum, Karebetpun berkata :"Kau membikin aku tersedak Wasis, masakan ini memang enak, karena kau jarang sekali makan masakan dari tukang adang. Tetapi aku tiap hari makan makanan seperti ini"
    Wasispun tertawa, lalu iapun mengambil bumbung berisi air dan meminumnya untuk mendorong nasi yang berhenti di kerongkongannya.
    "Nasi, ikan asin dan sambal, makanan ini memang terasa enak karena saat ini perutku terasa lapar" kata Wasis sambil mengambil lagi sepotong ikan asin.
    "Adanya cuma nasi dengan lauk ikan asin" kata Karebet, lalu keduanyapun masih terus mengunyah makanan hingga perut merekapun kenyang.
    "Kalau perjalanan tidak tergesa-gesa, sebetulnya kita bisa berburu ayam alas, dan kitapun bisa makan ayam bakar" kata Wasis
    Kerebet tidak menjawab, iapun meneruskan makan sampai semua nasi dan ikan asin habis dimakannya. Setelah mereka selesai makan, dan beristirahat sejenak, maka beberapa saat kemudian Karebetpun berdiri dan diikuti oleh Wasis.
    Karebet menepuk leher kudanya perlahan-lahan, dan dengan tangkasnya ia naik ke punggung kuda, lalu berjalanlah kuda itu memasuki hutan yang tidak begitu lebat, menuju arah sungai Tuntang.
    Di belakangnya, kuda yang ditumpangi Wasis berlari mengikuti dibelakang kuda Karebet, tidak terlalu rapat untuk menghindari debu yang dihamburkan dari kaki-kaki kuda yang ditunggangi oleh Karebet.

    Matahari telah turun ketika keduanya telah berada ditepi sungai Tuntang sebelah timur.
    "Wasis, kita beristirahat dimana?" tanya Karebet ketika melihat matahari semakin turun mendekati cakrawala.
    "Kita beristirahat didepan, mudah-mudahan besok siang kita sudah sampai di kotaraja Demak" kata Wasis.
    "Ya" jawab Karebet menyetujui perkataan temannya.
    Ketika lembayung senja menghiasi langit bang kulon, keduanya berhenti, karebet dan Wasispun turun dari punggung kuda, kemudian membersihkan dirinya di sungai Tuntang,
    Malam itu keduanya, seorang prajurit Demak dan seorang calon Adipati Pajang, tidur bersandarkan sebatang pohon berselimut bintang, dan semilir angin malam yang bertiup di tepian sungai Tuntang, mampu membawa hawa dingin yang menggigit tulang, sehingga kain panjangnyapun dikerudungkan semakin rapat.
     Malampun berjalan sampai ke ujungnya, bang wetan sudah membias warna merah, keduanyapun bangun dari mimpinya, tidur yang sekejap ternyata mampu membuat tubuh mereka menjadi agak segar,

    Ketika matahari bergerak memanjat dinding langit, keduanyapun menyeberangi sungai Tuntang ditempat yang tidak terlalu dalam.
    Dengan memegang tali kendali, kudanyapun dituntun menyeberangi air yang dalamnya sebatas paha, dan arus sungai yang bergerak perlahan ke arah utara seperti mengusap tubuh-tubuh mereka.
    Sesampai di seberang, ditepian sungai sebelah barat, kemudian mereka berduapun melanjutkan perjalanan ke arah utara.
    Panas yang menyengat tidak menyebabkan langkah kuda mereka surut, derap kaki kudanya telah meninggalkan daerah Mrapen, yang kini telah berada jauh di belakang.
    "Tengah hari kita sudah memasuki kota raja" gumam Wasis hampir tidak terdengar.
    Mataharipun telah berada di puncak langit, ketika kaki-kaki kuda mereka menapak di alun-alun Demak
    Ketika berada di depan pintu gerbang yang dijaga dua orang prajurit Wira Braja, keduanya turun dari kudanya, dan setelah Wasis berbicara sebentar dengan prajurit penjaga pintu gerbang, maka keduanyapun lalu masuk ke halaman, menambatkan kudanya disebelah seekor kuda berwarna hitam, yang sudah tertambat lebih dulu pada tonggak di dekat dinding Kraton.
    "Gagak Rimang" desis Karebet ketika melihat seekor kuda hitam yang gagah di sebelahnya.
     
    Setelah menambatkan kudanya, maka keduanyapun berjalan menuju penjagaan ruang dalam.
    "Kau Karebet" kata seorang prajurit Wira Tamtama yang sedang berjaga ruang dalam.
    "Ya,kau Wira, kau berjaga disini?" tanya karebet.
    "Ya, Kanjeng Sultan saat ini sedang menerima Raden Penangsang di dalam ruangan". kata Wira.
    "Ya, aku akan menunggu disini" kata Wasis lalu merekapun duduk tidak jauh dari prajurit Wira Tamtama.
    Tidak berapa lama keluarlah dari dalam ruangan, seorang laki-laki bertubuh sedang berkumis melintang berpandangan tajam, Arya Penangsang, calon Adipati Jipang yang hampir bersamaan dengan Karebet telah dipanggil menghadap Kanjeng Sultan Trenggana di Demak.
    Ketika Karebet melihat Penangsang berjalan melintas di depannya, maka iapun mengangguk hormat, menundukkan kepalanya dan sedikit membungkukkan badannya.
    Penangsang, yang melihat Karebet menghormat kepadanya, membalas dengan menganggukkan kepalanya, setelah itu iapun bejalan menuju ketempat tambatan kuda hitamnya, Gagak Rimang.
    Prajurit Wira Tamtama, yang bernama Wira, kemudian berjalan menuju ruangan dalam dan sesaat kemudian iapun keluar ruangan lalu menuju ketempat Karebet.
    "Silakan menghadap Kanjeng Sultan, sekarang" kata Wira.
    "Ya" kata Karebet, kemudian iapun berjalan menuju ruangan dalam,
    Sampai didepan pintu, Karebet berdiri bersikap ngapurancang, menunggu panggilan Kanjeng Sultan.
    "Masuklah Karebet" terdengar suara Kanjeng Sultan dari dalam ruangan.
    Karebetpun masuk keruangan, dengan laku dodok, iapun menyembah Kanjeng Sultan, dan duduk bersila dihadapannya.
    "Karebet" kata Kanjeng Sultan Trengana.
    "Dawuh dalem Kanjeng Sultan" jawab Karebet.
    "Bagaimana keadaanmu Karebet" tanya Kanjeng Sultan.
    "Atas pangestu Kanjeng Sultan, hamba dalam keadaan selamat" kata Karebet.
    "Bagaimana pembangunan dalem kadipaten Pajang?"
    "Hampir selesai Kanjeng Sultan, tiga empat hari lagi Ki Lurah Wiguna akan pulang ke Demak, selanjutnya kekurangannya akan hamba kerjakan sendiri" kata Karebet.

    "Karebet, apakah selama ini kau pernah mengalami kesulitan dalam membangun dalem Kadipaten ?" tanya Kanjeng Sultan.
    "Tidak ada kesulitan apapun Kanjeng Sultan, semuanya lancar" jawab Karebet
    "Kau tadi sempat bertemu Penangsang ?" tanya Kanjeng Sultan.
    "Ya Kanjeng Sultan, kami bertemu diluar" jawab Karebet.
    "Kau dan Penangsang saat ini aku panggil ke Demak, karena tiga pasar lagi, pada hari Anggara Kasih, di ruangan Sasana Sewaka akan diadakan pisowanan agung" kata Sultan Trenggana
    Karebet terus menundukkan kepala, mendengarkan apa yang dikatakan oleh Kanjeng Sultan.
    "Dalam pisowanan agung nanti, kau akan aku lantik sebagai Adipati Pajang, sedangkan Penangsang akan aku lantik sebagai Adipati Jipang" kata Sultan Demak.
    "Terima kasih Kanjeng Sultan" kata Karebet.
    "Nanti di dalam pisowanan agung, kau akan didampingi oleh dua orang kepercayaanmu, siapakah yang akan kau pilih untuk mendampingimu dalam pelantikan nanti ?"
    "Kalau dua orang, hamba akan membawa kakang Pemanahan dan kakang Penjawi untuk mendampingi hamba dalam pisowanan agung nanti Kanjeng Sultan" jawab Karebet.
    "Pemanahan dan Penjawi? Dua orang yang berasal dari Sela ?" tanya Sultan Trenggana.
    "Betul Kanjeng Sultan, keduanya memang berasal dari Sela" jawab Karebet.
    "Baik Karebet, nanti dua tiga pasar setelah pisowanan agung, setelah kau menjadi Adipati Pajang, maka kau bisa melamar anakku Sekar Kedaton, tinggal nanti kita cari hari yang baik. Nanti setelah selesai pisowanan agung, kau jangan pulang dulu ke Pajang, tetapi tunggu sebentar, kau akan kupanggil dan kuberi tahu kapan kau melamar anakku Sekar Kedaton" kata Sultan Demak.
    "Sendika dawuh Kanjeng Sultan" kata Karebet.
    "Kau akan pulang langsung ke Pajang?" tanya Kanjeng Sultan.
    "Tidak Kanjeng Sultan, hamba akan singgah dulu di Kadilangu" jawab Karebet.
    "Ke tempat Kanjeng Sunan Kalijaga?"
    "Kasinggihan dawuh Kanjeng Sultan"
    "Bagus" kata Kanjeng Sultan:"Nah, cukup sekian, kau boleh pulang.

    Karebetpun menyembah, lalu iapun bergeser kepintu, kemudian keluar dari ruangan, berjalan keluar menemui Wira dan Wasis yang masih menunggu diluar.
    "Bagaimana Karebet?" tanya Wasis setelah Karebet berada didekatnya.
    "Sudah selesai, aku sudah menghadap Kanjeng Sultan" kata Karebet.
    "Nah kalau begitu tugasku sudah selesai, aku akan pulang ke rumahku dan aku akan tidur sampai sore, baru besok pagi aku bertugas lagi" kata Wasis, lalu iapun meninggalkan Wira dan Karebet yang masih berada di depan pintu masuk ruang dalam.
    Setelah Wasis tidak terlihat lagi, Karebetpun kemudian bertanya kepada Wira :"Wira, kalau prajurit Tumpak saat ini betugas dimana Wira?"
    "Tumpak saat ini bertugas di depan Kaputren" jawab Wira.
    "Baiklah Wira, aku sedang ada keperluan dengan Tumpak, aku akan menemuinya ke Kaputren sebentar" kata Karebet.
    "Silakan" kata Wira.

    Karebetpun kemudian berjalan menuju Kaputren untuk menemui Tumpak.
    Langkah Karebetpun terhenti ketika dari kejauhan terllihat seorang perempuan yang telah dikenalnya, berjalan menuju ke arah ruang dalam.
    Ketika melihat Karebet, perempuan itu, yang ternyata adalah Nyai Madusari, tersenyum dan berjalan menghampiri Karebet.
    "Karebet, kau tunggu didepan Kaputren, aku akan ke Kanjeng Prameswari, minta ijin, Gustri Putri Sekar Kedaton akan menghadap ibundanya" kata Nyai Madusari.
    Belum sempat Karebet menjawab, dengan tergesa-gesa Nyai Madusari telah bejalan meninggalkannya menuju ruang dalam.
    Karebetpun kemudian berjalan ke Kaputren, dan disana terlihat Tumpak dan seorang temannya bertugas disana.
    Ketika melihat Karebet, Tumpakpun kemudian tersenyum dan meyapa sahabatnya :"Karebet, kau dipanggil Kanjeng Sultan?"
    "Ya, aku baru saja menghadap Kanjeng Sultan di ruang dalam" kata Karebet.
    "Kau berangkat kemarin?" tanya Tumpak.
    "Ya, aku bersama Wasis" kata Karebet.

    Tumpakpun melihat ke arah ruang dalam, dan terlihat Nyai Madusari berjalan tergesa-gesa menuju Kaputren.
    "Sebentar lagi Nyai Madusari masuk ke Kaputren" kata Tumpak.
    "Ya" kata Karebet sambil tersenyum.
    "Sebentar lagi Gusti Putri pasti keluar menuju ruang dalam menemui ibundanya" kata Tumpak.
    Karebet mengernyitkan dahinya, lalu Tumpakpun menyambung perkataannya.
    "Ya karena kau berada disini" kata Tumpak.
    Karebetpun juga tertawa mendengar perkataan Tumpak.
    Nyai Madusaripun berjalan masuk ke pintu Kaputren, tak lama kemudian pintupun terbuka kembali, dan keluarlah Nyai Madusari beserta Sekar Kedaton Gusti Putri Mas Cempaka.
    Nyai Madusari lalu berjalan menuju ke arah Tumpak yang sedang berdiri di seberang gerbang kaputren, sedangkan Karebet berjalan mendekati Gusti Putri Sekar Kedaton.
    Ketika Putri Sekar Kedaton Mas Cempaka melihat Karebet mendekatinya, wajah Gusti Putri Sekar Kedaton begitu cerah, senyumnya mengembang tiada henti.

    "Kau selamat kakangmas ?" kata Sekar Kedaton Gusti Putri Mas Cempaka, ketika Karebet telah berada di dekatnya.
    "Ya diajeng, aku baik-baik saja, bagaimana keadaanmu diajeng, setelah aku tinggal ke Pajang" kata Karebet.
    "Ya kakangmas, aku selalu sehat, dan aku selalu menunggu kabar keselamatanmu dari prajurit yang datang dari Pajang"
    "Ketika Tumpak pulang dari Pajang, apakah dia mengabarkan keadaanku kepada Nyai Madusari"
    "Ya kakangmas, dan aku senang sekali mendengar kabar tentang kakangmas dari Pajang dan aku sudah tahu kalau hari ini kakangmas akan datang di Demak"
    "Ya diajeng, kemarin prajurit Wasis datang ke Pajang, dan kata Wasis aku dipanggil menghadap Kanjeng Sultan"
    "Aku sudah diberi tahu rencana ayahanda Sultan, pada hari Anggara Kasih, dalam pisowanan agung nanti, kakangmas akan dilantik menjadi adipati Pajang"
    "Ya diajeng, setelah itu tiga pasar setelah pisowanan agung, aku akan melamar diajeng" kata Karebet.
    "Tidak lama lagi kakangmas" kata Sekar Kedaton sambil tersenyum.
    "Ya diajeng, tidak lama lagi" kata Karebet.
    "Kakangmas, pada pisowanan agung nanti, kakangmas berangkat dari Pajang tanpa pengawal? Sebaiknya kakangmas berangkat ke Demak dengan dikawal calon warangka praja kadipaten Pajang"
    "Ya diajeng, nanti aku berangkat bersama dua orang yang selama ini membantu mendirikan kadipaten Pajang" kata Karebet.

    Gusti Putri menganggukkan kepalanya, lalu iapun berkata kepada Karebet :"Kakangmas, aku akan menghadap ibunda Kanjeng Prameswari sekarang, nanti ibunda terlalu lama menunggu"
    Karebet tersenyum, katanya :"Silakan diajeng, aku juga pamit akan pulang ke Pajang"
    "Kakangmas akan langsung pulang ke Pajang?" tanya Sekar Kedaton.
    "Tidak diajeng, aku akan singgah dulu di Kadilangu, ketempat Kanjeng Sunan Kalijaga" kata Karebet.
    "Ya kakangmas, aku menghadap ibunda sekarang" kata Sekar Kedaton Gusti Putri Mas Cempaka, lalu iapun memanggil Nyai Madusari untuk mengantar ke ruang dalam.
    Nyai Madusaripun kemudian meninggalkan Tumpak, lalu keduanya berjalan menuju ruang dalam, ke ruangan Kanjeng Prameswari.
    Ketika Sekar Kedaton dan Nyai Madusari sudah tidak terlihat lagi, Karebetpun berjalan mendekati sahabatnya, prajurit yang sedang berjaga di kaputren, Tumpak.
    Sementara itu, pada saat yang bersamaan, di ruang dalam, Kanjeng Sultan sedang dihadap oleh dua orang Tumenggung yang duduk bersila dihadapannya, Tumenggung Gajah Birawa dan Tumenggung Siung Laut.
    Kedua Tumenggung itu dipanggil Kanjeng Sultan, sesaat setelah Karebet keluar dari ruang dalam.
    "Tumenggung Gajah Birawa" kata Kanjeng Sultan.
    "Dawuh dalem Kanjeng Sultan" kata Tumenggung Gajah Birawa.
    "Dan kau Tumenggung Siung Laut" kata Sultan Trenggana.
    "Dawuh dalem Kanjeng Sultan.
    "Kalian berdua aku panggil, sehubungan dengan beberapa persoalan yang sudah lama aku rencanakan, dan akan aku laksanakan dalam waktu dekat ini" kata Kanjeng Sultan.

    Kedua Tumenggung itupun bersiap mendengarkan titah Kanjeng Sultan Trenggana.
    "Kalian sudah mendengar nanti pada hari Anggara Kasih, pada saat pisowanan agung, aku akan mengangkat Penangsang sebagai adipati Jipang dan mengangkat Karebet sebagai adipati Pajang" kata Sultan Demak, lalu Kanjeng Sultanpun berkata :"Setelah itu, tiga pasar setelah pisowanan agung, adipati Pajang akan melamar anakku Sekar Kedaton"
    "Dua tiga pasar setelah itu, maka aku akan menikahkan anakku dengan Adipati Pajang, sepasar setelah pahargyan pengantin, anakku Sekar Kedaton akan diboyong pindah ke Pajang" kata Kanjeng Sultan, lalu Kanjeng Sultan berhenti sebentar, mengamati wajah Tumenggung Gajah Birawa dan Tumenggung Siung Laut.
    "Tumenggung Gajah Birawa, seperti ada yang akan kau tanyakan?" kata Kanjeng Sultan.
    "Sendika dawuh Kanjeng Sultan, kalau boleh hamba bertanya, sepertinya waktu pelantikan adipati, lalu melamar Sekar Kedaton dan waktu pahargyan pengantin, apakah jaraknya memang dibuat terlalu pendek ?" tanya Tumenggung Gajah Birawa.
    "Ya, itu semua memang aku sengaja, memang aku percepat, karena berkaitan dengan rencanaku selanjutnya yaitu menggempur Panarukan, nah sekarang kau Tumenggung Siung Laut, bagaimana dengan tugas yang aku berikan kepadamu?" tanya Kanjeng Sultan kepada Tumenggung Siung Laut.
    "Sendika dawuh Kanjeng Sultan, dari tiga puluh perahu yang masih tersisa, yang pernah dipakai oleh Pangeran Sabrang Lor, hampir semuanya bisa diperbaiki oleh para pembuat perahu dari Wedung" kata Ki Tumenggung.

    Tumenggung Siung Laut berhenti sebentar, lalu iapun menjelaskan lagi :"Perahu-perahu yang bisa diperbaiki sebanyak dua puluh tujuh perahu, sedangkan tiga buah perahu sudah tidak bisa diperbaiki lagi karena kerusakannya terlalu parah" kata Tumenggung Siung Laut.
    "Bagus, dua puluh tujuh perahu yang bisa diperbaiki, cukup untuk menggempur Panarukan dari laut" kata Sultan Trenggana :"Tumenggung Siung Laut, sekarang perahunya kau simpan dimana?"
    "Perahu itu sebagian berada di daerah Wedung dan sebagian lagi berada di daerah Keling" kata Ki Tumenggung.
    "Bagamana dengan pasukan laut mu, apakah masih bersemangat tinggi untuk bertempur di bang wetan ?" tanya Sultan Trenggana.
    "Ya Kanjeng Sultan, mereka masih bersemangat dan masih cukup banyak untuk memenuhi perahu-perahu itu" kata Tumenggung Siung Laut.
    "Nanti aku sendiri yang akan menjadi Senapati Agung, aku yang akan memimpin prajurit Demak segelar sepapan untuk menuju Bang Wetan, sedangkan yang menjadi Senapati Pengapit, yang memimpin para prajurit laut adalah Tumenggung Siung Laut" kata Kanjeng Sultan.
    "Sendika dawuh Kanjeng Sultan" kata Tumenggung Siung Laut.

    (bersambung)

Kamis, 25 September 2014

KERIS KYAI SETAN KOBER 22

KERIS KYAI SETAN KOBER 22

BAB 8 : BABAT ALAS 3

Karya : Apung GWAP

Mataharipun muncul dari balik punggung bukit, sinarnya menerobos dedaunan yang tumbuh di lereng gunung Lawu.
Di pagi hari yang dingin, tiga puluh orang murid perguruan Sekar Jagad menuruni lereng gunung Lawu menuju ke utara, dipimpin oleh murid utama Panembahan Sekar Jagad, Sorengrana.
Sorengranapun teringat, tadi malam Panembahan Sekar jagad mengumpulkan semua murid-muridnya di pendapa, dan panembahan menyampaikan keinginannya agar tiga puluh murid perguruan Sekar Jagad bisa menjadi prajurit pilihan Kadipaten Jipang.
Beberapa orang memilih untuk tetap tinggal di padepokan, sedangkan tiga puluh orang lainnya memilih berangkat ke Jipang dengan bertekad merubah hidup menjadi lebih baik lagi, sebagai prajurit Kadipaten Jipang.

"Ternyata Panembahan Sekar Jagad memikirkan masa depan para murid perguruan Sekar Jagad, mereka diarahkan menjadi prajurit Kadipaten Jipang, siapa tahu kalau Kadipaten Jipang bissa menjadi besar, beberapa orang dari murid perguruan Sekar Jagad yang menjadi perintis berdirinya prajurit Jipang bisa menjadi seorang Panji atau Tumenggung" kata Sorengrana dalam hati.
Mereka berjalan terus, beriringan menuruni jalan di kaki gunung Lawu, beberapa orang diantaranya membawa bungkusan berisi bekal makanan, dan disetiap lambung mereka tergantung sebuah pedang pendek.

Hari itu adalah hari yang sibuk, tetapi matahari tetap bergerak dari timur menuju ke arah barat, dan panas sinarnyapun mulai menyebar diseluruh bumi Demak.
Di daerah Kalinyamat yang dekat dengan bandar Jepara, Pangeran Hadiri sibuk membantu pembangunan pesanggrahan yang akan digunakan sebagai tempat kediamannya, dalem Kalinyamat.
Sebagai pewaris tahta Kasultanan Demak urutan kedua, Pangeran Hadiri yang menjadi menantu Sultan Trenggana, sudah ber angan-angan untuk tinggal di Kalinyamat, dan iapun berkata kepada istrinya, putri Sultan Demak yang kedua :"Nanti disana diajeng akan menjadi seorang ratu, Ratu Kalinyamat"
Dengan penuh semangat, Pangeran Hadiri ikut membantu pekerjaan pembangunan pesanggrahannya.
Puluhan rakyat Kalinyamat yang ikut gugur gunung merasa senang, melihat Pangeran Hadiri yang tidak segan-segan bekerja membaur dengan mereka.
Petugas dari Demak bersama Pangeran Hadiri bersama puluhan rakyat Kalinyamat, menebang beberapa pohon jati di hutan yang terletak di dekat kaki gunung Muria di sebelah barat, lalu beramai ramai mereka mendorong dan menyeret kayu jati yang tidak terlalu besar, setelah dibawah kayu jati yang akan diseret itu diberi kayu bundar yang tidak terlalu panjang, sehingga kayu jati itupun dengan mudah di dorong dan digeser selangkah demi selangkah menuju Kalinyamat.

Demikian juga suasana dipinggir hutan Prawata, Pangeran Arya yang sering disebut juga Bagus Mukmin, anak sulung Sultan Trenggana, putra mahkota pewaris tahta Kasultanan Demak, masih disibukkan dengan pekerjaan membangun pesanggrahan dalem Prawata.
Sebagai pewaris tahta Kasultanan Demak, Pangeran Arya tetap bisa membantu orang-orang bekerja, meskipun sedikit terhambat karena ia mempunyai cacat mata, matanya hampir buta, tetapi masih bisa melihat meskipun samar-samar, sedangkan disampingnya selalu berdiri orang kepercayaannya, dan dipinggang Bagus Mukmin selalu terselip keris pusakanya yang tidak pernah terpisah dari tubuhnya, keris Kyai Bethok.
"Aku harus selalu dekat dengan pusakaku keris Kyai Bethok, karena aku tidak bisa melihat dengan jelas. Nanti aku akan tinggal di Prawata, dan aku akan senang, jika nanti rakyat disini memanggilku dengan sebutan Sunan Prawata" kata Pangeran Arya.
Meskipun Pangeran Arya yang lebih senang disebut sebagai Sunan Prawata tidak bisa bekerja karena matanya hampir buta, tetapi dengan membaurnya dia ke rakyat Prawata, maka rakyat yang sedang gugur gunungpun merasa senang, dan merasa diperhatikan oleh putra mahkota Kasultanan Demak.
Bersama beberapa petugas yang dikirim dari Demak, maka rakyat Prawata menebang beberapa pohon jati yang banyak terdapat di hutan Prawata.

Sementara itu di Pajang, Karebet mengendarai kudanya berkeliling, melihat dan membantu orang-orang yang bekerja menebang pohon di hutan sebelah barat Pajang, mencetak bata di wetan kali dan membuat ompak di dekat umbul Pengging.
Ketika matahari hampir tenggelam di cakrawala sebelah barat, orang-orang yang sedang beristirahat di gubug bulak amba melihat ada sebuah pedati yang ditarik oleh dua ekor sapi yang datang dari utara.
Karebet, Lurah Wiguna dan beberapa orang lainnya berdiri dan menyambut kedatangan sebuah pedati yang berjalan perlahan-lahan.
Ketika jarak pedati sudah dekat, Karebetpun tersenyum melihat kedua pembantu biyungnya Nyai Ageng Tingkir, Suta dan Naya duduk berdua di atas pedati.
Pedati berhenti ketika sudah berada di sebelah gubug, Suta dan Nayapun segera turun, kemudian mereka berduapun berjalan menuju ke gubug.
"Selamat datang Ki Suta dan Ki Naya" kata Lurah Wiguna.
"Ya Ki Lurah" kata Suta yang sudah mengenal Lurah Wiguna karena Ki Lurah pernah menginap di Tingkir.
"Bagaimana keadaan biyung paman" tanya Karebet.
"Yah biyungmu masih tetap seperti kemarin, masih sering lupa" kata Naya.
Beberapa orang merawat dua ekor sapi yang kelelahan dan memberinya minum, sedangkan beberapa orang yang lain sibuk menurunkan muatan pedati.
"Aku hanya membawa beras" kata Suta kepada Karebet.
"Tidak apa-apa paman, sekarang silahkan paman membersihkan diri dulu disungai di belakang gubug ini" kata Karebet.

Suta dan Nayapun lalu membersihkan dirinya disungai yang terletak di belakang gubug itu.
Karebet yang ikut menurunkan beras dari atas pedati, melihat Ki Lurah menuju ketempatnya, sehingga Karebetpun meletakkan berasnya.
"Ada apa Ki Lurah?" tanya Karebet.
"Prajurit Tumpak dari Wira Tamtama dan prajurit Banu dari Wira Mangala, besok bisa kembali ke kotaraja, karena di Pajang ternyata para bebahu tidak ada yang mengabaikan titah Kanjeng Sultan Trenggana" kata Lurah Wiguna.
"Silahkan Ki Lurah" kata Karebet.
"Nanti tanggung jawab bendera Gula Kelapa yang berada di sini adalah tanggung jawab saya, dan kalau ada persoalan dengan para bebahu, nanti biar saya yang menyelesaikannya. Bagaiman kalau mereka ikut pedati yang akan kembali ke Tingkir besok pagi ?" tanya Lurah Wiguna.
"Silahkan Ki Lurah" jawab Karebet.
Ki Lurah berhenti sebentar, lalu iapun berkata lagi :"Pedatinya besok berangkat dari sini pagi hari, sore atau malam hari  sudah bisa sampai di Tingkir"
"Ya, besok malam, Tumpak dan Banu biar tidur di rumah biyung di Tingkir saja" kata Karebet.
"Ya, terima kasih" kata Lurah Wiguna, lalu iapun masuk kedalam gubug lagi.
Setelah ditinggal Ki Lurah, maka Karebet melanjutkan pekerjaannya lagi, mengangkat beras ke dalam gubug, setelah itu, maka Karebetpun berjalan mencari Tumpak.
Ketika bertemu dengan Tumpak, maka Tumpakpun berkata :"Karebet, tugasku sudah selesai, besok pagi aku bersama Banu kembali ke kotaraja"

"Terima kasih Tumpak, Ki Lurah Wiguna sudah berbicara padaku. Kau besok akan naik pedati bersama paman Suta dan paman Naya" kata Karebet.
"Ya, sampai desa Tingkir" kata Tumpak :"Kau menginap di Tingkir saja, dirumah biyung"
"Ya, terima kasih, tidur di rumah Nyai Ageng Tingkir lebih baik dari pada tidur di hutan" kata Tumpak sambil tertawa.
Lalu Karebet berkata lirih kepada Tumpak :"Jangan lupa, kalau sampai di kotaraja, ceritakan pembangunan dalem Kadipaten Pajang kepada Nyai Madusari, aku disini baik-baik saja. Katakan juga kepada Nyai Madusari, di sini, semua pekerjaan lancar, banyak sahabat yang membantu mengirim bahan pangan maupun membantu tenaga" kata Karebet.
"Ya" kata Tumpak, lalu iapun bertanya :"Nanti kau akan membentuk prajurit Kadipaten Pajang?"
Karebetpun menjawab :"Ya, Kadipaten Pajang harus punya prajurit sendiri, wilayahnya juga luas, desa Butuh dan Pengging juga termasuk didalam Kadipaten Pajang"
"Ya" kata Tumpak, lalu merekapun berbincang-bincang sampai malam hari.

Malam itu masih seperti malam-malam kemarin, suasana gelap di daerah di Pajang, Kalinyamat, Prawata, dan di Jipang, hanya terlihat kerlip bintang di angkasa.
Tetapi menjelang tengah malam, di Jipang ada kesibukan kecil, tiga puluh orang murid perguruan Sekar Jagad telah tiba di Jipang, setelah melakukan perjalanan jauh dari lereng gunung Lawu.
Didepan sendiri, berjalan Sorengrana, yang langsung disambut oleh Matahun dan Rangkud, lalu merekapun dipersilahkan membersihkan diri di sumur, setelah itu dipersilahkan beristirahat di pendapa.
Tukang adangpun mempersilahkan mereka untuk makan dan minum, ada beberapa orang yang mengambil makanan, namun ada pula yang langsung merebahkan badannya dan tak lama kemudian terdengarlah suara dengkurnya memenuhi pendapa.
Jipangpun telah mendapat tambahan tiga puluh tenaga segar, tenaga yang mempunyai kemampuan olah kanuragan, untuk membantu membangun dalem Kadipaten dan nantinya mereka direncanakan akan menjadi prajurit pillihan Kadipaten Jipang.

Demikianlah, tak terasa hampir satu candra pembangunan dalem kadipaten di Pajang dan Jipang, serta pembangunan pesanggrahan di Kalinyamat dan Prawata.
Dengan segala permasalahannya, hampir semua pekerjaan berjalan lancar tanpa ada hambatan yang berarti.
Para prajurit Wira Tamtama dan Wira Manggala yang ikut berperan sejak awal pembangunan, semuanya telah kembali ke kotaraja Demak.
Di Pajang dan Jipang, bangunan dalem kadipaten dan ruang paseban, terlihat tiang saka yang berdiri tegak, yang masing-masing bangunan ada empat buah kayu saka, yang berdiri dengan disokong beberapa kayu yang ukurannya lebih kecil serta ditarik dengan belasan tali besar yang terpilin kuat.
Empat buah tiang kayu sudah berdiri tegak diatas ompak. Bagian atas tiangpun sudah dikunci dengan diberi pasak kayu yang kuat, dikaitkan dengan kayu yang melintang antara saka yang satu dengan saka lainnya.
Malam itu Karebet duduk didepan gubug dekat perapian bersama Lurah Wiguna, memandang delapan buah tiang saka yang sudah berdiri.

"Empat buah tiang utama telah berdiri, tetapi pekerjaan kita masih banyak, kita harus mendirikan tiang-tiang  yang berukuran kebih kecil, bata kita yang sudah jadi puluhan ribu belum dibakar" kata Lurah Wiguna.
"Ya, tapi tidak seberat mendirikan empat buah tiang utama" kata Karebet.
Lurah Wiguna menganggukkan kepalanya, malampun semakin larut, semakin sepi, hanya terdengar suara burung kedasih dipohon disebelah barat bulak amba
"Ada suara burung kedasih" kata Ki Lurah Wiguna.
Karebet tidak menjawab, seakan dia tidak memperhatikan suara burung kedasih yang terdengar sampai di gubugnya.
"Ki Lurah, aku akan ke sungai sebentar" kata Karebet.
"Silahkan" kata Lurah Wiguna
Karebetpun segera berdiri dan iapun segera berjalan menuju ke arah sungai.
Setelah Karebet berada dikegelapan bayangan pohon, dengan tangkasnya ia melompat dan berlari menuju ke arah suara burung kedasih yang suaranya terdengar dari arah barat.
Setelah agak jauh dari gubug, dijalan yang menuju hutan jati, suara burung kedasih berbelok kearah selatan, maka Karebetpun kemudian berbelok ke kiri.

Tidak terlalu jauh Karebet berjalan, didepannya telah berdiri dibawah pohon, seseorang yang memakai caping, terlihat seperti sedang menunggunya.
Karebetpun waspada, tidak tertutup kemungkinan dia salah duga, ada kemungkinan orang itu bukan orang yang ditunggunya.
Tetapi Karebet menarik nafas lega ketika mendengar orang itu berkata :"Karebet"
Karebet hafal dengan suara orang itu, suara uwanya Kebo Kanigara.
Karebetpun maju kedepan, lalu diciumnya tangan uwanya, dan merekapun lalu duduk di sebuah batu besar.
"Bagaimana Karebet, kau selamat ?" tanya Kebo Kanigara.
"Ya wa, atas doa restu siwa saya sehat" jawab Karebet.
"Pekerjaanmu lancar ?" tanya uwanya.
"Ya wa, lancar, banyak sahabat yang sejak awal membantu pembangunan dalem Kadipaten" kata Karebet.
"Siapa saja mereka?"
"Dari Sela, yang datang ke Pajang adalah kakang Pemanahan, kakang Penjawi, kakang juru Martani ditambah Sutawijaya" kata Karebet.
"Bagus, siapa lagi?"

"Dari Banyubiru, ada Ki Majasta, Ki Wuragil, Mas Manca dan Jaka Wila" jawab Karebet.
Kebo Kanigarapun tersenyum puas, mendengar banyak sahabat yang membatu berdirinya Kadipaten Pajang.
"Ki Ageng Butuh dan Ki Ageng Ngerang juga datang kemari" kata Karebet melanjutkan ceritanya.
"Ya bagus, lalu bahan pangan dari mana ?" tanya uwanya.
"Mereka membawa beras dan lainnya, dari Tingkir juga dua kali mengirim bahan pangan yang dimuat di pedati, ini sudah hampir habis, nanti akan saya ambilkan dari Pengging" kata Karebet.
"Bagus, lumbung di Pengging masih penuh berisi padi, ambil saja, bawa kemari" kata Kebo Kanigara.
"Siwa dari kotaraja Demak ?" tanya Karebet
"Dari kotaraja, lalu aku beberapa hari berada di Jipang" kata uwanya.
"Siwa dari Jipang?"
"Ya, aku dari Jipang" jawab Kebo Kanigara.
"Bagaimana perbandingan perkembangan pembangunan dalem kadipaten di Jipang wa ?" tanya Karebet kepada Kebo Kanigara.

"Sama seperti di Pajang, tiang saka dalem kadipaten Jipang sudah berdiri, setelah itu mereka akan mengerjakan pekerjaan mendirikan tiang-tiang yang kecil di sekelilingnya" kata uwanya.
Karebetpun mendengarkan cerita Kebo Kanigara tentang apa yang dilihatnya di Jipang.
"Kau ketinggalan selangkah Karebet, ada puluhan murid-murid perguruan Sekar Jagad dari lereng gunung Lawu yang ikut membantu pembangunan di Jipang, dan aku mendengar dari salah seorang penduduk Jipang, mereka nantinya akan dijadikan prajurit Kadipaten Jipang" kata uwanya
"Tetapi di Pajang juga mendapat bantuan beberapa orang dari Sela dan dari Banyubiru, jadi pembangunan kadipaten Jipang dan Pajang sama-sama mendapat bantuan tenaga dari luar wa" kata Karebet.
"Ya, tetapi kau belum menghitung kalau Panembahan Sekar Jagad ikut bergabung ke Jipang, Panembahan Sekar Jagad kakak seperguruan dari Matahun itu benar-benar berbahaya. Ilmu kanuragan Matahun saja sudah mumpuni, apalagi kakak seperguruannya, ilmunya luar biasa" kata Kebo Kanigara.
"Dia berilmu tinggi, dalam tubuhnya penuh berisi bermacam-macam aji jaya kawijayan guna kasantikan, susah untuk mengalahkannya, tapi kemarin aku sudah mencarinya berkeliling, aku tidak melihat dia berada di Jipang" kata Kebo Kanigara.

Karebet mendengarkan semua ucapan dari Kebo Kanigara tentang Panembahan Sekar Jagad, seorang pemimpin perguruan di lereng gunung Lawu, yang membantu pembangunan kadipaten jipang, dengan mengirim puluhan murid-muridnya ke Jipang.
Diam diam Karebetpun membandingkan ilmu kanuragan Panembahan Sekar Jagad dengan ilmu perguruan Pengging yang dimiliki oleh uwanya Kebo Kanigara.
"Apakah siwa Kebo Kanigara kalau perang tanding seorang lawan seorang mampu mengalahkan Panembahan Sekar Jagad ?" tanya Karebet dalam hati :"Siwa Kebo Kanigara adalah satu-satunya orang yang mampu menuntaskan ilmu tertinggi dari perguruan Pengging"
Setelah keduanya berdiam diri, maka sesaat kemudian Kebo Kanigarapun berkata :"Kau tidak boleh ketinggalan terlalu jauh dengan Jipang, mulai besok kau harus mulai memillih para pemuda Pajang yang nanti bisa kau latih menjadi prajurit Pajang"
"Baik wa" jawab Karebet.

"Selain itu, sekarang aku membawa keris pusaka yang dulu pernah menjadi sipat kandel Kadipaten Pengging Kyai Naga Siluman, yang pernah aku ceritakan kepadamu" kata Kebo Kanigara kemudian mengambil sebuah bungkusan yang selalu dibawanya, lalu mengeluarkan sebuah keris pusaka yang masih terbungkus sebuah kain putih, itulah keris pusaka Kyai Naga Siluman, lalu oleh Ki Kebo Kanigara, keris itupun di berikan kepada Karebet.
"Aku wariskan keris pusaka kyai Naga Siluman, pusaka Kadipaten Pengging Witaradya ini kepadamu Karebet, dan jadikan keris pusaka ini salah satu sipat kandel Kadipaten Pajang" kata uwanya.
Dengan kedua tangannya, Karebet menerima keris itu, dalam hati Karebet terasa betapa senangnya karena telah mempunyai sebuah sipat kandel untuk kadipaten yang dibangunnya.
"Terima Kasih wa" kata Karebet..
Lalu keris itupun diselipkan di pinggangnya, dan disembunyikan dibalik bajunya.
"Simpanlah keris itu ditempat yang sangat tersembunyi jangan sampai ada seorangpun yang tahu, atau kalau tidak kau sembunyikan, pakailah keris itu dan jangan pernah terlepas dari tubuhmu" kata uwanya.
"Ya wa" kata Karebet.
"Aku akan selalu berada didekat Pajang dan akan sering menghubungimu" kata uwanya.
"Bagaimana kalau ada sesuatu yang penting dan saya harus menghubungi siwa?" tanya Kaebet.
"Pergilah kau ke Pengging, kau bisa bilang kepada pembantu kita ki Purwa, kalau kau ingin ketemu aku" kata uwanya.
"Baik wa"
"Kalau begitu kita berpisah Karebet, kau kembalilah ke gubugmu" kata uwanya.

Karebetpun lalu mencium tangan uwanya, dan merekapun berjalan terpisah, Karebetpun kembali ke bulak amba.
Kaki Karebet berjalan cepat, ketika samar-samar terlihat ada sebuah pohon beringin liar, maka Karebetpun segera menuju kesana.
Dibawah pohon beringin liar, Karebetpun menajamkan semua kemampuan indranya, dan kemampuan panggrahitanya, setelah ia merasa tidak seorangpun yang berada disana, maka dengan berpegangan beberapa sulur beringin yang kuat, Karebetpin naik ke pohon beringin liar itu,dan meletakkan keris Kyai Naga Siluman di tempat yang tersembunyi.
"Besok akan aku kembali ke pohon beringin liar ini, akan aku buatkan sebuah kotak dari kayu atau dari bumbung besar, untuk tempat keris pusaka" kata Karebet dalam hati.  
Karebetpun lalu turun kebawah dan melanjutkan perjalanan ke bulak amba,
Saat itu keadaan di gubug sudah sepi, perapian sudah padam, Karebetpun masuk ke gubug dan merebahkan badannya, beberapa saat kemudian Karebetpun telah berayun dalam mimpi.
Gelap menyelimuti semua bumi Demak, hanya suara cengkerik yang terdengar tanpa henti memecah keheningan malam, hingga tiba saatnya bias cahaya Sang Bagaskara perlahan-lahan mulai terlihat di langit bang wetan.

Pagi itu di bumi Pajang, semua orang terlihat sibuk bekerja, dibulak amba, Karebetpun melihat orang-orang Pajang tua maupun muda melakukan gugur gunung mendirikan beberapa tiang di beberapa sudut dengan menggunakan kayu yang ukurannya lebih kecil dibandingkan dengan tiang saka.
Beberapa orang sedang bekerja mengangkat beberapa ompak lalu meletakkannya ditempat yang akan didirikan tiang.
Pembuatan puluhan ompak sudah selesai beberapa hari yang lalu, dan semua ompak sudah dibawa dari Pengging menuju Pajang dengan mengunakan pedati.
Wuragil dan Jaka Wilapun berserta orang-orang dari Pajang, telah selesai membuat ompak di rumah Truna Ompak di Pengging dan kembali bekerja di Pajang membangun dan mendirikan dalem Kadipaten.
"Pajang tidak boleh terlalu jauh ketinggalan dari Jipang, baik pembangunan dalem kadipaten maupun kemampuan para prajurit" tekad Karebet dalam hati
"Jipang saat ini telah mempunyai puluhan calon prajurit yang berasal dari murid-murid perguruan Sekar Jagad, yang telah lama berlatih olah kanuragan" kata Karebet dalam hati.
Karebetpun kemudian mengedarkan pandangannya berkelilng, dilihatnya ada dua orang pemuda berbadan tegap sedang mengangkat sebuah ompak.

Karebet mendekati mereka, dan setelah kedua pemuda itu meletakkan ompak yang dibawanya, maka Kerebetpun menepuk bahu kedua pemuda itu.
"Siapa namamu ?" tanya Karebet.
"Saya, Wage" jawab salah seorang dari mereka.
"Yang satu lagi siapa namamu ?" tanya Karebet kepada pemuda yang disebelahnya.
"Saya, Waras" kata pemuda itu.
"Kalau kadipaten Pajang sudah berdiri, nanti akan dibentuk beberapa pasukan prajurit, diantaranya kesatuan Wira Tamtama dan Wira Manggala, apakah kalian semua bersedia menjadi prajurit Wira Tamtama ?" tanya Karebet.
"Menjadi prajurit Wira Tamtama ? Mau, aku mau menjadi prajurit Wira Tamtama Kadipaten Pajang" kata salah seorang dari mereka.
"Kalau kau, apakah kau mau menjadi seorang prajurit ?" tanya Karebet kepada pemuda yang disebelahnya.
"Mau" jawab Waras.
"Baik, nanti setelah Kadipaten Pajang berdiri, akan diadakan pendadaran untuk menjadi prajurit" kata Karebet.
"Diadu melawan seekor kerbau?" tanya Wage.
"Tidak, pendadarannya adalah, lari, melompat, merayap, naik ke sebuah pohon dan berenang menyeberangi sungai" jawab Karebet.

"Aku akan ikut pendadaran" kata Wage beremangat.
"Aku juga ikut pendadaran" kata Waras.
"Ya beritahukan ini ke teman-temanmu" setelah berkata demikian, Karebetpun meninggalkan mereka, dan iapun masih bertanya kepada beberapa pemuda yang lain, dipilihnya beberapa pemuda yang berbadan tegap, dan ditawarinya untuk menjadi prajurit
Ketika dilihatnya Lurah Wiguna bersama beberapa orang sedang mengangkat sebatang kayu, maka Karebetpun menghampirinya.
"Ki Lurah, aku tinggal sebentar, aku akan pergi ke Pengging, persediaan beras kita perlu dipasok lagi satu atau dua pedati" kata Karebet.
"Ya, silahkan" kata Lurah Wiguna.
Karebetpun lalu menyiapkan kudanya, dan tak lama kemudian seekor kuda telah berlari meninggalkan Pajang menuju Pengging.

Di perjalanan, Karebet memacu kudanya tidak terlalu kencang, jalan yang sedikit menanjak tidak mempengaruhi kecepatan kuda yang ditumpanginya.
Ketika kudanya memasuki desa Pengging, maka lari kuda agak diperlambat, lalu kudanyapun dibelokkan memasuki halaman rumahnya.
Karebetpun kemudian turun dan naik ke pendapa, dan dari dalam keluar seorang pembantu tua yang setia, Ki Purwa.
"Siwa sedang apa ?" tanya Karebet.
"Sedang membelah kayu bakar, kau mau minum kelapa muda ngger, nanti aku ambilkan" kata Ki Purwa.
"Siwa masih kuat naik pohon kelapa?" tanya Karebet.
"Sehari naik pohon kelapa tiga kalipun aku masih kuat" kata pembantunya.
"Tidak usah wa, aku tidak haus" kata Karebet.
"Kau akan ke rumah Truna Ompak ngger ?" tanya pembantunya.
"Tidak wa, pekerjaan membuat ompak telah selesai" jawab Karebet, iapun berhenti sebentar, lalu iapun bertanya :"Lumbung kita isinya masih banyak wa?"
"Hampir penuh"

"Tolong besok siwa bisa menyuruh orang untuk menumbuk padi, atau kalau padinya kurang, kita beli dari beberapa orang tetangga, setelah itu siwa bisa menyuruh orang untuk mengirim ke Pajang dengan menggunakan pedati, siwa bisa mengirim dua kali" kata Karebet.
"Baik ngger" pembantunyapun bersedia untuk mengirim beras ke Pajang.
"Wa, dulu kita punya kotak kayu kecil yang berisi beberapa barang peninggalan ayah Ki Kebo Kenanga, sekarang kotak itu berada dimana ?" tanya Karebet.
"Masih ada, kotak kayu itu masih saya simpan" kata Ki Purwa.
"Coba wa, bawa kesini kotaknya"

Pembantunyapun kemudian pergi kebelakang dan tak lama kemudian iapun datang dengan membawa kotak kayu yang ukurannya tidak terlalu besar, lalu kotak itupun diberikan kepada Karebet, dan Karebetpun menerima kotak kayu sambil berkata dalam hati :"Kotak ini cukup untuk tempat keris Kyai Naga Siluman"
Karebetpun membuka kotak kayu dan mengeluarkan isinya, yang berupa beberapa perhiasan yang dulu pernah dipakai Nyai Ageng Pengging.
"Wa, aku butuh kotak ini, kotak ini akan saya bawa ke Pajang, dan perhiasan ini supaya kau simpan lagi, masukkanlah ke dalam sebuah bumbung" kata Karebet.
"Baik ngger" kata uwa pembantunya, lalu iapun mengambil sebuah kantung kain dan kotak itupun dimasukkan kedalamnya.
Karebetpun menerima bungkusan itu dan iapun kemudian pamit akan ke kembali Pajang
Kembali Karebet naik ke pungung kudanya, dan kuda itupun kemudian berlari ke arah Pajang.
Di perjalanan, dilihatnya beberapa pemuda yang sedang mencangkul sawahnya.
"Daerah Pengging masih termasuk dalam kadipaten Pajang, nanti kalau aku sempat, aku akan berbicara dengan para Pemuda Pengging untuk memberi kesempatan mereka menjadi prajurit Pajang" kata Karebet didalam hatinya.
Kudanyapun masih berlari, dan ketika
Karebet sudah hampir sampai di bulak amba, kudanyapun dibelokkan mendekati sebuah pohon beringin liar.

Setelah memastikan disekelilingnya tidak ada seorangpun, maka sambil membawa bungkusan berisi kotak kayu, Karebetpun kemudian naik ke atas pohon beringin. Diambilnya keris Kyai Naga Siluman yang tadi malam diletakkan disana, lalu dimasukkan kedalam kotak yang dibawanya dari Pengging.
"Sekarang kerisnya aman dari air hujan ataupun embun pagi" kata Karebet sambil menutup kotak kayu itu.
Setelah meletakkan kotak berisi keris Kyai Naga Siluman, ditempat yang tersembunyi, maka Karebetpun turun kebawah, sambil mengelilingi pohon itu, didongakkan kepalanya :"Kotak itu tidak kelihatan, aman, mudah-mudahan tidak ada seorangpun yang tahu"
Sekali lagi Karebet berjalan memutar mengelilingi pohon beringin itu, pandangan matanya melihat kearah tempat penyimpan kotak berisi keris pusaka Kyai Naga Siluman, lalu dipandangnya dahan-dahan pohon itu dari berbagai sudut, dan setelah kotak itu tidak terlihat dari arah manapun, maka Karebetpun kemudian naik ke punggung kudanya dan dilarikannya menuju ke bulak amba.

Saat itu suasana di bulak amba, orang-orang masih disibukkan dengan melakukan kegiatan untuk menyelesaikan pekerjaan pembuatan dalem kadipaten Pajang dan ruang Paseban.
Seekor kuda tertambat disebuah dahan pohon, milik seorang tamu dari kotaraja Demak, tamu seorang prajurit Wira Tamtama utusan Kanjeng Sultan Trenggana yang sedang berbincang dengan Lurah Wiguna.
Ketika kuda yang ditunggangi oleh Karebet mendekati gubug di bulak amba, maka Lurah Wiguna dan tamu dari kotaraja Demak, seorang prajurit Wira Tamtama mendekat menyambut Karebet.
Karebetpun turun dari kudanya lalu berjalan menghampiri Lurah Wiguna dan tamunya.
"Kau Soma" sapa Karebet kepada prajurit Wira Tamtama yang ternyata adalah Soma.
"Ya" kata Soma sambil tersenyum :"Aku diutus Kanjeng Sultan untuk menemui Ki Lurah Wiguna dan menemuimu"
"Dari kotaraja kau pergi sendiri ?" tanya Karebet.
"Aku berangkat berempat, yang ke Pajang aku sendiri, sedangkan tiga orang Wira Tamtama yang lain pergi ke Kalinyamat, Prawata dan Jipang" jawab Soma.
"Berapa hari kau berada di Pajang?" tanya Karebet.
"Besok pagi aku pulang ke kotaraja"
"Cepat sekali, kau disini hanya semalam" kata Karebet.

"Ya, Kanjeng Sultan sudah menunggu laporanku tentang perkembangan pekerjaan pembangunan Kadipaten Pajang, Ki Lurah Wigunapun sudah melaporkannya padaku" kata Soma.
Karebetpun menganggukkan kepalanya, sambil tersenyum puas iapun berkata :"Di Pajang tidak ada persoalan yang berarti, semuanya lancar, pekerjaan berat mendirikan kayu saka sudah bisa dilaksanakan, tinggal pekerjaan selanjutnya yang tidak begitu berat".
"Ya, tadi Ki Lurah juga sudah bercerita tentang pelaksanaan pembangunan, Ki Lurah juga bercerita tidak ada masalah tentang dana yang dipakai untuk membangun Kadipaten" kata Soma.
Merekapun berbincang-bincang dan tak terasa mataharipun telah turun ke cakrawala, dan ketika gelap malam menyelimuti bumi Pajang, empat orang yang berasal dari Sela, Pemanahan Penjawi, Juru Martani beserta Sutawijaya mendekati Karebet lalu Pemanahanpun berkata:"Adi Karebet, besok pagi aku minta ijin, Danang Sutawijaya akan pulang ke Sela, dan akan diantar oleh Ki Juru Martani sedangkan aku dan adi Penjawi akan tetap tinggal disini".
"Silahkan kakang Pemanahan, pengalaman bekerja ikut membangun dalem kadipaten ini sangat berguna bagi Sutawijaya" kata karebet..
"Ya, bagaimanapun dulu aku sudah berjanji kepada kakeknya untuk mengajak Danang ke Pajang selama sebulan, hanya sebulan" kata Pemanahan.
"Danang, hati-hati di perjalanan besok"
kata Karebet kepada Sutawijaya.
"Ya paman Karebet" jawab Sutawijaya.
"Jangan lupa, kau bawa tombak pusakamu Kyai Penatas" kata Karebet.
"Ya paman"

Dan keesokan harinya, tombak pusaka Kyai Penataspun telah berada didalam genggaman tangan Sutawijaya, yang sudah duduk diatas punggung kuda jantan yang gagah.
Badannya yang masih belum sebesar orang dewasa, terlihat agak kecil dibandingkan dengan kuda jantan yang ditungganginya.
Tangannya dengan erat menggenggam tombak Kyai Penatas, itulah Sutawijaya yang berada diatas punggung kudanya, seorang anak yang belum dewasa, tetapi sudah trampil memainkan senjata tombaknya, yang tidak mudah dikalahkan oleh orang dewasa sekalipun.
"Saya pamit dulu adi, suatu saat aku akan kembali ke sini" kata Juru Martani kepada Karebet.
"Ya kakang Juru Martani, pintu kadipaten Pajang akan selalu terbuka untuk kakang Juru Martani, dan tolong sampaikan salam hormat saya kepada Ki Ageng Enis Sela" kata Karebet.
"Baik adi, nanti saya sampaikan kepada Ki Ageng, saya berangkat sekarang adi Karebet" kata Ki Juru Martani, lalu kudanyapun dijalankan, diikuti oleh kuda Sutawijaya, berlari meninggalkan Pajang.
Debu mengepul di belakang kaki dua ekor kuda yang berlari tidak terlalu kencang.
Setelah kedua ekor kuda itu lenyap dari pandangan, maka Somapun segera pamit kepada Karebet akan segera pulang ke Kotaraja.
"Kanjeng Sultan menunggu kabar dariku" kata Soma.
"Ya Soma, tolong titip salam saya kepada Nyai Madusari, dan bilang kalau aku disini baik-baik saja" kata Karebet.
"Baik nanti saya sampaikan" jawab Soma sambil tertawa.

Karebetpun tersenyum, dan setelah Soma berpamitan kepada semua orang, sesaat kemudian iapun telah berada dipunggung kudanya, lalu dijalankannya kuda itu menuju ke arah kotaraja.
Beberapa saat kemudian, orang-orang telah disibukkan dengan kerja, sebagian orang bekerja membangun dalem kadipaten, sedangkan sebagian orang lagi bekerja membangun ruang paseban, seperti bangunan Sasana Sewaka yang berada di kraton Demak.
Bersama beberapa orang lainnya, Karebetpun ikut mengangkat ompak yang sebentar lagi akan dipasang di ruang paseban.
Ketika semua orang sedang sibuk bekerja, dari jauh terlihat ada seorang pemuda yang mendekati pembangunan dalem Kadipaten, dan setelah bertanya kepada seseorang, maka pemuda itupun di bawa ke Karebet.
Karebet lalu meletakkan ompak yang dibawanya, dilihatnya pemuda itu menundukkan kepalanya dengan sikap ngapurancang.
"Apakah saya berhadapan dengan kakangmas Karebet ?" tanya pemuda itu.
"Ya, aku Karebet, kau siapa ?" tanya Karebet
"Nama saya Wenang, putra Ki Ageng Butuh" kata pemuda itu.
"O kau putra Ki Ageng Butuh, aku lama disana, tapi tidak pernah melihatmu" kata Karebet.
"Ya, karena saya baru kemarin pulang dari bang kulon, lalu ayah menyuruh saya untuk menemui kakangmas Karebet di Pajang"

"Kau baru saja datang dari bang kulon ? Dimana?" tanya Karebet.
"Saya pergi ke Cirebon, lalu berjalan ke gunung Ciremai, terus melanjutkan perjalanan keselatan sampai Segara Anakan" kata Wenang.
"Kau berlatih olah kanuragan di beberapa perguruan ?" tanya karebet.
"Ya"
"Bagus" kata Karebet :"lalu kau kesini diutus Ki Ageng Butuh?"
"Ya, saya disarankan untuk ke Pajang, dan kalau kakangmas Karebet mau menerima, saya bersedia mengabdi di Pajang" kata Wenang.
Karebet tersenyum, dengan bergabungnya Wenang putra Ki Ageng Butuh, maka Pajang akan bertambah kuat.

(bersambung)

Senin, 22 September 2014

KERIS KYAI SETAN KOBER 21

KERIS KYAI SETAN KOBER 21

BAB 8 : BABAT ALAS 2

Karya : Apung GWAP

Lintang panjer rina masih bersinar cemerlang, mengalahkan ribuan bintang lainnya, tak lama kemudian langit telah semburat berwarna merah, fajarpun menyingsing di langit sebelah timur.
Langit semakin lama menjadi semakin terang, ketika seekor kuda berlari keluar dari desa Jipang menuju ke arah selatan.
Penunggang kuda itu, Rangkud, seorang abdi setia Arya Penangsang, berkuda menuju lereng gunung Lawu, langit yang semakin terang dan udara yang masih dingin, membuatnya melarikan kudanya tidak begitu cepat,
"Dingin" kata Rangkud dalam hati.
"Mudah-mudahan nanti sore sudah bisa sampai di padepokan Sekar Jagad di lereng gunung Lawu. Panembahan Sekar Jagad memang orang yang pilih tanding, ilmunya tak terlawan. Kakak seperguruan paman Matahun itu mempunyai banyak murid yang setiap hari dilatih olah kanuragan" kata Rangkud dalam hati.

Rangkudpun masih berangan-angan :"Alangkah kuatnya Kadipaten Jipang, kalau Ki Matahun nanti bisa menarik Panembahan Sekar Jagad ke pihak Jipang. Bagaimanapun juga Raden Penangsang adalah putra dari Pangeran Sekar Seda Lepen, andaikan Pangeran Sekar dahulu tidak dibunuh orang, tentu sekarang Raden Penangsang sudah menjadi Sultan Demak. Hm pangeran Sekar Seda Lepen, Pangeran Sekar yang meninggal ditepi sungai, ........." dan angan-angan Rangkudpun melambung tinggi

"Kanjeng Sultan Trenggana adalah orang yang berilmu tinggi. Di seluruh bumi Demak, susah untuk mencari orang yang mampu mengimbangi ilmu Kanjeng Sultan Trenggana. Andaikan setelah Sultan Trenggana meninggal, lalu yang menjadi Sultan adalah dari trah Sekar Seda Lepen, tentu Raden Penangsang yang akan menjadi Sultan Demak. Jalan masih panjang bagiku untuk menjadi seorang Tumenggung" kata Rangkud sambil tersenyum di dalam hati.
Rangkudpun masih menjalankan kudanya tidak begitu cepat, menembus dinginnya udara pagi menuju arah selatan, ke lereng gunung Lawu.

Sementara itu, di bulak amba Pajang, sejak fajar menyingsing, sudah ada kegiatan. Dua orang juru adang sudah menanak nasi, untuk bekal puluhan orang yang bekerja di beberapa tempat.
Didepan gubug, Lurah Wiguna sudah mulai mengatur untuk mengerjakan pekerjaan hari ini.
"Pengurugan tanah calon dalem Kadipaten dan ruang Paseban kemarin sudah selesai, hari ini kita akan membangun sebuah gubug lagi. Nanti tiga orang akan bekerja disini membuat gubug, sedangkan sepuluh orang akan tetap bekerja mencetak bata mentah dipimpin oleh Mas Manca, sedangkan Ki Wuragil dan Jaka Wila masih tetap membuat ompak di Pengging" kata Lurah Wiguna mengatur orang-orang yang akan bekerja.

Wuragilpun mendekat kepada Lurah Wiguna dan bertanya :"Ki Lurah, nanti kayu jati yang akan dibuat saka, kira-kira ukurannya sebesar apa?"
"Kayu saka nya kita tebang yang sebesar sepelukan orang, nanti kita haluskan, jadi bisa agak lebih kecil sedikit" jawab Lurah Wiguna menerangkan.
Mendengar penjelasan Ki Lurah, Wuragilpun menganggukkan kepalanya :"Sepelukan orang"
"Orang-orang yang kemarin ikut mengurug, nanti semuanya ke hutan jati, nanti ada yang membuat tali dan membuat kayu pengungkit, kalau kayunya sudah bisa keluar dari hutan, akan lebih mudah membawanya, karena bisa dengan cara diungkit" kata Ki Lurah.
"Kalau jalannya dari hutan ke arah bulak amba sudah rata, mengungkit kayu bisa menjadi lebih mudah dan cepat, apalagi kita mempunyai tenaga yang banyak" kata Lurah Wiguna..

Ketika langit sudah benar-benar terang, semakin banyak rakyat Pajang yang akan ikut gugur gunung.
Merekapun banyak yang datang dengan membawa alat-alat yang mereka miliki.
Juru Martani memotong sebuah bambu sepanjang satu depa, lalu ditancapkan di lantai gubug, setelah itu landeyan tombak Kyai Penatas dimasukkan didalam bumbung, sehingga tombak itupun bisa tersimpan dalam keadaan berdiri.
Ketika bekal makanan yang untuk puluhan orang yang bekerja di hutan sudah siap, maka makananpun diletakkan diatas dua buah tandu dari bambu yang masing-masing dipikul oleh empat orang.
Sesaat kemudian puluhan orang berangkat ke hutan disebelah barat Pajang, termasuk Pemanahan dan Penjawi yang ternyata sudah membawa kapak yang berukuran besar, sedangkan di belakangnya berjalan Sutawijaya bersama pamomongnya, Juru Martani.

Mas Manca bersama sepuluh orang lainnya, setelah menerima bekal makanan dari juru adang, segera berangkat ke wetan kali untuk melanjutkan pekerjaan mencetak bata. Kemudian Wuragilpun mempersiapkan lima ekor kuda, yang akan membawanya ke rumah Truna Ompak di Pengging.
Sesaat kemudian setelah menerima bekal, maka berderaplah beberapa ekor kuda meninggalkan bulak amba Pajang menuju Pengging.
Di depan gubug, tiga orang yang ditunjuk oleh Ki Lurah untuk membuat gubug baru juga mulai bekerja, mereka memotong beberapa bambu dan mencari daun-daun kelapa untuk dijadikan atap gubug.
Karebetpun mendekati Tumpak dan Banu, yang membantu memotong bambu untuk tiang gubug.
"Tumpak dan Banu, kalian masih lama berada disini ?" tanya Karebet ketika sudah berada disebelah Tumpak.
"Tergantung Ki Lurah Wiguna, kalau Ki Lurah memerintahkan kami pulang, maka kamipun segera pulang, tetapi selama ini para bebahu di Pajang tidak ada yang mbalela terhadap titah Kanjeng Sultan, sehingga kamipun disini tidak punya kerjaan" kata prajurit Wira Manggala, Banu, sambil tersenyum.

Karebetpun juga tersenyum mendengar canda Banu, sedangkan Tumpakpun tertawa perlahan.
"Kalau ada yang mbalela, yang bertempur paling terakhir adalah saya" kata Tumpak.
Mendengar kata Tumpak, Banupun terlihat tersenyum.
Karebetpun membantu pembuatan gubug, iapun berjalan ke rumpun bambu, dengan pedang pendeknya, Karebet memotong bambu beberapa buah, lalu bambu itupun dibawanya ke dekat gubug.
Matahari terus naik hampir mencapai puncak langit, beberapa orang masih bekerja membuat atap dari daun kelapa yang dijepit dengan potongan bambu tipis.
Ketika Karebet bersama beberapa orang sedang bekerja, terlihat dua orang menuntun dua ekor kuda yang di kanan kiri punggungnya terdapat beban yang besar mendekati gubug di bulak amba.
Karebetpun kemudian berjalan menyambut kedua orang berkuda yang baru saja datang.
"Kami dari Banyubiru, diutus oleh Ki Buyut Banyubiru" kata salah seorang dari mereka.
"Ya Ki Sanak, silahkan masuk, silahkan istirahat dulu di dalam gubug, atau kalau mau membersihkan diri, di sebelah gubug ada sungai kecil" kata Karebet, dan kepada Banu, iapun berkata :"Banu, bantu aku menurunkan beban ini dari punggung kuda"
Banupun bergegas, berdua dengan Karebet iapun menurunkan beban yang bergelantungan di punggung kuda.

Setelah menurunkan beban dari punggung kuda, maka Banupun kemudian membantu memberi minum kuda-kuda yang kelelahan.
Beberapa saat kemudian Karebetpun bersiap untuk melihat pekerjaan lainnya.
"Tumpak, aku akan pergi bekeliling dulu" kata Karebet, lalu iapun menuntun kudanya ke depan gubug.
"Ya, silahkan" jawab Tumpak :"Disini masih ada aku dan Banu, ada pula tukang adang yang berada di gubug sebelah"
"Tumpak, di dalam gubug ada sebuah tombak pusaka milik Ki Pemanahan, tolong dijaga, jangan sampai hilang" kata Karebet.
"Baik" kata Tumpak menyanggupi.
"Sekarang aku akan menengok orang-orang yang sedang bekerja mencetak bata" kata Karebet, lalu setelah itupun ia naik ke punggung kuda, dan melarikan kudanya ke wetan kali.

Karebet melarikan kudanya tidak begitu kencang, udara yang panas disiang hari pada musim kemarau, membuat udara menjadi kering.
Kaki-kaki kuda terus menapak di jalanan dan beberapa saat kemudian sampailah Karebet di wetan kali, dilihatnya Mas Manca dan beberapa orang lainnya sedang mencetak bata.
Di dekatnya, berjejer ratusan tanah liat yang sudah dicetak menjadi bata mentah, yang sedang dijemur di bawah terik matahari.
Mengetahui yang datang kepadanya adalah Karebet, maka Mas Mancapun kemudian menghentikan pekerjaannya dan berdiri menunggu Karebet.
"Tadi di gubug datang dua orang yang diutus oleh Ki Buyut Banyubiru" kata Karebet setelah ia berada didekat Mas Manca.
"Ya" kata Mas Manca:" Mereka membawa beras dan jagung, dua orang yang menuntun kuda yang membawa beban adalah tukang kayu dari Banyubiru"
"Hari ini mereka biar istirahat dulu, besok saja mereka bekerja memotong pohon"
"Ya" kata Mas Manca.
"Aku akan ikut bekerja mencetak bata" kata Karebet sambil tersenyum.
"Silahkan" kata Mas Manca
 Sesaat kemudian Karebetpun ikut bekerja menginjak-injak tanah liat, setelah itu iapun tanpa kenal lelah ikut mencetak tanah liat dan menjemur bata mentah, iapun terus bekerja sampai matahari sudah mulai condong ke barat.

Sementara itu, sinar matahari yang telah condong kebarat menerobos diantara daun-daun pepohonan di lereng gunung Lawu.
Seorang penunggang kuda dengan susah payah berjalan mendaki lereng gunung Lawu, menuju padepokan Sekar Jagad.
Penunggang kuda itu, Rangkud, mendongakkan kepalanya, pandangannya tertuju kepada sinar matahari yang semakin rendah .
"Sebentar lagi aku akan sampai di poadepokan Sekar Jagad, mudah-mudahan matahari belum tenggelam" kata Rangkud dala hati.
Rangkudpun masih menjalankan kudanya, mendaki dijalan yang terjal, sempit dan berbelok tajam.
"Untung saja saat ini musim kemarau, kalau saat ini musim penghujan, jalan terjal ini pasti licin sekali. Hm kelihatannya hampir sampai, tempat padepokan berada dibawah telaga, di lereng gunung Lawu" kata Rangkud sambil terus menjalankan kudanya.
Beberapa saat kemudian kudanyapun memasuki gerbang halaman padepokan Sekar Jagad, kemudian Rangkudpun turun dari kudanya, lalu kudanya dituntun masuk ke dalam padepokan.
Ketika baru berjalan beberapa langkah, dilihatnya seorang pemuda sedang membawa sebuah bumbung besar yang berisi air.

Ketika melihat Rangkud, pemuda itupun berhenti dan kemudian berjalan mendekati Rangkud.
"Ki Sanak, cantrik disini ?" tanya Rangkud setelah berhadapan dengan pemuda itu.
"Ya" jawab cantrik itu sambil memandang Rangkud.
"Ki Sanak, Panembahan Sekar Jagad ada di pedepokan?" tanya Rangkud
"Ada, Panembahan sedang di sanggar, Ki Sanak berasal dari mana ?" tanya cantrik itu.
"Tolong sampaikan kepada Panembahan Sekar Jagad, saya bernama Rangkud, berasal dari Jipang, ada pesan dari Ki Matahun untuk Panembahan sekar Jagad" kata Rangkud,
"Baik, akan saya sampaikan kepada Panembahan, Ki Rangkud menunggu didepan saja" kata cantrik itu sambil meletakkan bumbungnya, lalu iapun berjalan menuju sebuah rumah yang berada diatas tanah yang tinggi.

Matahari semakin turun ke cakrawala barat, langitpun semakin redup, ketika cantrik itu keluar dan menghampiri ke arah Rangkud
"Ki Rangkud, dipersilahkan membersihkan diri dulu, setelah itu silahkan menemui Panembahan Sekar Jagad di ruang dalam, kudanya nanti biar saya yang merawat" kata cantrik, lalu iapun meminta tali kendali kuda dan menuntunnya, lalu mengikatnya di sebuah pohon.
"Ki Sanak, padepokan ini seperti kelihatan sepi, berapa orang murid perguruan Sekar Jagad?"
"Murid perguruan Sekar Jagad lebih dari lima puluh orang, sekarang mereka semuanya sedang berlatih di hutan di sebelah telaga" kata cantrik itu.
Mereka berdua menuju ke sebuah bangunan, dan cantrik itupun menunjukkan kepada Rangkud, tempat untuk membersihkan diri.
"Sumurnya dibelakang" kata cantrik, tangannya lalu menunjuk ke arah sumur di belakang bangunan.
Agak lama Rangkud membersihkan dirinya, gelap menyelimuti lereng gunung Lawu, udara dingin terasa menusuk tulang, Rangkudpun berjalan menuju kesebuah ruangan yang diterangi oleh sebuah lampu minyak.
Ketika Rangkud berada di depan pintu, terdengar suara dari dalam ruangan :"Masuklah Rangkud"
Rangkudpun kemudian memasuki ruangan dan didalam ruangan ada seorang laki-laki yang duduk disebuah amben.

Seorang laki-laki yang sudah tua, sorot matanya tajam, berambut putih, panjang hingga menyentuh pundak, berjenggot panjang berwarna putih, memakai pakaian berwarna gelap, memakai ikat kepala berwarna hitam.
"Duduklah Rangkud" kata Panembahan Sekar Jagad, suaranya masih keras.
Rangkudpun duduk, lalu terdengar suara Panembahan :"Bagaimana kabarmu Rangkud, selamat?"
"Atas doa restu Panembahan, saya selamat" jawab Rangkud.
"Bagaimana kabar anakmas Penangsang dan adikku Matahun"
"Semua baik Panembahan" jawab Rangkud.
"Kabar apa yang kau bawa dari Jipang, Rangkud ?" tanya Panembahan Sekar Jagad.
"Panembahan, sebentar lagi Raden Penangsang akan diwisuda menjadi Adipati Jipang" kata Rangkud, lalu iapun bercerita tentang pembangunan dalem Kadipaten dan ruang Paseban yang saat ini sedang kekurangan tenaga.
"Lalu apa pesan Matahun kepadaku ?" tanya Panembahan Sekar Jagad.
"Paman Matahun dan raden Penangsang mohon bantuan Panembahan Sekar Jagad, untuk mengirim murid-murid perguruan Sekar Jagad sebanyak tiga puluh orang untuk ikut membantu pembangunan dalem Kadipaten Jipang" kata Rangkud.
"Tiga puluh orang?" tanya Panembahan Sekar Jagad.
"Ya panembahan, tiga puluh orang"
"Baik Rangkud, silahkan kau istirahat di ruangan yang telah disediakan cantrik, malam ini permintaan Raden Penangsang akan aku pertimbangkan, besok pagi kita lanjutkan pembicaraan ini" kata Panembahan Sekar Jagad.
"Terima kasih Panembahan" lalu Rangkudpun keluar menuju ruang yang telah disediakan untuknya.

Malam itu lereng gunung lawu diselimuti kabut, udara terasa dingin menusuk tulang, diluar padepokan, seluruh hutan terlihat gelap, tidak terlihat adanya sinar, hanya kerlip bintang yang kadang-kadang terlihat menerobos di sela daun-daun pepohonan.
Keesokan harinya, suasana Padepokan menjadi ramai, murid-murid perguruan Sekar Jagad, baru saja kembali dari berlatih ilmu kanuragan di dalam hutan dekat sebuah telaga di lereng gunung Lawu.
Setelah Rangkud membersihkan dirinya, seorang cantrik datang kepadanya, menyuruhnya menghadap Panembahan diruang dalam.
Rangkudpun kemudian berjalan menuju ruang dalam, tempat Panembahan Sekar Jagad menerimanya tadi malam, dan ketika Rangkud tiba didepan ruangan Panembahan, maka diapun disuruh masuk oleh Panembahan.
Ketika Rangkud masuk ke ruangan, suasana masih seperti kemarin, didalam ruangan, Panembahan Sekar Jagad sedang duduk disebuah amben, Panembahan tua berambut putih yang panjangnya sebahu dibiarkan terurai, berjenggot putih, berpakaian dan memakai ikat kepala warna gelap.
"Duduklah Rangkud" kata Panembahan.
Rangkudpun kemudian mengambil sebuah dingklik yang berada di sudut ruangan, dan iapun duduk disitu.
"Cantrik !" panggil Panembahan kepada seorang cantrik yang menunggu diluar.

Seorang cantrik masuk keruangan, lalu Panembahanpun berkata :"Panggil Soreng Rana, suruh dia datang kemari sekarang"
Cantrik itupun berjalan keluar ruangan, dan tak lama kemudian masuklah seorang murid utama Panembahan Sekar Jagad yang sudah dianggap sebagai pemimpin dari murid-murid perguruan di lereng gunung Lawu itu.
"Kau Soreng Rana, duduklah" kata Panembahan mempersilahkan Soreng Rana duduk di dingklik.
"Soreng Rana, tadi malam Rangkud baru datang dari Jipang, ada permintaan dari Raden Penangsang dan adik seperguruanku, Ki Mantahun, supaya kita mengirim tiga puluh orang untuk membantu pembangunan dalem kadipaten, dan setelah semalam saya pertimbangkan, permintaan Raden Penangsang akan aku penuhi, tetapi dengan sebuah syarat".
"Apa syaratnya Panembahan" tanya Soreng Rana.
"Kita akan mengirim tiga puluh orang, tetapi orang-orang dari perguruan Sekar Jagad semuanya harus diangkat menjadi prajurit Jipang tanpa melalui pendadaran" kata Panembahan Sekar Jagad. "Kalau semua murid-murid perguruan Sekar Jagad berangkat ke Jipang, lalu bagaimana dengan Padepokan ini Panembahan?" tanya Soreng Rana yang mengkhawatirkan padepokannya menjadi sepi.
"Kalau sebagian besar murid-murid perguruan Sekar Jagad nanti menjadi prajurit Jipang, maka nanti akan ada lagi yang pemuda-pemuda yang datang ke padepokan ini, yang ingin menjadi murid perguruan Sekar Jagad" kata Panembahan Sekar Jagad.

"Nah Rangkud, kau berangkatlah ke Jipang terlebih dulu, mumpung masih pagi, besok sebanyak tiga puluh orang murid-murid perguruan Sekar Jagad akan berangkat ke Jipang dipimpin oleh Soreng Rana, jangan lupa kau bilang kepada Raden Penangsang, tiga puluh orang itu supaya diangkat menjadi prajurit Kadipaten Jipang" kata Sang Panembahan.
"Baik Panembahan" jawab Rangkud.
"Masa depan Jipang kelihatannya cerah, siapa tahu nanti ada beberapa murid perguruan Sekar Jagad yang diangkat menjadi Tumenggung di Jipang" kata Panembahan.
Mendengar perkataan Panembahan Sekar Jagad, Rangkudpun mengangkat mukanya sambil berguman:" Di dalam sebuah kerajaan, pangkat Tumenggung bisa saja ada enam atau tujuh orang"
"Saya mohon pamit Panembahan"kata Rangkud :'Setelah ini saya akan terus pulang ke Jipang".
Rangkudpun kemudian pamit untuk keruangannya semula, bersiap-siap untuk melakukan perjalanan lagi, pulang ke Jipang.
"Cantrik !"panggil Panembahan Sekar Jagad.
Cantrikpun masuk kedalam ruangan, menanti perintah Panembahan.
"Kau urus semua keperluan Rangkud yang mau pulang ke Jipang" kata Panembahan.
"Baik Panembahan" jawab cantrik,dan iapun berjalan menuju ruangan tempat Rangkut tidur tadi malam.
Lalu kepada Soreng Rana, Panembahan Sekar Jagad memerintahkan :"Nanti sore kumpulkan semua murid perguruan Sekar Jagad, aku akan berbicara kepada mereka".
"Baik Panembahan" lalu Soreng Ranapun berjalan keluar dari ruangan Panembahan Sekar Jagad.

Matahari terus memanjat naik di langit sebelah timur, seekor kuda perlahan-lahan menuruni jalan berbatu yang berada di lereng gunung Lawu, menuju arah utara.
Penunggangnya, Rangkud, saat ini dalam perjalanan pulang ke Jipang, setelah permintaan yang disampaikannya disanggupi oleh Panembahan Sekar Jagad.
"Hm kenapa Panembahan mau mengirim murid-muridnya untuk membantu Jipang, tetapi mengajukan sebuah syarat ?" kata Rangkud dalam hati.
"Ah, biarlah, itu urusan Raden Penangsang dan Ki Matahun" kata Rangkud dalam hati.
Matahari terus memanjat naik, semakin lama semakin tinggi, ketika Rangkud sudah keluar dari daerah gunung Lawu.

Sementara itu di Pajang, pekerjaan babat alas masih terus dilakukan, mereka meneruskan pekerjaan yang dilakukan kemarin.
"Tumpak, hari ini aku akan menengok pembuatan ompak di Pengging" kata Karebet kepada Tumpak ketika mereka berbincang didepan gubug.
"Silahkan" kata Tumpak, beberapa saat kemudian seekor kuda berlari dari bulak amba menuju Pengging.
Matahari semakin tinggi, ketika seekor kuda yang berlari menuju Pengging telah meninggalkan Pajang jauh di belakang, penunggang kuda itu, Karebet, memang tidak tergesa-gesa, apalagi jarak dari Pajang ke Pengging tidak begitu jauh.
Ketika kuda itu memasuki desa Pengging, desa kelahirannya, maka Karebetpun memperlambat lari kudanya, dan ketika sampai dijalan bercabang, maka Karebetpun mengambil jalan yang menuju kerumahnya, bukan jalan yang menuju rumah Truna Ompak, didekat jalan yang menuju umbul Pengging.
Perlahan-lahan, kuda Karebet berjalan menuju rumahnya, rumah ayahnya, Kebo Kenanga yang disebut juga Ki Ageng Pengging, rumah yang saat ini hanya ditunggu oleh seorang laki-laki tua, pembantu ayahnya yang setia Ki Purwa.

Di desa Pengging, rumah Ki Ageng Pengging adalah termasuk rumah yang berukuran cukup besar, rumah itu jarang ditengok oleh Karebet maupun oleh siwanya, Kebo Kanigara yang tidak diketahui dimana tempat tinggalnya sekarang.
Kuda Karebet berjalan memasuki halaman rumahnya, halaman yang luas, sesuai dengan rumah peninggalan ayahnya yang besar.
Di depan pendapa, Karebet berhenti, belum juga Karebet turun dari kuda, maka dari samping rumah keluar orang tua yang menjaga rumah, menyambutnya dengan suara bergetar :"Aku dengar kau akan diangkat menjadi Adipati Pajang ngger Karebet"
Karebetpun segera turun dari kudanya, dan sambil tersenyum iapun menjawab :"Siwa mendengar dari mana?"
"Kabar ini sudah menyebar, setiap orang Pengging sudah tahu kalau angger akan menjadi Adipati Pajang, kemarin Truna Ompak wara-wara ke semua penduduk Pengging" kata Ki Purwa.
Karebet menganggukkan kepalanya:"Ya wa, memang aku akan diangkat sebagai Adipati Pajang"
"Berarti yang dikatakan Truna Ompak itu benar" kata Ki Purwa.
"Ya" kata Karebet, lalu iapun melanjutkan:"Kalau siwa Kebo Kanigara kapan terakhir datang kemari ?"
"Beberapa saat setelah angger pergi dari Pengging beberapa candra yang lalu, anakmas Kanigara memang pernah kemari, tetapi sampai sekarang tidak pernah kemari lagi" kata Ki Purwa bercerita.

Karebetpun naik ke pendapa diikuti oleh ki Purwa, pembantu ayahnya yang setia :"Aku ambilkan air ngger"
"Tidak usah wa, aku cuma sebentar, nanti aku akan ke rumah Truna Ompak" kata Karebet sambil duduk di pendapa diiikuti oleh pembantu ayahnya.
"Ya, Truna Ompak bilang kalau ia membuat banyak ompak untuk dalem Kadipaten di Pajang" kata pembantunya.
"Ia membuat ompak bersama dengan beberapa orang dari Pajang" kata Karebet, lalu selama beberapa saat mereka berdua berbincang di pendapa, sampai akhirnya Karebetpun pamit akan kerumah Truna Ompak.
Setelah berpamitan, Karebet segera berada di punggung kudanya dan menjalankannya menuju rumah Truna Ompak didekat umbul Pengging.
Karebet yang sudah tahu letak rumah Truna Ompak, menjalankan kudanya berbelok di suatu halaman yang banyak terdapat batu-batu tergeletak di sudut halaman, yang akan dibuat menjadi ompak.
Di halaman dsamping rumah, terdapat beberapa kuda yang di ikat di beberapa tonggak yang tertanam rapi.
Di bawah pohon, Truna Ompak bekerja menatah batu menjadi ompak, dibantu Wuragil, Jaka Wila dan beberapa orang Pajang yang sudah trampil membuat ompak.
Truna Ompak, Wuragil, dan Jaka Wila yang melihat Karebet mendatanginya, lalu merekapun berdiri menyambutnya.

Karebetpun segera turun dari kudanya, lalu kendali kudanya diminta oleh Jaka Wila untuk ditambatkan bersama kuda-kuda yang lain.
"Selamat datang calon Adipati Pajang" kata Truna Ompak sambil tertawa.
Karebetpun tertawa, lalu merekapun duduk bersama di bawah pohon di halaman depan.
"Sudah ada beberapa ompak yang sudah jadi" kata Karebet ketika melihat beberapa ompak yang sudah jadi.
"Ya" kata Truna Ompak :"Tiga empat pasar lagi semua ompak yang dibuat, sudah selesai dikerjakan"
"Kalau semuanya sudah selesai dikerjakan, ompaknya bisa di angkut ke Pajang dengan menggunakan pedati, nanti pedatinya bisa mengangkut ulang tiga empat kali" kata Karebet.
"Masih agak lama, tiga empat pasar lagi" kata Truna Ompak sambil neneruskan pekerjaannya.
Karebetpun kemudian ikut bekerja membuat ompak, dipinjamnya tatah batu milik Truna Ompak, lalu Karebetpun ikut menatah batu yang berasal dari muntahan gunung Merapi ketika meletus.

Matahari bergerak terus kebarat, dihalaman rumah Truna Ompak, beberapa orang masih sibuk membuat ompak.
Sementara itu, disebelah utara gunung Lawu, seekor kuda berderap ke arah utara, meninggalkan debu-debu di belakang kakinya, gunung Lawu sudah jauh ditinggalkan di belakangnya.
"Setelah hari menjadi gelap, aku baru sampai di Jipang" kata penunggangnya, Rangkud, abdi setia dari Arya Penangsang.
Senja telah menjelang, perlahan-lahan Rangkudpun semakin mendekati Jipang.
Gelap telah menyelimuti bumi Jipang, ketika seorang pembantu di rumah Penangsang meyalakan api ditempat gerabah kecil, yang diisi dengan minyak lemak binatang.
Nyala api yang lemah, menggapai, sinarnya menyentuh wajah tiga orang yang sedang duduk di ruang dalam.
"Paman Matahun dan kau Mataram" kata Penangsang kepada dua orang yang sedang duduk didepannya, Ki Matahun dan adiknya Arya Mataram.
Ki Matahun dan Arya Mataram menundukkan kepalanya, mereka siap mendengarkan perkataan calon Adipati Jipang, Arya Penangsang.
"Ternyata kita memang kekurangan tenaga, kalau kita hanya mengandalkan tenaga dari Ki Kerta dan kawan-kawannya meskipun dibantu oleh puluhan rakyat Jipang yang gugur gunung, kelihatannya enam candra kita baru selesai membuat dua buah bangunan itu" kata Arya Penangsang.
"Ya Raden" kata Ki Matahun.
"Aku sangat mengharapkan bantuan dari Panembahan Sekar Jagad, untuk mengirim orangnya kemari" kata Penangsang.
"Ya raden, kalau ada tiga puluh orang lagi, maka pembuatan dalem Kadipaten dan ruang Paseban bisa selesai tepat waktu" kata Ki Matahun.

Setelah berkata demikian, telinga Ki Matahun dan Arya Penangsang yang tajam, mendengar derap kuda yang berlari mendekat ke rumahnya.
"Mataram" kata Penangsang:"Coba kau lihat siapa yang berkuda menuju kemari".
Arya Matarampun kemudian bangkit, berjalan keluar ruangan, lalu iapun turun dari pendapa dan berdiri di halaman rumah, menunggu penunggang kuda yang sedang menuju ke rumahnya.
Seekor kuda dengan penunggang yang sudah dikenalnya memasuki halaman rumah, lalu penunggangnya itupun turun dan mengikat kudanya pada tonggak yang ada di samping rumah.
"Rangkud, kau sudah ditunggu kakangmas Arya Penangsang" kata Arya Mataram kepada penunggang kuda itu.
"Ya Raden" kata Rangkud dan setelah mencuci kakinya, mereka berduapun naik ke pendapa lalu berjalan menuju ruang dalam.
"Rangkud, duduklah" kata Penangsang ketika Rangkud sudah berada di ruangan.
Rangkudpun kemudian duduk didepan Penangsang.
"Bagaimana hasil dari perjalananmu ke gunung Lawu ?" tanya Arya Penangsang.
"Ya raden, saya telah bertemu dengan Panembahan Sekar Jagad, dan sang Panembahanpun telah menyetujui permintaan raden" kata Rangkud.
"Bagus" kata Penangsang.
"Panembahan mau membantu Jipang, tetapi ada syaratnya" kata Rangkud.
"Memakai syarat?" tanya Penangsang.

Kemudian Rangkudpun bercerita tentang pertemuannya dengan Panembahan Sekar Jagad di lereng Gunung Lawu.
"Jadi Panembahan Sekar Jagad mau membantu kalau aku mengabulkan permintaannya ?" tanya Penangsang dengan suara bergetar.
"Ya Raden" jawab Rangkud sambil menundukkan kepala.
"Jadi aku disuruh menuruti kemauan Panembahan Sekar Jagad untuk menerima tiga puluh orang murid perguruan Sekar Jagad sebagai prajurit Jipang tanpa pendadaran ?" kata Penangsang dengan keras.
Matahun lalu mengangkat mukanya, iapun terkejut, ketika dilihatnya wajah Penangsang merah membara, tangannya bergetar.
"Rangkud !!!" teriak Penangsang keras, dengan suara bergetar.
Rangkud yang berada di depannya terkejut sehingga diapun hampir terloncat dari tempat duduknya.
"Rangkud !!,, Kalau aku menolak syarat dari Panembahan Sekar Jagad, dia mau apa ?" kata Penangsang dengan suara yang bergetar.
Rangkudpun tidak berani menjawab, dia hanya bisa menundukkan kepalanya.
"Sabar raden" kata Matahun.
"Sabar kakangmas" kata Arya Mataram.
"Sabar raden, kita harus bisa berpikir jernih, permintaan Panembahan Sekar Jagad supaya murid-murid perguruan Sekar Jagad dijadikan sebagai prajurit adalah sangat menguntungkan bagi Jipang" kata Matahun menyabarkan Penangsang.

Arya Penangsang diam saja, mukanya masih bersemu merah, dan iapun membiarkan Matahun berbicara terus.
"Tiga puluh orang murid perguruan Sekar Jagad akan menjadi prajurit pilihan Kadipaten Jipang, alangkah kuatnya. Murid-murid yang mempunyai ilmu kanuragan yang tinggi, terutama Soreng Rana, Soreng Pati, Soreng Yuda dan beberapa Soreng-Soreng yang lain, bersedia berada dibawah perintah raden Penangsang" kata Matahun.
"Kalau sekarang dengan kekuatan tiga puluh orang prajurit Jipang, kita menyerang Kalinyamat atau menyerang Prawata, maka kedua daerah itu akan jatuh ketangan kita" kata Matahun menjelaskan.
Perlahan-lahan wajah merah Penangsang telah memudar, kemarahannya sedikit demi sedikit telah reda, setelah mendengar beberapa pertimbangan yang telah diberikan oleh abdi setianya, Matahun.
"Pangeran Hadiri ataupun Pangeran Arya, bahkan Karebet yang sekarang berada di Pajang tak akan mampu mengimbangi kekuatan prajurit pilihan Jipang" kata Matahun menjelaskan.
"Dengan tambahan tiga puluh orang prajurit pilihan, Jipanglah yang terunggul dalam perbandingan jumlah dan kemampuan prajurit"

"Tiga puluh orang itu nanti akan menjadi prajurit yang waktunya bersamaan dengan terbentuknya Kadipaten Jipang, maka kalau nanti kita mengadakan pendadaran prajurit Jipang, merekalah yang akan bertugas melatih para prajurit baru" kata Matahun.
Raut muka Penangsangpun telah kembali seperti semua, warna merah diwajahnya sudah hilang, kemarahannya bagai awan hitam yang tertiup angin, hilang tak berbekas.
"Tiga puluh prajurit pilihan Jipang yang mempunyai kemampuan kanuragan yang tinggi, nanti akan berada dibawah perintah raden Penangsang" kata Matahun.
Arya Penangsangpun menganggukkan kepalanya, diapun bisa menerima saran dari abdi setianya, Matahun.
"Ya paman Matahun, kau benar, aku terima tiga puluh orang murid perguruan Sekar Jagad sebagai prajurit Jipang" kata Penangsang yang akhirnya menuruti saran dari Matahun.
"Ya raden, memang itulah keputusan yang terbaik" jawab Matahun yang tersenyum senang karena sarannya diterima junjungannya.
"Untuk melatih dan meningkatkan kemampuan para prajurit pilihan Jipang Panolan adalah tugasmu paman Matahun" perintah Arya Penangsang kepada abdi setianya yang mempunyai kemampuan olah kanuragan yang tinggi.
"Ya raden, meskipun mereka saat ini adalah murid perguruan Sekar Jagad, tetapi nanti kalau mereka telah menjadi seorang prajurit, mereka masih perlu mendapat bimbingan ketrampilan ke prajuritan" kata Matahun.

"Rangkud !" kata Penangsang.
"Ya Raden" kata Rangkud.
"Kapan tigapuluh orang murid perguruan Sekar Jagad akan berangkat dari gunung Lawu?" tanya Penangsang.
"Besok pagi, setelah fajar" kata Rangkud.
"Sekitar menjelang tengah malam mereka akan sampai di Jipang, Rangkud, kau persiapkan segala sesuatu untuk menyambut mereka, keperluan untuk tidur dan makan mereka" perintah Penangsang.
"Baik raden" jawab Rangkud.
Arya Penangsang menganggukkan kepalanya, lalu iapun berkata :"Nah kau sekarang boleh istirahat dulu"
"Baik raden" kata Rangkud, dan diapun segera keluar dari ruangan dalam, meninggalkan Penangsang, Matahun dan Arya Mataram yang masih berbincang.

Sementara itu, ditempat lain, di sekeliling perapian yang menyala didepan gubug di bulak amba Pajang,
Karebet sedang berbincang dengan Majasta, Wuragil serta dua orang tua yang baru datang ke Pajang sore tadi.
Dua orang tua itu datang dengan menuntun dua ekor kuda yang membawa beban yang berisi beberapa bahan pangan.
"Anakmas Karebet, nanti malam kami akan langsung pulang ke Butuh dan Ngerang" kata salah seorang dari orang tua itu.
"Ki Ageng Butuh dan Ki Ageng Ngerang, kenapa begitu cepat pulang" kata Karebet.
"Kami tidak bisa banyak membantu, tenaga kami sudah tua" kata Ki Ageng Ngerang sambil tertawa.
Karebetpun ikut tertawa, dan Majastapun menjawab :"Akupun sudah tua, disinipun aku cuma ikut makan saja"
Semuanya tersenyum mendengar canda dari Majasta.
Sesaat kemudian tukang adangpun datang dan mempersilakan mereka untuk makan malam.
Dengan menggunakan sebuah pincuk, maka merekapun makan nasi dengan ikan asin, ditambah sambel lombok ijo.
"Nikmat sekali makan didepan perapian" kata Wuragil.
Menjelang wayah sepi wong, Ki Ageng Butuh dan Ki Ageng Ngerang pamit akan pulang ke rumahnya.
"Terima kasih ki ageng berdua, terima kasih atas bantuan bahan makanannya kepada Pajang" kata Karebet.
"Ya, dua ekor kuda itu biar disini saja, bisa untuk keperluan Kadipaten Pajang" kata Ki Ageng Butuh.
"Terima kasih" kata Karebet kepada kedua orang saudara seperguruan sekaligus sedulur sinarawedi ayahnya, Ki Ageng Pengging.

Setelah pamit kepada semua orang yang ada di gubug, maka Ki Ageng Butuh dan Ki Ageng Ngerangpun kemudian melangkah meninggalkan bulak amba, kembali ke desa Butuh dan Ngerang.
Malam itu gelap menyelimuti bumi Pajang, kotaraja Demak, Kalinyamat, Prawata, dan Jipang, hanya suara binatang-binatang malam yang terdengar nyaring tanpa henti.
Hampir semua penghuninya telah dibuai mimpi, lelah setelah seharian bekerja keras. Bulanpun masih terlihat dilangit bersama ribuan bintang-bintang.

(bersambung)