- BAB 5 : MASA PEMBUANGAN 3
KARYA : APUNG GWAP
Dengan pedang pendeknya, Karebet menebang bambu yang banyak terdapat di sekitar Rawa Pening. Dipilihnya batang bambu yang lurus, yang besarnya hampir sama.
Belasan bambu telah ditebang, dan dibawa ke pinggir sungai, dipotong dengan panjang yang sama dan dibersihkan dari ranting-ranting yang menempel pada batangnya.
Mas Manca dan Jaka Wila mencari sabut kelapa untuk dibuat tali pengikat bambu.
"Adi Jaka Wila, talinya dibuat agak besar dipilin yang kuat dan diikat ganda" kata Karebet.
Merekapun membuat tali dari sabut kelapa yang dipilin, sehingga tali itu kuat untuk menyatukan beberapa buah bambu.
"Mas Manca, rakitnya dibuat yang agak lebar" kata Karebet.
Selama tiga hari mereka bekerja, dan pada hari yang keempat, ketiga pemuda itu telah menyelesaikan pekerjaannya, dan selesailah pembuatan sebuah rakit yang lebar dan kuat.
Rakit yang telah dibuat oleh ketiga pemuda itu cukup lebar, belasan bambu yang disusun membujur, di ikat kuat dengan beberapa bambu yang disusun melintang, rangkap atas dan bawah.
Ikatannya menggunakan tali sabut kelapa yang dipilin ganda.
Kemudian dicarinya empat buah bambu yang nanti akan dipergunakan untuk galah pendorong rakit. Dipilihnya bambu yang lurus ukurannya tidak begitu besar, bambu yang nyaman untuk dipegang dan digunakan sebagai galah pendorong.
Setelah rakit sudah selesai dikerjakan, maka rakitpun dicoba dengan di masukkan ke dalam air.
Mereka bertiga perlahan-lahan menyeret rakit, di apungkan di air sungai dan merekapun mencoba naik keatasnya.
Ketiga pemuda itu, Karebet, Mas Manca dan Jaka Wila, puas ketika rakit buatannya terlihat kokoh dan bisa mengapung dengan baik.
Setelah selesai dicoba diapungkan di air, maka rakitpun kembali diseret ke pinggir dan di ikat ke batang pohon supaya rakitnya tidak hilang hanyut terbawa aliran air.
Setelah pembuatan rakit sudah selesai, maka Mas Manca pun melaporkannya kepada Ki Buyut Banyubiru.
"Ya, apakah rakitnya sudah kau coba dimasukan di sungai ?" tanya Ki Buyut Banyubiru.
"Sudah Ki Buyut" jawab Mas Manca.
"Baiklah, nanti malam kita berkumpul di pendapa untuk membicarakan langkah-langkah selanjutnya" kata Ki Buyut Banyubiru.
Malam harinya, Ki Buyut Banyubiru mengajak semuanya berkumpul dan membicarakan langkah-langkah yang nantinya akan dilakukan oleh Karebet, untuk mendapatkan pengampunan dari Kanjeng Sultan.
Semuanya hadir, tiga orang tua, Ki Buyut Banyubiru, Ki Majasta dan Ki Wuragil, ditambah tiga orang pemuda, Karebet, Mas Manca dan Jaka Wila.
"Tadi Mas Manca melaporkan kalau pembuatan rakit sudah selesai dikerjakan. Rakit itu nantinya merupakan salah satu sarana yang bisa digunakan oleh angger Karebet menuju tempat untuk mendapatkan ampunan dari Kanjeng Sultan" kata Ki Buyut Banyubiru.
"Beberapa hari lagi, pada saat bulan purnama, Kanjeng Sultan Trenggana akan pergi berburu ke hutan Prawata" kata Ki Buyut menjelaskan.
"Angger Karebet, pergilah angger ke perkemahan Kanjeng Sultan di hutan Prawata, nanti angger diantar oleh Ki Wuragil, Mas Manca dan Jaka Wila, tetapi sebelum sampai di perkemahan, angger Karebet harus mencari seekor kerbau liar disekitar hutan Prawata" kata Ki Buyut Banyubiru.
Dari dalam ikat pinggangnya, Ki Buyut Banyubiru mengeluarkan sebuah kantong kecil yang terbuat dari kain.
"Didalam kantong ini ada segumpal tanah liat, masukkan tanah liat ini di dalam telinga seekor kerbau liar yang angger temukan, maka kerbau liar itu akan mengamuk di gubug perkemahan yang ditempati oleh para prajurit Demak di hutan Prawata" kata Ki Buyut Banyubiru.
"Yang harus anakmas ingat, sewaktu memasukkan tanah liat ditelinga kerbau liar, waktunya harus tepat pada saat Kanjeng Sultan berada di perkemahan" kata Ki Buyut melanjutkan arahannya.
"Kerbau itu nantinya akan mengobrak-abrik gubug-gubug yang ada disana, kecuali gubug yang ditempati oleh Kanjeng Sulltan Trenggana dan tidak ada seorangpun dari prajurit Demak yang mampu membunuh kerbau liar itu" kata Ki Buyut selanjutnya.
"Nah pada saat para prajurit tidak bisa mengatasi kerbau liar itu, baru angger Karebet menampakkan diri. Ingat, hanya menampakkan diri" kata Ki Buyut Banyubiru.
"Angger Karebet bisa menampakkan diri tetapi harus memilih arah yang tepat. Pilihlah tempat yang berada dihadapan Kanjeng Sultan, tempat yang mudah dilihat Kanjeng Sultan, sehingga Kanjeng Sultan cepat mengetahui kehadiran angger Karebet" kata Ki Buyut Banyubiru.
"Jangan sekali-kali membunuh kerbau itu kalau tidak ada perintah atau penawaran dengan imbalan pengampunan dari Kanjeng Sultan"
"Ingat, kerbau liar itu harus angger bunuh dengan sekali pukul, tetapi jangan lupa, sebelum dibunuh, tanah liat yang ada di dalam telinga kerbau liar harus dikeluarkan terlebih dulu, karena apabila tanah ini masih ada ditelinganya, kerbau itu susah untuk dibunuh" kata Ki Buyut selanjutnya.
Lalu Ki Buyut Banyubiru berbicara se-akan-akan kepada diri sendiri :"Aku percaya angger Karebet mampu membunuh seekor kerbau dengan sekali pukul"
"Ini kantong yang berisi tanah liat, silahkan diterima angger Karebet" kata Ki Buyut Banyubiru.
Karebetpun menerima kantong yang berisi segumpal tanah liat pemberian Ki Buyut Banyubiru.
"Besok pagi berangkatlah naik rakit ke hutan Prawata, besok akan diantar oleh Ki Wuragil, Mas Manca, dan Jaka Wila"
"Berangkatlah pagi hari, nanti Ki Majasta akan ikut sampai rumahnya di desa Majasta.
Setelah Ki Majasta turun, nanti rakitnya akan melewati sebuah kedung yang bernama Kedung Srengenge" kata Ki Buyut.
"Hati-hati, kedung itu adalah sebuah kedung yang dalam, disana banyak terdapat berpuluh-puluh buaya, menurut cerita orang tua jaman dahulu, di Kedung Srengenge adalah sebuah kerajaan buaya, dan menurut cerita itu, disana ada seekor raja buaya yang ukuran badannya paling besar, yang bernama Bahureksa, sedangkan yang ukurannya badannya sedikit lebih kecil, adalah patih buaya yang bernama Jalumampang" kata Ki Buyut Banyubiru.
Sampai larut malam, Ki Buyut Banyubiru masih memberikan beberapa arahan yang harus dilakukan oleh Karebet untuk mendapatkan ampunan dari Kanjeng Sultan.
Keesokan harinya, ketika matahari mulai memanjat naik, Ki Buyut Banyubiru melepas mereka berlima naik rakit akan menuju ke hutan Prawata.
Beberapa bungkusan telah dibawa mereka, yang berisi bekal makanan dan minuman, dan tidak lupa pula, didalam bungkusan terdapat pula empat buah pedang pendek.
"Kami berangkat sekarang Ki Buyut" kata Karebet.
"Ya, hati-hati di jalan, aku hanya bisa nyangoni slamet" kata Ki Buyut Banyubiru.
Setelah semuanya siap maka mereka berlima, Ki Majasta, Ki Wuragil, Mas Manca, Jaka Wila dan Karebet, naik diatas rakit, dan dengan mendorong dua buah galah panjang ke arah belakang, maka rakitpun perlahan-lahan bergerak kedepan mengikuti aliran sungai.
Dengan menggunakan masing-masing sebatang galah, Mas Manca dan Jaka Wila mengemudikan rakit agar bisa bergerak kedepan.
"Kita sebetulnya lebih cepat kalau berjalan kaki, naik rakit seperti ini jalannya seperti siput" kata Jaka Wila sambil mendorong galah bambu ke arah belakang, sehingga rakit melaju kedepan.
Menjelang tengah hari, rakit telah sampai disebuah tempuran sungai, dan Ki Majasta meminta rakit untuk menepi.
"Aku turun disini, kalian tetap meneruskan perjalanan ke hutan Prawata berempat" kata Ki Majasta.
"Jaka Wila, kau turuti segala perintah angger Karebet" kata Ki Majasta.
"Ya ayah" kata Jaka Wila
"Baik Ki Majasta, mudah-mudahan suatu saat kita bertemu lagi" kata Karebet.
Merekapun kemudian berpisah, Ki Majasta turun di dekat tempuran sungai sedangkan empat orang lainnya tetap berada di atas rakit untuk melanjutkan perjalanan ke hutan Prawata.
Rakit didorong maju, penumpang rakit tinggal empat orang, seorang tua, Ki Wuragil, dan tiga orang anak muda, Karebet, Mas Manca dan Jaka Wila.
Rakit bergerak terus, matahari sudah sedikit condong ke barat, dan mata Karebet yang tajam melihat sesuatu yang bergerak di permukaan air jauh didepan rakit.
"Ada sesuatu yang bergerak jauh didepan, hati-hati, kita sudah memasuki daerah Kedung Srengenge, kedung ini airnya dalam, persiapkan pedang kalian" kata Karebet.
Mereka berempat lalu mengambil pedang pendek dari dalam bungkusan, dan menyangkutkan pada ikat pinggang mereka.
"Mas Manca dan adi Jaka Wila, dorong rakitnya supaya jalannya tidak terlalu ketengah sungai, jalankan rakitnya agak ke pinggir, supaya kalau kita menggunakan galah, dengan satu lompatan kita sudah bisa mencapai tepi sungai"
Mas Manca dan Jaka Wila mendorong galah ke arah kanan, maka rakit perlahan-lahan bergerak ke kiri, bergeser agak ke pinggir sungai.
Setelah agak di pinggir, galah didorong ke belakang maka rakitpun melaju kedepan. Karebet melihat ke arah depan, dilihatnya air sedikit bergelombang, tatapan matanya yang tajam, melihat ada sesuatu yang bergerak gerak dibawah air.
Tetapi Karebet melihat sesuatu yang bergerak didalam air bukan hanya satu, tetapi berjumlah puluhan.
Pada saat rakit berada hanya beberapa langkah dari tengah-tengah Kedung Srengenge, tiba-tiba semua orang yang berada diatas rakit melihat, di tepi sungai di sebelah tanaman perdu, ada seorang gadis yang sedang berjalan membawa sebuah jun tempat air.
"Aneh, ditempat yang seperti ini ada seorang gadis yang akan mengambil air di sungai" kata Ki Wuragil.
"Hati-hati, ada sesuatu yang tidak wajar, Mas Manca dan kau Jaka Wila, jalankan rakit kearah gadis itu" kata Ki Wuragil.
Pelan-pelan dengan penuh kewaspadaan mereka mejalankan rakit menuju ketempat gadis yang akan mengambil air.
Mereka berempat memandang kearah gadis pembawa jun yang sedang berjalan, yang berada di samping sebuah gerumbul di tepi sungai
Beberapa saat kemudian, rakit yang ditumpangi telah berada tepat ditengah-tengah Kedung Srengenge.
Tetapi alangkah terkejutnya mereka berempat, ketika mereka tepat berada di tengah-tengah Kedung Srengenge, ternyata perempuan yang membawa sebuah jun, telah hilang dibalik gerumbul.
Gerumbul perdu yang hanya setinggi lutut dan tidak terlalu rapat, mampu menyembunyikan gadis pembawa jun.
"Gadis itu tidak kelihatan" kata Jaka Wila.
"Gadis itu tidak ada, aneh, ia telah menghilang" kata Mas Manca.
Mengetahui keadaan yang tidak sewajarnya, Karebetpun segera menghimpun kekuatan aji Lembu Sekilan, untuk melindungi dirinya, dan iapun bergeser ke tengah rakit:"Semua ke tengah rakit, jangan berdiri dipinggir" kata Karebet.
Ketika keempat orang itu telah berada di tengah rakit, terasa rakitpun terguncang hebat, dan muncullah berpuluh-puluh buaya disekeliling rakit.
"Banyak sekali buaya disini" kata Mas Manca.
"Ya, banyak sekali, ada berpuuh-puluh buaya disekitar rakit" kata Jaka Wila.
Ki Wuragil memandang sekeliling rakit, "Perkiraan saya, yang sudah kelihatan sekitar empat puluh ekor buaya, ditambah dua ekor buaya yang menjadi pemimpinnya, itu belum termasuk buaya yang masih berada disarangnya"
"Lihat, itu ditepi sungai di gerumbul perdu tempat hilangnya gadis tadi, ada dua ekor buaya yang badannya paling besar" kata Ki Wuragil ambil menujuk ke dua ekor buaya yang badannya paling besar.
"Menurut cerita Ki Buyut Banyubiru, buaya yang paling besar adalah seekor raja buaya yang bernama Bahureksa, dan di sebelahnya adalah patihnya yang bernama Jalumampang" kata Mas Manca.
"Baik, aku akan melawan raja buaya Bahureksa, Mas Manca kau lompatlah ke darat, lawanlah buaya Jalumampang, pukul dengan galah, Ki Wuragil dan Jaka Wila tetap berada di atas rakit" kata Karebet.
Setelah berkata demikian, maka Karebetpun melompat ke dalam air, dengan tidak menghiraukan puluhan buaya yang berada diseliling rakit, iapun berenang cepat menuju buaya Bahureksa.
Raja buaya Bahureksa yang berada di pinggir sungai melihat ada orang berenang ke arahnya, maka iapun segera meluncur ke air menyongsong orang yang telah berani menantangnya.
Rakit yang sekarang berada agak ke pinggir, sedikit menguntungkan Mas Manca .
Mas Manca sedikit mundur untuk mengambil ancang-ancang, kedua tangannya memegang ujung galah, sedangkan ujung yang lain dimasukkan kedalam sungai, dan dengan satu lompatan disusul sebuah hentakan kuat, melayanglah Mas Manca ke udara dan jatuh tepat di tepian sungai dengan masih memegang galahnya.
Ketika Mas Manca melihat ke arah Bahureksa, dilihatnya air sungai bergolak, berputar, berbuih, sesaat terlihat kepala Karebet muncul di permukaan air, sekejap kemudian Karebet menyelam lagi.
Setelah melihat perkelahian didalam air, Mas Manca berpikir lebih baik melakukan perkelahian diatas tanah, maka dengan cepat Mas Manca bersiap memancing Jalumampang supaya menyerangnya.
Mas Mancapun mengacungkan galahnya ke arah Jalumampang dan Jalumampangpun segera bergerak menyerang Mas Manca.
Dengan bersenjatakan galah, Mas Manca melawan Jalumampang yang berbadan besar.
Di atas rakit beberapa buaya berusaha naik ke atas rakit, tetapi terpaksa turun lagi ke air karena dipukul galah oleh Jaka Wila.
Ki Wuragil segera mengambil galah lainnya, lalu dengan cepat ia memukul mata buaya yang berani naik ke rakit, terkena pukulan matanya, buayaitu dengan ceoat bergerak turun, lalu hilang menyelam di air.
"Pukul matanya" kata Ki Wuragil kepada Jaka Wila
Ketika ada buaya yang besar berusaha naik ke atas rakit, maka Jaka Wilapun melompat dan dengan sekuat tenaga ia memukul buaya tepat pada matanya, akibatnya ujung galahnya menjadi pecah.
Buaya yang dipukul dengan cepat mundur dan menyelam lagi, tetapi beberapa buaya yang lain masih berusaha menyerang Ki Wuragil dan Jaka Wila.
Ki Wuragil melihat Mas Manca belum berhasil mengatasi Jalumampang, maka iapun berteriak :"Mas Manca !! Pukul matanya !!"
Mas Mancapun melompat membelakangi sungai, dan iapun segera memukul Jalumampang berkali-kali tepat pada matanya.
Jalumampang berusaha untuk masuk ke sungai tetapi terhalang oleh lawannya, sebab lawannya berdiri membelakangi sungai.
Belum sempat Jalumampang menyerang lagi, Mas Manca sudah menghajar matanya dengan galah, sehingga ujung galah menjadi hancur.
Dengan membelakangi sungai, Mas Manca mencegat arah jalumampang untuk melarikan diri kesungai.
Perkelahian Mas Karebet melawan Bahureksa masih berlangsung sengit, air sungai di belakang Mas Manca bergolak tinggi, Bahureksa terlempar keluar dari permukaan air, ketika jatuh kedalam air menyebabkan air sungai tersibak tinggi.
Diatas rakit, Ki Wuragil dan Jaka Wila masih tetap bekerja keras memukul setiap buaya yang mencoba naik ke atas rakit.
Kedua buah galah yang digunakan untuk memukul buaya telah menjadi pendek, tetapi ketika tangan mereka menyentuh hulu pedang yang ada di ikat pinggang mereka, maka mereka tetap berharap tidak ada seekor buayapun yang mampu naik ke atas rakit.
Di tepi sungai didekat gerumbul perdu, perkelahian Mas Manca melawan Jalumampang memasuki saat-saat terakhir.
Kedua mata Jalumampang telah terluka karena dipukul galah terus menerus oleh Mas Manca, akibatnya ujung galah menjadi hancur, dan Jalumampang pun tidak bisa melihat dimana keberadaan lawannya.
Merasa kesakitan dan tidak bisa melihat lawannya, Jalumampang pun mengamuk, mulutnya terbuka mencari sasaran, ekornya menyabet ke kanan dan ke kiri, akibatnya Mas Manca pun melompat menghindari amukan Jalumampang.
Beberapa saat amukan Jalumampang masih berlangsung, tanaman perdu yang ada ditepi sungai menjadi rata, Mas Manca pun hanya bisa menunggu sampai Jalumampang menjadi lelah dan lengah.
Semakin lama Jalumampang semakin lemah, sabetan ekor Jalumampang mereda, maka Mas Manca pun bersiap untuk mengakhiri perkelahian.
Dengan melakukan pemusatan pikiran dan mengatur jalannya pernapasan, Mas Manca menghimpun semua kekuatan yang ada pada dirinya dan dipusatkan pada sisi telapak tangannya.
Ketika sabetan ekor Jalumampang sudah berhenti, maka dengan berteriak nyaring, Mas Manca melompat kedepan dan menghantam kepala Jalumampang dengan sisi telapak tangannya.
Kepala Jalumampang bergetar menerima pukulan sisi telapak tangan Mas Manca, setelah itu buaya itupun tidak mampu menggerakkan badannya, pingsan.
Kemudian Mas Manca mengangkat kaki depan Jalumampang dan dengan sekuat tenaga perut buaya itu ditendang hingga terlentang dan dengan cepat tangannya meraba hulu pedang pendeknya, dan sekejap kemudian tangannya yang memegang pedang menusuk kulit yang paling lunak di dekat leher bagian bawah.
Darah mengucur ketika pedang pendeknya dicabut, dan ketika sekali lagi pedang pendek Mas Manca menusuk untuk yang kedua kalinya, Jalumampang pun terdiam dengan tubuh berlumuran darah.
Riwayat Jalumampang berakhir di dalam sarangnya sendiri di Kedung Srengenge, mati ditangan Mas Manca, anak angkat Ki Buyut Banyubiru.
Saat itu, beberapa langkah disebelah Mas Manca, perkelahian Karebet melawan Bahureksa di tepi sungai juga hampir selesai.
Jaka Tingkir menyeret Bahureksa yang telah lemas ke atas tanah di pinggir sungai, dan ketika Bahureksa menggerakkan ekor mau menyerang, maka Karebet menginjak kepala buaya itu dengan kakinya
Bahureksa berusaha memberontak, Karebet yang melihat kepala buaya itu bergerak, maka injakan kakinya diperkuat, sehingga Bahureksapun tidak berdaya.
Bahureksa tak mampu menggerakkan kepalanya, hanya matanya yang melihat kearah buaya Jalumampang yang selama ini dianggap sebagai patihnya telah mati, dan ketika Karebet melepaskan injakan kakinya, mata Bahureksa pun memandang Karebet seakan-akan menyerah memohon ampun.
Ketika Bahureksa melihat Karebet menganggukkan kepalanya, maka buaya itupun perlahan-lahan berjalan lalu meluncur masuk ke dalam air.
Sesaat setelah Bahureksa masuk ke dalam kedung, tak lama kemudian buaya-buaya yang menyerang rakit semuanya mundur masuk ke dalam air, dan gejolak air di sekitar rakit telah berhenti, dan suasana di Kedung Srengenge menjadi tenang kembali.
"Buaya yang menyerang kita telah mundur semua" kata Jaka Wila.
"Ya, mungkin mereka disuruh mundur oleh Bahureksa" kata Ki Wuragil
Galah milik Ki Wuragil dan milik Jaka Wila telah hancur, tetapi masih tersisa satu buah galah lagi, galah milik Karebet.
Dengan galah yang masih tersisa, Jaka Wila pun menggerakkan rakit ke pinggir, menjemput Karebet dan Mas Manca.
Setelah rakit sampai di tepi sungai, maka Karebet dan Mas Manca pun melompat naik lagi ke atas rakit, meninggalkan bangkai buaya Jalumampang ditepi sungai.
"Sebentar lagi matahari terbenam, mari kita tinggalkan Kedung Srengenge, jalankan rakitnya sekarang" kata Jaka Tingkir.
Jaka Wilapun mendorong galahnya ke arah belakang, maka rakitpun bergerak kedepan, tetapi alangkah terkejutnya Jaka Wila, ketika ia merasa rakit itu telah bergerak sendiri ke depan.
Rakit itupun bergerak perlahan ke utara, mengikuti arah aliran sungai.
Keempat orang itupun saling berpandangan, heran menyaksikan rakit yang mereka tumpangi bisa bergerak sendirI
Keempat orang itupun saling berpandangan, heran menyaksikan rakit yang mereka tumpangi bisa bergerak sendiri.
"Aku tidak tahu, apakah rakit ini bisa bergerak kedepan karena adanya aliran arus air sungai, atau dari bawah air rakit ini didorong oleh para buaya" kata Mas Manca.
Air sungai disekitar rakit sedikit bergelombang, seperti ada sebuah kekuatan yang mampu mendorong rakit supaya bergerak maju.
"Rakit ini didorong oleh empat puluh ekor buaya yang tadi telah menyerang kita" kata Ki Wuragil.
"Mungkin Bahureksa yang sudah takluk telah memerintahkan para buaya mendorong rakit ini" kata Mas Manca.
"Kelihatannya banyak buaya yang mendorongnya dari bawah rakit" kata Jaka Wila sambil melihat air yang bergejolak di sekitar rakit.
Ketika malam menyelimuti bumi, mataharipun telah lama terbenam di kaki langit sebelah barat, bulan yang hampir bulat masih menggantung di langit, Karebetpun merasa perlu untuk beristirahat.
"Kita beristirahat di tepi sungai, pinggirkan rakit !!" teriak Karebet.
Sesaat kemudian, perlahan-lahan rakit bergerak sendiri ke arah kiri, lalu berhenti di tepi sungai.
Malam semakin dalam, setelah makan bekal yang di bawa dari Banyubiru, maka mereka berempat tidur nyenyak diatas rakit.
Bulan yang terang menjelang purnama telah sedikit bergeser ke arah barat, waktu telah lewat tengah malam, udara dingin ditepi sungai, dan diatas rakit empat orang laki-laki sedang tidur berkerudung kain panjang.
Pada saat yang bersamaan, Ki Ageng Butuh sedang berjalan diwaktu malam ditempat yang tidak jauh dari rakit yang berada di tepi sungai.
Dari desa Butuh, sejak kemarin Ki Ageng Butuh telah berjalan jauh, dan malam ini, iapun secara kebetulan berada tidak jauh dari sungai.
Malam menjelang bulan purnama, meskipun bulan terlihat belum bulat, tetapi Ki Ageng Butuh mampu melihat dengan jelas.
Kesepian malam dikejutkan oleh adanya sinar terang dilangit yang melintas diatas kepala Ki Ageng Butuh.
"Sinar itu terang sekali, ternyata disini ada Lintang Kemukus, tetapi kenapa sinar itu dekat sekali ?" kata Ki Ageng Butuh dalam hati.
"Bukan, itu bukan Lintang Kemukus, sinar itu tidak ada kukusnya" desis Ki Ageng Butuh.
"Apakah itu Kemamang ? Bukan, kalau Kemamang terjadi dari api semua, itu hanya sinar terang" guman Ki Ageng Butuh.
"Apakah sinar terang yang meluncur itu ? Apakah itu sebuah ndaru ?" kata Ki Ageng Butuh dalam hati, dan iapun berniat mengikuti arah jatuhnya sinar terang yang menyilaukan itu.
"Ya, itu pasti sebuah ndaru" katanya dan dengan cepat Ki Ageng Butuh berlari menuju ke arah jatuhnya sinar terang itu.
Ki Ageng Butuh dengan cepat berlari mengejar sinar yang bergerak kedepan dan dengan melompati beberapa gerumbul perdu, Ki Ageng Butuh telah berada ditepi sungai.
Dengan berlari cepat, Ki Ageng Butuh masih sempat melihat sinar yang dikejarnya perlahan-lahan meluncur turun dan jatuh di sebuah rakit yang berada di tepi sungai.
Ki Ageng Butuh berlari ke arah rakit, dan dilihatnya empat orang sedang tidur diatas rakit dengan berkerudung kain panjang,
Salah seorang dari mereka, wajahnya terlihat bercahaya meskipun hanya sekejap, setelah itu cahayanya memudar dan semuanya kembali seperti semula.
"Ternyata sinar yang bergerak dan jatuh kepada orang yang tidur diatas rakit adalah sebuah Pulung Keprabon" kata Ki Ageng Butuh.
"Hm, Pulung Keprabon cuma satu, tidak mungkin ada matahari kembar, kalau Pulungnya sudah jatuh disini, berarti saat ini Kanjeng Sultan Trenggana sudah ditinggalkan oleh Pulung Keprabon" kata Ki Ageng Butuh dalam hati.
"Siapakah anak muda yang beruntung ketiban ndaru mendapatkan Pulung Keprabon?" sambil berkata demikian Ki Ageng Butuh berjalan mendekat kepada seorang anak muda yang tadi sempat terlihat wajahnya bercahaya.
Ketika jarak semakin dekat, Ki Ageng Butuh melihat dengan jelas wajah seorang anak muda yang sedang tidur diatas rakit, wajah yang tadi sempat bercahaya karena tertimpa ndaru.
Ki Ageng Butuh terkejut ketika melihat dengan jelas wajah orang itu.
"Itu Karebet ! Ternyata yang mendapatkan keberuntungan tertimpa ndaru, mendapatkan Pulung Keprabon adalah Karebet" dan iapun mendekat ke arah Karebet dan berniat akan membangunkannya.
Tetapi telinga Karebet adalah telinga yang terlatih dan sangat baik, Karebet mempunyai pendengaran yang tajam, meskipun dalam keadaan tertidur ia mampu mendengar gemersik ranting kayu yang terinjak oleh kaki seseorang.
Karebet membuka matanya dan melihat seseorang sedang berjalan ke arahnya.
Dengan cepat Karebet berdiri, dan bersiap menghadapi segala kemungkinan, tetapi ia menarik napas dalam-dalam ketika orang yang datang itu berkata:"Nakmas Karebet"
"Ternyata yang datang adalah Ki Ageng Butuh" kata Karebet dalam hati.
"Ya Ki Ageng" sahut Karebet dan ketika ia menoleh ke rakit, ternyata ketiga orang temannya telah bangun dari tidurnya.
Mereka bertigapun kemudian berdiri dan menyalami Ki Ageng Butuh
"Ternyata adi Wuragil juga ada disini, semua selamat adi?" tanya Ki Ageng Butuh.
"Atas pangestu kakang, semua dalam keadaan selamat" jawab Ki Wuragil.
Kemudian Ki Wuragil memperkenalkan kedua temannya:" Ini adalah Mas Manca, anak angkat Ki Buyut Banyubiru dan ini adalah Jaka Wila, anak dari kakang Majasta"
"Mungkin kita semua heran, aku heran kenapa kalian sampai tidur dirakit di tepi sungai, dan kalian pasti juga heran kenapa aku malam-malam juga sampai disini" kata Ki Ageng Butuh sambil tersenyum.
"Ya, malam ini kami memang sengaja tidur di rakit" kata Ki Wuragil, kemudian Ki Wuragil pun bercerita hingga ia bersama ketiga pemuda itu sampai tidur diatas rakit.
"Tiga pemuda perkasa, harapan masa depan" kata Ki Ageng Butuh sambil tersenyum.
"Lalu ada keperluan apa kakang bisa sampai kemari?" tanya Ki Wuragil.
"Aku tidak tahu" jawab Ki Ageng Butuh.
"Ki Ageng tidak tahu?" tanya Karebet.
"Ya aku memang tidak tahu" jawab Ki Ageng Butuh.
"Kemarin aku keluar dari rumah dan berjalan tanpa tujuan, melangkah tak tentu arah, menurutkan kata hati, dan ternyata langkah kakiku membawaku datang kemari, datang ke rakit ini" kata Ki Ageng Butuh.
"Ketika aku sampai ditepi sungai, aku melihat sinar terang, sebuah ndaru, sebuah Pulung Keprabon atau Pulung Ratu yang meluncur dari langit" kata Ki Ageng Butuh.
"Kemudian aku ikuti sinar itu dan yang ketiban ndaru adalah nakmas Karebet" kata Ki Ageng Butuh.
"Jadi yang mendapat Pulung Ratu adalah angger Karebet?" tanya Ki Wuragil.
"Ya, beruntunglah dan bersyukurlah nakmas Karebet sudah mendapatkan Pulung Keprabon, sebuah Pulung Ratu" kata Ki Ageng Butuh.
"Ya, Ki Ageng" kata Karebet, dan iapun mengucap syukur bahwa dirinya telah mendapatkan Pulung Keprabon.
"Yang terjadi pada saat ini, dan kejadian besok yang ada kaitannya dengan Pulung Ratu, sebetulnya sudah pernah dikatakan oleh Kanjeng Sunan Kalijaga" kata Ki Ageng.
"Ya, mudah-mudahan nanti semuanya berjalan lancar" kata Ki Wuragil.
"Ternyata aku termasuk orang yang beruntung, bisa menyaksikan jatuhnya Pulung Ratu" kata Ki Ageng Butuh sambil tersenyum.
"Ya kakang, aku juga termasuk orang yang beruntung, bisa bersama-sama melakukan perjalanan dengan angger Karebet menuju ke hutan Prawata" kata Ki Wuragil.
"Selanjutnya, kapan kalian berangkat menuju hutan Prawata?" tanya Ki Ageng Butuh.
"Sebentar lagi, setelah fajar" kata Karebet.
"Ya, kalau begitu kita berpisah disini, aku akan kembali ke desa Butuh" kata Ki Ageng Butuh.
"Baik kakang, sampaikan salamku untuk kakang Ngerang" kata Ki Wuragil.
"Baik adi, sampaikan juga hormatku buat Ki Buyut Banyubiru dan Adi Majasta" kata Ki Ageng Butuh.
Kemudian merekapun berpisah, Ki Ageng Butuh pun berjalan ke arah selatan menuju desa Butuh.
Beberapa saat kemudian di bang wetan terlihat semburat warna merah, semakin lama semakin terang, fajarpun terbit bersamaan dengan kicau burung liar dan kokok ayam alas.
Beberapa saat kemudian setelah langit menjadi terang, sebuah rakit bergerak mengikuti arus air menuju ke utara.
Diatas rakit yang dapat melaju tanpa menggunakan galah, berdiri Ki Wuragil bersama tiga orang pemuda.
"Kita nanti akan lewat mana angger Karebet?" tanya Ki Wuragil.
"Kalau kita lewat Kadilangu, jalannya terlalu jauh, memutar, kita nanti berhenti di desa Tiku, kemudian dilanjutkan dengan berjalan kaki ke timur menuju hutan Prawata" kata Karebet"
"Kita turun di desa Tiku ? Berarti setelah tempuran sebuah sungai yang didekatnya terdapat sebuah pohon randu alas?" tanya Ki Wuragil.
"Ya, nanti kita berhenti di tepi sebelah timur, di dekat pohon randu alas setelah melewati sebuah tempuran" kata Karebet.
Rakit Jaka Tingkir perlahan-lahan masih tetap melaju ke arah utara.
Keempat orang yang berada diatas rakit, telah siap untuk menempuh perjalanan jauh menuju ke hutan Prawata.
"Udara pagi yang segar" kata Karebet.
"Betul, pagi yang cerah " kata Jaka Wila sambil tersenyum.
Waktu bergerak terus, matahari merayap semakin tinggi, rakitpun masih melaju mengikuti arus air ke utara.
Ketika rakit melewati sebuah tempuran sungai, maka merekapun tahu, sebentar lagi mereka akan sampai di desa Tiku.
Rakit terus melaju ke arah utara, semilir anginpun mengusap lembut membuat badan menjadi segar.
Tempuran sudah dilewati, dan rakitpun masih terus bergerak ke utara.
"Itu pohon randu alas nya, sudah kelihatan" kata Jaka Wila sambil menunjuk sebuah pohon yang berada di sebelah timur.
"Ya, kita berhenti di dekat pohon randu alas itu" kata Karebet.
Semakin lama rakit semakin dekat dengan pohon randu alas.
Ketika rakit sudah dekat dengan pohon randu alas, Karebet pun berkata :"Kita berhenti disini"
Rakitpun segera menepi dan merekapun segera naik ke tepi sungai
Setelah mengambil bungkusan yang berisi bekal yang dibawa dari Banyubiru, mereka berempat kemudian menyeret rakit dan menaikkannya ke tepi sungai, supaya tidak hilang, hanyut terbawa arus sungai menuju ke laut.
"Ternyata besar juga pohon randu alas ini" kata Jaka Wila.
"Mulai dari pohon randu alas ini kita berjalan kaki menuju ke arah timur" kata Karebet.
"Ya" sahut Jaka Wila.
"Tidak jauh dari pohon randu alas ada sebuah belik yang airnya cukup bening, kita isi bumbung-bumbung untuk persediaan air minum kita nanti" kata Karebet.
Kemudian merekapun berjalan ke belik yang terletak tidak jauh dari pohon randu alas, disana mereka minum dan mengisi bumbung dengan air belik.
Tidak lama kemudian mereka berempat meneruskan perjalanan ke hutan Prawata dengan berjalan kaki.
"Buaya yang mendorong rakit dibiarkan tinggal di sungai disekitar tempuran atau disekitar pohon randu alas ?" tanya Jaka Wila kepada Mas Manca.
"Tidak, buaya itu pulang ke sarangnya di Kedung Srengenge" jawab Mas Manca.
Jaka Wila menganggukkan kepalanya, sambil memandang kepada Mas Manca, tetapi ia meragukan kebenaran jawaban Mas Manca.
Mereka berjalan terus ke arah timur, pohon randu alas sudah jauh berada di belakang.
Disebelah timur desa Tiku, mereka melalui sebuah hutan yang tidak terlalu lebat, sebuah jalan setapak yang agak lebar, menuju arah matahari terbit.
Waktu berjalan terus, siang itu terasa panas, matahari tepat berada di puncak langit,
"Di pinggir jalan di sebelah selatan ada beberapa pohon kelapa, aku akan memanjat dan mengambil beberapa buah kelapa" kata Jaka Wila, dan tanpa menunggu jawaban, iapun berjalan menuju pohon kelapa dan memanjat ke atas mengambil beberapa buah kelapa.
"Ambil yang masih muda!!" teriak Mas Manca kepada Jaka Wila yang sedang berada diatas pohon kelapa.
Dengan tangkasnya Jaka Wila memuntir beberapa kelapa muda dan menjatuhkannya kebawah, setelah itu iapun segera turun dan mengumpulkan buah kelapa yang telah dijatuhkannya.
Setelah membawa beberapa buah kelapa, mereka melanjutkan perjalanan, berjalan kaki ber empat, dan tidak lama kemudian didepan mereka terlihat sebuah jalan perempatan
"Kelihatannya didepan ada sebuah perempatan" kata Mas Manca.
"Ya, itu memang perempatan, kita beristirahat disini saja, kita berteduh dibawah pohon waru" kata Karebet.
"Ya, kita sambil minum air kelapa muda" kata Jaka Wila.
Mereka berempat kemudian duduk beristirahat dibawah pohon waru di dekat perempatan jalan.
"Makanannya masih ada ?" tanya Karebet.
"Makanan yang masih ada cuma pisang dan pepaya, ada juga ubi, ketela, kalau jagung mentah masih banyak. Nasi jagungnya sudah habis kita makan kemarin, tapi apakah kita akan buat api ?" tanya Jaka Wila.
"Tidak usah, kita makan yang ada saja, ditambah makan daging kelapa" kata Karebet.
"Ya, lumayan masih ada yang bisa dimakan" kata Ki Wuragil.
"Nanti malam aku akan berburu dihutan, kita akan makan daging kijang bakar, itu kalau nanti aku dapat kijang" kata Jaka Wila.
"Ya, tetapi kita tidak membawa panah" kata Mas Manca.
"Aku bawa pisau belati" kata Jaka Wila sambil menunjukkan sebuah pisau belati yang disimpan di ikat pinggangnya, yang tertutup oleh bajunya.
Jaka Wila memegang pisau belatinya, pisau yang agak tebal dan telah diberi hulu yang terbuat dari kayu, pisau yang dibuat secara khusus dan mempunyai keseimbangan yang baik, sehingga ketika pisau itu dilempar ke sasaran, yang berada di depan adalah bagian ujung pisau.
Dengan pedang pendek, mereka melobangi buah kelapa yang telah dipetik
"Air kelapa ini terasa segar" kata Mas Manca setelah minum air kelapa.
Sambil minum air kelapa serta makan pisang, mas Manca berkata :"Didepan kita kelihatannya ada sebuah perempatan jalan"
"Ya, ini adalah sebuah perempatan jalan, kalau kita berjalan lurus ke arah timur kita akan sampai di hutan Prawata lalu kalau diteruskan akan sampai di Pati, kalau kita belok kiri akan sampai di Panti Kudus tempat kediaman Sunan Kudus, sedangkan yang belok kanan menuju ke desa Tarub dan desa Sela" kata Karebet.
"Desa Tarub tempat tinggal Ki Getas Pendawa ?" tanya Jaka Wila.
"Ya, Ki Getas Pendawa yang rumahnya berada di desa Tarub adalah ayah dari Ki Ageng Sela, kalau desa Sela agak lebih keselatan sedikit, tetapi tidak terlalu jauh dari desa Tarub" kata Karebet.
"Dekat dengan bledug Kuwu?" tanya Jaka Wila.
"Ya, desa Kuwu yang ada bledug lumpurnya, berada disebelah timur desa Sela" jawab Karebet.
"Kalau Nis dari Sela, anaknya Ki Ageng Sela juga berada di Sela?" tanya Ki Wuragil.
"Ya, Ki Nis masih berada di desa Sela bersama seorang anaknya, kakang Pemanahan dan seorang anak angkatnya kakang Penjawi" kata Karebet.
Teringatlah Karebet ketika sedang belajar di perguruan Sela, selain dengan Nis Sela, dia juga sering berlatih olah kanuragan bersama cucu Ki Ageng Sela, anak dari Nis Sela, yang bernama Pemanahan dan anak angkat Nis Sela yang bernama Penjawi.
"Pemanahan dan Penjawi, dua orang dari perguruan Sela yang berilmu tinggi" kata Mas Manca.
"Kalau Pemanahan aku dengar punya seorang anak laki2?" tanya Ki Wuragil.
"Ya, kakang Pemanahan mempunyai seorang anak laki-laKi yang belum dewasa bernama Danang Sutawijaya, yang tekun berlatih ilmu kanuragan perguruan Sela" jawab Karebet.
"Anaknya hanya satu?" tanya Ki Wuragil.
"Ya, anaknya hanya satu, Danang Sutawijaya, anak laki-laki yang tekun berlatih ilmu kanuragan dan tangkas mengendarai kuda. Memang luar biasa, anak yang belum dewasa, sudah mampu berlatih bertempur naik kuda dengan sangat baik" kata Karebet, dan iapun berangan-angan, alangkah bangganya kalau mempunyai anak laki-laki setangkas Danang Sutawijaya.
"Danang Sutawijaya memang tangkas" kata Karebet :" Dia masih anak-anak, tetapi sudah trampil menggunakan senjata sebuah pedang atau sebuah tombak pendek sambil mengendarai seekor kuda"
(bersambung)- Ki Wuragil menganggukkan kepalanya, sambil membayangkan betapa tangkasnya Danang Sutawijaya yang saat ini belum menginjak dewasa sudah trampil naik diatas punggung seekor kuda sambil bermain-main dengan sebatang tombak pendek.
"Tidak ada satupun orang dewasa di perguruan Sela yang mampu mengalahkan Danang Sutawijaya ketika mereka diadu bermain sodoran" kata Karebet.
Mendengar cerita Karebet, Ki Wuragil semakin heran atas ketangkasan olah kanuragan Danang Sutawijaya yang selalu menang ketika bermain sodoran.
Ki Wuragil ingat, sodoran adalah permainan ketangkasan orang dewasa, biasa dimainkan oleh para prajurit berkuda, sebuah permainan pertempuran diatas punggung kuda satu lawan satu, bersenjatakan sebuah tombak pendek, yang mempunyai ujung yang terbuat dari kayu berbentuk bulat sebesar buah manggis.
"Hm andaikan Sutawijaya bisa menjadi anakku" kata Karebet dalam hati.
Mereka berempat terbenam dalam pikiran masing-masing, dan merekapun melanjutkan makan dan minum air kelapa.
Setelah dirasa cukup beristirahat, merekapun segera akan melanjutkan perjalanan ke hutan Prawata.
"Mari kita lanjutkan pejalanan kita" kata Karebet.
Kemudian merekapun berdiri dan mulai berjalan meneruskan perjalanannya menuju ke arah timur.
Beberapa saat kemudian perjalanan mereka terhalang oleh sebuah sungai lebar, dan merekapun menyeberangi sungai dengan berjalan masuk ke air.
"Ini sungai Serang" kata Karebet.
"Untung saat ini sedang musim kemarau, jadi sungainya tidak terlalu dalam, kalau musim penghujan, air sungai menjadi agak tinggi" kata Jaka Wila.
Kemudian merekapun melanjutkan perjalanan, hutan kecil yang tidak begitu lebat telah mereka lalui, diselingi beberapa bulak panjang, serta melewati beberapa gundukan tanah yang agak tinggi.
Matahari sudah condong kebarat, hutan sudah mulai agak rapat, tetapi mereka berempat masih belum sampai di hutan Prawata.
Ketika melewati sebuah sungai kecil, merekapun semuanya berhenti, dan merekapun berniat bermalam disini.
"Malam ini bulan belum purnama, besok malam, baru bulan purnama, biasanya baru besok pagi Kanjeng Sultan berangkat dari Kraton, besok sore baru sampai di hutan Prawata, berarti kita masih punya waktu dua malam" kata Karebet.
"Pada bulan purnama, Kanjeng Sultan pergi berburu masuk ke hutan dengan para pengawalnya, esok paginya baru Kanjeng Sultan pulang dari berburu.
Setelah Kanjeng Sultan berada di perkemahan, baru kerbaunya kita lepas, kita masih punya waktu sehari besok untuk mencari kerbau liar di sekitar hutan ini, atau nanti di sekitar hutan Prawata" kata Karebet selanjutnya.
"Kita membersihkan diri dulu di sungai ini, lalu mencari tempat untuk tidur malam ini" kata Karebet
Beberapa saat kemudian ke empat orang itupun membersihkan diri di sungai.
"Setelah ini, kita berdua masuk ke hutan mencari kijang" kata Jaka Wila kepada Mas Manca.
"Baiklah" kata Mas Manca.
Tidak lama kemudian, setelah selesai membersihkan badan, Mas Manca dan Jaka Wila masuk ke hutan, sedangkan Ki Wuragil dan Karebet masih berada di tempat semula sambil mencari tempat yang bisa dipakai untuk tidur.
Matahari telah tenggelam, langit berangsur-angsur meredup, Karebetpun membuat sebuah perapian.
Didepan perapian, Ki Wuragil dan Karebet duduk sambil membakar beberapa jagung dan ketela pohon.
Ketika Karebet dan Ki Wiragil sedang membakar ubi kayu, terdengar suara langkah mendekat, dan sesaat kemudian munculah Jaka Wila dan Mas Manca.
"Kami tidak bertemu dengan seekor kijangpun, hanya dapat dua ekor ayam alas, ini ayamnya sudah kami bersihkan, tinggal dibakar" kata Jaka Wila.
"Jagung dan ubinya sudah dibakar, tinggal di makan" kata Ki Wuragil.
Mereka berempat melingkari perapian dan membakar daging ayam hutan.
"Perapiannya hampir padam, tambah ranting kayu lagi" kata Karebet sambil mencari ranting kayu kering disekitar perapian
Setelah daging ayam bakar habis dimakan empat orang, maka merekapun beristirahat menyandarkan badannya pada sebatang pohon.
Malampun semakin larut, perapian sudah lama padam, mereka berempat berkerudung kain panjang, berusaha untuk bisa tidur dan beristirahat.
Ketika fajar telah menyingsing, semburat warna merah terlihat di sebelah timur, alampun segera menjadi riang dengan kicau burung menyambut pagi.
Alam yang semakin terang, dan empat orang yang sedang berada di hutan, Karebet, Ki Wuragil beserta Mas Manca dan Jaka Wila, telah bangun dan membersihkan badannya di sungai.
Setelah selesai membersihkan diri, merekapun membuat api dan membakar ubi dan jagung untuk sekedar pengisi perut.
"Setelah dari sini kita berangkat ke hutan Prawata" kata Karebet :"Malam nanti bulan purnama penuh, biasanya Kanjeng Sultan berangkat dari Kraton pagi ini, nanti sore baru sampai di perkemahan hutan Prawata"
"Nanti kita cari kerbau liar di pinggir hutan atau di kubangan sungai yang ada di hutan"
Matahari sudah merayap naik di langit, mereka segera bersiap untuk meneruskan perjalanan.
Merekapun berjalan di pinggir hutan, sambil melihat disekitarnya kalau ada yang melihat seekor kerbau liar.
Waktu terus berjalan, sebelum tengah hari mereka sudah sampai dibibir hutan Prawata.
"Kalian bertiga tunggu disekitar daerah ini sambil kalian mencari seekor kerbau liar, aku akan masuk ke hutan untuk melihat perkemahan Kanjeng Sultan" kata Karebet.
"Baik, nanti kami akan mencari seekor kerbau liar" kata Ki Wuragil.
"Siapa tahu kita juga dapat seekor kijang" kata Jaka Wila.
"Nanti setelah aku melihat perkemahan, aku kembali ke sini" kata Karebet, kemudian iapun segera masuk kedalam hutan.
Hutan Prawata yang tidak terlalu lebat, memudahkan Karebet untuk berjalan menerobos pepohonan ke arah utara. Dengan menggunakan pedang pendeknya, Karebet memotong sulur-sulur maupun ranting-ranting yang mengganggu perjalanannya.
Karebet, anak muda yang telah mengenal hampir seluruh sudut wilayah Kasultanan Demak, tidak kesulitan untuk mencari arah menuju perkemahan Kanjeng Sultan Trenggana.
Ketika ditemuinya sebuah sungai kecil, Karebet pun mengikuti alur sungai menuju ke utara , dan setelah berjalan sekian lama, maka Karebet melihat beberapa buah gubug di sebuah tanah lapang, sebuah daerah yang pernah dikenalnya.
"Tempat ini masih seperti sewaktu aku kesini beberapa bulan yang lalu" kata Karebet dalam hati.
Dengan hati-hati Karebet berjalan mendekati beberapa gubug yang didirikan diatas tanah lapang yang tidak terlalu luas.
Dengan berlindung dibalik sebatang pohon, Karebet mengamati perkemahan yang nanti akan digunakan oleh Kanjeng Sultan Trenggana.
Ketika dilihatnya dua orang mengenakan pakaian petani yang dipinggangnya terselip sebuah pedang pendek dan mereka sedang mengatur beberapa perlengkapan perkemahan, maka tahulah Karebet bahwa nanti sore Kanjeng Sultan akan tiba di perkemahan hutan Prawata.
(bersambung)
Sabtu, 16 Agustus 2014
KERIS KYAI SETAN KOBER 13
Kamis, 07 Agustus 2014
KERIS KYAI SETAN KOBER 12
·
BAB 5 : MASA PEMBUANGAN 2Ditulis oleh : Apung GWAP
"Ketika mengetahui Ki Ageng Sela memalingkan mukanya sewaktu memukul kepala kerbau hingga pecah, tiga orang Lurah yang berada dipanggung tidak bisa memutuskan apakah Ki Ageng Sela berhasil atau tidak, dan akhirnya persoalan Ki Ageng Sela dilaporkan ke Tumenggung Suranata dan Tumenggung Gajah Birawa" cerita Tumpak.
"Kedua Tumenggung itupun ternyata juga tidak bisa memutuskan. Kalau melihat kerbaunya mati karena pukulan tangan Ki Ageng Sela, harusnya Ki Ageng Sela bisa lulus pendadaran, tetapi kalau melihat Ki Ageng Sela memalingkan mukanya pada saat pukulan tangannya memecahkan kepala kerbau, sebaiknya tidak diluluskan, apa jadinya kalau seorang prajurit Wira Tamtama yang sedang bertempur, selalu memalingkan wajahnya karena tidak tega atau takut melihat darah yang tumpah" kata Tumpak.
"Nah, karena tidak bisa memutuskan hasil pendadaran Ki Ageng Sela, akhirnya Tumenggung Gajah Birawa membawa persoalan itu kepada Kanjeng Sultan Trenggana, biar Kanjeng Sultan sendiri yang memutuskan apakah Ki Ageng Sela diterima atau tidak sebagai prajurit Wira Tamtama" kata Tumpak melanjutkan.
"Keputusan Kanjeng Sultan yang disampaikan oleh Tumenggung Gajah Birawa kepada Ki Ageng Sela ternyata, Ki Ageng Sela dinyatakan gagal mengikuti pendadaran, jadi meskipun Ki Ageng Sela mampu membunuh seekor kerbau liar dengan sekali pukul, tetap tidak bisa diterima sebagai prajurit Wira Tamtama, karena Ki Ageng Sela jirih getih" kata Tumpak selanjutnya.
"Ternyata keputusan Kanjeng Sultan yang menolak Ki Ageng Sela menjadi prajurit Wira Tamtama membuat Ki Ageng Sela sakit hati, tanpa pamit Ki Ageng Sela langsung pulang ke desa Sela, dan disana dia mengumpulkan para pemuda dari daerah Sela berjumlah lebih dari empat ratus orang berangkat nglurug perang ke Demak" kata Tumpak.
"Padahal sebetulnya Kanjeng Sultan Trenggana dan Ki Ageng Sela masih terhitung saudara" kata Karebet :"Ayah Ki Ageng Sela yang bernama Ki Getas Pendawa adalah cucu raja Majapahit"
"Ya, itulah sebabnya maka Kanjeng Sutan berkenan menghadapi sendiri Ki Ageng Sela yang telah merasa sakit hati karena dianggap tidak lulus di pendadaran calon prajurit Wira Tamtama" kata Tumpak.
"Ketika pemuda dari Sela yang berjumlah empat ratus orang nglurug ke Demak, mereka dibiarkan masuk ke alun-alun, hanya dijaga saja oleh prajurit Demak, dan yang terlihat paling depan sendiri adalah Ki Ageng Sela yang berada diatas punggung kudanya, dan atas perintah dari Kanjeng Sultan, semua prajurit Demak tidak diperbolehkan menyerang Ki Ageng Sela, nanti Kanjeng Sultan Trenggana sendiri yang akan menghadapinya" kata Tumpak.
"Kanjeng Sultan Trenggana naik seekor kuda dengan membawa busur dan beberapa anak panah, kemudian Kanjeng Sultan melepaskan beberapa anak panah, bukan ditujukan kepada Ki Ageng Sela, tetapi yang dipanah adalah kuda yang ditunggangi Ki Ageng Sela" kata Tumpak.
"Ketika beberapa anak panah Kanjeng Sultan mengenai kudanya, Ki Ageng Sela merasa tidak tega, dia turun dari kudanya, mungkin dia berpikir baru terkena anak panah saja kudanya sudah menderita, bagai mana kalau terkena tebasan pedang, darah akan mengucur di peperangan" cerita Tumpak.
"Aku melihat Ki Ageng Sela ragu-ragu ia melihat kepada para pemuda yang diajaknya nglurug ke Demak, aku menduga Ki Ageng Sela menghitung, orang-orang Sela tidak akan menang apabila melawan prajurit Demak yang jumlahnya jauh lebih banyak dan mempunyai kemampuan tempur yang lebih baik" kata Tumpak.
"Kalaupun orang-orang dari Sela tetap keras kepala melanjutkan pemberontakan kepada Demak, perhitunganku Ki Ageng Sela beserta para pemuda Sela akan tumpes tapis tidak ada yang tersisa" lanjut cerita Tumpak.
"Kemudian, ternyata orang-orang yang berjumlah ratusan itupun disuruh mundur dan atas perintah Ki Ageng Sela mereka semuanya kembali ke Sela" kata Tumpak.
"Sedemikian mudahnya ?" tanya Karebet.
"Ya, memang mudah, Ki Ageng Sela memang seorang yang jirih getih, tidak ada korban jiwa sama sekali, Ki Ageng Sela nglurug ke Demak hanya karena sakit hati, bukan sebagai seorang senapati perang yang mempunyai perhitungan yang matang tentang pertempuran dengan menggunakan sebuah gelar perang" kata Tumpak.
"Lalu Ki Ageng Sela dihukum karena pemberontakan itu ?" tanya Karebet.
"Tidak, Kanjeng Sultan memutuskan memberi pengampunan umum kepada Ki Ageng Sela beserta semua pemuda dari Sela yang ikut nglurug ke Demak" kata Tumpak.
"Berarti persoalan Sela sudah selesai ?" tanya Karebet.
"Ya, persoalan Sela sudah selesai" kata Tumpak.
Keduanya berdiam diri, Karebet bisa merasakan betapa salah satu gurunya, Ki Ageng Sela menjadi malu karena peristiwa itu.
"Kemudian, apakah ada kabar lainnya Tumpak ?" tanya Karebet.
"Sekarang Kanjeng Sultan Trenggana semakin sering pergi berburu, satu candra yang lalu Kanjeng Sultan berburu di hutan Prawata, akupun juga diajak ikut kesana, dua tiga bulan kedepan, rencananya Kanjeng Sultan juga akan berburu lagi, mudah-mudahan aku diajak berburu lagi" kata Tumpak sambil tersenyum.
"Ya, disana kita bisa makan daging kijang hasil perburuan" kata Karebet diselingi suara tertawa.
"Selain itu ada kabar lain lagi, tentang Kanjeng Sunan Kalijaga" kata Tumpak melanjutkan ceritanya.
"Ada apa dengan Kanjeng Sunan Kalijaga ?" tanya Karebet.
"Kanjeng Sunan Kalijaga yang selama ini tidak pernah menetap di suatu daerah, mengembara njajah desa milang kori, mendaki gunung, menyusuri lembah, menjelajah ke seluruh negeri Demak, telah dipersilahkan oleh Kanjeng Sultan Trenggana untuk memilih dan menetap di daerah yang disukai oleh Kanjeng Sunan Kalijaga" cerita Tumpak.
"Kanjeng Sunan Kalijaga akhirnya memilih membuka pesantren di desa Kadilangu" kata Tumpak melanjukan ceritanya.
"Kadilangu ?" tanya Karebet.
"Ya, Kadilangu, tidak jauh dari kotaraja Demak, ditepi sebelah timur sungai Tuntang" kata Tumpak meneruskan ceritanya.
"Kadilangu, dekat sekali, aku ingin belajar kesana" kata Karebet.
"Ya, misalnya nanti kau mendapat pengampunan dari Kanjeng Sultan, dan bisa menjadi Lurah Wira Tamtama lagi, maka setelah kau selesai bertugas, di waktu malam hari, atau sewaktu kau tidak sedang bertugas, kau bisa ke Kadilangu, ke tempat Kanjeng Sunan Kalijaga" kata Tumpak.
"Ya, itu nanti kalau aku mendapat pengampunan dari Kanjeng Sutan dan diperbolehkan lagi menjadi seorang prajurit Wira Tamtama, tetapi sekarang masih belum, aku masih menjalani hukuman yang dijatuhkan oleh Kanjeng Sultan" kata Karebet sambil tertawa.
Melihat Karebet tertawa, maka Tumpakpun juga tertawa keras.
"Berita yang lain, beberapa pasar yang lalu, Gusti Sekar Kedaton pernah menderita sakit" kata Tumpak.
Karebet terkejut dan iapun bertanya :"Gusti Putri Sekar Kedaton Sakit ? Sakit apa ?"
"Aku tidak tahu Gusti Sekar Kedaton menderita sakit apa, tetapi kulihat beberapa kali Nyai Tamba datang ke Kaputren membawa jamu untuk Gusti Putri" kata Tumpak.
"Berapa hari Nyai Tamba datang ke Kraton ?" tanya Karebet,
"Sehari datang dua kali, pagi dan sore hari, selama kira-kira dua pasar" jawab Tumpak.
"Lalu sekarang bagaimana keadaannya ?" tanya Karebet.
"Gusti Sekar Kedaton sudah sembuh, sekarang Nyai Tamba tidak pernah datang lagi ke Kaputren" kata Tumpak
"O begitu, syukurlah kalau Gusti Putri sekarang sudah sembuh dari sakitnya" kata Karebet lega.
"Ya, aku juga melihat beberapa kali Kanjeng Prameswari menengok Gusti Sekar Kedaton" kata Tumpak.
Karebet terdiam, dia menduga dirinyalah yang menjadi penyebab Sekar Kedaton Gusti Mas Cempaka menjadi sakit.
"Kasihan diajeng Cempaka" kata Karebet dalam hati.
"Nah, kali ini ada berita lain" kata Tumpak sambil tersenyum.
"Berita apa ?" tanya Karebet.
"Kemarin, ketika aku ketemu Nyai Madusari, aku lihat senyumnya, aku lihat wajahnya, ternyata dia masih tetap cantik" kata Tumpak sambil tertawa.
Karebetpun juga tertawa mendengar canda Tumpak.
"Tumpak, tolong kabarkan pada Nyai Madusari, kalau saat ini, aku dalam keadaan sehat, ceritakan kalau kau bertemu dengan aku disini" kata Karebet.
"Kenapa kepada Nyai Madusari?" tanya Tumpak.
"Ya, karena dia bersikap baik kepadaku, dan karena Nyai Madusari sampai saat ini masih tetap cantik" kata Karebet sambil tertawa.
Tumpakpun tertawa mendengar canda Karebet.
"Katakan juga kepada Nyai Madusari tidak lama lagi aku akan berusaha untuk bisa masuk ke kotaraja Demak, aku berharap mudah-mudahan Kanjeng Sultan bisa mengampuni aku" kata Karebet.
"Ya, nanti akan aku sampaikan kepada Nyai Madusari" jawab Tumpak.
"Terima kasih Tumpak" kata Karebet.
"Ah aku sudah terlalu banyak bercerita, sehingga aku menjadi lapar lagi, sekarang mari kita makan pisang atau makan gembili yang empuk ini" kata Tumpak sambil mengambil sebuah pisang.
Setelah itu kedua sahabat saling bercerita sambil makan, dan tak terasa mataharipun telah bergeser ke barat.
"Karebet, hari telah hampir sore, matahari sudah condong ke barat, sudah saatnya kita berpisah, aku berharap kita akan bertemu lagi, sekarang aku akan kembali ke kotaraja, kau akan kemana Karebet ?" tanya Tumpak.
"Aku akan ke Pengging, ziarah ke makam kedua orang tuaku" kata Karebet.
Keduanya kemudian berdiri, lalu mengemasi makanan yang tersisa, beberapa umbi gembili dan pisang yang tidak habis dimakan, kemudian merekapun berjalan menuju ke tempat kuda milik Tumpak yang di ikat di sebuah dahan pohon.
Kemudian Tumpakpun mengambil sebuah bungkusan kecil yang tergantung dipelana kudanya, lalu bungkusan itupun diberikan kepada Karebet.
"Ini ada sedikit makanan, untuk bekal makan malam nanti, pisang dan gembilinya yang tadi masih tersisa dimasukkan saja ke bungkusan ini" kata Tumpak.
"Terima kasih Tumpak, kau tahu kalau aku sering tidak punya makanan" kata Karebet sambil tersenyum.
"Kau akan melanjutkan perjalanan sekarang ? Kau akan tidur dimana Karebet ?" tanya Tumpak.
"Aku akan ke selatan, nanti aku akan tidur di sekitar desa Cengkal Sewu" jawan Karebet.
"Baik, kita berpisah disini, aku akan langsung pulang ke kotaraja sekarang" kata Tumpak, lalu iapun naik ke punggung kuda dan menjalankannya ke arah utara, ke kotaraja Demak.
Setelah Tumpak hilang dari pandangannya, maka Karebetpun berjalan ke arah selatan, menuju Pengging.
Dari Mrapen, Karebet menuju ke Selatan, lalu sedikit serong ke kiri, maka Karebet akan sampai di tepi sebelah barat sungai Tuntang.
Waktu terus berjalan, mataharipun hampir terbenam di cakrawala, ketika Karebet hampir sampai di daerah Cengkal Sewu.
"Aku mau mandi dulu disungai sebelum gelap" kata Karebet dalam hati, kemudian iapun menuju tepi sungai dan membersihan badannya yang terasa lengket terkena keringat.
Hari berangsur gelap ketika Karebet sudah selesai mandi, dan iapun mencari tempat untuk bisa tidur malam ini.
Ketika dilihatnya sebatang pohon yang bisa dibuat sandaran maupun sekedar merebahkan badannya, Karebetpun lalu berjalan menuju ke tempat itu.
Malam belum terlalu larut, bekal pemberian Tumpak sebagian sudah dimakan, dan ketika waktu sudah masuk wayah sepi bocah, Karebetpun berniat istirahat, direbahkan badannya, dan malam itu iapun bisa tidur, meskipun hanya sebentar.
Di pagi hari, ketika matahari mulai memanjat langit, Karebet melanjutkan perjalanannya, berjalan ke arah selatan.
Setelah menyeberangi beberapa sungai dan berjalan sedikit berbelok ke arah barat, sampailah Karebet di daerah Sima.
Siang itu, didekat jalan yang dilaluinya, Karebet menjumpai sebuah sendang kecil, tempat yang nyaman untuk beristirahat dan Karebetpun berhenti di sendang lalu makan bekal pemberian Tumpak yang masih tersisa di dalam bungkusan. "Kalau berjalan perlahan-lahan, nanti pada waktu matahari terbenam aku masih belum bisa sampai di daerah Pengging" kata Karebet dalam hati.
Matahari terus merayap turun, Karebetpun masih tetap mengayunkan langkahnya menuju Pengging dan ketika hari berangsur gelap, maka Karebetpun berniat untuk menginap di sekitar hutan disebelah utara Pengging.
Malam itu masih seperti malam-malam yang lalu, suara binatang malam masih sering terdengar, Karebetpun bisa tertidur sejenak dengan menyandarkan badannya di sebuah batang pohon.
Malam telah berlalu, berganti pagi yang cerah, matahari sudah memanjat langit, terlihat seorang anak muda duduk didepan makam Ki Ageng Pengging dan Nyai Ageng Pengging.
Ki Ageng Pengging dan Nyai Ageng Pengging telah lama meninggal dunia, lama sekali, hampir seumur Karebet sendiri, sehingga sejak kecil Karebet hidup tanpa ayah dan ibu kandung. Didepan makam kedua orang tuanya, Karebet teringat pasang surut semua perjalanan hidupnya.
Meskipun Karebet tidak pernah mengenal wajah kedua orang tuanya, tidak pernah teringat mendapatkan kasih sayangnya, tetapi ia merasa banyak orang yang telah memberikan kasih kepadanya, terutama biyungnya, Nyai Tingkir yang telah menganggapnya seperti anak sendiri.
Kemudian siwanya Ki Kebo Kanigara yang saat ini tidak diketahui tempat tinggalnya, pamannya Ganjur yang tinggal di Suranatan, Kanjeng Sultan Trenggana, bahkan Sekar Kedaton Kasultanan Demak, Nimas Cempaka, semuanya sayang kepadanya.
Agak lama Karebet berada di depan makam Ki Ageng dan Nyai Ageng Pengging, saat itu yang keluar dari mulutnya adalah ucapan sebuah doa buat kedua orang tuanya yang telah berada di alam kelanggengan.
Beberapa saat kemudian, setelah dirasa cukup, Karebetpun berdiri dan meninggalkan makam kedua orang tuanya.
Setelah dari makam, maka Karebet berjalan menuju rumahnya, rumah orang tuanya Ki Ageng Pengging, yang saat ini hanya ditunggu oleh seorang pembantu ayahnya yang setia, Ki Purwa, seorang laki-laki yang sudah tua.
Rumah Ki Ageng Pengging termasuk rumah yang besar, yang hanya kadang-kadang ditengok oleh uwanya, Kebo Kanigara, itupun juga tidak terlalu sering, hanya kalau uwanya Kebo Kanigara lewat disekitar daerah Pengging.
Ketika sampai di rumahnya, rumah peninggalan ayahnya yang besar, Ki Purwa, penjaga rumah itu menyambutnya dengan mata berkaca-kaca :"Kau sudah lama tidak menengok rumahmu ngger Karebet"
"Ya wa, sekarang aku pulang,dan aku ingin tidur dirumah beberapa malam" kata Karebet.
Malam itu Karebet ingin tidur di amben yang ada dipendapa, dan iapun berkata kepada pembantunya :"Siwa, aku akan tidur di pendapa saja, udaranya terasa segar"
Tak terasa, Karebet sudah empat hari berada di rumahnya di Pengging, dan sejauh itu belum ada kepastian, setelah dari Pengging, akan kemanakah arah ayunan langkah kaki nya.
"Ki Ageng Butuh berkata supaya aku ke Pengging, tetapi setelah aku berada di Pengging, sekarang aku belum tahu, setelah ini aku harus menuju kemana" kata Karebet dalam hati.
Malam itu adalah malam yang ke empat ia berada di Pengging, saat itu suasana malam sunyi sepi, hanya terdengar terus menerus suara cengkerik dan sekali-sekalli terdengar bunyi kepak sayap burung hantu memecah kesunyian malam.
Di pendapa, pada saat tengah malam, Karebet yang dalam keadaan tidur, bermimpi seakan-akan mengalami peristiwa yang benar-benar terjadi, sehingga Karebetpun menjadi terbangun.
Dalam mimpinya, Karebet melihat ada seseorang yang berumur setengah baya, bertubuh sedang, menyuruhnya pergi ke kaki gunung Telamaya ditepi Rawa Pening, menemui Ki Buyut Banyubiru.
"Aku bermimpi disuruh menemui Ki Buyut Banyubiru. Siapakah orang yang menyuruhku ? Siapakah Ki Buyut Banyubiru ? Baik, besok pagi aku berangkat ke Banyubiru, aku akan berangkat pagi, mudah-mudahan sebelum matahari terbenam, aku sudah sampai dirumah Ki Buyut Banyubiru" kata Karebet dalam hati.
Setelah itu, Karebet tidak bisa tidur lagi hingga fajar menyingsing. Warna merah telah membayang di bang wetan, ketika Ki Purwa, bangun dari tidurnya, Karebetpun mendekat dan iapun berpamitan untuk meneruskan perjalanannya.
"Sepagi ini ?" tanya Ki Purwa.
"Nanti wa, sekarang aku mau mandi dulu" kata Karebet
"Tunggu sebentar, berangkat nanti saja setelah kau makan nasi, aku persiapkan dulu makanmu dan bekal perjalananmu" kata Ki Purwa.
"Bekalnya jangan banyak-banyak wa, berat membawanya" kata Karebet
Setelah hari semakin terang, sebelum berangkat, sekali lagi Karebet mengunjungi makam kedua orang tuanya, beberapa saat kemudian iapun berjalan kearah utara, meninggalkan desa Pengging menuju desa Banyubiru dikaki gunung Telamaya.
Perjalanan dari Pengging menuju Banyubiru, tidak melalui Sima tetapi lebih dekat melalui desa Tingkir.
Karebet tidak ingin melihat biyungnya bersedih bila mengetahui keadaannya saat ini, maka Karebet berusaha menghindari lewat desa Tingkir, iapun berjalan sedikit melingkar, memutari desa Tingkir.
Matahari terus merayap naik, Karebetpun berjalan terus, sebelum matahari mencapai puncaknya, Karebet sudah berada di kaki gunung Telamaya.
Ketika dilihatnya sebuah gubug yang kosong tanpa penunggu, maka Karebetpun istirahat didalam gubug sambil makan bekal yang dibawanya.
"Sebelum matahari terbenam, aku sudah sampai di Banyubiru" kata Karebet.
"Banyubiru terletak di kaki bukit Telamaya menghadap ke Rawa Pening, aku harus berjalan kearah utara, setelah sampai di desa Gedangan, lalu berbelok ke arah barat" kata Karebet dalam hati.
Beberapa saat kemudian, setelah makan dan istirahat sebentar, Karebetpun melanjutkan perjalanan ke arah utara, kakinya terus melangkah di kaki gunung Telamaya disisi sebelah timur.
Perjalanan Karebet melewati sedikit jalan menurun, tanahpun sudah terasa basah.
"Daerah ini sudah termasuk desa Gedangan, di pinggir Rawa Pening" kata Karebet.
Dari desa Gedangan, Karebet berjalan kearah barat dan tak lama kemudian terlihat ada sebuah desa yang subur ditepi Rawa Pening, memanjang naik ke kaki bukit Telamaya.
Matahari sudah condong ke barat, ketika di jalan yang dilaluinya, Karebet bertemu dengan seorang petani.
"Ki sanak, apakah betul desa ini adalah desa Banyubiru ?" tanya Karebet kepada orang itu.
"Betul ki sanak, disini adalah desa Banyubiru" kata petani itu.
"Di sebelah manakah rumah Ki Buyut Banyubiru" tanya Karebet.
"Ki sanak berjalan lurus saja, nanti ada pertigaan didepan pohon gayam, ki sanak belok ke kiri, ke selatan" kata orang itu menjelaskan.
"Nah setelah berjalan ke selatan, nanti ada mata air yang keluar dari sebuah batang bambu, dan disebelah mata air yang mengucur adalah rumah Ki Buyut Banyubiru, rumah paling besar yang terletak disebelah kanan" kata orang itu.
"Ya, terima kasih Ki sanak" kata Karebet.
Karebetpun melanjutkan pejalanannya ke rumah Ki Buyut Banyubiru Perjalanan tinggal sedikit lagi, didepannya sudah terlihat sebatang pohon gayam.
"Kelihatannya didepan itu ada pohon gayam, nanti setelah sampai di pertigaan didepan pohon gayam, lalu belok ke selatan" kata Karebet.
Langkah Karebet semakin dekat dengan pohon gayam, dan setelah sampai didepan pohon itu ada jalan bercabang, Karebetpun berbelok kearah selatan.
Setelah berjalan beberapa saat dan sudah melewati pancuran air yang mengucur dari sebuah bambu, maka Karebetpun berbelok ke sebuah rumah yang paling besar.
Ketika Karebet sudah berbelok masuk ke halaman rumah Ki Buyut Banyubiru, ternyata didepan pendapa telah berdiri lima orang, tiga orang yang sudah tua dan dua orang pemuda, sepertinya mereka akan menyambut seorang tamu agung.
"Lima orang berdiri dan bersikap ngapurancang semua, kelihatannya mereka akan menyambut tamu, tapi siapa tamunya ?" kata Karebet sambil menengok kebelakang, dan iapun memperhatikan sekelilingnya :"Sepi, tidak ada seorangpun yang terlihat, siapakah yang mereka tunggu ?"
Karebet berjalan terus, setelah dekat, ia lalu mengucapkan salam, dan kelima orang itupun membalas salamnya.
Tiga orang tua yang berdiri ngapurancang, salah seorang dari mereka, rambutnya sudah putih semua, jenggotnya juga sudah putih, sambil tersenyum ia berkata :"Selamat datang calon raja di tanah Jawa, selamat datang di desa Banyubiru"
Lalu kepada salah seorang pemuda di sebelahnya, iapun berkata :"Mas Manca, inilah priyayi yang kau tunggu-tunggu sudah datang, calon junjunganmu di masa depan, cepat kau haturkan sembah kepadanya"
Karebet terkejut ketika seorang pemuda yang berdiri ngapurancang disebelah orang tua yang berambut putih, maju kedepan dan menyembahnya.
Ketika melihat seorang pemuda yang tiba-tiba menyembah kepadanya, Karebet maju selangkah kedepan dan menarik tangan pemuda itu supaya berdiri.
"Berdirilah" kata Karebet.
Setelah pemuda itu berdiri, maka Karebetpun mengulurkan tangannya, menyalami ke lima orang yang berdiri didepan pendapa dan merekapun menyambutnya dengan penuh hormat.
"Mari angger, silahkan naik ke pendapa, kita bicara di dalam" kata orang tua yang berambut putih dengan penuh hormat, dan iapun mempersilahkan Karebet untuk naik ke pendapa.
Karebetpun bersama lima orang yang menyambutnya berjalan naik ke pendapa, dan di pendapa terlihat sebuah amben untuk tempat duduk dan beberapa dingklik yang terbuat dari kayu yang berukuran agak besar.
Orang tua yang berambut putih mempersilahkan Karebet duduk di amben bersamanya, dua orang tua lainnya duduk di dingklik di depan amben, sedangkan dua orang pemuda duduk di dingklik yang paling belakang.
Ketika semua orang sudah duduk, sebagai seorang tamu dan berusia lebih muda, maka Karebet berniat memperkenalkan dirinya lebih dulu.
"Maaf, kalau saya lancang datang ke tempat ini, nama saya Jaka Tingkir dari desa Tingkir, apakah ini desa Banyubiru dan apakah betul disini rumah Ki Buyut Banyubiru ?" tanya Karebet.
Mendengar perkataan Karebet, seorang pemuda yang duduk di belakang, berbisik kepada pemuda yang duduk disebelahnya yang tadi telah dipanggil dengan nama Mas Manca :"Ternyata yang datang adalah Jaka Tingkir, baru kali ini yang dikatakan Ki Buyut kepada kita ternyata keliru, pemuda ini adalah Jaka Tingkir yang berasal dari desa Tingkir, bukan orang yang sedang kita tunggu, yang bernama Mas Karebet yang berasal dari Pengging"
Orang tua yang berambut putih itu tersenyum, dengan nada perlahan, iapun menjawab :"Betul angger, desa ini bernama desa Banyubiru, dan kalau ada yang sudi memanggilku, disini aku dipanggil Buyut Banyubiru".
"Hormat saya untuk Ki Buyut Banyubiru" kata Karebet sambil mengangguk hormat.
Ki Buyut Banyubiru juga mengangguk membalas menghormat kepada Karebet.
"Ya angger Jaka Tingkir, tetapi siapakah nama angger sebenarnya dan angger berasal dari mana ?" tanya Ki Buyut Banyubiru.
"Ki Buyut, nama pemberian orang tua saya adalah Mas Karebet, saya berasal dari Pengging, sejak kecil saya dijadikan anak angkat oleh Nyai Ageng Tingkir, dan disana saya dipanggil Jaka Tingkir" kata Karebet menjelaskan.
Kedua anak muda yang duduk di dingklik paling belakang, saling berpandangan, Mas Manca berkata pelan :"Ternyata perkataan Ki Buyut benar, pemuda ini bernama Mas Karebet"
"O jadi begitu, apakah angger Karebet ini adalah putra Ki Kebo Kenanga atau yang sering dipanggil dengan nama Ki Ageng Pengging ?" tanya Ki Buyut Banyubiru.
"Betul Ki Buyut, Ki Ageng Pengging adalah ayah saya" kata Karebet.
"Ya, angger Karebet ini adalah orang yang kami tunggu beberapa hari ini. Perkenalkan, kami sekumpulan orang tua yang sudah pikun, tiga orang bersaudara, saya Buyut Banyubiru, kedua orang tua ini adalah adik saya, Ki Majasta dan Ki Wuragil, sedangkan kedua anak muda ini, yang seorang adalah anak angkat saya yang bernama Mas Manca, yang seorang lagi anak dari Ki Majasta yang bernama Jaka Wila" kata Ki Buyut Banyubiru menjelaskan.
Karebetpun mengangguk hormat kepada kedua orang tua adik dari Ki Buyut Banyubiru serta kepada dua orang pemuda yang duduk dibelakang, dan mereka berempatpun membalas mengangguk hormat kepada Karebet.
Ki Buyutpun berkata kepada keponakannya :"Jaka Wila, tolong ambilkan minuman untuk tamu kita, angger Karebet"
"Baik Ki Buyut" kata Jaka Wila dan iapun masuk ke ruang dalam.
Beberapa saat kemudian Jaka Wila keluar sambil membawa minuman dan beberapa tempat minum yang terbuat dari tempurung kelapa yang dihaluskan.
"Mari angger Karebet, ini ada wedang jahe yang dicampur dengan sedikit gula aren, mumpung masih hangat" kata Ki Buyut Banyubiru.
Kemudian mereka pun berbicara sambil minum minuman yang telah disuguhkan.
"Bagaimana angger Karebet bisa sampai di Banyubiru?" tanya Ki Buyut.
"Ki Buyut, tadi malam saya bermimpi supaya segera pergi menemui Ki Buyut Banyubiru" kata Karebet.
"Angger Karebet berangkat dari Pengging tadi pagi ?" tanya Ki Buyut.
"Ya Ki Buyut" jawab Karebet.
"Baiklah angger Karebet, tadi aku berbicara pada kedua adikku dan kedua pemuda ini, firasatku mengatakan kalau angger Karebet sore ini akan datang di Banyubiru" kata Ki Buyut Banyubiru.
"Angger Karebet, saya sudah mengetahui apa yang angger alami, sebaiknya angger Karebet untuk sementara tinggal dulu di Banyubiru, kira-kira dua tiga candra, nanti akan kita carikan waktu yang tepat dan mencarikan jalan supaya angger Karebet bisa mendapat ampunan dari Kanjeng Sultan Trenggana" kata Ki Buyut Banyubiru.
"Sekarang angger silahkan mandi dulu di pancuran di belakang rumah, kamar untuk angger sudah disiapkan, nanti biar Mas Manca atau Jaka Wila yang melayani kebutuhan angger Karebet" kata Ki Buyut Banyubiru.
Beberapa saat kemudian, Karebet diantar Jaka Wila ke kamar yang sudah disiapkan untuknya, dan iapun bersiap untuk mandi di pancuran di belakang rumah,
Waktupun berjalan terus, tak terasa sang raditya telah selesai melaksanakan tugasnya menerangi jagad raya, dan saat ini telah digantikan oleh dyah sitaresmi yang memancarkan sinarnya yang lembut.
Saat itu suasana di sekitar Rawa Pening dibalut keheningan malam, bulan yang bercahaya, sinarnya yang redup menyelimuti bumi Banyubiru, ditemani ribuan bintang yang masih terus terlihat berkedip di angkasa,
Malam yang sepi, udara yang dingin di kaki gunung Telomoyo, memaksa orang tidur dengan berselimut kain panjang.
Hari demi hari telah berlalu, Karebet telah menganggap tiga orang tua kakak beradik, Ki Buyut Banyubiru, Ki Majasta dan Ki Wuragil adalah sebagai gurunya.
Ketiganya mumpuni dalam ilmu jaya kawijayan, olah kanuragan dan olah kajiwan.
Selain itu, Ki Buyut Banyubiru adalah orang yang mempunyai firasat yang tajam, ia adalah orang yang waskita, dan seakan-akan ngerti sak durunge winarah.
Sudah dua candra Karebet berada di Banyubiru, dan selama itu Karebetpun akrab dengan Mas Manca dan Jaka Wila karena umur mereka sebaya,
Tiap hari mereka berlatih olah kanuragan bertiga, meskipun ilmu Mas Manca dan Jaka Wila masih belum bisa menyamai Karebet, tetapi mengalahkan mereka berdua juga tidak semudah mijet wohing ranti.
Setelah Karebet berada di Banyubiru lebih dari dua candra, maka Ki Buyut Banyubiru menyuruh ketiga pemuda itu, Karebet, Mas Manca dan Jaka Wila untuk membuat sebuah rakit yang terbuat dari rangkaian batang bambu.
"Kalian bertiga pergilah ketepi sungai, buatlah sebuah rakit yang besar, yang kuat untuk ditumpangi lima orang" kata Ki Buyut Banyubiru.
Maka mulailah ketiga pemuda itu merencanakan pembuatan sebuah rakit, dicarinya belasan batang bambu yang lurus yang nantinya akan ditebang, dirangkai, diikat dengan tali yang terbuat dari puntiran sabut kelapa.
(bersambung)
Selasa, 05 Agustus 2014
KERIS KYAI SETAN KOBER 11
BAB 5 : MASA PEMBUANGAN 1
Ditulis oleh : Apung GWAP
Meskipun jalannya lambat, akhirnya Nyai Madusaripun sampai juga di ruang dalam, dan di depan pintu yang tertutup, Nyai Menggung berdiri menunggu panggilan Sultan Trenggana.
"Masuklah Nyai Menggung" kata Kanjeng Sultan, dan dengan muka menunduk, Nyai Madusari masuk kedalam ruangan, menyembah dan duduk bersimpuh dihadapan Sultan Trenggana. Disamping Sultan Trenggana, duduk pula Kanjeng Prameswari.
"Nyai Menggung, kau kupanggil kesini, apakah kau tahu penyebab sakitnya Putri Sekar Kedaton?" tanya Sultan Trenggana.
Dengan detak jantung yang semakin cepat, Nyai Madusari menjawab:" Hamba tidak tahu Kanjeng Sultan"
Sultan Trenggana melihat wajah Nyai Madusari sebentar terlihat pucat, sebentar kemudian terlihat memerah, Dan Kanjeng Sultanpun tersenyum dalam hati.
"Nyai Menggung coba lihat kesini, kau tahu penyebab sakitnya Sekar Kedaton?" tanya Sultan Trenggana.
"Hamba tidak tahu Kanjeng Sultan" kata Nyai Madusari.
"Nyai Menggung, kau tahu apa hukumannya bagi orang yang telah berani berbohong kepada Sultan Demak ?" kata Kanjeng Sultan sambil membetulkan letak keris yang dipakainya, yang terasa sedikit kurang kebawah.
Ketika Nyai Madusari melihat Kanjeng Sultan menggeser kerisnya, menjadi gemetar dan iapun segera menjawab :"Hamba tahu penyebab sakitnya Gusti Putri, Kanjeng Sultan"
"Nah begitu, bagus nyai" kata Sultan Trenggana sambil tersenyum.
Dihadapan Sultan Trenggana, di wajah Nyai Madusari muncul keringat sebesar butir-butir jagung, wajahnya pucat, jantungnya berdetak kencang, iapun ingin segera pergi dari ruang itu, tetapi tidak berani meninggalkan Kanjeng Sultan.
"Sejak kapan Sekar Kedaton sakit dan apa yang pernah dikatakannya kepadamu ?" tanya Sultan Trenggana.
"Kasinggihan dalem, Gusti Putri sakit sejak Karebet mendapat hukuman diusir dari kotaraja Demak Kanjeng Sultan" kata Nyai Madusari.
"Hm ternyata Karebet" kata Sultan Trenggana dalam hati.
"Lalu apalagi ?" tanya Kanjeng Sultan.
"Sejak mereka berdua naik perahu ke pantai dulu, yang dipikiran dan dibicarakan Gusti Putri setiap hari hanya Karebet, Kanjeng Sultan" kata Nyai Madusari.
Sultan Trenggana berdiam diri, hingga akhirnya Kanjeng Sultanpun menganggap keterangan Nyai Madusari sudah cukup.
"Ya, sudah cukup, sekarang Nyai Menggung boleh kembali ke Kaputren" kata Kanjeng Sultan.
Nyai Madusari menyembah lalu bergeser menuju ke pintu lalu keluar dari ruangan dalam.
Nyai Madusari bergegas menuju Kaputren, kemudian setiba di Kaputren, diapun bercerita kepada Gusti Mas Cempaka tentang pembicaraannya dengan Kanjeng Sultan.
"Maafkan saya Gusti Putri" kata Nyai Madusari.
"Tidak apa-apa nyai, biarlah, sudah terlanjur basah, biar saja ayahanda Sultan marah kepada saya" kata Sekar Kedaton.
Pada saat itu, diruang dalam Kraton, setelah Nyai Madusari keluar, Kanjeng Sultan masih berbincang dengan Kanjeng Prameswari.
"Ternyata yang membuat Mas Cempaka sakit, dikarenakan dia terlalu memikirkan Karebet yang telah diusir dari kotaraja Demak, Ratu" kata Sultan Trenggana.
"Ya Kanjeng Sultan" jawab Kanjeng Ratu.
"Ternyata Karebet telah mampu membuat Sekar Kedaton jatuh cinta" kata Sultan Trenggana. "Ya Kanjeng Sultan, hamba sudah sedikit curiga waktu kita pesiar ke pantai, Ajeng Cempaka terlalu banyak memperhatikan Karebet yang sedang mendayung" kata Kanjeng Ratu.
"Ya, untuk anak muda seusianya, Karebet memang luar biasa" kata Sultan Trengana.
"Hamba perhatikan, Karebet melompat ke air setelah melihat Sekar Kedaton menjerit ketakutan" kata Kanjeng Prameswari.
"Ya" kata Sultan Trenggana.
"Kanjeng, apakah mungkin kalau Karebet menjadi menantu Sultan Demak?" tanya Kanjeng Prameswari.
"Mungkin saja Ratu" kata Kanjeng Sultan.
Kanjeng Prameswari terkejut, dan Ratu pun bertanya :"Kanjeng Sultan, kenapa Karebet layak menjadi suami Sekar Kedaton? Siapakah sebenarnya Karebet itu Kanjeng ?"
Kanjeng Sultan belum menjawab, Kanjeng Ratu sudah bertanya lagi :"Bagaimana dengan bibit, bobot dan bebetnya Kanjeng ?"
Kanjeng Sultan menarik nafas panjang, dan Kanjengpun berkata "Untuk bibit sebenarnya Karebet sudah memenuhi syarat, karena ia masih terhitung keponakanku sendiri, ia adalah anak ontang anting dari Ki Kebo Kenanga, cucu Adipaii Dayaningrat dari Pengging Witaradya yang merupakan putra dari eyang Brawijaya Pamungkas"
"Kanjeng Sultan, berarti Karebet sama seperti Cempaka, ternyata mereka berdua adalah cucu buyut Prabu Brawijaya" kata Kanjeng Prameswari.
"Ya, betul, silsilah Karebet sudah jelas, dia adalah keturunan Raja Majapahit, sehingga bisa saja dia nanti menjadi suami Sekar Kedaton Kasultanan Demak, mungkin saja dia akan menjadi menantu kita" kata Sultan Trenggana.
"Bagaimana dengan bobotnya Kanjeng ?" tanya Kanjeng Prameswari.
"Ya, Karebet adalah anak muda yang tak kenal takut, aku percaya kemampuan Karebet, dia bisa melindungi Sekar Kedaton, jarang ada anak muda yang punya kemampuan tinggi seperti Karebet" kata Kanjeng Sultan.
"Memang dia adalah anak muda yang berani, sewaktu perahu Kyai Garuda diganggu seekor buaya besar, Karebet berani terjun melawan buaya" kata Kanjeng Ratu.
"Ratu, aku pernah mencoba kemampuan Karebet, untuk anak seusia Karebet, ilmu kanuragannya memang luar biasa, bobotnya tidak perlu diragukan lagi" kata Sultan Trenggana.
"Kalau bebetnya, Kanjeng Sultan, kelihatannya dia tidak punya pijakan yang mapan" kata Kanjeng Prameswari.
"Ya, itulah yang nanti akan menjadi pemikiran kita. Saat ini Karebet adalah anak muda yang kleyang kabur kanginan, seperti daun kering yang tertiup angin, disini dia tidak punya apapun juga, tetapi di Pengging dia punya pijakan yang kuat, karena dia sebetulnya adalah cucu Adipati Dayaningrat dari Pengging Witaradya." kata Sultan Trenggana.
"Kanjeng Sultan, sebaiknya, paling tidak nanti yang menjadi suami Sekar Kedaton adalah seorang Adipati" kata Kanjeng Ratu.
"Ya, memang sebaiknya yang menjadi suami Sekar Kedaton adalah seorang Adipati, itu juga nanti yang akan aku pikirkan" kata Sultan Demak
"Ya Kanjeng Sultan"
"Untuk memperkuat Kasultanan Demak, aku mempunyai rencana untuk membentuk beberapa Kadipaten baru di wilayah Kasultanan Demak" kata Sultan Trengana.
"Ya Kanjeng Sultan"
"Ratu, ada bererapa daerah yang bisa dijadikan sebuah Kadipaten, bisa saja nanti Karebet aku angkat menjadi Adipati di salah satu daerah, misalnya, Jepara, Pati, Bang Wetan, Jipang, Pengging, Pajang, diseberang Alas Mentaok yaitu di daerah Bagelen, daerah Asem Arang atau daerah pantai utara sebelah barat" kata Sultan Trenggana.
"Ya Kanjeng, selain Karebet yang perlu diangkat menjadi seorang Adipati adalah anak kita Pangeran Bagus Mukmin dan menantu kita, Pangeran Hadiri" kata Kanjeng Prameswari.
"Ya, selain anak-anak kita, keponakan kita, putra kakangmas Pangeran Sekar Seda Lepen, Arya Penangsang, juga perlu diangkat menjadi seorang Adipati, tidak mungkin Arya Penangsang berada di dalam Kraton Demak terus menerus sampai tua" kata Sultan Trenggana.
"Ya Kanjeng Sultan"
"Kalau untuk Arya Penangsang, sebaiknya dia memimpin di daerah Jipang, yang dulu pernah menjadi tempat tinggal kakeknya, Sunan Ngudung" kata Sultan Trenggana.
"Ya Kanjeng Sultan"
"Pada saat Kasultanan Demak diperintah oleh ayahanda Sultan Patah, Sunan Ngudung pernah menjadi seorang senapati Kasultanan Demak, rencanaku, nanti kalau sudah tiba saatnya, Arya Penangsang akan aku angkat sebagai Adipati di daerah Jipang Panolan" kata Sultan Trenggana.
"Ya Kanjeng Sultan, ibunya berasal dari Jipang Panolan" kata Kanjeng Prameswari.
"Ya memang betul, ibunya adalah putri dari Sunan Ngudung" kata Sultan Trenggana.
"Ya Kanjeng Sultan, sangat tepat kalau Arya Penangsang diangkat sebagai Adipati di Jipang Panolan" kata Kanjeng Prameswari.
"Ya, itu masalah nanti Ratu, sekarang kita masih memikirkan masalah masa depan Sekar Kedaton" kata Sultan Trenggana.
Beberapa saat keduanya saling berdiam diri, Kanjeng Sultan dan Prameswari sedang merencanakan jalan yang terbaik bagi masa depan Sekar Kedaton Putri Mas Cempaka.
"Kanjeng Sultan, kalau diperbolehkan, hamba menginginkan calon suami Sekar Kedaton adalah seorang Adipati, bukan seorang Tumenggung, apalagi hanya seorang Lurah Wira Tamtama" kata Kanjeng Prameswari.
"Ya, sebaiknya memang demikian, untuk itu nanti akan aku pikirkan Kadipaten mana yang nantinya akan dipimpin oleh Karebet" kata Sultan Demak.
"Ya Kanjeng, nanti pada saat pahargyan pengantin, Karebet sebaiknya sudah menjadi seorang Adipati, bukan hanya seorang calon Adipati" kata Kanjeng Ratu.
"Ya Ratu, kalau pada saat pernikahan Karebet sudah menjadi seorang Adipati, bibit bobot bebetnya sudah tepat untuk menjadi menantu seorang Sultan Demak" kata Kanjeng Sultan.
"Kemudian persoalan sakitnya Sekar Kedaton bagaimana Kanjeng?" kata Kanjeng Pramesari.
"Ratu, sakitnya Sekar Kedaton hanya bisa disembuhkan kalau ia diberi harapan Karebet bisa kembali ke Demak dan bisa menjadi Lurah Wira Tamtama lagi" kata Sultan Trenggana.
"Apakah saat ini Karebet tidak bisa dipanggil ke Demak Kanjeng Sultan ? Kanjeng Sultan bisa memerintahkan beberapa prajurit untuk membacakan wara-wara di seluruh wilayah Kasultanan Demak" kata Kanjeng Prameswari.
"Tidak bisa Ratu, Karebet tidak bisa dipanggil dengan cara wara-wara di seluruh wilayah Kasultanan Demak, sebab yang aku ucapkan adalah Sabda Pandita Raja, Sultan Demak tidak bisa mencla mencle dalam membuat sebuah keputusan" kata Sultan Trenggana.
"Apakah kesalahan Karebet memang sedemikian besar Kanjeng ?" tanya Kanjeng Prameswari.
"Tidak semua beban kesalahan itu menjadi tanggung jawab Karebet, Ki Lurah Wirya dan Ki Lurah Mada sudah bercerita semuanya. Biasa, itu darah muda, kalau aku sewaktu masih muda, menghadapi persoalan seperti itu, mungkin Dadung Awuk juga akan kubunuh" kata Kanjeng Sultan sambil tersenyum. "Lalu bagaimana rencana untuk memanggil Karebet, Kanjeng Sultan?" tanya Prameswari
"Harus dicarikan alasan, dicarikan sebab akibat, Karebet harus berbuat sesuatu yang nyata, mempunyai jasa terhadap Sultan, sehingga Karebet mendapat pengampunan dan kembali lagi ke kotaraja Demak. Nanti akan aku pikirkan sebuah cara supaya Karebet dapat kembali ke Demak" kata Sultan Trenggana.
"Lalu apa yang kita lakukan supaya Sekar Kedaton bisa sembuh Kanjeng Sultan ?" tanya Kanjeng Ratu.
"Coba Ratu berkunjung ke Kaputren, bilang kepada Sekar Kedaton, ayahanda Sultan sudah mengampuni kesalahan Karebet, dan sedang mencari sebuah cara supaya Karebet bisa kembali ke kotaraja Demak dan bisa kembali menjadi seorang Lurah Wira Tamtama lagi" kata Sultan Trenggana.
"Baik Kanjeng Sultan, hamba pergi ke Kaputren sekarang" kata Kanjeng Ratu.
Sesaat kemudian Kanjeng Prameswari keluar dari ruangan, memanggil seorang emban untuk mengantarnya menemui Sekar Kedaton, setelah itu telihat keduanya berjalan menuju Kaputren.
Di Kaputren, Sekar Kedaton menerima kunjungan ibundanya, Kanjeng Prameswari, dan Sekar Kedatonpun merasa bahwa kunjungan Kanjeng Prameswari kali ini pasti ada hubungannya dengan pemanggilan Nyai Madusari.
"Ajeng, badanmu masih demam" kata Kanjeng Ratu.
" Ya Kanjeng ibu" kata Sekar Kedaton.
"Cepat sembuh Ajeng, ibu kesini membawa kabar gembira" kata Kanjeng Prameswari.
"Kabar gembira apa Kanjeng ibu" kata Gusti Mas Cempaka.
"Ayahanda Sultan sudah mengampuni semua kesalahan Karebet, sekarang sedang dicari sebuah cara, supaya Karebet bisa kembali lagi ke Demak, menjadi seorang Lurah Wira Tamtama" kata Kanjeng Ratu.
Mendengar kata-kata ibunya, Sekar Kedaton yang selama ini berbaring sakit, berusaha untuk duduk, Nyai Madusari dan embanpun membantunya untuk bisa duduk di pinggir pembaringan.
"Betul Kanjeng ibu ? Ayahanda Sultan tidak marah kepada saya ?" tanya Sekar Kedaton.
"Tidak ajeng, ayahanda Sultan tidak marah kepadamu" kata Kanjeng Ratu.
Mendengar kata-kata ibunya, Gusti Putri Mas Cempaka terlihat menangis dipelukan ibunya.
Nyai Madusari dan embanpun terlihat tak bisa menahan keluarnya air mata.
Waktu terus berjalan hari demi hari, sepasar kemudian Gusti Sekar Kedaton sudah berangsur sembuh, senyumnya sudah mengembang, meskipun Karebet belum kembali ke kotaraja, tetapi ucapan Kanjeng Sultan memberikan pengampunan kepada Karebet, sudah memberinya sebuah harapan kesembuhan.
Kekuatan cinta Sekar Kedaton, mamberinya kekuatan untuk mengalahkan sakit yang dideritanya, apalagi kalau teringat janji Karebet yang disampaikan lewat Nyai Madusari sewaktu Karebet mau meninggalkan Demak, bahwa beberapa candra lagi Karebet akan kembali ke kotaraja Demak.
Pada saat yang bersamaan, di desa Butuh yang terletak didekat kaki gunung Merapi, Karebet sedang berusaha menyerap ilmu dari dua orang saudara seperguruan ayahnya.
Ki Ageng Butuh dan Ki Ageng Ngerang, yang merupakan saudara seperguruan ki Ageng Pengging ternyata adalah orang yang mempunyai kemampuan tinggi dalam olah kanuragan maupun olah kajiwan.
Keduanya mumpuni dalam ilmu yang kasatmata maupun yang tidak kasatmata, mereka mampu merasakan benda yang agal maupun yang halus, dan merekapun mampu olah wadag maupun olah rasa.
Hari demi hari dilalui Karebet untuk lebih memperdalam ilmu kanuragannya, dan lebih mematangkan olah batinnya. Tak terasa waktu sudah berjalan lebih dari dua candra. Dalam waktu dua candra itu, ilmu Karebet maju pesat.
Dalam olah rasa, panggrahitanya menjadi semakin tajam, olah kanuragannya juga semakin matang, kecepatan geraknya semakin lincah, kekuatannya menjadi bertambah besar.
Pada malam itu bulan bersinar terang, di ruang depan rumah Ki Ageng Butuh, terlihat tiga orang sedang duduk berbicara.
Ketiganya, Ki Ageng Butuh, Ki Ageng Ngerang dan Karebet sedang berbincang apa sebaiknya yang akan dilakukan Karebet untuk bisa kembali ke Demak.
"Nakmas karebet" kata Ki Ageng Butuh.
"Ya Ki Ageng" sahut Karebet.
"Hari ini nakmas Karebet sudah lebih dari dua candra berada di rumah ini. kita harus menyusun rencana langkah-langkah apa yang akan nakmas tempuh untuk bisa kembali ke Demak" kata Ki Ageng Butuh.
"Perkataan Kanjeng Sultan Kalijaga tidak bakal bisa terbukti kalau nakmas Karebet tetap berada disini, nakmas harus ikhtiar, supaya nakmas bisa masuk dalam lingkungan Kraton Demak lagi" kata Ki Ageng Ngerang.
"Ya Ki Ageng" jawab Karebet.
"Terbunuhnya Dadung Awuk merupakan sebuah pelajaran yang sangat berharga bagi seorang calon raja. Itu adalah suatu kejadian yang harus nakmas jalani, sebuah penggalan sejarah yang memang harus terjadi. Apa yang bisa kita petik dari peristiwa terbunuhnya Dadung Awuk ? Ada beberapa keuntungan nakmas" kata Ki Ageng Butuh.
"Setelah Dadung Awuk terbunuh, maka nakmas Karebet mendapat kesempatan untuk memperdalam olah kanuragan disini selama dua tiga candra, nakmas menjalani laku prihatin, merasakan pahit getirnya menjadi orang yang menjalani hukuman, pernah berjalan tak tentu arah, makan apa saja yang ditemui, pala kapendem, pala kasimpar, pala gumantung, dan yang terpenting, kesalahan nakmas itu dilakukan sekarang. Bukan dilakukan pada saat nakmas menjadi raja. Apa jadinya kalau kesalahan seperti ini nakmas lakukan ketika sudah menjadi raja" kata Ki Ageng Butuh.
"Ya Ki Ageng" kata Karebet.
"Kalau kesalahan ini, nakmas lakukan sekarang saat nakmas menjadi Lurah Wira Tamtama, itu masih bagus , masih ada yang mengingatkan, masih ada yang menghukum, tetapi kalau kesalahan itu dilakukan setelah nakmas menjadi raja, maka nakmas akan menjadi raja yang bertindak adigang adigung adiguna" kata Ki Ageng Butuh.
"Sebaiknya nakmas besok pagi berangkat ke Demak, dapatkan keterangan tentang perkembangan kotaraja Demak, jangan masuk ke dalam kotaraja karena saat ini nakmas Karebet masih dalam menjalani hukuman dari Kanjeng Sultan" kata Ki Ageng Butuh.
"Nanti setelah sampai di kotaraja Demak, nakmas bisa bertanya kepada salah satu teman nakmas tentang perkembangan Demak, selama nakmas menjalani hukuman ini" kata Ki Ageng Ngerang.
"Setelah nakmas mendengar perkembangan Demak selama tiga empat candra, nakmas bisa ke Pengging, cobalah ziarah ke makam Ki Ageng dan Nyai Ageng Pengging, siapa tahu nanti setelah dari Pengging nakmas bisa tahu akan kemana nakmas pergi selanjutnya" kata Ki Ageng Butuh menambahkan.
"Baik Ki Ageng" kata Karebet.
Malam itu Ki Ageng Ngerangpun menginap dirumah Ki Ageng Butuh, dan Karebetpun mempersiapkan dirinya pergi ke Demak, untuk mengamati keadaan kotaraja Demak, dan mencari peluang untuk bisa kembali lagi sebagai Wira Tamtama Demak.
Malampun telah sampai ke ujungnya, di timur, langit telah semburat berwarna merah, fajarpun telah menyingsing diiringi suara kicau burung di hutan didekat kaki gunung Merapi.
Ketika pagi sudah semakin terang, Karebetpun berpamitan kepada Ki Ageng Butuh dan Ki Ageng Ngerang untuk pergi menuju kotaraja Demak.
Dengan membawa sebuah bungkusan berisi pakaian, bekal makanan dan sebuah pedang pendek, Karebet berjalan menuju Demak.
Karebet yang telah mengenal hampir seluruh daerah di Kasultanan Demak, tidak mengalami kesulitan, ketika harus menerobos hutan disekitar Sima, menyeberangi beberapa sungai kecil, bahkan menyeberang sungai Tuntang untuk mencapai tepi sungai sebelah barat, berjalan di jalur yang menuju kotaraja Demak.
Perjalanan Karebet tidak terlalu tergesa-gesa, sehingga ketika matahari hampir terbenam, perjalanan Karebet belum mencapai daerah Mrapen.
Ketika sinar bulan purnama memancar di seluruh wilayah Kasultanan Demak maupun ditempat lainnya, maka Karebetpun beristirahat dan berusaha untuk bisa tidur diatas dahan sebuah pohon.
Malam itu bulan yang bundarpun masih bergantung dilangit dan telah bergeser perlahan-lahan ke arah barat, bintang-bintang juga tanpa kenal lelah terus berkedip di angkasa, dan telah tiba saatnya di bang wetan segera terbit sang mentari pagi.
Ketika sinar sang surya menerangi bumi, maka seorang anak muda yang tak mengenal takut, ayam jantan dari Pengging, berjalan dengan membawa sebuah bungkusan menuju kotaraja Demak.
Karebet berjalan terus ke arah utara, dan setelah lewat tengah hari, sampailah Karebet di perbatasan kotaraja Demak. Teringat akan pesan Ki Ageng Butuh agar tidak memasuki kotaraja, maka Karebet hanya berjalan melihat-lihat disekitar perbatasan kotaraja saja.
Ketika Karebet sedang berjalan, dikejauhan melintas dengan cepat seekor ayam alas, secepat itu pula timbul keinginan untuk makan ayam bakar, sehingga hampir tak terlihat dengan cepat tangannya meraih sebuah batu sebesar telur ayam.
Karebet menengadahkan wajahnya, untuk mengetahui arah angin yang semilir mengusap wajahnya.
Perlahan-lahan dengan melawan arah angin, Karebet maju ke arah ayam hutan yang belum menyadari kehadiran manusia.
Ketika jarak semakin dekat dan sudah mencapai jarak satu lemparan, maka dengan cepat Karebetpun mengayunkan tangannya, dan sebuah batupun meluncur cepat ke arah ayam alas.
Ayam alas itupun terkejut dan dengan cepat dia lari kedepan, tetapi batu yang dilempar Karebet lebih cepat lagi
Suara ayam alas memekik kesakitan terdengar ketika badannya terkena batu, sehingga ayam alaspun menggelepar, dan dengan cepat Karebet mengambilnya
"Masih hidup, tinggal menyembelih" kata Karebet dalam hati, dan iapun pergi ke sebuah sungai kecil, untuk menyembelih ayam dan membersihkannya.
Ketika senja sudah menjelang, langitpun semakin redup, gelap yang menyelimuti bumi, sedikit berkurang dengan munculnya bulan purnama.
Malam yang tidak begitu gelap, seperti ada sebuah bayangan raksasa ketika sebatang pohon nyamplung didepan Karebet terkena cahaya bulan.
Karebetpun mencari tempat yang berjarak beberapa langkah dari jalan yang biasa dilalui orang, didekat sebuah pohon nyamplung, dan iapun berniat membuat sebuah perapian, untuk membakar seekor ayam hutan yang telah dibersihkan dan dipotong-potong dengan menggunakan pedang pendeknya.
Dari dalam kantung ikat pinggang yang dibawanya, Karebetpun mengeluarkan sebuah batu titikan dan sebuah batu hitam, serta sejumput serabut aren yang sudah kering. Setelah batu titikan itu dipukul dengan sebuah batu hitam, maka batu titikan itupun mengeluarkan bunga api, setelah beberapa kali mengeluarkan bunga api, maka serabut aren yang kering bisa menangkap bunga api, akibatnya serabut aren keringpun menjadi terbakar.
Setelah itu dibakarnya daun-daun dan ranting-ranting kering, sehingga tak lama kemudian didepan karebet menyala sebuah perapian.
Bulan purnama masih bersinar, ketika Karebet baru saja menghabiskan beberapa potong ayam bakar, telinganya yang tajam menangkap derap kuda yang akan lewat dijalan yang tidak jauh dari tempat ia membakar ayam.
"Suara derap kuda" desis Karebet.
"Hanya seekor kuda yang berjalan tidak terlalu cepat" kata Karebet dalam hati.
Karebet lalu mematikan perapian yang telah dibuatnya dan iapun berdiri dan berjalan beberapa langkah untuk melihat siapakah penunggang kuda yang akan melintas di jalan itu.
Dengan dibantu cahaya bulan purnama, mata Karebet yang tajam melihat dan mengamati wajah dan perawakan penunggang kuda, dan ketika sudah mengetahui siapa yang berada dipunggung kuda maka Karebetpun terlihat tersenyum.
Kuda dengan seorang penunggang diatas punggungnya, berlari tidak terlalu kencang, penunggangnya masih termasuk muda, beberapa warsa lebih tua dibandingkan dengan Karebet.
Penunggang kuda itu terkejut ketika melihat ada seseorang dengan membawa sebatang pedang ditangannya, berdiri di sebelah pohon nyamplung, di tengah jalan yang akan dilalui kudanya.
Ketika ia melihat wajah orang itu, ternyata ia memakai secarik kain untuk menutupi wajahnya.
Dengan cepat ia menarik kekang kudanya, sehingga kudanyapun berhenti.
Setelah kudanya berhenti, orang yang wajahnya ditutup secarik kain, bertolak pinggang di tengah jalan, dan berkata dengan suara yang keras :"Apakah aku berhadapan dengan Tumpak?'
Penunggang kuda yang bernama Tumpak, terkejut ketika namanya disebut oleh orang yang bertolak pinggang, dengan cepat iapun turun dari punggung kudanya, dan tangannya telah meraba hulu pedang pendeknya.
"Ya, aku Tumpak, kau siapa ?" kata Tumpak.
"Bagus, kau Tumpak, jadi kau yang selama ini mengaku sebagai prajurit Wira Tamtama ?" kata orang yang wajahnya ditutup dengan secarik kain.
Melihat orang yang berdiri di tengah jalan sudah memegang sebatang pedang, maka Tumpakpun segera mencabut pedang pendeknya.
"Sekali lagi aku bertanya, kenapa kau mengaku sebagai prajurit Wira Tamtama ?" kata orang itu.
"Kenapa mengaku ? Aku memang seorang prajurit Wira Tamtama" kata Tumpak.
"Bohong !! " bentak orang itu sambil mengacungkan pedang pendeknya kearah wajah Tumpak.
"Mimpi apa aku tadi malam, hari ini aku bertemu dengan orang gila yang membawa senjata" kata Tumpak dalam hati.
"Orang gila ini sangat berbahaya, pedangnya bisa membunuh orang" desis Tumpak dan sebagai seorang prajurit Wira Tamtama, Tumpak berniat melumpuhkan orang yang membawa pedang, yang telah mencegatnya.
Dibawah cahaya bulan purnama, Tumpak mempertajam pandangannya, tetapi wajah orang itu tetap tidak bisa ditebak karena memakai secarik kain penutup wajah.
"Tumpak yang mengaku prajurit Wira Tamtama, kau boleh berjalan terus, tapi kudamu harus kau tinggal disini" kata orang yang berdiri di tengah jalan.
"Kau siapa ?" tanya Tumpak.
Orang yang menutup wajahnya dengan secarik kain tidak langsung menjawab, matanya yang tajam mengamati wajah Tumpak, setelah memastikan orang yang didepannya adalah Tumpak, maka iapun tertawa terbahak-bahak.
"Aku adalah penjelmaan Lintang Kemukus dari Langit Sap Pitu" Jawab orang itu sambil tertawa keras.
"Mengapa kau tutup wajahmu dengan kain ?" kata Tumpak.
"Aku punya sepuluh lembar kain seperti ini, memang kenapa kalau aku memakai kain ini ? Ternyata kau usil sekali, kain ini milikku sendiri, bukan milikmu, kau keberatan ? Atau kau akan minta kepadaku kain yang seperti ini ?" kata orang itu.
"Aku tidak mencari musuh, tetapi kalau kau mencari perkara, kau akan ku tangkap, dan akan diadili di kraton Demak, menyerahlah" kata Tumpak.
"Aku yang sedang mencari musuh, hei kau dengar Tumpak, aku memang mencari musuh, aku memang mencari perkara, kau mau apa, sekarang kau telah menjadi musuhku, kalau kau tidak mau menyerah, kau akan kugantung dengan kaki diatas, di pohon nyamplung itu" kata orang itu sambil tangannya menunjuk ke pohon nyamplung di sebelahnya.
"Baru kali ini aku bertemu dengan orang gila seperti kau" kata Tumpak.
Mendengar perkataan Tumpak, orang itu menjadi marah, sambil menuding wajah Tumpak dengan pedang pendeknya, iapun berkata :" Kau mengatakan aku gila ? Aku bunuh kau disini, pedangku hari ini akan mendapat seorang korban lagi, seorang yang mengaku sebagai prajurit Wira Tamtama yang bernama Tumpak, dan pohon nyamplung ini akan menjadi saksi, setelah kau kubunuh, kudamu akan menjadi milikku"
Tanpa menunggu jawaban Tumpak, maka orang yang wajahnya ditutup kain menyerang Tumpak dengan sebuah tusukan pedang.
"Orang ini benar-benar gila" kata Tumpak sambil menggeser tubuhnya kesamping, lalu iapun menusuk lawannya lurus kedepan, dan dengan mudah orang itupun menghindar dengan bergeser mundur.
Orang itupun menyerang dengan tebasan menyilang keatas, Tumpakpun bergeser kesamping dan menyongsongnya dengan sabetan menyilang kebawah, dan terjadilah benturan keras lawan keras, percikan bunga api terlihat jelas di malam hari.
Tumpak melihat pedang orang itu hampir terlepas, dengan susah payah orang itu memperbaiki genggaman tangannya pada hulu pedang, maka Tumpakpun berbesar hati, tenaganya lebih besar dari tenaga lawannya.
"Dua kali benturan lagi, pedangnya pasti terlepas" kata Tumpak didalam hatinya, dan iapun menyerang lawannya dengan sekuat tenaga.
Setiap terjadi benturan pedang, lawannya selalu kesulitan dalam memegang hulu pedangnya, tetapi pertarungan sudah berjalan beberapa saat, benturan pedang telah terjadi belasan kali, tetapi pedang lawannya belum juga terlepas dari genggaman tangannya.
Ketika terjadi benturan keras, pedang orang itu hampir terlepas, dengan cepat Tumpak sekali lagi membenturkan pedangnya dengan memukul pedang lawannya, ternyata meskipun kesulitan memegang hulu pedang, tetapi pedang itu belum terlepas juga.
Kembali Tumpak memukul pedang lawannya didekat pangkal pedangnya, tetapi Tumpak kembali menjadi kecewa, ketika melihat tangan lawannya ternyata masih memegang pedang pendeknya.
"Aneh, harusnya pedang itu sudah jatuh ke tanah" kata Tumpak dalam hati.
Tiba-tiba orang itu melompat mundur sambil berteriak marah.
"Hai Tumpak yang mengaku prajurit Wira Tamtama, kau akan aku bunuh seperti aku membunuh Jagabaya dari Randu Sanga kemarin, sekarang aku yang ganti menyerang, lihat seranganku" kata orang yang wajahnya ditutupi secarik kain, setelah itu iapun menyerang Tumpak seperti angin ribut.
Tumpak mengeluh dalam hati, serangan orang itu seperti lebah yang mengelilingi tubuhnya, tangan lawannya yang hanya dua buah berubah seakan-akan berubah menjadi tiga buah tangan.
Dengan segenap kemampuannya, Tumpak memutar pedangnya seperti baling-baling, untuk melindungi dari tusukan dan sabetan pedang lawannya.
Ketika pedang lawannya akan menusuk pundaknya, maka dengan segenap kekuatannya pedang Tumpak membentur pedang lawannya, tetapi pedangnya selalu mengenai tempat kosong, kecepatan pedang Tumpak tidak mampu mengimbangi kecepatan pedang lawannya.
Betapa beratnya melawan ketiga tangan yang menyerangnya, pedangnya kadang-kadang ditangan kanan, tetapi sekejap kemudian pedang itu telah berpindah, digenggam di tangan kiri.
Tumpak menjadi ragu-ragu, samar-samar ia merasa pernah melihat gerakan pedang yang seperti itu.
"Dimana aku melihat ilmu pedang seperti ini, dimana ?" kata Tumpak dalam hati.
"Dulu aku pernah melihat tangan yang hanya dua buah bisa berubah seakan-akan menjadi tiga buah, dimana ?" kata Tumpak sambil melompat mundur.
Tiba-tiba Tumpak terkejut seperti disengat kalajenging, dia teringat ilmu itu pernah digunakan bersama-sama dengannya disuatu tempat, bukan sebagai lawan, tetapi sebagai kawan.
"Disana, di dekat pantai, bersama Ki Rangga Pideksa" kata Tumpak dalam hati :" Betul, aku ingat sekarang, waktu itu kita pernah bersama-sama melawan dua orang perampok kakak beradik, Klabang Ireng dan Klabang Ijo"
Wajah lawannya tidak dapat dilihat karena tertutup secarik kain, tapi perawakannya yang tegap, mengingatkan Tumpak pada seseorang. "Kelihatannya lawanku adalah dia, itulah sebabnya maka dia pakai kain penutup wajah, supaya aku tidak dapat mengenalnya" desis Tumpak :"Pantas kalau aku tidak dapat menjatuhkan pedangnya"
Setelah merasa pasti dengan siapa dia berhadapan, maka Tumpakpun melompat mundur dan tertawa keras.
Lawannya terkejut ketika melihat Tumpak melompat mundur dan tertawa, dan iapun tersenyum ketika melihat Tumpak menyarungkan kembali pedangnya.
Melihat Tumpak menyarungkan pedangnya, lawannya juga menyarungkan pedangnya pula.
"Hai Bintang jadi-jadian, aku tahu, kau sebenarnya bukan Lintang Kemukus yang berekor, apalagi Lintang Panjer Rina yang bersinar cemerlang, kau adalah penjelmaan dari Lintang Gubug Penceng yang bentuknya jelek" kata Tumpak sambil tertawa.
Lawannya juga tertawa, Tumpak mendengar sebuah tawa yang sudah sangat dikenalnya, sebuah tawa yang dulu pernah akrab dengan telinganya
"Ternyata Tumpak masih ingat gerakan dari ilmu Trisula Manik" desis orang yang menutup wajahnya dengan kain.
Bersamaan dengan berakhirnya suara tertawa, maka secarik kain yang menutupi wajahnyapun telah dilepas.
"Ha ha benar dugaanku, kau Ki Lurah Karebet" kata Tumpak sambil tertawa.
Karebetpun tertawa :"Kau salah Tumpak, aku bukan lagi seorang Lurah Wira Tamtama".
Lalu keduanya saling mendekat dan bersalaman, dan kedua tangan Tumpakpun memegang kedua lengan Karebet.
"Karebet, kau masih suka bercanda, kau senang melihat aku berkeringat di malam hari" kata Tumpak.
"Pedangmu semakin tajam Tumpak, aku jadi takut" kata Karebet sambil tertawa.
"Aku pusing melihat pedangmu mengitari tubuhku, suaranya seperti suara nyamuk ditelingaku" kata Tumpak.
"Pedangku hampir terlepas terbentur pedangmu, tenagamu kuat sekali" kata karebet.
Tumpakpun tertawa :"Kemana saja kau selama ini ?"
"Panjang ceritanya, kaupun mau kemana Tumpak? Malam-malam naik kuda menuju ke arah selatan" tanya Karebet.
"Sehabis bertugas jaga di Kraton aku berangkat, aku mau pergi ke Godong, ayahku sakit, sudah lama aku tidak menengok ayahku" kata Tumpak.
"Kapan kita bisa saling bercerita ?" tanya Karebet.
"Besok aku tidak bertugas, besok pagi aku masih berada di Godong, agak siang baru pulang ke kotaraja, besok siang saja kita bercerita sepuasnya" kata Tumpak.
"Dimana kita ketemu ?" tanya Karebet.
"Besok pada saat tengah hari, kau kutunggu di dekat api Mrapen, berjalan sedikit ke barat ada pohon munggur, kita bertemu disana, dibawah pohon munggur" kata Tumpak.
"Baik Tumpak, besok pada waktu tengah hari kita bertemu di bawah pohon munggur sebelah barat api Mrapen" kata Karebet.
"Kau memang sirik kepadaku, kau tidak senang melihat orang santai, malam ini kau buat aku berkeringat" kata Tumpak sambil tertawa. Karebetpun juga tertawa lepas.
Tumpakpun lalu naik ke punggung kudanya, dan kudanyapun berjalan ke arah selatan, ke Godong.
Pandangan mata Karebet masih melihat ke arah Tumpak sampai hilang di kegelapan malam.
Setelah Tumpak tidak kelihatan, maka Karebetpun kembali ke dekat pohon nyamplung, ke tempat perapiannya yang sudah padam.
Malam ini Karebet berusaha untuk bisa tidur meskipun cuma sebentar, besok siang dia berjanji untuk menemui Tumpak di bawah pohon munggur di sebelah barat api Mrapen.
Malam itu alam tidak terlalu gelap, karena terkena sinar bulan yang memancar lemah keseluruh negeri Demak.
Ketika fajar memerah diufuk timur, beberapa kali telah terdengar kokok ayam hutan, dan kemudian disusul pula bunyi kicau burung di pepohonan, terlihat Karebet menggeliat bangun, untuk memulai menjalani putaran roda kehidupannya.
Ketika bumi sudah semakin terang, Karebet yang masih berada di luar batas kotaraja Demak, bersiap-siap untuk berjalan menuju ke selatan menemui Tumpak di sebelah barat api Mrapen.
Waktunya masih agak banyak, sehingga Karebetpun merasa tidak perlu tergesa-gesa.
Perlahan-lahan Karebet berjalan ke arah selatan menyusuri sungai Tuntang, setelah sampai di ara-ara amba, Karebet tidak lurus ke selatan, tetapi sedikit berbelok ke arah barat, menuju daerah Mrapen.
Matahari semakin tinggi, tetapi masih belum sampai ke puncak langit, dan Karebetpun telah lebih dulu tiba di daerah Mrapen.
Suasana sepi sekali, Tumpakpun belum kelihatan, kemudian Karebetpun berjalan ke arah barat, menuju ke pohon munggur yang besar dan berdaun sangat rindang.
Karebetpun lalu duduk di sebuah batang kayu yang berada dibawah pohon munggur :"Disini udara terasa sejuk, kemarin Tumpak bilang kita ketemu disini, dibawah pohon munggur ini"
Tak lama kemudian, matahari terus merambat naik hampir mencapai puncak langit, dan dari arah timur, terlihat seorang penunggang kuda berjalan menuju pohon munggur, dia tersenyum ketika melihat Karebet duduk terkantuk-kantuk, disebuah batang pohon yang rebah, dibawah pohon munggur yang rindang.
Setelah kendali kudanya diikat di sebuah dahan sebuah pohon, maka penunggang kuda yang ternyata adalah Tumpak, mengambil sebuah bungkusan dan dibawanya menuju ke tempat Karebet.
"Kau bawa apa Tumpak ?" tanya Karebet.
"Nasi jagung dan sayur terong yang agak pedas, aku juga bawa telur rebus, ini ada pula gembili yang telah di rebus, sesisir pisang, air minumnya ada di dalam bumbung ini, aku tahu kau pasti sudah lapar Karebet" kata Tumpak.
"Tenyata kau memang seorang peramal yang baik Tumpak, ramalanmu betul, aku memang sudah lapar" kata Karebet.
"Kau kira yang lapar cuma kau saja Karebet, akupun juga lapar, mari kita makan dulu sebelum kita bercerita" kata Tumpak sambil tertawa.
Beberapa saat kemudian keduanya makan nasi jagung dengan sayur terong dan telur rebus.
"Makannya tanduk Karebet, nasi jagungnya masih banyak" kata Tumpak :"Ini pisangnya, sudah matang, rasanya manis"
"Apakah pisang yang kau bawa semanis senyum Nyai Madusari ?" tanya Karebet ketika teringat mereka berdua pernah makan pisang pemberian Nyai Madusari.
"Tidak, tetapi pisang ini rasanya memang manis, semanis wajahku" jawab Tumpak sambil tertawa.
Setelah selesai makan, maka rasa kantukpun mulai terasa menyerang, ketika wajah Tumpak terkena semilir angin dibawah pohon yang rindang.
"Karebet, setelah makan, aku malah mengantuk sekarang" kata Tumpak.
"Tidurlah, nanti kudamu akan kubawa ke Tingkir dan kau pulang ke kotaraja berjalan kaki" kata Karebet.
"Nah Karebet, sekarang kau dulu yang bercerita setelah kau dihukum Kanjeng Sultan, harus meninggalkan kotaraja malam itu juga " kata Tumpak.
"Ya, aku akan cerita yang aku alami setelah aku mendapat hukuman dari Kanjeng Sultan" kata Karebet.
"Dengarkan Tumpak, malam itu aku harus pergi dari kotaraja Demak, aku berjalan ke Gubug, lalu ke Cengkal Sewu, dari sana aku menuju desa Butuh, aku tinggal dirumah saudara seperguruan ayahku, Ki Ageng Butuh" cerita Karebet.
"Kemarin dari desa Butuh aku berjalan menuju Demak dan kulihat kau naik kuda, lalu kita bertarung" kata Karebet.
"Hari ini aku menuju kesini, lalu kau datang, kita bertemu dan akupun makan nasi jagung dan sayur terong, begitulah ceritanya, selesai" kata Karebet.
"Cuma itu ?" tanya Tumpak.
"Ya, memang cuma itu" jawab Karebet.
"Sependek itu ? tanya Tumpak.
"Ya, ceritanya memang pendek" jawab Karebet.
"Kau curang Karebet, ceritamu hanya pendek, kalau nanti giliran aku yang cerita, pasti kau suruh cerita yang panjang-panjang, sampai mulutku berbusa-busa" kata Tumpak.
"Ya cerita tentang aku memang cuma itu, masa aku harus mengarang sebuah cerita bohong tentang perjalananku mengitari gunung Merapi, lalu disana aku tersandung oyot mimang dan selama tiga candra aku hanya mengelilingi gunung Merapi terus menerus tidak bisa pulang" kata Karebet.
Mendengar kata-kata Karebet, Tumpakpun tertawa berderai, membayangkan kalau Karebet tersandung oyot mimang dan selama tiga candra dia berjalan mengelilingi gunung Merapi.
"Nah sekarang giliran kau yang bercerita" kata Karebet.
Tumpakpun menganggukkan kepalanya, lalu iapun mulai bercerita.
"Dengarkan baik-baik Karebet, aku mau cerita. Sewaktu ada pendadaran calon prajurit Wira Tamtama, datang seorang yang memaksa ikut pendadaran meskipun kedatangannya terlambat, namanya Dadung Awuk dari Pingit, karena kesombongannya, diapun terbunuh. Apakah kau sudah tahu siapa yang membunuh Dadung Awuk?" kata Tumpak sambil tertawa.
"Belum, belum" jawab Karebet yang juga ikut tertawa.
Keduanya tertawa berkepanjangan, tawa dua orang sahabat yang beberapa candra tidak bertemu.
"Setelah Dadung Awuk mati, dua hari kemudian, ada seorang yang datang bermaksud ingin mengikuti pendadaran" kata Tumpak.
"Pada hari ke empat, setelah selesai pendadaran, ada seseorang yang datang menemui Ki Lurah Wirya dan Ki Lurah Mada, seorang yang telah berumur, yang berasal dari Sela" kata Tumpak.
"Dari Sela ? Siapa namanya ?" tanya Karebet.
"Orang itu bernama Ki Ageng Sela, orang yang punya kemampuan menangkap petir" kata Tumpak.
Karebet terkejut, Ki Ageng Sela adalah merupakan salah satu gurunya, karena iapun pernah beberapa candra belajar ilmu kanuragan diperguruan Sela, tetapi kenapa gurunya juga mengikuti pendadaran calon prajurit Wira Tamtama ?
"Mungkin hanya sebagai pancadan untuk menjadi seorang Senapati atau menjadi seorang raja" kata Karebet dalam hati.
"Ki Ageng Sela yang merupakan keturunan dari Ki Getas Pendawa, minta diikutkan dalam pendadaran calon prajurit, kemudian Ki Lurah Wirya dan Ki Lurah Mada mengijinkan Ki Ageng Sela untuk mengikuti pendadaran dan mendapat giliran pendadaran yang terakhir, dan Ki Ageng Selapun ternyata juga bersedia meskipun harus ikut pendadaran paling akhir" kata Tumpak.
"Nah pada waktu pendadaran Ki Ageng Sela, dihari yang terakhir, Ki Ageng Sela melawan seekor kerbau liar yang badannya besar. Ketika kerbau itu menyerang, dengan cepat Ki Ageng Sela menghindar ke samping, lalu tangannya dengan cepat memukul kepala kerbau. Sekali pukul ternyata kepala kerbau itu pecah, dan darahpun bercucuran, muncrat kemana-mana, kerbau itupun mati" kata Tumpak.
"Ya, Ki Ageng Sela pasti mampu memecahkan kepala seekor kerbau dengan sekali pukul" kata Karebet.
"Ya, tetapi ternyata, ketika pada saat Ki Ageng Sela memukul kepala kerbau, dia memalingkan mukanya, entah karena Ki Ageng Sela tidak tega membunuh seekor kerbau, atau karena Ki Ageng Sela takut melihat darah. Mungkin Ki Ageng Sela lupa, bahwa ini adalah pendadaran calon prajurit Wira Tamtama, calon prajurit yang seharusnya tidak takut melihat darah mengucur" kata Tumpak selanjutnya.
"Apakah Ki Ageng Sela dinyatakan lulus ?" tanya Karebet.
"Empat orang Lurah Wira Tamtama yang punya wewenang untuk memutuskan kelulusan hasil pendadaran menjadi ragu-ragu, bingung apakah mau meluluskan Ki Ageng Sela atau tidak" jawab Tumpak.
(bersambung)
Ditulis oleh : Apung GWAP
Meskipun jalannya lambat, akhirnya Nyai Madusaripun sampai juga di ruang dalam, dan di depan pintu yang tertutup, Nyai Menggung berdiri menunggu panggilan Sultan Trenggana.
"Masuklah Nyai Menggung" kata Kanjeng Sultan, dan dengan muka menunduk, Nyai Madusari masuk kedalam ruangan, menyembah dan duduk bersimpuh dihadapan Sultan Trenggana. Disamping Sultan Trenggana, duduk pula Kanjeng Prameswari.
"Nyai Menggung, kau kupanggil kesini, apakah kau tahu penyebab sakitnya Putri Sekar Kedaton?" tanya Sultan Trenggana.
Dengan detak jantung yang semakin cepat, Nyai Madusari menjawab:" Hamba tidak tahu Kanjeng Sultan"
Sultan Trenggana melihat wajah Nyai Madusari sebentar terlihat pucat, sebentar kemudian terlihat memerah, Dan Kanjeng Sultanpun tersenyum dalam hati.
"Nyai Menggung coba lihat kesini, kau tahu penyebab sakitnya Sekar Kedaton?" tanya Sultan Trenggana.
"Hamba tidak tahu Kanjeng Sultan" kata Nyai Madusari.
"Nyai Menggung, kau tahu apa hukumannya bagi orang yang telah berani berbohong kepada Sultan Demak ?" kata Kanjeng Sultan sambil membetulkan letak keris yang dipakainya, yang terasa sedikit kurang kebawah.
Ketika Nyai Madusari melihat Kanjeng Sultan menggeser kerisnya, menjadi gemetar dan iapun segera menjawab :"Hamba tahu penyebab sakitnya Gusti Putri, Kanjeng Sultan"
"Nah begitu, bagus nyai" kata Sultan Trenggana sambil tersenyum.
Dihadapan Sultan Trenggana, di wajah Nyai Madusari muncul keringat sebesar butir-butir jagung, wajahnya pucat, jantungnya berdetak kencang, iapun ingin segera pergi dari ruang itu, tetapi tidak berani meninggalkan Kanjeng Sultan.
"Sejak kapan Sekar Kedaton sakit dan apa yang pernah dikatakannya kepadamu ?" tanya Sultan Trenggana.
"Kasinggihan dalem, Gusti Putri sakit sejak Karebet mendapat hukuman diusir dari kotaraja Demak Kanjeng Sultan" kata Nyai Madusari.
"Hm ternyata Karebet" kata Sultan Trenggana dalam hati.
"Lalu apalagi ?" tanya Kanjeng Sultan.
"Sejak mereka berdua naik perahu ke pantai dulu, yang dipikiran dan dibicarakan Gusti Putri setiap hari hanya Karebet, Kanjeng Sultan" kata Nyai Madusari.
Sultan Trenggana berdiam diri, hingga akhirnya Kanjeng Sultanpun menganggap keterangan Nyai Madusari sudah cukup.
"Ya, sudah cukup, sekarang Nyai Menggung boleh kembali ke Kaputren" kata Kanjeng Sultan.
Nyai Madusari menyembah lalu bergeser menuju ke pintu lalu keluar dari ruangan dalam.
Nyai Madusari bergegas menuju Kaputren, kemudian setiba di Kaputren, diapun bercerita kepada Gusti Mas Cempaka tentang pembicaraannya dengan Kanjeng Sultan.
"Maafkan saya Gusti Putri" kata Nyai Madusari.
"Tidak apa-apa nyai, biarlah, sudah terlanjur basah, biar saja ayahanda Sultan marah kepada saya" kata Sekar Kedaton.
Pada saat itu, diruang dalam Kraton, setelah Nyai Madusari keluar, Kanjeng Sultan masih berbincang dengan Kanjeng Prameswari.
"Ternyata yang membuat Mas Cempaka sakit, dikarenakan dia terlalu memikirkan Karebet yang telah diusir dari kotaraja Demak, Ratu" kata Sultan Trenggana.
"Ya Kanjeng Sultan" jawab Kanjeng Ratu.
"Ternyata Karebet telah mampu membuat Sekar Kedaton jatuh cinta" kata Sultan Trenggana. "Ya Kanjeng Sultan, hamba sudah sedikit curiga waktu kita pesiar ke pantai, Ajeng Cempaka terlalu banyak memperhatikan Karebet yang sedang mendayung" kata Kanjeng Ratu.
"Ya, untuk anak muda seusianya, Karebet memang luar biasa" kata Sultan Trengana.
"Hamba perhatikan, Karebet melompat ke air setelah melihat Sekar Kedaton menjerit ketakutan" kata Kanjeng Prameswari.
"Ya" kata Sultan Trenggana.
"Kanjeng, apakah mungkin kalau Karebet menjadi menantu Sultan Demak?" tanya Kanjeng Prameswari.
"Mungkin saja Ratu" kata Kanjeng Sultan.
Kanjeng Prameswari terkejut, dan Ratu pun bertanya :"Kanjeng Sultan, kenapa Karebet layak menjadi suami Sekar Kedaton? Siapakah sebenarnya Karebet itu Kanjeng ?"
Kanjeng Sultan belum menjawab, Kanjeng Ratu sudah bertanya lagi :"Bagaimana dengan bibit, bobot dan bebetnya Kanjeng ?"
Kanjeng Sultan menarik nafas panjang, dan Kanjengpun berkata "Untuk bibit sebenarnya Karebet sudah memenuhi syarat, karena ia masih terhitung keponakanku sendiri, ia adalah anak ontang anting dari Ki Kebo Kenanga, cucu Adipaii Dayaningrat dari Pengging Witaradya yang merupakan putra dari eyang Brawijaya Pamungkas"
"Kanjeng Sultan, berarti Karebet sama seperti Cempaka, ternyata mereka berdua adalah cucu buyut Prabu Brawijaya" kata Kanjeng Prameswari.
"Ya, betul, silsilah Karebet sudah jelas, dia adalah keturunan Raja Majapahit, sehingga bisa saja dia nanti menjadi suami Sekar Kedaton Kasultanan Demak, mungkin saja dia akan menjadi menantu kita" kata Sultan Trenggana.
"Bagaimana dengan bobotnya Kanjeng ?" tanya Kanjeng Prameswari.
"Ya, Karebet adalah anak muda yang tak kenal takut, aku percaya kemampuan Karebet, dia bisa melindungi Sekar Kedaton, jarang ada anak muda yang punya kemampuan tinggi seperti Karebet" kata Kanjeng Sultan.
"Memang dia adalah anak muda yang berani, sewaktu perahu Kyai Garuda diganggu seekor buaya besar, Karebet berani terjun melawan buaya" kata Kanjeng Ratu.
"Ratu, aku pernah mencoba kemampuan Karebet, untuk anak seusia Karebet, ilmu kanuragannya memang luar biasa, bobotnya tidak perlu diragukan lagi" kata Sultan Trenggana.
"Kalau bebetnya, Kanjeng Sultan, kelihatannya dia tidak punya pijakan yang mapan" kata Kanjeng Prameswari.
"Ya, itulah yang nanti akan menjadi pemikiran kita. Saat ini Karebet adalah anak muda yang kleyang kabur kanginan, seperti daun kering yang tertiup angin, disini dia tidak punya apapun juga, tetapi di Pengging dia punya pijakan yang kuat, karena dia sebetulnya adalah cucu Adipati Dayaningrat dari Pengging Witaradya." kata Sultan Trenggana.
"Kanjeng Sultan, sebaiknya, paling tidak nanti yang menjadi suami Sekar Kedaton adalah seorang Adipati" kata Kanjeng Ratu.
"Ya, memang sebaiknya yang menjadi suami Sekar Kedaton adalah seorang Adipati, itu juga nanti yang akan aku pikirkan" kata Sultan Demak
"Ya Kanjeng Sultan"
"Untuk memperkuat Kasultanan Demak, aku mempunyai rencana untuk membentuk beberapa Kadipaten baru di wilayah Kasultanan Demak" kata Sultan Trengana.
"Ya Kanjeng Sultan"
"Ratu, ada bererapa daerah yang bisa dijadikan sebuah Kadipaten, bisa saja nanti Karebet aku angkat menjadi Adipati di salah satu daerah, misalnya, Jepara, Pati, Bang Wetan, Jipang, Pengging, Pajang, diseberang Alas Mentaok yaitu di daerah Bagelen, daerah Asem Arang atau daerah pantai utara sebelah barat" kata Sultan Trenggana.
"Ya Kanjeng, selain Karebet yang perlu diangkat menjadi seorang Adipati adalah anak kita Pangeran Bagus Mukmin dan menantu kita, Pangeran Hadiri" kata Kanjeng Prameswari.
"Ya, selain anak-anak kita, keponakan kita, putra kakangmas Pangeran Sekar Seda Lepen, Arya Penangsang, juga perlu diangkat menjadi seorang Adipati, tidak mungkin Arya Penangsang berada di dalam Kraton Demak terus menerus sampai tua" kata Sultan Trenggana.
"Ya Kanjeng Sultan"
"Kalau untuk Arya Penangsang, sebaiknya dia memimpin di daerah Jipang, yang dulu pernah menjadi tempat tinggal kakeknya, Sunan Ngudung" kata Sultan Trenggana.
"Ya Kanjeng Sultan"
"Pada saat Kasultanan Demak diperintah oleh ayahanda Sultan Patah, Sunan Ngudung pernah menjadi seorang senapati Kasultanan Demak, rencanaku, nanti kalau sudah tiba saatnya, Arya Penangsang akan aku angkat sebagai Adipati di daerah Jipang Panolan" kata Sultan Trenggana.
"Ya Kanjeng Sultan, ibunya berasal dari Jipang Panolan" kata Kanjeng Prameswari.
"Ya memang betul, ibunya adalah putri dari Sunan Ngudung" kata Sultan Trenggana.
"Ya Kanjeng Sultan, sangat tepat kalau Arya Penangsang diangkat sebagai Adipati di Jipang Panolan" kata Kanjeng Prameswari.
"Ya, itu masalah nanti Ratu, sekarang kita masih memikirkan masalah masa depan Sekar Kedaton" kata Sultan Trenggana.
Beberapa saat keduanya saling berdiam diri, Kanjeng Sultan dan Prameswari sedang merencanakan jalan yang terbaik bagi masa depan Sekar Kedaton Putri Mas Cempaka.
"Kanjeng Sultan, kalau diperbolehkan, hamba menginginkan calon suami Sekar Kedaton adalah seorang Adipati, bukan seorang Tumenggung, apalagi hanya seorang Lurah Wira Tamtama" kata Kanjeng Prameswari.
"Ya, sebaiknya memang demikian, untuk itu nanti akan aku pikirkan Kadipaten mana yang nantinya akan dipimpin oleh Karebet" kata Sultan Demak.
"Ya Kanjeng, nanti pada saat pahargyan pengantin, Karebet sebaiknya sudah menjadi seorang Adipati, bukan hanya seorang calon Adipati" kata Kanjeng Ratu.
"Ya Ratu, kalau pada saat pernikahan Karebet sudah menjadi seorang Adipati, bibit bobot bebetnya sudah tepat untuk menjadi menantu seorang Sultan Demak" kata Kanjeng Sultan.
"Kemudian persoalan sakitnya Sekar Kedaton bagaimana Kanjeng?" kata Kanjeng Pramesari.
"Ratu, sakitnya Sekar Kedaton hanya bisa disembuhkan kalau ia diberi harapan Karebet bisa kembali ke Demak dan bisa menjadi Lurah Wira Tamtama lagi" kata Sultan Trenggana.
"Apakah saat ini Karebet tidak bisa dipanggil ke Demak Kanjeng Sultan ? Kanjeng Sultan bisa memerintahkan beberapa prajurit untuk membacakan wara-wara di seluruh wilayah Kasultanan Demak" kata Kanjeng Prameswari.
"Tidak bisa Ratu, Karebet tidak bisa dipanggil dengan cara wara-wara di seluruh wilayah Kasultanan Demak, sebab yang aku ucapkan adalah Sabda Pandita Raja, Sultan Demak tidak bisa mencla mencle dalam membuat sebuah keputusan" kata Sultan Trenggana.
"Apakah kesalahan Karebet memang sedemikian besar Kanjeng ?" tanya Kanjeng Prameswari.
"Tidak semua beban kesalahan itu menjadi tanggung jawab Karebet, Ki Lurah Wirya dan Ki Lurah Mada sudah bercerita semuanya. Biasa, itu darah muda, kalau aku sewaktu masih muda, menghadapi persoalan seperti itu, mungkin Dadung Awuk juga akan kubunuh" kata Kanjeng Sultan sambil tersenyum. "Lalu bagaimana rencana untuk memanggil Karebet, Kanjeng Sultan?" tanya Prameswari
"Harus dicarikan alasan, dicarikan sebab akibat, Karebet harus berbuat sesuatu yang nyata, mempunyai jasa terhadap Sultan, sehingga Karebet mendapat pengampunan dan kembali lagi ke kotaraja Demak. Nanti akan aku pikirkan sebuah cara supaya Karebet dapat kembali ke Demak" kata Sultan Trenggana.
"Lalu apa yang kita lakukan supaya Sekar Kedaton bisa sembuh Kanjeng Sultan ?" tanya Kanjeng Ratu.
"Coba Ratu berkunjung ke Kaputren, bilang kepada Sekar Kedaton, ayahanda Sultan sudah mengampuni kesalahan Karebet, dan sedang mencari sebuah cara supaya Karebet bisa kembali ke kotaraja Demak dan bisa kembali menjadi seorang Lurah Wira Tamtama lagi" kata Sultan Trenggana.
"Baik Kanjeng Sultan, hamba pergi ke Kaputren sekarang" kata Kanjeng Ratu.
Sesaat kemudian Kanjeng Prameswari keluar dari ruangan, memanggil seorang emban untuk mengantarnya menemui Sekar Kedaton, setelah itu telihat keduanya berjalan menuju Kaputren.
Di Kaputren, Sekar Kedaton menerima kunjungan ibundanya, Kanjeng Prameswari, dan Sekar Kedatonpun merasa bahwa kunjungan Kanjeng Prameswari kali ini pasti ada hubungannya dengan pemanggilan Nyai Madusari.
"Ajeng, badanmu masih demam" kata Kanjeng Ratu.
" Ya Kanjeng ibu" kata Sekar Kedaton.
"Cepat sembuh Ajeng, ibu kesini membawa kabar gembira" kata Kanjeng Prameswari.
"Kabar gembira apa Kanjeng ibu" kata Gusti Mas Cempaka.
"Ayahanda Sultan sudah mengampuni semua kesalahan Karebet, sekarang sedang dicari sebuah cara, supaya Karebet bisa kembali lagi ke Demak, menjadi seorang Lurah Wira Tamtama" kata Kanjeng Ratu.
Mendengar kata-kata ibunya, Sekar Kedaton yang selama ini berbaring sakit, berusaha untuk duduk, Nyai Madusari dan embanpun membantunya untuk bisa duduk di pinggir pembaringan.
"Betul Kanjeng ibu ? Ayahanda Sultan tidak marah kepada saya ?" tanya Sekar Kedaton.
"Tidak ajeng, ayahanda Sultan tidak marah kepadamu" kata Kanjeng Ratu.
Mendengar kata-kata ibunya, Gusti Putri Mas Cempaka terlihat menangis dipelukan ibunya.
Nyai Madusari dan embanpun terlihat tak bisa menahan keluarnya air mata.
Waktu terus berjalan hari demi hari, sepasar kemudian Gusti Sekar Kedaton sudah berangsur sembuh, senyumnya sudah mengembang, meskipun Karebet belum kembali ke kotaraja, tetapi ucapan Kanjeng Sultan memberikan pengampunan kepada Karebet, sudah memberinya sebuah harapan kesembuhan.
Kekuatan cinta Sekar Kedaton, mamberinya kekuatan untuk mengalahkan sakit yang dideritanya, apalagi kalau teringat janji Karebet yang disampaikan lewat Nyai Madusari sewaktu Karebet mau meninggalkan Demak, bahwa beberapa candra lagi Karebet akan kembali ke kotaraja Demak.
Pada saat yang bersamaan, di desa Butuh yang terletak didekat kaki gunung Merapi, Karebet sedang berusaha menyerap ilmu dari dua orang saudara seperguruan ayahnya.
Ki Ageng Butuh dan Ki Ageng Ngerang, yang merupakan saudara seperguruan ki Ageng Pengging ternyata adalah orang yang mempunyai kemampuan tinggi dalam olah kanuragan maupun olah kajiwan.
Keduanya mumpuni dalam ilmu yang kasatmata maupun yang tidak kasatmata, mereka mampu merasakan benda yang agal maupun yang halus, dan merekapun mampu olah wadag maupun olah rasa.
Hari demi hari dilalui Karebet untuk lebih memperdalam ilmu kanuragannya, dan lebih mematangkan olah batinnya. Tak terasa waktu sudah berjalan lebih dari dua candra. Dalam waktu dua candra itu, ilmu Karebet maju pesat.
Dalam olah rasa, panggrahitanya menjadi semakin tajam, olah kanuragannya juga semakin matang, kecepatan geraknya semakin lincah, kekuatannya menjadi bertambah besar.
Pada malam itu bulan bersinar terang, di ruang depan rumah Ki Ageng Butuh, terlihat tiga orang sedang duduk berbicara.
Ketiganya, Ki Ageng Butuh, Ki Ageng Ngerang dan Karebet sedang berbincang apa sebaiknya yang akan dilakukan Karebet untuk bisa kembali ke Demak.
"Nakmas karebet" kata Ki Ageng Butuh.
"Ya Ki Ageng" sahut Karebet.
"Hari ini nakmas Karebet sudah lebih dari dua candra berada di rumah ini. kita harus menyusun rencana langkah-langkah apa yang akan nakmas tempuh untuk bisa kembali ke Demak" kata Ki Ageng Butuh.
"Perkataan Kanjeng Sultan Kalijaga tidak bakal bisa terbukti kalau nakmas Karebet tetap berada disini, nakmas harus ikhtiar, supaya nakmas bisa masuk dalam lingkungan Kraton Demak lagi" kata Ki Ageng Ngerang.
"Ya Ki Ageng" jawab Karebet.
"Terbunuhnya Dadung Awuk merupakan sebuah pelajaran yang sangat berharga bagi seorang calon raja. Itu adalah suatu kejadian yang harus nakmas jalani, sebuah penggalan sejarah yang memang harus terjadi. Apa yang bisa kita petik dari peristiwa terbunuhnya Dadung Awuk ? Ada beberapa keuntungan nakmas" kata Ki Ageng Butuh.
"Setelah Dadung Awuk terbunuh, maka nakmas Karebet mendapat kesempatan untuk memperdalam olah kanuragan disini selama dua tiga candra, nakmas menjalani laku prihatin, merasakan pahit getirnya menjadi orang yang menjalani hukuman, pernah berjalan tak tentu arah, makan apa saja yang ditemui, pala kapendem, pala kasimpar, pala gumantung, dan yang terpenting, kesalahan nakmas itu dilakukan sekarang. Bukan dilakukan pada saat nakmas menjadi raja. Apa jadinya kalau kesalahan seperti ini nakmas lakukan ketika sudah menjadi raja" kata Ki Ageng Butuh.
"Ya Ki Ageng" kata Karebet.
"Kalau kesalahan ini, nakmas lakukan sekarang saat nakmas menjadi Lurah Wira Tamtama, itu masih bagus , masih ada yang mengingatkan, masih ada yang menghukum, tetapi kalau kesalahan itu dilakukan setelah nakmas menjadi raja, maka nakmas akan menjadi raja yang bertindak adigang adigung adiguna" kata Ki Ageng Butuh.
"Sebaiknya nakmas besok pagi berangkat ke Demak, dapatkan keterangan tentang perkembangan kotaraja Demak, jangan masuk ke dalam kotaraja karena saat ini nakmas Karebet masih dalam menjalani hukuman dari Kanjeng Sultan" kata Ki Ageng Butuh.
"Nanti setelah sampai di kotaraja Demak, nakmas bisa bertanya kepada salah satu teman nakmas tentang perkembangan Demak, selama nakmas menjalani hukuman ini" kata Ki Ageng Ngerang.
"Setelah nakmas mendengar perkembangan Demak selama tiga empat candra, nakmas bisa ke Pengging, cobalah ziarah ke makam Ki Ageng dan Nyai Ageng Pengging, siapa tahu nanti setelah dari Pengging nakmas bisa tahu akan kemana nakmas pergi selanjutnya" kata Ki Ageng Butuh menambahkan.
"Baik Ki Ageng" kata Karebet.
Malam itu Ki Ageng Ngerangpun menginap dirumah Ki Ageng Butuh, dan Karebetpun mempersiapkan dirinya pergi ke Demak, untuk mengamati keadaan kotaraja Demak, dan mencari peluang untuk bisa kembali lagi sebagai Wira Tamtama Demak.
Malampun telah sampai ke ujungnya, di timur, langit telah semburat berwarna merah, fajarpun telah menyingsing diiringi suara kicau burung di hutan didekat kaki gunung Merapi.
Ketika pagi sudah semakin terang, Karebetpun berpamitan kepada Ki Ageng Butuh dan Ki Ageng Ngerang untuk pergi menuju kotaraja Demak.
Dengan membawa sebuah bungkusan berisi pakaian, bekal makanan dan sebuah pedang pendek, Karebet berjalan menuju Demak.
Karebet yang telah mengenal hampir seluruh daerah di Kasultanan Demak, tidak mengalami kesulitan, ketika harus menerobos hutan disekitar Sima, menyeberangi beberapa sungai kecil, bahkan menyeberang sungai Tuntang untuk mencapai tepi sungai sebelah barat, berjalan di jalur yang menuju kotaraja Demak.
Perjalanan Karebet tidak terlalu tergesa-gesa, sehingga ketika matahari hampir terbenam, perjalanan Karebet belum mencapai daerah Mrapen.
Ketika sinar bulan purnama memancar di seluruh wilayah Kasultanan Demak maupun ditempat lainnya, maka Karebetpun beristirahat dan berusaha untuk bisa tidur diatas dahan sebuah pohon.
Malam itu bulan yang bundarpun masih bergantung dilangit dan telah bergeser perlahan-lahan ke arah barat, bintang-bintang juga tanpa kenal lelah terus berkedip di angkasa, dan telah tiba saatnya di bang wetan segera terbit sang mentari pagi.
Ketika sinar sang surya menerangi bumi, maka seorang anak muda yang tak mengenal takut, ayam jantan dari Pengging, berjalan dengan membawa sebuah bungkusan menuju kotaraja Demak.
Karebet berjalan terus ke arah utara, dan setelah lewat tengah hari, sampailah Karebet di perbatasan kotaraja Demak. Teringat akan pesan Ki Ageng Butuh agar tidak memasuki kotaraja, maka Karebet hanya berjalan melihat-lihat disekitar perbatasan kotaraja saja.
Ketika Karebet sedang berjalan, dikejauhan melintas dengan cepat seekor ayam alas, secepat itu pula timbul keinginan untuk makan ayam bakar, sehingga hampir tak terlihat dengan cepat tangannya meraih sebuah batu sebesar telur ayam.
Karebet menengadahkan wajahnya, untuk mengetahui arah angin yang semilir mengusap wajahnya.
Perlahan-lahan dengan melawan arah angin, Karebet maju ke arah ayam hutan yang belum menyadari kehadiran manusia.
Ketika jarak semakin dekat dan sudah mencapai jarak satu lemparan, maka dengan cepat Karebetpun mengayunkan tangannya, dan sebuah batupun meluncur cepat ke arah ayam alas.
Ayam alas itupun terkejut dan dengan cepat dia lari kedepan, tetapi batu yang dilempar Karebet lebih cepat lagi
Suara ayam alas memekik kesakitan terdengar ketika badannya terkena batu, sehingga ayam alaspun menggelepar, dan dengan cepat Karebet mengambilnya
"Masih hidup, tinggal menyembelih" kata Karebet dalam hati, dan iapun pergi ke sebuah sungai kecil, untuk menyembelih ayam dan membersihkannya.
Ketika senja sudah menjelang, langitpun semakin redup, gelap yang menyelimuti bumi, sedikit berkurang dengan munculnya bulan purnama.
Malam yang tidak begitu gelap, seperti ada sebuah bayangan raksasa ketika sebatang pohon nyamplung didepan Karebet terkena cahaya bulan.
Karebetpun mencari tempat yang berjarak beberapa langkah dari jalan yang biasa dilalui orang, didekat sebuah pohon nyamplung, dan iapun berniat membuat sebuah perapian, untuk membakar seekor ayam hutan yang telah dibersihkan dan dipotong-potong dengan menggunakan pedang pendeknya.
Dari dalam kantung ikat pinggang yang dibawanya, Karebetpun mengeluarkan sebuah batu titikan dan sebuah batu hitam, serta sejumput serabut aren yang sudah kering. Setelah batu titikan itu dipukul dengan sebuah batu hitam, maka batu titikan itupun mengeluarkan bunga api, setelah beberapa kali mengeluarkan bunga api, maka serabut aren yang kering bisa menangkap bunga api, akibatnya serabut aren keringpun menjadi terbakar.
Setelah itu dibakarnya daun-daun dan ranting-ranting kering, sehingga tak lama kemudian didepan karebet menyala sebuah perapian.
Bulan purnama masih bersinar, ketika Karebet baru saja menghabiskan beberapa potong ayam bakar, telinganya yang tajam menangkap derap kuda yang akan lewat dijalan yang tidak jauh dari tempat ia membakar ayam.
"Suara derap kuda" desis Karebet.
"Hanya seekor kuda yang berjalan tidak terlalu cepat" kata Karebet dalam hati.
Karebet lalu mematikan perapian yang telah dibuatnya dan iapun berdiri dan berjalan beberapa langkah untuk melihat siapakah penunggang kuda yang akan melintas di jalan itu.
Dengan dibantu cahaya bulan purnama, mata Karebet yang tajam melihat dan mengamati wajah dan perawakan penunggang kuda, dan ketika sudah mengetahui siapa yang berada dipunggung kuda maka Karebetpun terlihat tersenyum.
Kuda dengan seorang penunggang diatas punggungnya, berlari tidak terlalu kencang, penunggangnya masih termasuk muda, beberapa warsa lebih tua dibandingkan dengan Karebet.
Penunggang kuda itu terkejut ketika melihat ada seseorang dengan membawa sebatang pedang ditangannya, berdiri di sebelah pohon nyamplung, di tengah jalan yang akan dilalui kudanya.
Ketika ia melihat wajah orang itu, ternyata ia memakai secarik kain untuk menutupi wajahnya.
Dengan cepat ia menarik kekang kudanya, sehingga kudanyapun berhenti.
Setelah kudanya berhenti, orang yang wajahnya ditutup secarik kain, bertolak pinggang di tengah jalan, dan berkata dengan suara yang keras :"Apakah aku berhadapan dengan Tumpak?'
Penunggang kuda yang bernama Tumpak, terkejut ketika namanya disebut oleh orang yang bertolak pinggang, dengan cepat iapun turun dari punggung kudanya, dan tangannya telah meraba hulu pedang pendeknya.
"Ya, aku Tumpak, kau siapa ?" kata Tumpak.
"Bagus, kau Tumpak, jadi kau yang selama ini mengaku sebagai prajurit Wira Tamtama ?" kata orang yang wajahnya ditutup dengan secarik kain.
Melihat orang yang berdiri di tengah jalan sudah memegang sebatang pedang, maka Tumpakpun segera mencabut pedang pendeknya.
"Sekali lagi aku bertanya, kenapa kau mengaku sebagai prajurit Wira Tamtama ?" kata orang itu.
"Kenapa mengaku ? Aku memang seorang prajurit Wira Tamtama" kata Tumpak.
"Bohong !! " bentak orang itu sambil mengacungkan pedang pendeknya kearah wajah Tumpak.
"Mimpi apa aku tadi malam, hari ini aku bertemu dengan orang gila yang membawa senjata" kata Tumpak dalam hati.
"Orang gila ini sangat berbahaya, pedangnya bisa membunuh orang" desis Tumpak dan sebagai seorang prajurit Wira Tamtama, Tumpak berniat melumpuhkan orang yang membawa pedang, yang telah mencegatnya.
Dibawah cahaya bulan purnama, Tumpak mempertajam pandangannya, tetapi wajah orang itu tetap tidak bisa ditebak karena memakai secarik kain penutup wajah.
"Tumpak yang mengaku prajurit Wira Tamtama, kau boleh berjalan terus, tapi kudamu harus kau tinggal disini" kata orang yang berdiri di tengah jalan.
"Kau siapa ?" tanya Tumpak.
Orang yang menutup wajahnya dengan secarik kain tidak langsung menjawab, matanya yang tajam mengamati wajah Tumpak, setelah memastikan orang yang didepannya adalah Tumpak, maka iapun tertawa terbahak-bahak.
"Aku adalah penjelmaan Lintang Kemukus dari Langit Sap Pitu" Jawab orang itu sambil tertawa keras.
"Mengapa kau tutup wajahmu dengan kain ?" kata Tumpak.
"Aku punya sepuluh lembar kain seperti ini, memang kenapa kalau aku memakai kain ini ? Ternyata kau usil sekali, kain ini milikku sendiri, bukan milikmu, kau keberatan ? Atau kau akan minta kepadaku kain yang seperti ini ?" kata orang itu.
"Aku tidak mencari musuh, tetapi kalau kau mencari perkara, kau akan ku tangkap, dan akan diadili di kraton Demak, menyerahlah" kata Tumpak.
"Aku yang sedang mencari musuh, hei kau dengar Tumpak, aku memang mencari musuh, aku memang mencari perkara, kau mau apa, sekarang kau telah menjadi musuhku, kalau kau tidak mau menyerah, kau akan kugantung dengan kaki diatas, di pohon nyamplung itu" kata orang itu sambil tangannya menunjuk ke pohon nyamplung di sebelahnya.
"Baru kali ini aku bertemu dengan orang gila seperti kau" kata Tumpak.
Mendengar perkataan Tumpak, orang itu menjadi marah, sambil menuding wajah Tumpak dengan pedang pendeknya, iapun berkata :" Kau mengatakan aku gila ? Aku bunuh kau disini, pedangku hari ini akan mendapat seorang korban lagi, seorang yang mengaku sebagai prajurit Wira Tamtama yang bernama Tumpak, dan pohon nyamplung ini akan menjadi saksi, setelah kau kubunuh, kudamu akan menjadi milikku"
Tanpa menunggu jawaban Tumpak, maka orang yang wajahnya ditutup kain menyerang Tumpak dengan sebuah tusukan pedang.
"Orang ini benar-benar gila" kata Tumpak sambil menggeser tubuhnya kesamping, lalu iapun menusuk lawannya lurus kedepan, dan dengan mudah orang itupun menghindar dengan bergeser mundur.
Orang itupun menyerang dengan tebasan menyilang keatas, Tumpakpun bergeser kesamping dan menyongsongnya dengan sabetan menyilang kebawah, dan terjadilah benturan keras lawan keras, percikan bunga api terlihat jelas di malam hari.
Tumpak melihat pedang orang itu hampir terlepas, dengan susah payah orang itu memperbaiki genggaman tangannya pada hulu pedang, maka Tumpakpun berbesar hati, tenaganya lebih besar dari tenaga lawannya.
"Dua kali benturan lagi, pedangnya pasti terlepas" kata Tumpak didalam hatinya, dan iapun menyerang lawannya dengan sekuat tenaga.
Setiap terjadi benturan pedang, lawannya selalu kesulitan dalam memegang hulu pedangnya, tetapi pertarungan sudah berjalan beberapa saat, benturan pedang telah terjadi belasan kali, tetapi pedang lawannya belum juga terlepas dari genggaman tangannya.
Ketika terjadi benturan keras, pedang orang itu hampir terlepas, dengan cepat Tumpak sekali lagi membenturkan pedangnya dengan memukul pedang lawannya, ternyata meskipun kesulitan memegang hulu pedang, tetapi pedang itu belum terlepas juga.
Kembali Tumpak memukul pedang lawannya didekat pangkal pedangnya, tetapi Tumpak kembali menjadi kecewa, ketika melihat tangan lawannya ternyata masih memegang pedang pendeknya.
"Aneh, harusnya pedang itu sudah jatuh ke tanah" kata Tumpak dalam hati.
Tiba-tiba orang itu melompat mundur sambil berteriak marah.
"Hai Tumpak yang mengaku prajurit Wira Tamtama, kau akan aku bunuh seperti aku membunuh Jagabaya dari Randu Sanga kemarin, sekarang aku yang ganti menyerang, lihat seranganku" kata orang yang wajahnya ditutupi secarik kain, setelah itu iapun menyerang Tumpak seperti angin ribut.
Tumpak mengeluh dalam hati, serangan orang itu seperti lebah yang mengelilingi tubuhnya, tangan lawannya yang hanya dua buah berubah seakan-akan berubah menjadi tiga buah tangan.
Dengan segenap kemampuannya, Tumpak memutar pedangnya seperti baling-baling, untuk melindungi dari tusukan dan sabetan pedang lawannya.
Ketika pedang lawannya akan menusuk pundaknya, maka dengan segenap kekuatannya pedang Tumpak membentur pedang lawannya, tetapi pedangnya selalu mengenai tempat kosong, kecepatan pedang Tumpak tidak mampu mengimbangi kecepatan pedang lawannya.
Betapa beratnya melawan ketiga tangan yang menyerangnya, pedangnya kadang-kadang ditangan kanan, tetapi sekejap kemudian pedang itu telah berpindah, digenggam di tangan kiri.
Tumpak menjadi ragu-ragu, samar-samar ia merasa pernah melihat gerakan pedang yang seperti itu.
"Dimana aku melihat ilmu pedang seperti ini, dimana ?" kata Tumpak dalam hati.
"Dulu aku pernah melihat tangan yang hanya dua buah bisa berubah seakan-akan menjadi tiga buah, dimana ?" kata Tumpak sambil melompat mundur.
Tiba-tiba Tumpak terkejut seperti disengat kalajenging, dia teringat ilmu itu pernah digunakan bersama-sama dengannya disuatu tempat, bukan sebagai lawan, tetapi sebagai kawan.
"Disana, di dekat pantai, bersama Ki Rangga Pideksa" kata Tumpak dalam hati :" Betul, aku ingat sekarang, waktu itu kita pernah bersama-sama melawan dua orang perampok kakak beradik, Klabang Ireng dan Klabang Ijo"
Wajah lawannya tidak dapat dilihat karena tertutup secarik kain, tapi perawakannya yang tegap, mengingatkan Tumpak pada seseorang. "Kelihatannya lawanku adalah dia, itulah sebabnya maka dia pakai kain penutup wajah, supaya aku tidak dapat mengenalnya" desis Tumpak :"Pantas kalau aku tidak dapat menjatuhkan pedangnya"
Setelah merasa pasti dengan siapa dia berhadapan, maka Tumpakpun melompat mundur dan tertawa keras.
Lawannya terkejut ketika melihat Tumpak melompat mundur dan tertawa, dan iapun tersenyum ketika melihat Tumpak menyarungkan kembali pedangnya.
Melihat Tumpak menyarungkan pedangnya, lawannya juga menyarungkan pedangnya pula.
"Hai Bintang jadi-jadian, aku tahu, kau sebenarnya bukan Lintang Kemukus yang berekor, apalagi Lintang Panjer Rina yang bersinar cemerlang, kau adalah penjelmaan dari Lintang Gubug Penceng yang bentuknya jelek" kata Tumpak sambil tertawa.
Lawannya juga tertawa, Tumpak mendengar sebuah tawa yang sudah sangat dikenalnya, sebuah tawa yang dulu pernah akrab dengan telinganya
"Ternyata Tumpak masih ingat gerakan dari ilmu Trisula Manik" desis orang yang menutup wajahnya dengan kain.
Bersamaan dengan berakhirnya suara tertawa, maka secarik kain yang menutupi wajahnyapun telah dilepas.
"Ha ha benar dugaanku, kau Ki Lurah Karebet" kata Tumpak sambil tertawa.
Karebetpun tertawa :"Kau salah Tumpak, aku bukan lagi seorang Lurah Wira Tamtama".
Lalu keduanya saling mendekat dan bersalaman, dan kedua tangan Tumpakpun memegang kedua lengan Karebet.
"Karebet, kau masih suka bercanda, kau senang melihat aku berkeringat di malam hari" kata Tumpak.
"Pedangmu semakin tajam Tumpak, aku jadi takut" kata Karebet sambil tertawa.
"Aku pusing melihat pedangmu mengitari tubuhku, suaranya seperti suara nyamuk ditelingaku" kata Tumpak.
"Pedangku hampir terlepas terbentur pedangmu, tenagamu kuat sekali" kata karebet.
Tumpakpun tertawa :"Kemana saja kau selama ini ?"
"Panjang ceritanya, kaupun mau kemana Tumpak? Malam-malam naik kuda menuju ke arah selatan" tanya Karebet.
"Sehabis bertugas jaga di Kraton aku berangkat, aku mau pergi ke Godong, ayahku sakit, sudah lama aku tidak menengok ayahku" kata Tumpak.
"Kapan kita bisa saling bercerita ?" tanya Karebet.
"Besok aku tidak bertugas, besok pagi aku masih berada di Godong, agak siang baru pulang ke kotaraja, besok siang saja kita bercerita sepuasnya" kata Tumpak.
"Dimana kita ketemu ?" tanya Karebet.
"Besok pada saat tengah hari, kau kutunggu di dekat api Mrapen, berjalan sedikit ke barat ada pohon munggur, kita bertemu disana, dibawah pohon munggur" kata Tumpak.
"Baik Tumpak, besok pada waktu tengah hari kita bertemu di bawah pohon munggur sebelah barat api Mrapen" kata Karebet.
"Kau memang sirik kepadaku, kau tidak senang melihat orang santai, malam ini kau buat aku berkeringat" kata Tumpak sambil tertawa. Karebetpun juga tertawa lepas.
Tumpakpun lalu naik ke punggung kudanya, dan kudanyapun berjalan ke arah selatan, ke Godong.
Pandangan mata Karebet masih melihat ke arah Tumpak sampai hilang di kegelapan malam.
Setelah Tumpak tidak kelihatan, maka Karebetpun kembali ke dekat pohon nyamplung, ke tempat perapiannya yang sudah padam.
Malam ini Karebet berusaha untuk bisa tidur meskipun cuma sebentar, besok siang dia berjanji untuk menemui Tumpak di bawah pohon munggur di sebelah barat api Mrapen.
Malam itu alam tidak terlalu gelap, karena terkena sinar bulan yang memancar lemah keseluruh negeri Demak.
Ketika fajar memerah diufuk timur, beberapa kali telah terdengar kokok ayam hutan, dan kemudian disusul pula bunyi kicau burung di pepohonan, terlihat Karebet menggeliat bangun, untuk memulai menjalani putaran roda kehidupannya.
Ketika bumi sudah semakin terang, Karebet yang masih berada di luar batas kotaraja Demak, bersiap-siap untuk berjalan menuju ke selatan menemui Tumpak di sebelah barat api Mrapen.
Waktunya masih agak banyak, sehingga Karebetpun merasa tidak perlu tergesa-gesa.
Perlahan-lahan Karebet berjalan ke arah selatan menyusuri sungai Tuntang, setelah sampai di ara-ara amba, Karebet tidak lurus ke selatan, tetapi sedikit berbelok ke arah barat, menuju daerah Mrapen.
Matahari semakin tinggi, tetapi masih belum sampai ke puncak langit, dan Karebetpun telah lebih dulu tiba di daerah Mrapen.
Suasana sepi sekali, Tumpakpun belum kelihatan, kemudian Karebetpun berjalan ke arah barat, menuju ke pohon munggur yang besar dan berdaun sangat rindang.
Karebetpun lalu duduk di sebuah batang kayu yang berada dibawah pohon munggur :"Disini udara terasa sejuk, kemarin Tumpak bilang kita ketemu disini, dibawah pohon munggur ini"
Tak lama kemudian, matahari terus merambat naik hampir mencapai puncak langit, dan dari arah timur, terlihat seorang penunggang kuda berjalan menuju pohon munggur, dia tersenyum ketika melihat Karebet duduk terkantuk-kantuk, disebuah batang pohon yang rebah, dibawah pohon munggur yang rindang.
Setelah kendali kudanya diikat di sebuah dahan sebuah pohon, maka penunggang kuda yang ternyata adalah Tumpak, mengambil sebuah bungkusan dan dibawanya menuju ke tempat Karebet.
"Kau bawa apa Tumpak ?" tanya Karebet.
"Nasi jagung dan sayur terong yang agak pedas, aku juga bawa telur rebus, ini ada pula gembili yang telah di rebus, sesisir pisang, air minumnya ada di dalam bumbung ini, aku tahu kau pasti sudah lapar Karebet" kata Tumpak.
"Tenyata kau memang seorang peramal yang baik Tumpak, ramalanmu betul, aku memang sudah lapar" kata Karebet.
"Kau kira yang lapar cuma kau saja Karebet, akupun juga lapar, mari kita makan dulu sebelum kita bercerita" kata Tumpak sambil tertawa.
Beberapa saat kemudian keduanya makan nasi jagung dengan sayur terong dan telur rebus.
"Makannya tanduk Karebet, nasi jagungnya masih banyak" kata Tumpak :"Ini pisangnya, sudah matang, rasanya manis"
"Apakah pisang yang kau bawa semanis senyum Nyai Madusari ?" tanya Karebet ketika teringat mereka berdua pernah makan pisang pemberian Nyai Madusari.
"Tidak, tetapi pisang ini rasanya memang manis, semanis wajahku" jawab Tumpak sambil tertawa.
Setelah selesai makan, maka rasa kantukpun mulai terasa menyerang, ketika wajah Tumpak terkena semilir angin dibawah pohon yang rindang.
"Karebet, setelah makan, aku malah mengantuk sekarang" kata Tumpak.
"Tidurlah, nanti kudamu akan kubawa ke Tingkir dan kau pulang ke kotaraja berjalan kaki" kata Karebet.
"Nah Karebet, sekarang kau dulu yang bercerita setelah kau dihukum Kanjeng Sultan, harus meninggalkan kotaraja malam itu juga " kata Tumpak.
"Ya, aku akan cerita yang aku alami setelah aku mendapat hukuman dari Kanjeng Sultan" kata Karebet.
"Dengarkan Tumpak, malam itu aku harus pergi dari kotaraja Demak, aku berjalan ke Gubug, lalu ke Cengkal Sewu, dari sana aku menuju desa Butuh, aku tinggal dirumah saudara seperguruan ayahku, Ki Ageng Butuh" cerita Karebet.
"Kemarin dari desa Butuh aku berjalan menuju Demak dan kulihat kau naik kuda, lalu kita bertarung" kata Karebet.
"Hari ini aku menuju kesini, lalu kau datang, kita bertemu dan akupun makan nasi jagung dan sayur terong, begitulah ceritanya, selesai" kata Karebet.
"Cuma itu ?" tanya Tumpak.
"Ya, memang cuma itu" jawab Karebet.
"Sependek itu ? tanya Tumpak.
"Ya, ceritanya memang pendek" jawab Karebet.
"Kau curang Karebet, ceritamu hanya pendek, kalau nanti giliran aku yang cerita, pasti kau suruh cerita yang panjang-panjang, sampai mulutku berbusa-busa" kata Tumpak.
"Ya cerita tentang aku memang cuma itu, masa aku harus mengarang sebuah cerita bohong tentang perjalananku mengitari gunung Merapi, lalu disana aku tersandung oyot mimang dan selama tiga candra aku hanya mengelilingi gunung Merapi terus menerus tidak bisa pulang" kata Karebet.
Mendengar kata-kata Karebet, Tumpakpun tertawa berderai, membayangkan kalau Karebet tersandung oyot mimang dan selama tiga candra dia berjalan mengelilingi gunung Merapi.
"Nah sekarang giliran kau yang bercerita" kata Karebet.
Tumpakpun menganggukkan kepalanya, lalu iapun mulai bercerita.
"Dengarkan baik-baik Karebet, aku mau cerita. Sewaktu ada pendadaran calon prajurit Wira Tamtama, datang seorang yang memaksa ikut pendadaran meskipun kedatangannya terlambat, namanya Dadung Awuk dari Pingit, karena kesombongannya, diapun terbunuh. Apakah kau sudah tahu siapa yang membunuh Dadung Awuk?" kata Tumpak sambil tertawa.
"Belum, belum" jawab Karebet yang juga ikut tertawa.
Keduanya tertawa berkepanjangan, tawa dua orang sahabat yang beberapa candra tidak bertemu.
"Setelah Dadung Awuk mati, dua hari kemudian, ada seorang yang datang bermaksud ingin mengikuti pendadaran" kata Tumpak.
"Pada hari ke empat, setelah selesai pendadaran, ada seseorang yang datang menemui Ki Lurah Wirya dan Ki Lurah Mada, seorang yang telah berumur, yang berasal dari Sela" kata Tumpak.
"Dari Sela ? Siapa namanya ?" tanya Karebet.
"Orang itu bernama Ki Ageng Sela, orang yang punya kemampuan menangkap petir" kata Tumpak.
Karebet terkejut, Ki Ageng Sela adalah merupakan salah satu gurunya, karena iapun pernah beberapa candra belajar ilmu kanuragan diperguruan Sela, tetapi kenapa gurunya juga mengikuti pendadaran calon prajurit Wira Tamtama ?
"Mungkin hanya sebagai pancadan untuk menjadi seorang Senapati atau menjadi seorang raja" kata Karebet dalam hati.
"Ki Ageng Sela yang merupakan keturunan dari Ki Getas Pendawa, minta diikutkan dalam pendadaran calon prajurit, kemudian Ki Lurah Wirya dan Ki Lurah Mada mengijinkan Ki Ageng Sela untuk mengikuti pendadaran dan mendapat giliran pendadaran yang terakhir, dan Ki Ageng Selapun ternyata juga bersedia meskipun harus ikut pendadaran paling akhir" kata Tumpak.
"Nah pada waktu pendadaran Ki Ageng Sela, dihari yang terakhir, Ki Ageng Sela melawan seekor kerbau liar yang badannya besar. Ketika kerbau itu menyerang, dengan cepat Ki Ageng Sela menghindar ke samping, lalu tangannya dengan cepat memukul kepala kerbau. Sekali pukul ternyata kepala kerbau itu pecah, dan darahpun bercucuran, muncrat kemana-mana, kerbau itupun mati" kata Tumpak.
"Ya, Ki Ageng Sela pasti mampu memecahkan kepala seekor kerbau dengan sekali pukul" kata Karebet.
"Ya, tetapi ternyata, ketika pada saat Ki Ageng Sela memukul kepala kerbau, dia memalingkan mukanya, entah karena Ki Ageng Sela tidak tega membunuh seekor kerbau, atau karena Ki Ageng Sela takut melihat darah. Mungkin Ki Ageng Sela lupa, bahwa ini adalah pendadaran calon prajurit Wira Tamtama, calon prajurit yang seharusnya tidak takut melihat darah mengucur" kata Tumpak selanjutnya.
"Apakah Ki Ageng Sela dinyatakan lulus ?" tanya Karebet.
"Empat orang Lurah Wira Tamtama yang punya wewenang untuk memutuskan kelulusan hasil pendadaran menjadi ragu-ragu, bingung apakah mau meluluskan Ki Ageng Sela atau tidak" jawab Tumpak.
(bersambung)
Langganan:
Postingan (Atom)